Bab 1: Roda Takdir
Negeri Naga, Ibu Kota, sebuah restoran.
“Kau orang baik, prinsipmu teguh, wajahmu tampan, tapi... kau adalah seorang polisi, polisi garis depan.”
“Pernahkah terpikir olehmu, kalau suatu hari kau terluka, cacat, atau bahkan gugur, apa yang harus kulakukan?”
“Andai nanti kita memiliki anak, pernahkah kau pikirkan jika kau tiada, bagaimana nasib anak kita?”
“Maaf, kita sudahi saja!”
Xiao Mu tertegun, memandang kekasihnya yang duduk di hadapannya.
Di hatinya tumbuh perasaan yang aneh.
Wajah kekasihnya di depannya kini terasa asing.
Ia masih ingat, saat itu usianya 22 tahun.
Baru lulus dari akademi kepolisian, melewati masa magang dan menjadi detektif kriminal, ia pun mengenal gadis itu.
Mereka bertemu, saling mengenal, saling mencintai, dan saling mendampingi selama dua tahun penuh.
Kini...
Ia diam memandang kekasihnya bangkit dari duduk.
Melihat punggungnya yang pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Xiao Mu mengambil sebungkus rokok, menyalakan sebatang.
Pikirannya kembali melayang ke masa lalu.
Sebelum berusia delapan belas tahun, ia hidup dalam keluarga yang bahagia.
Ayahnya seorang polisi, ibunya seorang guru.
Sejak kecil, tiap kali menatap lencana kehormatan polisi yang terbingkai di dinding, ia pun memiliki sebuah impian—menjadi polisi seperti ayahnya.
Demi impian itu, Xiao Mu berjuang sekuat tenaga hingga diterima di Universitas Kepolisian Rakyat Negeri Naga.
Namun, sebelum sempat mendaftar, ayahnya gugur dalam sebuah kasus.
Tak lama, ibunya pun jatuh depresi dan akhirnya bunuh diri.
Sejak itu, Xiao Mu menjadi seorang remaja yatim piatu.
Namun, ia bertahan.
Tak pernah menyerah pada impian, ia masuk akademi kepolisian.
Lulus dengan nilai gemilang dan akhirnya berhasil menjadi seorang polisi.
Setelah mengenal kekasihnya, ia kira kesepian takkan lagi menghantuinya.
Namun, siapa sangka...
Usai mengisap habis sebatang rokok, Xiao Mu tersenyum pahit, lalu memejamkan matanya.
Terlalu lelah.
Karena satu kasus, Xiao Mu sudah setengah bulan lebih tak beristirahat dengan layak.
Setiap hari tampaknya ia tak pernah tidur lebih dari lima jam. Benar-benar lelah luar biasa.
Ia hanya ingin memejamkan mata sejenak, tapi malah terlelap.
Pelan-pelan, napasnya memburu, jantungnya berdebar keras dan kejang.
Mendadak—
Xiao Mu tak lagi bernapas, detak jantungnya pun lenyap.
Tubuhnya yang tinggi besar perlahan roboh. Ia meninggal mendadak!
...
Tahun 2018, Kota Es.
Di atas ranjang sebuah kamar kecil, Xiao Mu terbangun perlahan.
Pandangan kabur seketika menjadi jelas, pikirannya pun benar-benar sadar.
Ia memandang sekeliling, keheranan memenuhi benaknya.
Benar-benar tanpa persiapan.
Kamar yang sangat familiar, furnitur yang dikenalnya, ranjang tunggal yang sudah lama...
Rumah?
Ia masih jelas mengingat, barusan ia baru saja berpisah dengan kekasih di sebuah restoran di Ibu Kota.
Mengapa kini tahu-tahu ia sudah kembali di Kota Es, di rumah lama?
Dan rumah ini terasa agak berbeda!
Segala sesuatu di dalam kamar, semuanya seperti bertahun-tahun yang lalu.
Monitor dan komputer yang sudah lama ia jual sebagai barang rongsokan, kini tiba-tiba muncul kembali.
Bukan hanya komputer, barang-barang lain pun kembali ada.
Semuanya muncul lagi.
Apa ini mimpi?
Dalam kebingungan, Xiao Mu terpaku di tempatnya.
Tiba-tiba—
“Xiao Mu, masih saja bermalas-malasan, cepat bangun dan makan!”
Suara seorang wanita paruh baya terdengar dari luar kamar.
Tubuh Xiao Mu bergetar, ekspresinya membeku.
Ibu?
Seketika, ia melompat dari ranjang seperti orang kesetanan.
Bergegas ke pintu kamar, berlari keluar.
Begitu Xiao Mu melihat ibunya keluar dari dapur membawa makanan, matanya membelalak, dua baris air mata mengalir deras.
Ibunya masih seperti dalam ingatan.
Meski telah memasuki usia paruh baya, pesonanya malah makin terpancar.
