Bab Dua: Persulit

O Eco das Marés ao Entardecer Hua Ling 1305kata 2026-07-31 19:08:17

Walaupun harus mengorbankan segalanya, aku akan merebut kembali semua milik Zhao Qing sedikit demi sedikit, demi membalaskan dendam kakakku.

Fu Zhenting adalah permulaannya.

Kembali ke kamar, aku tak sabar untuk segera mandi air hangat. Air hangat terus membasuh tubuhku, menghapus sebagian rasa lelah. Setelah selesai bersiap, aku menyeret tubuhku yang masih letih untuk beranjak.

Pintu kamar didorong terbuka.

Zhao Qing, yang kini tak lagi tampak berantakan seperti semalam, mengenakan setelan pakaian bermerek mewah dengan gaya klasik, serta sepatu hak tinggi berwarna merah yang mencolok. Ia menatapku dari atas ke bawah dengan angkuh.

"Song Yunyi, kemari dan pindahkan barang-barang ini!"

Zhao Qing memerintahku dengan nada sombong. Ia berdiri sedikit menyamping, memperlihatkan vas bunga raksasa yang seketika memenuhi pandanganku.

Keluarga Fu yang terpandang, mana mungkin tidak memiliki pelayan pria untuk memindahkan barang? Ini hanyalah cara Zhao Qing untuk mempersulitku. Pasti ia sudah mencium gelagat mencurigakan dariku.

"Baik."

Aku bangkit dengan patuh.

Melihatku bersusah payah menggotong vas itu, senyum palsu di wajah Zhao Qing seketika lenyap. Ia memekik, "Dasar jalang, perempuan murahan! Jangan kira aku tidak tahu isi pikiranmu. Semalam kau berani memanfaatkan ketidakhadiranku untuk memberikan sup pereda mabuk kepada Zhenting. Apakah kau ingin terbang tinggi dan menjadi burung phoenix?"

Ia menatapku dengan angkuh, rasa jijik terpancar jelas dari matanya. "Ingat ini baik-baik, orang rendahan sepertimu bahkan tidak pantas untuk sekadar menghangatkan tempat tidur Fu Zhenting. Cukup jalani peranmu sebagai pelayan rendahan saja!"

Sesaat setelah ia berucap, tangannya yang berhias kuku palsu panjang bertahtakan berlian menampar pipiku. Kuku-kuku panjang itu menggores kulitku, menimbulkan rasa perih yang tajam.

Aku menunduk tanpa berkata sepatah pun, berperilaku patuh bak seekor anak kucing.

Setelah Zhao Qing pergi dengan angkuhnya, aku mengalihkan perhatianku pada vas-vas setinggi pinggang orang dewasa itu. Aku harus melakukan sesuatu agar Fu Zhenting kembali memperhatikanku. Jika tidak, aku benar-benar akan berakhir menjadi pelayan penghangat tempat tidur layaknya di zaman kuno.

Aku melangkah cepat ke arah vas itu, memeluk salah satunya dengan susah payah, lalu berjinjit agar bisa melihat jalan di depanku. Perjalanan ini terasa sangat berat. Napasku yang tadinya teratur mulai kacau, dan butiran keringat halus muncul di dahiku.

Aku menggigit bibir bawahku dengan erat, mataku melirik sekilas ke arah sosok Fu Zhenting yang sedang berdiri tanpa ekspresi.

Dia datang.

Aku menguatkan tekad, lalu dengan sengaja melangkah hingga kehilangan keseimbangan.

"Ah!"

Aku memekik kaget, dan vas setinggi pinggang itu pun jatuh pecah berkeping-keping. Jika serpihan tajam itu sampai menggores wajahku, aku akan kehilangan kesempatan untuk memikat Fu Zhenting. Detik berikutnya, aku memutar tubuh, memegang pagar pembatas dengan lemah, lalu jatuh tersungkur dengan posisi yang terlihat menyedihkan.

Seketika, punggung dan betisku terasa sakit luar biasa.

Sosok pria bertubuh tinggi itu muncul di hadapanku dengan tenang. Fu Zhenting mengerutkan kening, sorot matanya yang gelap dan sulit ditebak tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Tuan Fu, sakit sekali..."

Air mata menggantung di sudut mataku, menampilkan sosok yang menyedihkan seperti semalam. Aku meraih ujung pakaian Fu Zhenting dengan lembut, seolah-olah ia adalah satu-satunya penyelamat hidupku.

"Aku tidak sengaja memecahkan vas ini, aku benar-benar minta maaf. Potong saja gajiku untuk mengganti kerugiannya."

Fu Zhenting menatapku dengan pandangan kelam, seolah ingin menembus isi hatiku. Hatiku berdebar kencang, aku menghindari tatapannya dan hendak bangkit, namun secara tidak sengaja menarik luka di punggungku hingga tubuhku gemetar menahan nyeri.

"Bodoh."

Fu Zhenting hanya mengucapkan satu kata itu dengan dingin.

Hatiku terasa pahit. Jika aku tidak berpura-pura bodoh, bagaimana mungkin aku bisa menarik perhatianmu?

Tepat saat aku merasa gelisah, tubuhku tiba-tiba terangkat ke udara. Aku secara refleks melingkarkan tanganku di leher Fu Zhenting, bersandar dengan patuh dalam dekapannya hingga ia membaringkanku dengan lembut di sofa.