Bab 1 Membantu Sahabat Istri Mengobati Luka Batin
“Kamu yakin bisa menyembuhkan penyakitku?” tanya perempuan itu ragu, tangannya erat menggenggam kerah baju.
“Tentu saja, naiklah ke ranjang dan lepaskan pakaianmu,” ujar Qin Yu dengan penuh percaya diri.
Namun, lama ia menunggu, perempuan itu tetap tak juga bergerak. Ia hanya menatap Qin Yu dengan waspada, bak kelinci kecil yang ketakutan menatap serigala besar.
Qin Yu tak habis pikir, apa dirinya memang tampak sejahat itu? Lagi pula, perempuan di hadapannya adalah sahabat dekat istrinya, Zhou Yi. Walaupun ia lelaki normal, tak mungkin ia akan mengincar sahabat istrinya sendiri, kan? Seharusnya tidak.
“Aku ini dokter. Di mataku, kau tak beda dengan sepotong daging babi.”
“Kau yang daging babi!” Zhou Yi membalas dengan wajah merah karena marah.
Qin Yu sadar ucapannya kurang pantas, ia buru-buru mengalihkan pembicaraan. “Aku bisa langsung tahu kalau payudaramu sebelah besar sebelah kecil, kan? Itu bukti kalau aku benar-benar punya kemampuan medis.”
“Bisa saja, mungkin kau pernah mengintipku!” Zhou Yi tanpa sadar langsung menuduh.
Meski Zhou Yi berparas cantik, bagian dadanya memang berbeda ukuran—kelainan bawaan yang sejak kecil jadi beban batin dan membuatnya sering menangis diam-diam. Ia tak pernah mandi di pemandian umum, bahkan tidur pun selalu memakai pakaian khusus penyangga bentuk tubuh.
Qin Yu sedikit batuk menutupi kegugupannya, lalu memasang wajah serius. “Kau ingin sembuh atau tidak? Toh disentuh sebentar pun tak akan mati.”
“Aku... ingin,” jawab Zhou Yi lirih.
“Tapi harus tetap di balik pakaian!”
“Baiklah,” Qin Yu menyetujui.
“Ini rahasia, kau tak boleh bilang ke siapa pun!” Zhou Yi akhirnya mantap, lalu dengan perasaan seperti hendak ke tiang gantungan, ia melepas jaket dan berbaring di ranjang hanya memakai pakaian dalam.
Ia pun bertanya-tanya kenapa dirinya mau menuruti omongan lelaki pengangguran ini. Mungkin benar kata pepatah, orang sakit nekat melakukan apa saja demi sembuh.
Pakaian dalam renda menempel pada kulit putih mulus, aromanya lembut khas gadis muda. Jika ini terjadi kemarin, Qin Yu pasti sudah tak sanggup menahan diri. Tapi kini ia berbeda. Kemarin, di hari ulang tahunnya yang ke dua puluh empat, sebagian ingatan masa lalunya yang tersegel tiba-tiba bangkit—ia mewarisi ilmu pengobatan dan bela diri para tabib sakti, bahkan tingkatannya sudah mencapai tahap awal kultivasi. Kepribadiannya juga berubah drastis.
Jadi, meski pemandangan di depannya begitu menggoda, ia hanya sedikit gelisah saja.
Alasan ia mau mengobati sahabat istrinya ada dua: pertama, agar hubungan mereka lebih akrab dan Zhou Yi bisa membela dirinya di hadapan istri; kedua, ia ingin menguji pengetahuan medis barunya.
Penyakit Zhou Yi adalah penyumbatan kelenjar pada salah satu sisi dadanya, dan ada banyak cara pengobatan, tapi ia memilih metode paling sederhana: pijat untuk melancarkan aliran.
Zhou Yi berbaring dengan mata terpejam rapat seperti orang yang tengah menjalani hukuman.
Demi sembuh dari penyakit yang sudah lama membebani, ia nekat! Anggap saja disentuh anjing.
Qin Yu mengulurkan tangan dan menekan perlahan bagian dada kiri Zhou Yi. Meski masih tertutup pakaian, ia bisa merasakan kelembutan itu. Tubuh Zhou Yi bergetar seperti tersengat listrik.
Tangan Qin Yu perlahan bergerak, menyalurkan energi dalam yang lembut, membantu meluruhkan darah beku dan cairan yang menyumbat.
Zhou Yi merasakan tubuhnya panas dan lemas, seolah berendam di mata air hangat—begitu nyaman hingga ia tanpa sadar mendesah pelan.
Suara desahan itu makin lama makin jelas dan memikat. Tepat saat Qin Yu hampir selesai melakukan terapi, tiba-tiba pintu kamar terbuka keras.
Di ambang pintu berdiri seorang perempuan tinggi dengan setelan kerja eksklusif. Ia adalah Lin Youyou, istri Qin Yu.
“Apa yang kalian lakukan?!” serunya marah, alis matanya terangkat tinggi.
Qin Yu gugup, tapi ia masih sempat menyalurkan energi terakhir ke dada Zhou Yi sebelum mengakhiri terapi.
Namun, bagi Lin Youyou, tindakan itu tampak seperti Qin Yu tak ingin melepaskan kesempatan terakhir untuk memegang dada Zhou Yi.
“Istriku, dengarkan penjelasanku!” kata Qin Yu panik.
Suara Zhou Yi barusan masih terngiang di telinganya, membuat konsentrasinya kacau. Ia tak sadar Lin Youyou akan datang.
“Aku bukan istrimu! Dasar bajingan, kau membuatku muak!”
“Youyou, Qin Yu sedang mengobatiku,” Zhou Yi buru-buru menjelaskan.
