Bab 25 Niat Membunuh yang Bertentangan
Mendengarkan cerita yang disampaikan oleh kepala desa, Lin Xing mengerutkan kening dan bertanya, “Lalu apakah warga desa berhasil merebut kembali tiga ratus tael itu?”
Kepala desa menggeleng pelan. “Pendeta Tao itu sangat licik. Entah di mana ia menyembunyikan tiga ratus tael itu. Waktu itu... waktu itu para warga sudah menggeledah seluruh tempat tinggalnya, tapi tetap tidak menemukannya...”
Lin Xing memandang lawan bicaranya, mengetahui bahwa perkataannya jelas memihak warga desa, dan tak sekalipun kepala desa itu menyebutkan peran keluarganya sendiri. Jelas ia berusaha mencuci tangan, melemparkan seluruh tanggung jawab kepada Pendeta Awan Putih dan warga desa.
Namun, sudah bisa dipastikan bahwa waktu itu telah terjadi konflik sengit antara warga desa dan Pendeta Awan Putih, yang berujung pada kematian pendeta itu.
Soal bagaimana persisnya kejadian saat itu, mungkin sudah sulit untuk dibuktikan.
Lin Xing menggeleng pelan, lalu bertanya lagi, “Lalu bagaimana keluargamu bisa mengendalikan Dewa Gunung setelahnya?”
Kepala desa menjawab, “Ayah saya yang mengajarkan cara berkomunikasi dengan Dewa Gunung kepada saya. Sedangkan ayah mempelajarinya dari kakek saya.”
“Kata ayah, waktu itu tempat angker di pegunungan sudah ditekan dengan Batu Penakluk Setan, Pendeta Awan Putih juga sudah terbunuh, maka warga desa berniat membunuh Dewa Gunung yang telah ditangkap itu.”
“Selama masa itu, kakek saya yang menjaga Dewa Gunung di dalam kurungan.”
“Tanpa sengaja, kakek saya menemukan bahwa Dewa Gunung itu tampaknya tidak berniat jahat kepadanya. Melihat Dewa Gunung terus-menerus meraung pilu, lama-lama hati kakek saya pun luluh.”
“Akhirnya, setelah menyaksikan warga desa berteriak ingin membantai, ia tak tega Dewa Gunung dibunuh, maka secara diam-diam dilepaskannya Dewa Gunung itu...”
“Sejak saat itu, Dewa Gunung hanya mau menuruti keluarga kami. Selain keluarga kami, siapa pun yang ditemuinya akan dimakan.”
“Konon pada awalnya, tubuh Dewa Gunung itu juga sebesar manusia biasa, tapi selama bertahun-tahun ia makin banyak memangsa orang, tubuhnya pun makin besar dan makin sulit diatur...”
Jawaban kepala desa itu tidak mendapat tanggapan dari Lin Xing.
Ia mengingat kembali kilasan-kilasan yang sempat dilihatnya di dalam benak, dan berpikir, “Warga desa terakhir yang ditemui Dewa Gunung dan terasa akrab itu, sepertinya adalah salah satu anak yang dulu mengantarnya ke gunung.”
“Apakah karena ikatan darah? Sehingga Dewa Gunung bersedia menerima pemberian makanan dari keluarga kepala desa?”
“Jika memang begitu, apakah anak itu mengenali ayahnya sendiri?”
“Melepaskan Dewa Gunung, apakah semata-mata demi keuntungan, ingin memanfaatkan Dewa Gunung untuk meraih laba? Ataukah karena pengaruh hubungan darah, sebab ia mengenali ayahnya?”
“Kerumitan dan rahasia di balik semua ini, mungkin bahkan kakek kepala desa pun tak pernah menceritakan seluruhnya, juga tak pernah mewariskan isi hatinya pada anak cucu.”
Lin Xing hanya sempat berpikir sekilas lalu menggelengkan kepala dalam hati. Mungkin, seperti banyak kisah rahasia dalam sejarah, sebagian misteri akan selamanya terkubur dalam masa lalu.
