Bab 50: Bukankah Itu Hanya Uang?
Song Xi baru saja hendak bicara, tapi tak disangka Qin Xuan langsung membuka suara tanpa ragu sedikit pun.
“Hari ini aku yang traktir, silakan makan dan minum sepuasnya. Minuman apa pun boleh dipesan.”
Minum-minum saja, kan? Di Alam Abadi, minuman terbaik pun sanggup Qin Xuan bayar. Minuman di dunia fana, berapa sih harganya?
“Bebas pesan? Itu kata-katamu, ya?” Bao Ting tersenyum sinis pada Qin Xuan, nada bicaranya jelas penuh ejekan.
“Setahuku, anggur merah termahal di Hotel Lima Benua lebih mahal dari Lafite tahun 1982. Itu dibuat khusus oleh kebun anggur misterius di Prancis untuk hotel ini. Satu botol harganya delapan ratus delapan puluh ribu. Bagaimana, kalau meja kita pesan satu botol?”
Uang hasil jual rumah lama Qin Xuan memang cukup untuk bayar makan, tapi jelas tak cukup untuk sebotol anggur seharga delapan ratus delapan puluh ribu. Bao Ting sengaja mengajukan itu, ingin sekali mempermalukan Qin Xuan yang suka pamer.
“Baik.” Qin Xuan tanpa ragu mengangguk setuju.
Empat botol anggur dengan harga segitu berarti lebih dari tiga ratus juta. Tapi dia langsung setuju, tanpa sedikit pun tampak menyesal atau ragu. Apakah dia hanya membual, atau memang serius?
Kalau serius, berarti dia benar-benar kaya raya!
Bahkan Liu Guoliang, Wakil Direktur Departemen Bisnis dengan gaji tinggi, pun terkejut mendengar jawaban Qin Xuan.
Song Xi pernah melihat kartu bank Qin Xuan, tahu betul tiga ratus juta itu bukan apa-apa. Bahkan pemilik kartu itu pasti tak peduli dengan uang sebanyak itu.
Semakin ia memikirkan hal ini, semakin ia meremehkan Qin Xuan. Ia pun melemparkan tatapan penuh hinaan padanya.
“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Qin Xuan, merasa tatapan Song Xi agak aneh, seolah wanita itu meremehkannya.
Di Alam Abadi, Kaisar Xuan selalu bertindak sesuka hati, tak peduli pendapat siapa pun. Tapi kali ini, entah kenapa, ia jadi peduli pada pandangan Song Xi.
Ia pun bertanya-tanya dalam hati, jangan-jangan di kehidupan sebelumnya dia ada hutang pada wanita ini?
“Enak ya, pakai uang di kartu itu?” Song Xi melirik sinis pada Qin Xuan.
“Uang itu kan memang untuk dipakai, bukan?” jawab Qin Xuan.
“Dapat dari mana uangnya?” Song Xi bertanya.
“Dari hasil kemampuan sendiri,” jawab Qin Xuan dengan serius.
“Tak tahu malu.”
Wajah Song Xi memerah, semakin meremehkan Qin Xuan.
Orang satu ini, dapat uang dengan cara begitu, masih berani bicara lantang dan mengaku dari hasil kemampuan? Itu juga disebut kemampuan? Itu namanya tak tahu malu!
Benar-benar tak tahu malu!
Qin Xuan malas menanggapi Song Xi lagi, karena baginya percuma menjelaskan pada wanita ini.
Ia sudah menghidupkan kembali Xue Yuanshan, memintanya seratus miliar, apa itu terlalu banyak? Sama sekali tidak! Itu hasil jerih payah, kenapa wanita ini malah menyebutnya tak tahu malu?
Saat itu, Bao Ting memanggil Tan Yaqin masuk lagi.
“Tuan Qin, selamat datang! Semua anggur merah kelas atas di hotel kami harus dibayar di muka. Empat botol yang Anda pesan total harganya tiga ratus lima puluh dua juta, ditambah lima belas persen biaya layanan, jadi total yang harus Anda bayarkan...”
“Sekalian saja gesek satu miliar, biar nanti tidak bolak-balik ganggu saya,” ucap Qin Xuan sambil menyerahkan kartu banknya, tampak tak sabar.
Makan makanan puluhan juta, minum anggur ratusan juta, tapi masih saja berkali-kali didatangi kasir untuk gesek kartu. Apakah dia terlihat seperti orang yang tak sanggup bayar?
Bao Ting terdiam.
Semua yang hadir juga terdiam!
Lima puluh juta yang digesek sebelumnya, siapapun yang kena gusur rumah pasti sanggup. Tapi kali ini, Qin Xuan langsung mau gesek satu miliar, itu bukan jumlah yang bisa dikeluarkan sembarang orang!
“Qin Xuan, yang kamu gesek itu satu miliar, bukan satu juta. Di depan banyak orang begini, kalau sampai gagal, pasti malu besar.”
Bao Ting tak percaya Qin Xuan bisa gesek satu miliar.
Sekalipun dapat keberuntungan, menang undian lotre, maksimal hanya setengah miliar, tak mungkin sampai satu miliar. Apalagi, beberapa undian terakhir di Yudu tak ada pemenang utama. Bao Ting tahu karena ia selalu ikut beli.
