Bab 33: Mengobati Kemandulan
Selama belasan tahun berkecimpung di dunia bisnis, Lu Yi telah membentuk naluri tajam untuk membaca situasi. Seseorang yang bisa membuat Tuan Liang pun merasa segan, jelas kemampuannya bukan sembarangan.
Setelah urusan Jiang Mengchen selesai, Liang Fuguo menampilkan senyum ramah. “Tuan Jiang datang ke Kawasan Pengembangan Pantai Bunga Kaya ini pasti mau membeli rumah, bukan?”
Jiang Fan memang sempat bersitegang dengan Jiang Mengchen di ruang pemasaran. Orang secerdik Liang Fuguo tentu bisa menebak duduk perkaranya.
“Betul, kebetulan kau ada di sini. Pilihkan satu untukku, tak perlu yang mahal, cukup di bawah tiga juta saja.” Jiang Fan mengerutkan dahi menatap model perumahan di depannya, lalu berbalik pada Liang Fuguo.
Mendengar Jiang Fan hendak membeli rumah, hati Liang Fuguo langsung berbunga-bunga. Sebagai pengembang properti, ia memang kaya akan uang dan hunian.
“Tuan Jiang, silakan pilih mana saja, yang Anda suka langsung jadi milik Anda. Soal pembayaran, serahkan pada saya.” ucap Liang Fuguo dengan murah hati.
Waktu terakhir kali menjamu Jiang Fan, ia sudah memberi kartu bank berisi seratus juta. Hari ini, satu rumah tentu bukan masalah besar baginya. Di mata pebisnis seperti Liang Fuguo, selama sepanjang hidupnya bisa sekali saja memanfaatkan kemampuan tabib sakti seperti Jiang Fan, uang sebanyak itu pun sudah sepadan.
“Baik, kalau begitu, yang ini saja?” Jiang Fan menunjuk pada model vila tunggal.
Ia tahu Liang Fuguo sangat kaya, sebuah rumah bukan apa-apa baginya. Setelah menerima seratus juta, tak perlu lagi bersikap sungkan soal rumah seharga beberapa juta.
“Yang itu masih dalam kondisi kosong, belum direnovasi. Bagaimana kalau yang di sebelahnya saja? Sudah mewah dan siap huni. Anda langsung bisa menempati, urusan surat-menyurat biar orang saya yang urus, nanti saya antar langsung ke tangan Anda.” Liang Fuguo sangat cekatan, takut mengecewakan Jiang Fan barang sedikit pun.
Jiang Fan mengangguk. Saat itu, ponselnya berdering, ia mengernyit lalu mengangkatnya.
Terdengar suara yang sangat dikenalnya, “Tuan Jiang, Anda benar. Lin Ming ternyata memang bukan anak saya. Wanita sialan itu ternyata main serong di luar, sialan!”
Kemarin, selepas meninggalkan restoran, Lin Yue langsung menghubungi rumah sakit dan membawa Lin Ming melakukan tes DNA. Bagi orang biasa, hasil tes semacam itu bisa memakan waktu beberapa hari, namun Lin Yue berbeda, hari itu juga hasilnya sudah keluar.
Sama persis seperti yang dikatakan Jiang Fan, Lin Ming sama sekali bukan darah dagingnya! Dalam kemarahan dan rasa malu, Lin Yue juga memanggil semua anak luar nikahnya untuk tes, dan hasilnya—tak satu pun yang benar-benar anak kandungnya!
Lin Yue hampir hancur. Anak-anak yang dibesarkannya selama dua puluh tahun lebih, ternyata semua anak orang lain. Ia membesarkan anak orang, bahkan hampir saja seluruh harta keluarga Lin jatuh ke tangan orang luar.
“Oh, secepat itu hasilnya keluar?” suara Jiang Fan tetap datar.
“Tuan Jiang, maafkan saya, kemarin saya tak seharusnya meragukan Anda. Saya minta maaf, tapi mohon bantu saya! Usia saya sudah lebih dari lima puluh, setidaknya saya harus punya keturunan,” Lin Yue memohon lewat telepon.
Cara Jiang Fan menangani persoalan Lin Ming kemarin memang membuatnya puas. Kini Lin Yue memohon, tak elok jika ia menolak mentah-mentah.
“Aku sekarang ada di Kawasan Pengembangan Pantai Bunga Kaya. Paling lama satu jam lagi aku akan pulang, cepatlah datang.”
Dari seberang, mendengar Jiang Fan bersedia menolong, Lin Yue bahkan belum menutup telepon sudah berteriak memerintah pada pelayan dan sopirnya, “Cepat siapkan mobil sportku! Kita ke kawasan pantai, buru-buru!”