Ia menunduk sejenak menatap patung kayu aneh yang ada di tangannya, tak tahu benda itu sebenarnya berguna untuk apa, dan akhirnya memilih menyimpannya untuk sementara.
Selanjutnya, Lin Xing menatap kepala desa yang kini sudah benar-benar tak berdaya di atas tanah. Dalam hatinya, niat untuk membunuh mulai timbul dengan penuh pertentangan.
Secara logika, orang itu telah memperdagangkan manusia, merenggut nyawa tanpa peduli, bahkan berkali-kali memerintahkan Dewa Gunung untuk menghabisi dirinya. Sejak lama Lin Xing ingin mencincang lawannya itu.
Namun, sikap patuh terhadap hukum yang tumbuh sejak kecil membuat Lin Xing berusaha keras menekan hasrat membunuh itu, ingin mencari cara yang sah dan benar untuk menyelesaikan perkara.
“Dia sudah tidak punya kemampuan menyakiti siapa pun. Jika sekarang aku membunuhnya, bukankah itu termasuk pembelaan diri yang berlebihan? Atau malah penganiayaan dengan sengaja?”
“Jadi, seharusnya aku menyerahkannya kepada polisi dunia ini?”
Walau begitu, Lin Xing tetap merasa keinginan untuk membunuh di hatinya sulit sekali dipadamkan.
Boneka kucing yang menemaninya tampak menangkap keganjilan pada diri Lin Xing, lalu bertanya, “Lin Xing, ada apa denganmu?”
Lin Xing balik bertanya, “Tuan Bai, menurutmu, apa aku harus membunuh kepala desa ini?”
Mendengar kalimat itu, kepala desa langsung ketakutan, gemetar hebat, segera berlutut dan membenturkan kening ke tanah berkali-kali, memohon ampun tanpa henti.
Sementara Bai Yiyi tertegun sejenak, lalu tersenyum, “Tentu saja harus dibunuh. Kalau tidak dibunuh sekarang, mau ditunggu sampai tahun baru?”
Bagi Bai Yiyi, membunuh orang di dunia ini sama mudahnya dengan makan dan minum, apalagi yang hendak dibunuh adalah musuh.
Lin Xing bertanya ragu, “Bukankah seharusnya aku melapor pada polisi? Atau dalam hal ini, pejabat setempat?”
“Pejabat?” Bai Yiyi tak bisa menahan tawa. “Dalam masa kacau begini, mana ada pejabat yang mau mengurus hal begini? Sudahlah Lin Xing, jangan bertele-tele, cepat bunuh saja dia lalu kita pergi.”
“Masa kacau, ya?” Lin Xing menatap kepala desa di hadapannya, kini dorongan untuk membunuh seakan tak terbendung lagi. “Masa kacau artinya tak ada hukum, tak ada aturan, begitu?”
“Berarti ini dunia tanpa aturan, tanpa perlu mematuhi hukum apa pun?”
Ia merasakan kegelisahan yang belum pernah ia alami sebelumnya mulai menyeruak ke permukaan, membangkitkan hasrat membunuh dalam dirinya, mendesaknya untuk segera menghabisi kepala desa itu.
Ingatan akan kematian-kematian kejam yang ia alami dalam alur waktu terbalik terus bermunculan, seperti kayu bakar yang ditambah ke dalam kobaran dendam, membuat Lin Xing makin gelisah dan membara.
Namun, pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara yang sangat akrab bergema di benaknya, suara ajaran sang ayah.
“Lin Xing, kau harus ingat baik-baik ucapan ayah kali ini.”
“Kau harus mengingatnya, gunakan segenap jiwamu untuk menghafal kata-kata ayah berikut ini.”
“Kau harus taat pada hukum, jangan sekali-kali... jangan pernah melangkahi batas hukum.”
