Bab 14
Halaman 1 dari 3
14.
Kota Nancheng dilanda suhu tinggi selama berhari-hari, dengan cuaca cerah.
Xu Siqian tidak punya kegiatan apa pun. Siang hari ia tidur, sedangkan malamnya ia membawa dompet Xu Siqian yang lain untuk berkeliling mencari makanan.
Selain Song Qu, nyaris tak ada orang yang datang mengganggunya. Tampaknya, Xu Siqian yang lain sudah melakukan persiapan matang sebelum datang ke sini.
Apa pun urusannya, semua itu sama sekali tidak menghalangi kebebasannya bersenang-senang.
Malam ini, ia memesan paket hidangan seorang diri dengan harga selangit di restoran hotpot dengan peringkat tertinggi.
Baru saja makanan dihidangkan, si pengganggu nyawa, Song Qu, menelepon.
“Aku sudah menyiapkan obat baru untukmu. Cobalah—”
Bawel!
Xu Siqian mencibir, memutuskan sambungan, lalu dengan gesit memasukkan Song Qu ke daftar hitam.
Beberapa hari terakhir, ia menyadari satu hal: dirinya sama sekali tidak membutuhkan obat apa pun untuk bertahan, dan bisa terus tinggal di dalam tubuh ini.
Song Qu terus mendesaknya minum obat. Justru itu membuktikan bahwa yang membutuhkan obat untuk bertahan adalah Xu Siqian yang lain.
Saat makan hotpot baru separuh jalan, dari kejauhan ia melihat gadis kecil yang sebelumnya telah menipunya sedang melewati lantai bawah.
Kalau punya dendam tetapi tidak membalasnya, bukankah itu sama saja menjadi kambing hitam?
Ia meletakkan sumpit, lalu bergegas mengejar.
Gadis itu masuk ke sebuah toko penukaran ponsel. Ketika keluar, ia memasukkan uang ke dalam saku. Rupanya, barang-barang curiannya diuangkan di tempat ini.
Anak sekecil itu pasti diperintah oleh orang dewasa. Ia ingin melihat siapa sebenarnya dalang di balik semua ini.
Gadis itu naik bus, sementara Xu Siqian mengemudi perlahan mengikutinya.
Setelah turun, gadis itu memasuki kawasan permukiman yang tampak seperti daerah kumuh. Xu Siqian memarkir mobil dan terus membuntutinya.
Lampu di atas kepala redup. Nyamuk dan serangga beterbangan menabrak cahaya, menimbulkan bunyi berulang yang berisik.
Paving di bawah kakinya terendam air kotor. Setiap kali diinjak, batu-batu itu bergoyang, lumpur menyembur dari celah-celahnya, dan bau busuk menusuk hidung.
Seekor kucing hitam tiba-tiba melesat melewati kakinya. Xu Siqian tidak sempat bersiap dan terkejut. Kakinya menendang sesuatu hingga terdengar bunyi gedebuk.
Gadis itu baru sadar bahwa ada seseorang yang membuntutinya. Ia berlari kecil sepanjang jalan, lalu menyelinap ke lorong gedung yang gelap gulita.
Xu Siqian mendongak, tetapi gadis itu sudah menghilang.
Gadis itu bersembunyi di tempat gelap, menutup mulut rapat-rapat agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Matanya terpaku pada lelaki yang berdiri di bawah cahaya lampu. Wajahnya tampan dan, meskipun telah berganti pakaian, tetap sangat mudah dikenali.
Ia ingat betul bahwa lelaki ini bukan orang yang mudah dihadapi.
“Tempat macam apa ini?” Lelaki itu mengumpat. Sambil menggigit rokok, ia memperingatkan, “Bocah, jangan bersembunyi lagi. Aku tahu kau ada di mana. Kalau tidak keluar, akan kucari satu per satu gedung di sini. Kuberi kau sepuluh detik untuk berpikir. Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh…”
Saat lelaki itu lengah, gadis itu menggesekkan punggung ke dinding dan perlahan menyusup ke semak-semak yang hitam pekat. Ia memutari sisi barat gedung, lalu berlari sekencang-kencangnya melalui jalan utama menuju pos penjaga.
Ia meminjam telepon untuk menelepon Ling Shuang, lalu mengadu sambil terisak-isak, “Kak Polisi, tolong aku! Aku takut sekali…”
Ling Shuang menutup telepon, kemudian mengajak Zhao Xiaoguang pergi ke Desa Barat Taoyuan untuk menangani laporan.
Gadis itu terus menunggu di pos penjaga. Begitu melihat mobil polisi dari kejauhan, ia segera berlari keluar dari pos dan langsung mencari Xu Siqian.
Alis lelaki itu terangkat. Ekspresinya tampak licik. Ia mematikan rokok dengan ujung sepatu, lalu mengangkat dagu ke arah gadis itu. Suaranya dingin dan mengerikan.