“Dia cuma dokter magang, mana mungkin bisa menyembuhkan penyakitmu? Kau pasti sudah tertipu olehnya!” balas Lin Youyou dengan nada penuh penghinaan dan jijik.
Ia tahu Zhou Yi sejak awal tak menyukai Qin Yu, bahkan sering menyarankannya untuk bercerai, jadi pasti Zhou Yi hanya korban tipu daya Qin Yu.
“Pergi! Aku tak mau melihatmu lagi! Aku pasti akan menceraikanmu!” Lin Youyou sama sekali tak memberi Qin Yu kesempatan menjelaskan, ia menunjuk pintu dan mengusirnya.
Sudah cukup lama Lin Youyou ingin bercerai, Qin Yu selalu menghindar, bahkan sampai rela berlutut dan memohon. Kadang Lin Youyou pun sempat ragu.
Namun, kejadian hari ini membuat Lin Youyou bersumpah, walau harus mati pun ia akan tetap bercerai!
Tatapan Lin Youyou penuh kebencian dan hinaan, seperti memandang musuh besar.
Hati Qin Yu mendadak terasa berat, ia pun tak lagi ingin menjelaskan.
Jika ini terjadi kemarin, ia pasti sudah berlutut memohon. Kini, setelah ingatan masa lalunya bangkit, ia sudah menjadi orang yang berbeda.
“Kalau memang mau bercerai, maka kita cerai.”
Setelah berkata demikian, ia pun pergi tanpa menoleh lagi.
Lelaki sejati tak perlu takut tak punya istri.
Banyak perempuan di dunia ini, bahkan Lin Youyou sendiri banyak yang mengejar, dan ia tahu Lin Youyou tak pernah benar-benar menolak para pria itu.
Setelah Qin Yu pergi.
“Qin Yu benar-benar sedang mengobatiku,” gumam Zhou Yi pelan.
“Kau biasanya juga tak suka padanya, mana mungkin dia bisa mengobatimu? Dia hanya memanfaatkanmu saja! Dulu kupikir dia hanya tak berguna, pemalas, ternyata juga bejat.” Lin Youyou mencibir.
“Buktinya, lihat saja, dadamu tetap begitu, tak mungkin sembuh!”
“Aku pasti akan menceraikan dia, tak ada yang bisa menghalangi!”
Zhou Yi hanya diam. Ia mulai merasakan dadanya yang kiri panas dan membesar, seperti ada sesuatu yang hendak tumbuh keluar.
Dua hari kemudian, di kantor pusat Perusahaan Yalan.
“Qin Yu, hari ini kau dipanggil ke sini untuk menandatangani surat cerai,” kata Sekretaris Wang sambil melempar dua lembar kertas ke meja.
Qin Yu yang duduk di seberangnya mengambil dan membaca surat itu, melihat bahwa Lin Youyou sudah menandatangani.
“Kau dan Direktur Lin sudah hidup di dunia yang berbeda. Bagi Direktur Lin, kau hanya beban besar. Lebih baik segera berpisah,” ujar Sekretaris Wang tanpa basa-basi.
“Beban?” Qin Yu mengernyitkan dahi.
“Itu memang pemikiran Lin Youyou?”
“Tentu saja, pernikahan kalian tinggal nama saja. Apa kau pikir dirimu masih pantas untuk Direktur Lin?” Sekretaris Wang mendongakkan kepala.
Ia menunjuk majalah ekonomi di atas meja. Sampul majalah itu menampilkan Lin Youyou dengan busana mewah, penuh percaya diri dan pesona.
“Direktur Lin adalah pengusaha muda yang sedang naik daun di Provinsi Jiangnan, hartanya lebih dari satu miliar, semua itu ia raih dengan usahanya sendiri dalam dua tahun,” ujar Sekretaris Wang dengan bangga.
Wajah Qin Yu tampak aneh.
Jika bukan karena perannya, keluarga Lin Youyou mungkin bahkan tak mampu makan.
“Sedangkan kau, sampai sekarang masih dokter magang, tak punya kelebihan apa pun dan jelas tak pantas untuknya! Kau tahu, banyak sekali pemuda kaya dan sukses yang mengejar Direktur Lin, dibanding mereka kau cuma pecundang. Jadi, segera tanda tangan dan bebaskan Direktur Lin,” ujar Sekretaris Wang panjang lebar, lalu meneguk kopi.
“Mau cerai boleh, tapi biar dia sendiri yang datang bicara,” kata Qin Yu.
“Qin Yu, sadarilah posisimu! Direktur Lin itu orang penting dan sibuk, banyak pekerjaan dan wawancara yang harus ia lakukan, urusan kecil begini tak perlu repot-repot dirinya, aku saja yang urus,” Sekretaris Wang mengejek.
“Cerai itu urusan kecil baginya?” Qin Yu menggeleng.
“Jangan banyak bicara! Dalam perjanjian tertulis, kau mendapat uang lima ratus juta sebagai pesangon, juga rumah yang sekarang kau tempati, itu sudah lebih dari cukup untukmu. Tapi syaratnya, jangan pernah ganggu Direktur Lin lagi, kalau kau melanggar, semua aset akan kami ambil kembali,” ancam Sekretaris Wang.
“Mau cerai boleh, biar dia sendiri yang bicara padaku,” Qin Yu tetap pada pendiriannya.
Sekretaris Wang membanting cangkir ke meja dengan keras.
“Qin Yu, jangan terlalu sombong!”
“Ingat, dengan nama dan status Direktur Lin sekarang, kau tak akan pernah bisa menemuinya. Kau pikir kalau tak tanda tangan, kami tak bisa berbuat apa-apa?”
Qin Yu tak berkata-kata lagi. Ia hanya menatap ke arah pintu dan berkata dengan tenang,
“Kau sudah puas menguping? Silakan masuk.”