Begitu ajaran sang ayah menggema dari lubuk hati, kegelisahan dan niat membunuh yang semula membara perlahan surut, menghilang laksana salju yang meleleh.
Bai Yiyi yang merasakan perubahan tiba-tiba pada Lin Xing, bertanya heran, “Ada apa denganmu, Lin Xing?”
“Sesuai hukum negaraku, meski aku tak berada di wilayah hukum, aku tetap harus taat pada hukum.”
Lin Xing berbalik, membawa serta tiga anak kecil pergi. “Lebih baik nanti aku cari waktu untuk melapor pada pejabat di dunia ini. Biar hukum yang mengurusnya.”
“Ha?” Mendengar itu, Bai Yiyi benar-benar tak mengerti. “Kamu tidak membunuhnya? Kenapa?”
Bai Yiyi merasa makin tak paham pada Lin Xing, kadang menganggapnya dalam dan penuh misteri, kadang justru terasa aneh dan tak bisa dijelaskan.
Setiap tindakannya seolah menyimpan maksud tersembunyi, tapi kadang tampak hanya sekadar kecanggungan semata.
Bai Yiyi berpikir keras, “Sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya?”
Sementara itu, kepala desa yang melihat Lin Xing pergi merasa seolah beban berat yang menindih dadanya telah lepas. Namun menatap hutan lebat tak berujung di sekitarnya, dan merasakan nyeri di lutut yang hancur, tiba-tiba secercah keputusasaan kembali muncul di matanya.
Selanjutnya, Lin Xing bersama tiga anak kecil menempuh perjalanan melewati pegunungan dan kembali ke Desa Keluarga Jiang.
Di perjalanan, mereka sempat bertemu lelaki berwajah penuh luka yang tergeletak di pinggir jalan, namun Lin Xing, yang bahkan tidak membunuh kepala desa, tentu saja tidak menambah luka pada orang itu.
Sementara Bai Yiyi terus memikirkan alasan Lin Xing tidak membunuh kepala desa. “Apakah ada maksud tersembunyi yang belum kupahami?”
Saat mereka tiba di Desa Keluarga Jiang, ternyata warga desa sudah menunggu di sana. Melihat Lin Xing muncul, mereka beramai-ramai ingin mengerumuninya.
Di antara mereka, Jiang Fang yang sebelumnya dipatahkan tulangnya oleh Lin Xing dan sempat pingsan, kini berdiri paling depan.
Jiang Fang menunjuk Lin Xing dan membentak, “Keparat, kau bawa adikku ke mana?”
Lin Xing menjawab datar, “Dewa Gunung sudah kuhabisi, kepala desa dan adikmu masih di gunung. Kalau kalian mau mencari, silakan cari sendiri.”
“Tapi kepala desa sudah terlalu banyak berbuat jahat selama bertahun-tahun...”
Mendengar kata-kata Lin Xing, warga desa sempat terkejut, lalu mereka saling pandang, akhirnya semua menatap Jiang Fang.
“Dewa Gunung benar-benar sudah dibunuh?”
“Kepala desa memberi makan anak-anak desa pada Dewa Gunung?”
“Jiang Fang, benarkah semua ini?”
Wajah Jiang Fang berubah-ubah, lalu akhirnya berteriak, “Hari ini kubiarkan kau hidup dulu. Semuanya ikut aku, kita selamatkan kepala desa dan Jiang Wu...”
Tak seorang pun lagi memperhatikan ke mana Lin Xing pergi. Warga saling bertukar pandang, suasana aneh mulai merambat di antara mereka.
Lin Xing membawa tiga anak itu melewati kerumunan, lalu terdengar suara pertengkaran di belakang, kemudian tampaknya pecah konflik yang lebih besar.
Lin Xing sendiri hanya mencari halaman rumah gadis kecil itu, bersandar diam di dinding, menunggu pintu dibuka.
Dia benar-benar sudah sangat lelah.