“Bocah, akhirnya berani keluar juga?”
Gadis itu tidak menjawab. Ia membungkuk, mengambil sebatang kayu, lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke arah Xu Siqian.
“Berani-beraninya kau memukulku?”
Xu Siqian menerjang dan mengangkat tubuh gadis itu dengan satu tangan. Dengan marah ia berkata, “Kau ingin mati?”
Gadis itu menjerit ketakutan.
Tepat pada saat itu, mobil polisi berhenti dengan mantap di bawah lampu. Ling Shuang membanting pintu dan berteriak, “Berhenti!”
Xu Siqian tampak agak terkejut saat melihat Ling Shuang. Ia melepaskan gadis itu dan mengerutkan dahi.
“Polisi kecil, ini salah paham. Aku tidak memukulnya.”
Ling Shuang menggendong gadis itu dan menyerahkannya kepada Zhao Xiaoguang. Setelah itu ia berbalik dan menampar Xu Siqian dengan keras.
“Sudah diberi pelajaran berkali-kali, masih saja tidak berubah!”
“Hei!”
Hanya dalam beberapa detik, Xu Siqian sudah menyadari bahwa dirinya kembali dijebak oleh gadis itu.
“Dia yang lebih dulu—”
Ling Shuang sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk membela diri. Ia menjatuhkan Xu Siqian dengan bantingan bahu, lalu menggunakan tangan dan kakinya untuk mengunci leher serta bahu lelaki itu dalam kuncian silang.
Punggung Xu Siqian begitu sakit hingga mati rasa. Kepalanya berdengung dan napasnya pun terasa sesak.
“Xiaoguang, ikat dia!” teriak Ling Shuang.
Zhao Xiaoguang tidak membuang waktu. Ia menurunkan gadis itu, lalu mengikat Xu Siqian erat-erat seperti buntalan.
Ling Shuang menariknya berdiri dan melemparkannya ke dalam mobil. Sirene dinyalakan, lalu mereka kembali ke kantor dengan suara “wiu, wiu, wiu” sepanjang perjalanan.
Xu Siqian sesekali masuk kantor polisi. Namun hari ini ia langsung dibungkus seperti daging samcan, membuat semua orang di ruang pemeriksaan tertawa.
“Sudah berapa kali orang ini ditangkap oleh Komandan Ling?”
“Empat kali,” jawab seseorang.
“Salah, lima kali,” koreksi Zhao Xiaoguang.
“Lima kali?”
“Ya.” Zhao Xiaoguang, yang senang melihat keributan, melantunkan lagu anak-anak, “Satu, dua, tiga, empat, lima, naik gunung memburu harimau. Harimau tak berhasil ditangkap, malah menangkap tupai kecil.”
Halaman 1 dari 3
* * *
Halaman 2 dari 3
Tidak lama setelah pulang, gadis itu mengambil handuk hangat dan, seperti biasa, masuk ke ruang bawah tanah.
Sambil mengusap wajah perempuan itu, ia bertanya dengan suara lirih, “Ibu, mau tidur di atas?”
Perempuan itu tidak menjawab. Gadis itu kembali menyisir rambutnya.
“Rumah kita nyaman sekali. Kita bisa mandi. Kita naik ke atas, ya? Di sini kotor sekali.”
Perempuan itu menggerakkan kepala dan menatap gadis itu dengan tatapan kosong, seolah menyetujui usulnya.
Gadis itu sangat gembira. Ia menggandeng perempuan itu dan mengajaknya berjalan ke luar.
Semuanya terasa begitu tenang. Kegelapan di hadapan mereka perlahan tersibak. Jantung gadis itu berdebar kencang. Sebentar lagi, mereka akan sampai di rumah.
Kelak, mereka akan hidup bahagia bersama dan tidak akan ada lagi yang menyakiti mereka.
Ia membayangkan masa depan dengan penuh harapan.
Lampu di depan pintu unit apartemen menyala seketika.
Begitu melihat cahaya, perempuan yang selama ini diam mendadak seperti tersambar listrik. Kesadarannya muncul sesaat.
Ia tiba-tiba mendorong gadis itu, lalu berguling dan merangkak menuruni tangga. Dengan ketakutan, ia meringkuk di ruang bawah tanah yang gelap seperti liang kubur.
“Ibu!” Gadis itu mengejarnya sambil berteriak.
Yang menjawabnya hanyalah suara “aa, aa” yang tak membentuk kata.
Iblis itu sudah mati. Mengapa malaikat belum juga datang?
Gadis itu duduk memeluk lutut di dalam kegelapan, lalu menangis tersedu-sedu.
* * *
Ruang pemeriksaan terang benderang.
Tuan Daging Samcan sedang berusaha keras membela diri.