Setengah jam kemudian, Lin Yue datang membawa empat atau lima pengawal. Begitu bertemu Jiang Fan, Lin Yue langsung berlutut di depannya.
“Tuan Jiang, tolonglah saya!”
Semua orang terbelalak. Lin Yue, Direktur Utama Grup Seribu Bunga, benar-benar berlutut di depan Jiang Fan. Ini sungguh di luar nalar.
Baru saja Liang Fuguo menyambut tanpa alas kaki, kini giliran Direktur Utama Grup Seribu Bunga berlutut! Siapakah sebenarnya pemuda ini, sampai dua orang besar rela bersikap seperti itu?
Di samping Lin Yue, seorang bernama Qin Han sampai hampir melongo. Direktur Lin selama ini terkenal tegas dan tak kenal kompromi, kini berlutut pada pemuda dua puluhan? Jangan-jangan dia anak konglomerat kelas kakap? Qin Han pun diam-diam mengamati Jiang Fan.
Kaos oblong tiruan, celana pendek murahan, sepatu dua puluh lima ribu? Semua itu sama sekali tak cocok dengan citra putra keluarga kaya.
“Direktur Lin, Anda tidak salah lihat?” batin Qin Han.
Ia pun mencubit punggung tangannya sendiri. Sakitnya nyata, berarti ini bukan mimpi.
“Tuan Jiang, kemarin saya menjalani pemeriksaan menyeluruh. Dokter bilang saluran sperma saya buntu, seumur hidup tak bisa punya anak. Profesor infertilitas paling terkenal saja angkat tangan.” Lin Yue tak peduli lagi harga dirinya. Demi tujuan besar, ia rela mengorbankan gengsi. Asal penyakitnya sembuh, apapun rela ia tempuh.
“Saudara Lin, kau ternyata mandul? Lalu Lin Ming itu siapa?” Liang Fuguo tak kuasa menahan tawa mendengar pengakuan Lin Yue.
Sama-sama pebisnis terkemuka di Qinghai, hubungan Liang Fuguo dan Lin Yue cukup akrab sehingga bebas bercanda seperti itu.
“Itu gara-gara istriku main di luar, sekarang sudah kukurung di rumah dan sedang kuinterogasi. Setelah urusan ini selesai, dia pasti kucampakkan!” wajah Lin Yue memerah karena malu dan marah.
“Tuan Jiang, Lin Ming sudah kupatahkan kedua kakinya dan kuusir dari rumah! Saya harap Tuan Jiang tidak menyimpan dendam, mohon sembuhkan saya.”
Jiang Fan bukan tipe pendendam. Urusan Lin Ming bukan salah Lin Yue, dan di Qinghai, lebih baik menambah kawan daripada musuh. Lagipula Lin Yue adalah Direktur Utama Grup Seribu Bunga—di masa depan, siapa tahu akan berguna.
Setelah berpikir sejenak, Jiang Fan berkata datar, “Bisa, tapi kita cari tempat yang privat dulu.”
“Kenapa?” Lin Yue heran.
“Ehem, akupunktur ini butuh melepas semua pakaian. Kalau Direktur Lin tak keberatan, di sini pun bisa.”
“……”
Liang Fuguo segera mengosongkan sebuah ruang kantor, hanya menyisakan beberapa pria di sisi Lin Yue. Sementara itu Su Wangyue diminta menunggu di kantor pribadi Liang Fuguo.
Lin Yue pun menanggalkan semua pakaiannya, hanya menyisakan celana dalam hitam, lalu berbaring di atas meja. Dalam soal kesehatan, tak ada malu-malu.
Jiang Fan mengeluarkan jarum perak dari saku. Sambil membatin nama-nama titik akupunktur seperti Baihui, Fengchi, Tian Shu dan sebagainya, ia mensterilkan jarum lalu menusukkannya perlahan.
Setiap jarum mengeluarkan cahaya putih samar yang hanya berkedip lalu lenyap masuk ke titik-titik tubuh Lin Yue.
Seiring pergerakan jarum, di perut Lin Yue terbentuk pola sembilan ruang yang kemudian saling terhubung.
Lin Yue merasa perutnya hangat, gelombang panas seolah melonjak keluar dari dalam tubuh, wajahnya pun perlahan memerah.
Semakin lama Jiang Fan menusuk jarum, perut Lin Yue terasa semakin penuh, seakan-akan ada sesuatu yang hendak menyembur keluar.
“Jarum terakhir!” ujar Jiang Fan, menancapkan satu jarum lagi ke perut Lin Yue.
“Ah! Nikmat!” Lin Yue berteriak, tubuhnya bergetar beberapa detik lalu akhirnya terkulai lemas.