“Gesek saja,” kata Qin Xuan santai.
Seolah-olah yang digesek bukan satu miliar, melainkan seratus ribu. Ekspresinya begitu tenang, sama sekali tak terlihat khawatir.
“Baik, terima kasih Tuan Qin!”
Tan Yaqin sendiri tak terlalu yakin pria berpakaian sederhana ini benar-benar punya saldo satu miliar di kartunya.
Namun ia tetap mencoba menggesek di mesin kasir.
“Dudud... dudud...”
Mesin kasir mulai mengeluarkan struk.
Kartu itu benar-benar bisa menggesek satu miliar!
Bao Ting kembali terkejut!
Saat itu, dua pria berambut cepak berbaju hitam masuk ke dalam ruangan.
“Semuanya keluar, ruangan ini sudah kami pesan!” kata si tinggi dengan nada arogan.
Bao Ting melangkah dengan sepatu hak tingginya mendekat.
“Ruangan ini saya pesan lewat telepon sore tadi. Tolong jangan bikin keributan.”
“Keributan? Melawan Grup Wutian, itu baru namanya cari gara-gara!”
Si tinggi bernama Lin Dong, pengawal pribadi Wu Bo, manajer umum Grup Wutian, dan memang punya alasan untuk sombong.
Grup Wutian?
Begitu mendengar nama itu, Bao Ting langsung ciut.
Di Yudu, Grup Wutian adalah penguasa gelap yang tak tersentuh hukum. Semua bisnis ilegal dikuasai mereka.
Itu adalah organisasi bawah tanah raksasa, juga kerajaan bisnis gelap yang sangat besar.
Konon, kekayaan tersembunyi Grup Wutian bahkan melebihi gabungan sepuluh besar perusahaan di Yudu.
Bao Ting berpikir sejenak, ujung bibirnya tersungging senyum licik, lalu menunjuk Qin Xuan.
“Hari ini Tuan Qin yang traktir kami di sini. Kalau mau kami keluar, harus dapat izin dari Tuan Qin dulu.”
Selesai berkata, Bao Ting terlihat sangat puas.
Bukankah kamu kaya? Bukankah suka pamer? Nah, teruskan saja pameranmu. Mari kita lihat, seberapa hebat kamu sampai bisa menghadapi iblis bawah tanah Yudu ini.
Semua yang hadir tahu betapa menakutkannya Grup Wutian. Mereka pun paham, Bao Ting sengaja menjebak Qin Xuan.
Tapi tak ada yang berani membela, semua hanya menonton, menunggu tontonan seru.
“Qin Xuan, kita keluar saja,” kata Song Xi.
Meski dalam hatinya penuh hinaan pada Qin Xuan, tapi bagaimanapun Qin Xuan adalah ayah Keke, ia tak mau terjadi apa-apa pada pria itu.
“Kalian berdua, pergi dari sini!” kata Qin Xuan sambil menunjuk ke arah pintu, kepada Lin Dong dan temannya.
“Menyuruh kami pergi? Hahaha...”
Lin Dong tertawa terbahak-bahak, merasa itu lelucon paling lucu yang pernah ia dengar.
Seorang pria berpenampilan lusuh berani menyuruh pengawal manajer umum Grup Wutian pergi? Siapa yang memberinya keberanian?
“Zhang Bing, beri dia pelajaran agar sadar, supaya tahu siapa sebenarnya Grup Wutian!”
Lin Dong memberi perintah.
“Jangan! Kami pergi! Kami akan keluar sekarang!”
Song Xi ketakutan, tapi ia justru refleks berdiri di depan Qin Xuan, seperti induk ayam melindungi anaknya, membentangkan tangan menutupi pria itu.
Ia tahu, orang-orang Grup Wutian ini bahkan berani membunuh di siang bolong.
“Mau pergi? Hmph!”
Lin Dong mendengus dingin.
“Berani menyuruh kami pergi, mana bisa semudah itu! Minimal harus ada satu tangan yang tertinggal.”
Sambil berkata, mata Lin Dong melirik ke tubuh Song Xi.
Wanita ini, meski berpakaian sederhana, wajahnya cantik dan tubuhnya sangat menarik.
“Kau juga, nona, harus tinggal di sini menemani minum, lalu bermain-main dengan kami.”
Saat itu, di wajah Bao Ting muncul senyum kemenangan.
Dalam hati ia mengejek,
“Bodoh, sok jadi pahlawan, sekarang malah terjebak sendiri! Penasaran juga, saat Song Xi yang selalu menjaga kehormatannya itu dipermainkan orang-orang Grup Wutian, seperti apa jadinya? Pasti seru dan menarik.”
“Kamu mundur. Mulutnya kotor, biar aku saja yang memberinya pelajaran,” kata Qin Xuan serius pada Song Xi.
Lin Dong terbelalak mendengar ucapan itu.
Lalu, ia kembali tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha...”
Orang miskin ini, tidak, orang bodoh ini! Berani-beraninya mengaku akan menghajarnya? Apa dia tidak tahu, di depannya berdiri seorang ahli beladiri tingkat satu!
Bagi yang suka membaca novel Ayah Abadi Terkuat, jangan lupa simpan dan pantau terus karena update-nya paling cepat.