“Polisi kecil, aku tidak berbohong. Gadis itu sengaja menjebakku.”
Kali ini, Ling Shuang samar-samar mulai menyadari ada yang tidak beres. Saat meneleponnya, gadis itu tidak berada di dekat Xu Siqian. Ia sudah melapor kepada polisi, jadi mengapa tidak menunggu di tempat dan malah membahayakan dirinya sendiri?
Xu Siqian melanjutkan, “Kuberitahu, anak-anak tidak sesuci yang kau kira. Sejak lahir, manusia memang sudah memiliki sifat buruk.”
Ling Shuang mengganti pertanyaan.
“Kenapa kau muncul di sana tengah malam?”
“Aku…” Xu Siqian akhirnya menyerah di bawah tatapannya. Ekspresinya tampak tidak wajar. “Awalnya aku ingin menagih perhitungan kepada gadis itu, tetapi tidak berhasil menemukannya. Setengah menit sebelum kau datang, dia tiba-tiba memukulku dengan sesuatu. Semua yang kukatakan benar. Percaya atau tidak, terserah kau…”
“Tulis surat introspeksi sebanyak dua ribu kata,” kata Ling Shuang dengan wajah yang sedikit melunak.
“Apa?”
“Tulis surat introspeksi dua ribu kata, setelah itu kau boleh pergi,” tegasnya sekali lagi.
Xu Siqian mendongakkan wajah dan tersenyum nakal.
“Kalau kau menyuruhku menulis surat cinta dua ribu kata, aku bisa. Tapi surat introspeksi, tidak.”
Tulang alis Ling Shuang bergerak sedikit. Sambil menyilangkan tangan, ia berkata, “Kalau begitu, kau akan tetap di sini selama dua puluh empat jam penuh. Tentu saja, ikatanmu juga tidak akan kulepas.”
Setelah berkata demikian, ia berbalik hendak pergi.
Xu Siqian buru-buru memanggilnya, “Jangan! Aku akan menulis. Lepaskan ikatanku.”
Ling Shuang memberi isyarat kepada polisi di sampingnya. Polisi itu mengambil kertas dan pena, lalu meletakkannya di atas meja.
“Dua ribu kata. Kurang satu kata saja, kau tidak boleh pergi.”
Setelah tali polisi dilepaskan, Xu Siqian memutar-mutar pergelangan tangannya.
“Bisa beri aku minum? Aku belum makan malam. Lapar sekali.”
Ling Shuang mengambil sekaleng susu Wangzai dari meja Zhao Xiaoguang dan melemparkannya kepada Xu Siqian.
Xu Siqian kembali bersikap semakin kurang ajar.
“Ada sedotan?”
Wajah Ling Shuang mengeras. Ia menyilangkan tangan dan menatapnya dengan agak tidak senang.
“Banyak sekali maumu.”
Xu Siqian tersenyum dan menjelaskan, “Aku alergi logam.”
Pada saat itu, pintu ruang pemeriksaan diketuk dua kali.
“Komandan Ling, ada situasi!”
Ling Shuang menyuruh Zhao Xiaoguang masuk, sementara ia sendiri berjalan cepat keluar dari ruang pemeriksaan.
“Ada apa?”
“Sepertinya kasus orang hilang. Seorang nenek datang melapor tengah malam.”
Ling Shuang tiba di ruang penerimaan laporan dan segera memahami masalahnya. Nenek yang datang melapor itu menderita demensia, sehingga sangat kesulitan menjelaskan keadaan.
“Pak Polisi, anak laki-lakiku hilang. Aku cemas sekali.”
“Sudah berapa lama dia hilang?” tanya polisi.
“Sudah sangat, sangat lama.” Ia bergumam tak jelas. “Mungkin setahun. Tidak, tiga tahun. Bukan juga…”
Polisi yang mencatat tidak tahu harus menulis apa. Ketika melihat Ling Shuang keluar, ia langsung merasa lega.
“Komandan Ling…”
Ling Shuang menghampiri, menepuk bahu nenek itu, lalu bertanya, “Nek, siapa nama Nenek?”
Halaman 2 dari 3
* * *
Halaman 3 dari 3
“Liu Guihua.”
Ling Shuang mengangguk dan memberi isyarat kepada polisi untuk mencari nama itu dalam sistem dengan pencarian samar tanpa mempertimbangkan nada pelafalan. Di Kota Nancheng, terdapat seratus empat puluh sembilan orang bernama Liu Guihua.
“Di mana rumah Nenek?” tanya Ling Shuang lagi.
Nenek itu berpikir cukup lama, tetapi tidak mampu menjawab.
Ling Shuang kembali bertanya, “Nenek datang berjalan kaki atau naik kendaraan?”
“Naik kendaraan!” Nenek itu masih mengingat hal tersebut.
