Bab Sembilan: Menerima Takdir Menjadi Anjing
“Jangan memaksakan diri, sebaiknya kau pulang dan istirahat satu atau dua minggu, kalau tidak, kakimu bisa-bisa cacat seumur hidup.”
Darma berusaha bangkit untuk terus menunjukkan keberaniannya, namun rasa sakit di lututnya jauh melampaui dugaannya. Ia sama sekali tak bisa mengerahkan tenaga, begitu kakinya menyentuh tanah, seluruh tungkainya langsung bergetar.
“Kukira Bang Darma itu sehebat apa, ternyata begitu saja sudah tumbang.”
“Bang Darma, kau kan cuma bisa menindas yang lemah, kalau benar-benar berkelahi, ternyata tak ada apa-apanya.”
“Lain kali tak usah sok jago di depan kami, jelas bukan siapa-siapa juga.”
Beberapa orang yang memang tak akur dengan Darma melontarkan ejekan, tiap kalimatnya menusuk saraf Darma.
Darma, yang belum pernah mengalami penghinaan seperti ini, kehilangan kendali. Dengan kemarahan memuncak, ia tiba-tiba mencabut pistol dari pinggangnya dan mengarahkan ke Fajar.
“Bang Darma! Jangan!”
Teriakan panik terdengar dari kerumunan, berusaha menghentikan Darma. Namun sudah terlambat, Darma menekan pelatuk dalam luapan emosi.
Dor! Suara tembakan menggema. Peluru meluncur ke arah Fajar. Dengan sigap, Fajar membelalakkan mata dan menyilangkan kedua lengan melindungi kepalanya.
Dentang! Peluru menyambar lengan kanan Fajar, menimbulkan suara seperti menghantam logam.
Fajar menggunakan alkimia untuk menyimpan karbida sulfida termolekulasi di serat otot seluruh tubuhnya, sebuah materi yang kekuatannya dua ratus kali baja.
Dengan mengalirkan materi itu ke bawah lapisan kulit lewat alkimia, tubuhnya menjadi sekeras besi. Peluru pistol biasa sama sekali tak mampu melukai.
“Untung saja tidak kena tepat sasaran...”
Peluru hanya menyerempet lengan kanan Fajar dan terbang menjauh. Orang-orang mengira Darma meleset menembak.
Tapi Darma sangat tahu, tembakannya tak pernah meleset.
“Kau... siapa sebenarnya kau...”
Ketakutan memenuhi mata Darma, tubuhnya mundur perlahan.
Fajar menatap tajam dari celah lengannya, sorot matanya tajam dan dingin, membuat tubuh Darma seketika membeku.
“Apa yang kalian lakukan!”
Sebuah suara keras menggema. Seorang pria tua berusia sekitar enam puluhan melangkah cepat memasuki aula.
Tatapan matanya tenang bagaikan danau tanpa riak, sulit ditebak apa yang ia pikirkan. Ia adalah orang yang sangat berpengaruh, dikenal sebagai Paman Delapan.
Paman Delapan mengedarkan pandangan, matanya menyipit saat melihat pistol di kaki Darma.
“Darma, siapa yang mengizinkanmu mengeluarkan senjata!”
“Paman Delapan! Aku...”
Sebelum Darma selesai bicara, bayangan hitam menyambar di depannya, cahaya hitam menaungi tubuh Darma, membuatnya merasa seolah malaikat maut datang menjemput.
Krak! Krak!
Tanpa banyak bicara, Fajar menendang lutut Darma dua kali berturut-turut, terdengar bunyi retakan tulang yang tajam.
Fajar mematahkan kedua kaki Darma!
“Arrgh!”
Jerit kesakitan Darma berpadu dengan teriakan para pegawai, memenuhi seluruh ruangan. Aula pun menjadi kacau balau.
Wajah Paman Delapan menegang, bibirnya bergetar menahan murka. Bagaimanapun, Fajar telah melumpuhkan anak buahnya di depan matanya sendiri, di hadapan banyak orang pula. Sikap yang sama sekali tidak menghargai dirinya membuat Paman Delapan sangat murka.
Keduanya terdiam lama, sampai akhirnya Paman Delapan memerintahkan anak buahnya membawa Darma ke rumah sakit.
Fajar, tanpa peduli apa pun, menyalakan sebatang rokok dan duduk di sofa, sementara orang-orang lain menjauh seolah menghindari wabah.
Meski Fajar begitu lancang di depan Paman Delapan, tak seorang pun berani banyak bicara. Melumpuhkan anak buah Paman Delapan di depan matanya saja ia tidak takut, apalagi mereka. Tak ada yang mau bernasib seperti Darma.
“Ikuti aku!”
Setelah Darma diurus, Paman Delapan membawa Fajar ke kantornya di lantai atas.
Kantor di puncak Gedung Karnaval itu penuh perabot kayu mewah, di atas meja tersaji teh Pu’er puluhan tahun, teko tanah liat mahal dipadu set peralatan teh dari batu giok, semua serba mewah dan megah.
Paman Delapan dan Fajar sama-sama duduk di sofa. Fajar langsung bicara tanpa basa-basi.
“Paman Delapan mengundangku ke sini, masa hanya ingin aku mendidik anak buahmu?”
Plakk! Paman Delapan mengambil teko tanah liat bernilai puluhan juta dan membantingnya hingga pecah berkeping-keping!
