44. Tim Pujian Pohon Kecil (Mohon Dukungan Favorit, Mohon Tiket Bulanan)
Pukul setengah lima sore, Jiang Shu akhirnya berhasil melewati jam-jam melelahkan di taman kanak-kanak di tengah ingar-bingar lagu anak-anak yang memekakkan telinga, hingga akhirnya bel pulang sekolah berbunyi.
Anak-anak berbaris dengan rapi, menunggu orang tua mereka menjemput satu per satu.
Fu Wanying berdiri tepat waktu di gerbang taman kanak-kanak seperti biasanya. Melihat anak-anak lain dengan sopan berpamitan kepada putranya sebelum pulang, dia sudah terbiasa dan tidak merasa heran lagi.
Namun, yang berbeda dari biasanya adalah, hari ini orang-orang yang mengerumuni putranya bukan hanya Lu Lu dan Zhong Yaoyao yang sudah dikenal Fu Wanying, melainkan ada seorang anak perempuan lain berpenampilan menarik dan berwajah imut.
Dalam hatinya, dia bergumam: Begitu banyak anak perempuan yang berputar-putar di sekitar bocah ini, jangan-jangan dia telah memikat hati mereka semua di taman kanak-kanak.
"Ibu Xiao Shu!" Bai Lu yang bermata jajar dengan cepat melihat Fu Wanying dan langsung menyapanya dengan penuh semangat.
Fu Wanying tersenyum hangat dan berjalan mendekat: "Halo, Lu Lu."
"Ibu Xiao Shu, apakah Ibu melihat ibuku?" tanya Bai Lu.
"Belum." Fu Wanying secara refleks menengok ke luar, tetapi tidak menemukan mobil sedan yang familier itu.
Dia tersenyum dan berkata: "Tapi jangan khawatir, Ibumu mungkin sedang tertunda di jalan, mungkin sebentar lagi sampai."
"Iya, iya!"
"Bibi, Halo, nama saya Xu Xinzhu, tahun ini umur saya 5 tahun, saya adalah sahabat Xiao Shu." Tepat pada saat itu, Xu Xinzhu tiba-tiba memperkenalkan dirinya dengan percaya diri.
Fu Wanying tertegun sejenak. Keberanian anak perempuan ini cukup besar, dan wajahnya pun tampak sangat asing.
Jiang Shu menutupi wajahnya karena malu. Apa sebenarnya yang ingin dilakukan oleh kedua anak ini? Begitu melihat ibunya, reaksi mereka begitu bersemangat.
"Oh-oh, halo sayang, apakah kamu juga satu kelas dengan Xiao Shu?" Fu Wanying membalas dengan senyuman lembut, sambil melirik putranya tanpa kentara, berniat mencari waktu luang nanti untuk menginterogasinya.
"Bu, Xu Xinzhu sekelas dengan Yaoyao," jawab Jiang Shu tanpa berdaya.
Fu Wanying menatapnya dengan kesal. Bukannya bertanya padanya, kenapa anak ini buru-buru menjawab.
"Sayang, di mana Ibumu?"
"Ibuku..." Xu Xinzhu berjinjit untuk melihat ke luar taman kanak-kanak, lalu matanya tiba-tiba berbinar: "Ibuku datang menjemputku!"
Fu Wanying secara refleks menoleh ke arah yang ditunjuk. Di tepi jalan terparkir sebuah mobil sedan hitam, dan seorang wanita seusianya turun dari mobil, berpenampilan sangat anggun dan mengenakan kacamata hitam.
Dia merasa sedikit takjub; tampaknya anak perempuan bernama Xu Xinzhu ini juga berasal dari keluarga kaya.
"Ibu! Aku di sini!" Xu Xinzhu melambaikan tangannya dengan penuh semangat.
"Zhuzhu."
Melihat putrinya, senyuman tak terelakkan muncul di wajah Li Qiuyu. Anak laki-laki di sebelah putrinya yang mengenakan kaos Ultraman itu adalah... Xiao Shu?
"Halo, Xiao Shu," sapa Li Qiuyu sambil tersenyum tipis. Ia melepas kacamata hitamnya dan menyelipkannya di kerah bajunya, memperlihatkan tulang selangkanya yang putih dan memesona.
Ia merasa sangat menyukai anak laki-laki yang telah melindungi putrinya ini.
"Halo, Bibi," kata Jiang Shu.
"Ibu, dengar ya, tadi di taman kanak-kanak, Xiao Shu melindungiku lagi!" Xu Xinzhu buru-buru memuji penyelamatnya, dengan nada seolah sedang memamerkannya di depan sang ibu.
Li Qiuyu mengerutkan kening dan bertanya: "Ada apa? Zhuzhu, apakah kamu ditindas orang lain?"
"Bukan begitu, tadi waktu aku bermain ayunan, aku tidak sengaja terjatuh, dan Xiao Shu langsung sigap melindungiku dari samping, makanya aku tidak terluka."
Fu Wanying yang mendengarkan dari samping akhirnya mengerti. Rupanya bocah ini telah bertindak sebagai pahlawan yang menyelamatkan gadis jelita, dan bahkan mungkin sudah menyelamatkannya dua kali.
Hm... pantas saja dia putranya, sungguh luar biasa!