“Naik kendaraan berapa kali? Apakah berganti kendaraan?” Ling Shuang terus bertanya.
“Tidak berganti. Terus naik, terus naik…”
Di depan kantor mereka terdapat halte bus. Ada enam rute yang langsung menuju kawasan permukiman. Pada jam seperti ini, hanya satu rute malam yang masih beroperasi, yaitu rute 309.
Pencarian pun dipersempit menjadi dua orang bernama Liu Guihua. Di antara keduanya, hanya satu yang sesuai dengan usia sang nenek, yaitu yang tinggal di Desa Timur Taoyuan.
“Hubungi keluarganya,” kata Ling Shuang.
Putri nenek itu yang mengangkat telepon. Ia juga sedang mencari ibunya ke mana-mana.
“Nek, kami antar pulang dulu,” usul seorang polisi.
“Tidak bisa! Anak laki-lakiku hilang. Aku harus mencarinya. Dia sudah lama hilang…”
Sambil berkata demikian, nenek itu menangis tersedu-sedu.
Dalam sistem kependudukan, Liu Guihua memang tercatat memiliki seorang putra bernama Jin Hongyang.
“Nek, laporan Nenek sudah kami terima. Kami akan membantu mencari Jin Hongyang. Malam ini kami antar Nenek pulang dulu. Setelah kami menemukannya, kami akan mengantarnya ke rumah Nenek.”
Sekelompok orang membujuk nenek itu selama tiga jam. Pada akhirnya, ia baru dengan enggan menyetujui untuk pulang.
* * *
Sebelum pulang kerja, Ling Shuang mampir ke ruang pemeriksaan.
Xu Siqian baru saja pergi. Zhao Xiaoguang menyerahkan surat introspeksi yang telah ditulis lelaki itu kepada Ling Shuang.
“Bos, ini tulisan orang itu.”
Ling Shuang membukanya dan langsung tertegun. Halaman pertama berisi surat introspeksi, sedangkan halaman kedua menampilkan sebuah gambar: laut, bulan, dan sebuah kapal.
Di bagian bawah tertulis satu baris kalimat.
“Polisi kecil, balikkan kertasnya dan panaskan. Akan kubuatkan sulap kecil untukmu.”
Karena penasaran, Ling Shuang menyalakan pemantik dan menempelkannya di bawah kertas.
Gambar dengan garis-garis hitam perlahan muncul di atas kertas putih.
Gadis dalam gambar itu mengenakan rok pendek dan atasan bertali. Matanya menggoda. Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata wajahnya adalah wajah Ling Shuang.
Gambar itu memang vulgar, tetapi sangat indah. Bahkan Ling Shuang sendiri terpesona saat melihatnya.
Di bawahnya masih ada sebaris tulisan kecil.
“Aku ingin jatuh di sana, sementara segala sesuatu tenggelam di dalam dirimu.”
Zhao Xiaoguang tidak melihat isi sebenarnya. Ia hanya merasa takjub.
“Bagaimana orang itu melakukannya? Sulap?”
“Bahan organik akan berubah menjadi hitam ketika dipanaskan dan teroksidasi,” jawab Ling Shuang dingin.
“Bahan organik? Dari mana bahan organiknya?” tanya Zhao Xiaoguang dengan heboh.
Tatapan Ling Shuang beralih kepada susu Wangzai di atas meja. Sorot matanya menjadi gelap.
Setiap langkah Xu Siqian benar-benar penuh perhitungan.
Ia melipat gambar itu, lalu merobeknya hingga hancur berkeping-keping.
* * *
Setelah meninggalkan kantor polisi, Xu Siqian kembali pergi ke Desa Barat Taoyuan. Mobilnya masih terparkir di sana.
Saat melewati pos penjaga kompleks, ia melihat sebuah kartu berwarna biru gelap tergeletak di tanah. Di atasnya tercetak lambang kepolisian.
Setelah diperhatikan lebih saksama, ternyata itu adalah kartu kontak.
Kepolisian Kota Nancheng, Detektif Ling Shuang, telepon: 159XXXXX
Ia bertolak pinggang dan mengembuskan napas. Jadi, gadis itu bersembunyi di sini untuk mencari Ling Shuang.
Ia hampir saja membuang kartu tersebut, tetapi kemudian membuka ponsel dan menyimpan nomor Ling Shuang ke dalam daftar kontak.
Nama yang ditulisnya hanya tiga kata: Polisi Kecil.
Sebelum tidur malam itu, ia menggunakan nomor tersebut untuk menambahkan Ling Shuang di WeChat, tetapi permintaannya ditolak.
Dua menit kemudian, telepon Ling Shuang berdering di sisi tempat tidurnya.
Lelaki itu hanya mengucapkan satu kalimat.
“Selamat malam, polisi kecilku tersayang. Kau suka sulap hari ini?”
Halaman 3 dari 3