“Fajar, dua kali kau melukai anak buahku, kali ini bahkan di depan mataku sendiri. Apa kau tak terlalu sombong?!”
Fajar mengusap dagunya dan menjawab, “Aku juga heran, bukannya Paman Delapan mengundangku untuk minum teh? Kenapa malah disuguhi peluru? Kukira aku sedang di Amerika, siang bolong berani-beraninya mengacungkan pistol. Bukankah kau takut polisi datang menggerebek tempat ini?”
“Cukup bicara, bagaimana kau ingin menyelesaikan masalah ini?”
Fajar tak menunjukkan sikap mengalah sedikit pun, keduanya saling beradu argumen dan siasat.
“Katakan saja, Paman Delapan. Aku dengar.”
Paman Delapan berkata dengan suara berat, “Jika kau mau bekerja padaku, semua masalah ini bisa diselesaikan. Kau juga akan mendapat banyak keuntungan.”
Paman Delapan memang to the point. Tak heran ia menyuruh Si Gendut menjemput Fajar, ternyata ia menaksir kemampuan Fajar dan ingin merekrutnya.
“Kalau begitu, apa keuntungannya bagiku?” tanya Fajar.
Paman Delapan bersandar santai dan bicara panjang lebar, “Kukira kau orang cerdas, tapi rupanya tak sepintar itu. Kudengar kau punya masalah dengan Marwan, kau bekerja di Grup Sheng, harusnya tahu pengaruh Marwan di Kota Huai. Ia takkan melepaskanmu begitu saja. Tapi kalau kau jadi anak buahku, Marwan pasti akan mempertimbangkan aku. Masalahmu akan mudah selesai.”
Fajar mengusap hidungnya, tak terlalu peduli, “Lalu?”
“Selain itu, kudengar di Grup Sheng kau hanya manajer biasa, masa depanmu suram. Dengan kemampuanmu, di sini kau pasti akan jadi orang besar.”
“Nanti kau bisa dapat nama dan uang, di Kota Huai pun tak ada yang berani mengusikmu.”
Paman Delapan berdiri dengan sikap tegas, “Yang terpenting, dengan begitu, seluruh urusan kita selesai. Kau hanya untung, tak rugi.”
Paman Delapan bicara berapi-api, tapi Fajar mendengarnya dengan jenuh. Ia menguap bosan.
“Cuma itu?” Fajar mencibir, bangkit hendak pergi.
“Mau ke mana kau?!”
Fajar melambaikan tangan, “Dari tadi kau bicara, tak ada satu pun ‘keuntungan’ yang masuk akal, tak menarik. Aku ada urusan, pamit dulu. Terima kasih atas ‘hidangan peluru’ dari Paman Delapan.”
Paman Delapan menggertakkan gigi menahan marah. Ia ingin memberi jalan pada Fajar, tak disangka Fajar justru menolak mentah-mentah.
“Menolak kebaikan, malah minta celaka!”
Begitu Fajar membuka pintu kantor, tiba-tiba sebuah kekuatan hebat menghantam dadanya.
Fajar terpental ke belakang, menabrak dinding dengan keras, suara benturannya menggema, seluruh ruangan bergetar.
Seorang pria berjalan masuk perlahan, senyum kejam terpatri di bibirnya. Ternyata, dialah yang baru saja menghantam Fajar saat pintu dibuka.
Tinggi besar, dua meter lebih, tubuhnya kekar, mengenakan jaket coklat tua dan tudung kepala, seluruh tubuhnya tersembunyi dalam pakaian itu.
Gerak-geriknya jelas berbeda dengan orang biasa, auranya menakutkan, kekuatannya luar biasa.
Paman Delapan melangkah ke samping pria itu, menatap Fajar dengan penuh kebencian.
“Kau benar-benar terlalu sombong. Melukai anak buahku, masih berharap bisa keluar selamat dari kantorku?!”
Pria itu menurunkan tudung kepalanya, menampakkan wajah penuh bekas luka, raut wajah buas dengan taring tajam, mirip binatang buas.
Di tangannya, dua biji besi dimainkan. Sekali genggam, kedua biji besi itu diremukkan hingga gepeng—kekuatan yang luar biasa mengerikan!
“Inilah tentara bayaran yang sengaja kudatangkan dari luar negeri, Bassat. Ia punya kekuatan genggaman luar biasa, bisa meremukkan batu dengan tangan kosong. Kau takkan mampu melawannya.
Ini kesempatan terakhirmu: tunduk padaku atau mati di sini!”
Dari semula, Paman Delapan sudah merencanakan: jika Fajar tidak mau tunduk, ia akan membunuhnya!
Kekhawatiran Lestari memang benar, undangan minum teh dari Paman Delapan ternyata sangat berbahaya!
“Menyerang dari belakang? Tak jantan kau, Nak!”
Fajar bangkit berdiri, sama sekali tak menanggapi ucapan Paman Delapan. Ia menghapus darah di sudut bibir, tersenyum sinis, jelas tak berniat tunduk.
Paman Delapan paham sikap Fajar, lalu keluar dari kantor.
“Bunuh dia, bereskan semua, jangan tinggalkan jejak sedikit pun.”
Bassat meremas kedua tangannya, sorot matanya penuh nafsu membunuh!