Bab 6: Saatnya Menunjukkan Keahlian yang Sebenarnya
Penalaran Xiao Mu membuat ruang rapat kecil itu terbenam dalam keheningan yang mencekam.
Lima polisi senior tampak terpaku, wajah mereka menunjukkan keterkejutan dan kebingungan. Mata mereka membelalak, ekspresi di wajah mereka seolah berkata, “Ternyata begini…”
Memang benar, jika mengikuti penalaran Xiao Mu, kasus ini sejak korban ditemukan tewas sudah terasa janggal. Tindakan pelaku terlalu tidak wajar. Kalau dibilang orang biasa, mana mungkin orang biasa bisa melakukan pembunuhan seperti itu. Kalau dibilang pembunuh bayaran, kenapa memilih cara yang begitu bodoh untuk membunuh?
Namun, jika mengikuti dugaan Xiao Mu, bahwa pelaku sedang memasang perangkap, semuanya terasa masuk akal. Semua keanehan itu menjadi logis. Rasa itu seakan-akan...
Seperti Daji yang menggoyangkan pinggulnya di hadapan Raja Zhou sambil melemparkan tatapan genit, menggoda, “Yang Mulia, ayo bermain, kejar aku…” Bukankah mereka semua berubah menjadi Raja Zhou yang haus, melompat ke arah Daji, ingin menaklukkan siluman kecil itu?
Tapi, tidakkah mungkin ketika kau berhasil mengejarnya, ia akan berbalik dan berubah menjadi monster menakutkan yang melahapmu bulat-bulat? Kemungkinan itu sangat besar!
Jika ada kemungkinan semacam itu, berarti penalaran Xiao Mu sudah terbukti. Ada seseorang yang sedang menjebak, menunggu polisi terjebak ke dalam perangkapnya!
Beginilah dunia penyelidikan kriminal. Beragam hipotesis, penalaran, dan analisis harus dilakukan. Kalau salah, tak masalah. Asal sekali saja menebak dengan benar, pelaku bisa tertangkap.
Meski logikanya masuk akal, para polisi senior hanya mengakui setengahnya. Sebab, masih ada celah yang tak bisa dijelaskan: pembunuhan polisi!
“Kami akui penalaranmu cukup masuk akal, tapi dari mana kau tahu bahwa tujuan pelaku adalah membunuh polisi?” Ini seperti seseorang datang memberitahu nomor undian yang pasti keluar esok hari. Jika benar, dari mana ia tahu nomor itu sebelumnya?
Lima penyelidik kawakan sehari-harinya memang bertugas mengasah otak, mengulik detail, mencari celah. Mau menipu lima rubah tua berpengalaman seperti mereka, si bocah ini masih kurang matang.
Tapi siapa sangka, Xiao Mu memang sengaja memberi tahu bahwa ada yang ingin membunuh polisi. Soal masuk akal atau tidak, itu urusan belakangan. Asal kemungkinan itu ada, ayahnya dan rekan-rekannya pasti akan lebih berhati-hati. Dengan kewaspadaan itu, pelaku tak akan mudah melakukan aksinya.
Selain itu, penalarannya juga diakui, arah penyelidikan pun akan bergeser. Inilah tujuan utama Xiao Mu: ikut serta dalam penyelidikan!
Seperti yang sudah disebutkan, dia hanyalah orang biasa, bahkan bukan siswa akademi kepolisian. Atas dasar apa ia bisa ikut terlibat? Bisa, tapi dengan cara khusus.
Kadang, polisi butuh bantuan dari pihak luar untuk kasus-kasus sulit. Orang-orang seperti itu biasanya dikategorikan sebagai: ahli, penasihat, atau personel khusus.
Contohnya penasihat, yang memberikan analisis, petunjuk, dan terlibat dalam pengambilan keputusan penting. Mereka meningkatkan efisiensi penyelidikan serta memberikan panduan profesional. Singkatnya, polisi mengundang seorang “penasihat militer” untuk membantu merancang strategi.
Tentu saja, jika kasus terpecahkan, mereka tidak bisa mendapat penghargaan kepolisian. Tapi mereka bisa mendapat hadiah, gelar, atau penghargaan.
Kepala tim, Liu Qiang, akhirnya muncul dengan ekspresi aneh, menatap Xiao Mu. Setelah mendengarkan laporan bawahannya tentang analisis si bocah, ia merenung sejenak lalu bertanya, “Xiao Mu, katakan pada Paman Liu, bagaimana kau bisa menduga bahwa tujuan pelaku adalah membunuh polisi?”