"Kamu ini, kenapa ceroboh sekali? Waktu itu jatuh di taman, sekarang jatuh lagi di taman kanak-kanak. Untung ada Xiao Shu, apakah lukanya sakit...?"
Nada bicara Li Qiuyu sama sekali tidak menunjukkan kemarahan, melainkan dipenuhi dengan rasa khawatir dan manja, takut putrinya terluka.
Dia mengalihkan pandangannya ke arah Jiang Shu, perlahan berjongkok, dan menatap lembut bocah tampan di hadapannya itu.
"Xiao Shu, terima kasih banyak ya. Zhuzhu pasti telah merepotkanmu."
"Bibi tidak perlu sungkan. Guru selalu mengajarkan kami untuk kompak dengan teman sekelas dan saling membantu. Ini memang sudah sepatutnya saya lakukan," jawab Jiang Shu dengan gaya formal.
Li Qiuyu tertua renyah. Anak ini benar-benar sangat pengertian. Merupakan sebuah keberuntungan bagi Zhuzhu bisa mengenalnya.
"Xiao Shu, di mana Ayahmu? Belum datang ya? Perlu Bibi antar pulang?"
"Tidak perlu, Bibi, ibu saya sudah datang," jawab Jiang Shu sambil menunjuk ke arah Fu Wanying yang berdiri di samping.
Li Qiuyu sedikit tertegun. Sejak tadi ia terus berbicara dengan Jiang Shu sehingga tanpa sadar mengabaikan orang-orang di sekitarnya.
Ia dengan cepat menghilangkan rasa canggung di wajahnya, lalu menatap wanita muda di hadapannya yang memiliki kemiripan dengan Xiao Shu. Meskipun tidak mengenakan riasan wajah, parasnya tetap terlihat cantik.
Li Qiuyu memperkenalkan dirinya: "Halo, Ibu Xiao Shu, saya Li Qiuyu, ibunya Xu Xinzhu."
"Halo, halo, nama saya Fu Wanying," balasnya buru-buru.
"Akhir pekan lalu, Zhuzhu terjatuh dan terluka di taman. Waktu itu saya sedang pergi ke toilet dan tidak berada di sisinya. Untung saja ada Xiao Shu yang menjaganya, kalau tidak, akibatnya bisa sangat fatal," ucap Li Qiuyu sambil tersenyum menceritakan kejadian hari itu.
Fu Wanying seketika mengerti. Pantas saja akhir pekan lalu ayah dan anak itu pergi ke taman, dan sekembalinya mereka membawa sekotak mainan, sementara suaminya berdalih itu adalah hadiah terima kasih yang diberikan khusus oleh seseorang untuk putranya.
Ternyata yang dimaksud adalah kejadian ini.
Dan anak perempuan yang dijaga oleh Xiao Shu itu adalah Xu Xinzhu.
Jadi, jika seluruh kejadian ini dihubungkan, tindakan Xu Xinzhu yang berinisiatif menyapanya tadi menjadi sangat masuk akal.
"Ibu Xiao Shu, Anda benar-benar telah mendidik seorang putra yang luar biasa."
Fu Wanying mendengarkannya dengan senyum mengembang di wajahnya, lalu balas memuji: "Mana bisa begitu, Zhuzhu sangat imut, saya rasa siapa pun yang kebetulan melihatnya pasti tidak akan tinggal diam."
"Utamanya karena Xiao Shu sudah dewasa dan sangat pengertian, bisa diandalkan dalam menjaga orang lain, benar-benar anak yang hebat."
Fu Wanying tersenyum lebar dan mengalihkan pujian itu kepada sang guru: "Sebenarnya saya dan ayahnya sama-sama sibuk bekerja setiap hari, tidak punya banyak waktu mengurusnya. Semua ini berkat didikan Guru Zhang."
Guru Zhang di samping merasa tersanjung, karena ia tahu betul bahwa bocah bernama Jiang Shu ini tidak sedikit pun jarang membuat masalah di sekolah.
Jika harus menyebutkan perubahannya, itu hanyalah beberapa hari terakhir ini. Xiao Shu menunjukkan kedewasaan yang melebihi anak seusianya, tidak lagi nakal atau usil, dan mampu menjelaskan banyak hal dengan sangat masuk akal, bahkan soal-soal tingkat sekolah dasar pun tidak mampu membuatnya kesulitan.
"Anak Xiao Shu ini sudah cerdas sejak kecil, penurut dan pengertian, semua anak menyukainya. Saya hanya melakukan tugas saya."
Mendengar Guru Zhang turut bergabung dalam barisan orang-orang yang memuji putranya, senyuman di wajah Fu Wanying semakin merekah.
Bocah ini benar-benar membuat wajahnya bersinar.
"Ibu Xiao Shu, bolehkah saya tahu di mana kalian tinggal sekarang? Kalau ada waktu, saya ingin membawa Zhuzhu datang berkunjung untuk menyampaikan terima kasih secara langsung," tanya Li Qiuyu.
"Tidak perlu repot-repot, keluarga kami membuka warung pau bernama 'Zheng Haochi' di Jalan Baifu. Kalau suatu hari nanti ingin mencicipi bakpao, mantou, cakwe, atau susu kedelai, silakan mampir untuk mencobanya."