Waktu mengukir garis-garis lembut di wajahnya; ada aura anggun dan berkelas yang memancar darinya.
Siapa pun yang melihatnya pasti bisa membayangkan betapa cantiknya beliau di masa muda.
“Ibu...!”
Tak bisa lagi menahan diri, Xiao Mu berseru penuh haru.
“Kenapa teriak-teriak begitu?” Liu Yunying terkejut mendengar teriakan putranya, memutar bola matanya.
Namun, sedetik kemudian ia langsung dipeluk erat oleh Xiao Mu sampai susah bernapas.
“Mau mati, ya?” Liu Yunying tertawa sambil meninju putranya ringan.
Ia pun heran.
Sang suami tingginya hanya 183 sentimeter, tapi anaknya, baru delapan belas tahun, sudah 185 sentimeter lebih.
Wajahnya juga mewarisi semua kelebihan dari ayah dan ibunya, tampan sekali.
Sekarang, untuk melihat wajah putranya saja, ia harus mendongak.
Eh, kenapa Xiao Mu sampai menangis?
Xiao Mu bukan hanya menangis, air matanya sudah membanjiri wajah.
Itu air mata kebahagiaan, ia terlalu terharu.
Di dalam benaknya muncul sebuah pikiran.
Terlahir kembali?!
Kalau tidak, semua yang terjadi di hadapannya benar-benar tak masuk akal.
Xiao Mu melepaskan pelukan pada ibunya, lalu kembali ke kamar.
Ia memandangi sekeliling, mengambil ponsel ‘jadul’ dari tempat tidur.
Dinyalakan.
2018, 10 Agustus?
Benar-benar terlahir kembali, bahkan kembali enam tahun lalu!
Setelah sadar, Xiao Mu yang kembali ke usia delapan belas tahun itu pun kembali menangis haru.
Ibunya masih hidup, ayahnya pun belum gugur.
Ia masih ingat.
Hari ayahnya gugur adalah 13 Agustus.
Tatapan Xiao Mu mendadak menyala terang.
Seperti orang yang hampir tenggelam menemukan batang penyelamat.
Ia harus menyelamatkan ayahnya!
Selama ayah tetap hidup, ibunya pun takkan pernah bunuh diri.
Xiao Mu mengepalkan tangan, sorot matanya menjadi sedingin baja.
Dalam benaknya muncul sebuah kenangan.
Kenangan saat ayahnya dan seorang detektif ditemukan tewas.
Di sebuah pusat perbelanjaan, tewas tertembak.
Lokasi itu takkan pernah ia lupakan.
Namun, saat itu juga terjadi satu hal aneh.
Empat hari setelah ayahnya gugur, pelaku tertangkap.
Tapi bukan polisi yang menangkap, melainkan Badan Keamanan Nasional!
Ia masih ingat di kehidupan sebelumnya, ketika ia melihat pelaku, kondisinya sangat mengenaskan.
Kedua tangan dan kakinya patah, tubuhnya penuh luka.
Bahkan disiksa sampai hampir tak berbentuk, nyawanya tinggal satu helaan napas.
Waktu itu, Xiao Mu sempat menebak dengan aneh.
Seolah ada seseorang yang meminjam kekuatan Badan Keamanan Nasional, membantunya menemukan pembunuh ayahnya, lalu sengaja mempertemukan mereka.
Kenapa bisa menebak begitu?
Coba pikir, urusan kriminal mana mungkin Badan Keamanan Nasional mau repot-repot ikut campur?
Yang paling aneh, orang Badan Keamanan Nasional sendiri yang memberitahu agar ia datang menemui pelaku.
Bukankah itu aneh? Bagaimana mereka tahu kalau ia sedang mencari pelaku?
Dari berbagai petunjuk, Xiao Mu merasa ada seseorang yang membantunya.
Ia juga pernah berusaha mencari orang itu untuk mengucapkan terima kasih.
Sayang, sampai ia meninggal dan terlahir kembali, ia tak pernah menemukan orangnya.
Sebuah penyesalan baginya!
Kini, setelah terlahir kembali, ia tak boleh membiarkan tragedi itu terulang lagi.
Sorot matanya kini menyala penuh tekad membara.
Pelaku?
Bersiaplah, aku akan datang untukmu!
Tiba-tiba—
Sebuah suara aneh terdengar di dalam pikirannya.
[Roda Takdir... diaktifkan!]
Xiao Mu: ???
Halusinasi, delusi, atau apa?
Kalau tidak, kenapa ada suara seperti itu di dalam kepalanya?
Saat ia mulai curiga apakah otaknya bermasalah, mendadak sebuah roda raksasa berwarna emas kemerahan muncul di hadapannya.
Di bawah cahaya samar nan misterius, roda itu berputar perlahan.
Setiap garis penanda, seolah memuat kebijaksanaan kuno dan rahasia alam semesta.
Terasa begitu sakral!