“Aku datang kemari memang ingin belajar tentang penyelidikan, tapi sebenarnya ada alasan lain yang semula tak ingin kuceritakan.” Kata Xiao Mu dengan wajah serius, “Sejujurnya, sejak pagi aku merasa cemas, seperti ada yang buruk akan menimpa ayahku. Karena itu aku datang untuk menenangkan perasaan dan ingin berada di sisinya.”
Perkataannya membuat semua orang tertegun, lalu wajah mereka berubah serius. Apakah mereka percaya? Percaya! Entah mengaku atau tidak, di dunia ini memang ada firasat semacam itu.
Misalnya, sebelum ada kejadian buruk, kadang ada anggota keluarga yang bisa merasakan sesuatu secara misterius. Tak hanya manusia, bahkan hewan liar pun memiliki naluri seperti itu. Sebelum bencana datang, beberapa hewan juga menunjukkan perilaku aneh.
Liu Qiang dan Xiao Guodong saling berpandangan, lalu menoleh ke Xiao Mu, “Jadi, kau curiga pelaku memang ingin membunuh polisi?”
“Ya, aku merasa ayahku akan celaka. Setelah melihat begitu banyak kejanggalan dalam kasus ini, aku yakin pelaku memang sedang menjebak. Jika firasatku benar, ayahku sangat mungkin menjadi korban. Bukankah artinya tujuan pelaku adalah membunuh polisi?”
Saat ini, ia merasa aktingnya luar biasa meyakinkan. Bisa berkata bohong dengan wajah serius. Tapi, asalkan bisa menyelamatkan ayahnya, apa peduli dengan segalanya?
Ada satu hal yang sangat penting. Kali ini, Xiao Mu bertekad untuk menangkap pelaku dengan tangannya sendiri, memecahkan kasus yang ada di hadapannya. Sebab, ia menyadari kasus ini sudah tak lagi sama dengan kehidupan sebelumnya.
Kalau saja sama, ia cukup mengikuti ayahnya dan langsung menangkap pelaku saat waktunya tiba. Tak perlu membuang-buang tenaga berpikir. Dulu, semua orang mengira kematian Xiao Guodong dan yang lain karena pelaku terpojok. Tapi kini Xiao Mu melihat ada keanehan dalam kasus ini. Ia hanya bisa menduga ada kaitannya dengan “jaringan gelap”.
Kalau sudah menyadari, mana mungkin ia tinggal diam?
Semua mata tertuju pada Liu Qiang. Liu Qiang tak banyak bicara, menatap Xiao Mu dalam-dalam, “Baiklah, mulai sekarang kau ikut terlibat dalam penyelidikan kasus ini. Kalau ada apa-apa... biar aku yang tanggung!”
Mana mungkin seorang kepala tim adalah orang bodoh? Ia tahu benar si bocah ingin ikut terlibat dalam kasus ini. Tapi otaknya memang cemerlang. Ditambah ada para senior yang membimbing, membantu penyelidikan, seharusnya tak jadi masalah besar.
Jika benar-benar bisa membantu tim memecahkan kasus, namanya akan tercatat tebal dalam arsip. Ini akan sangat bermanfaat untuk masa depan Xiao Mu sebagai polisi. Siapa di ruangan itu yang tak paham akan hal ini?
Xiao Guodong punya hubungan baik di kepolisian, Liu Qiang adalah sahabat karibnya. Dan yang terpenting: Xiao Mu memang punya bakat dan otak.
Kalau orang lain yang seusianya, meskipun mau diberi kesempatan, kalau tak punya otak, apa bisa diandalkan?
…
Keluar dari Departemen Kedua, Xiao Mu menarik napas dalam-dalam. Akhirnya ia benar-benar terlibat. Ia pun telah mengambil langkah pertama dengan sukses. Namun jalan di depan tidaklah mudah. Memecahkan kasus tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Di sisi Xiao Mu, Xiao Guodong berdiri dengan wajah penuh kebanggaan. Anak sendiri punya kemampuan, tentu membuatnya bangga. Mana mungkin ia tak bahagia?
Penyelidik senior di samping mereka pun tak bisa menutupi rasa iri. Anak mereka seusia Xiao Mu, masih suka bermain dan berbuat onar. Kini mereka berdua bertugas mendampingi Xiao Mu, ingin melihat apa yang bisa ditemukan oleh si bocah ini.
Namun mereka juga bertanya-tanya. TKP sudah mereka periksa dengan sangat teliti, seharusnya tak ada yang terlewat. Mengapa si bocah masih ingin memeriksanya lagi?
Karena...
Xiao Mu merasa tegang, firasat buruk menghantuinya. Ia merasa kasus ini bisa saja jauh lebih besar dari dugaan. Ia ingin memastikan dugaannya sendiri.
Sudah saatnya menunjukkan kemampuan yang sebenarnya!