Bab 16: Putaran Ketiga (Lima)
“Halo? Han, bagaimana keadaanmu?” Begitu telepon tersambung, suara cemas Xia Fei langsung terdengar, “Aku dengar dari Ouyang Luo kalau kau langsung pingsan begitu pulang semalam, aku coba hubungi tapi nomormu tak bisa dihubungi. Kalau bukan karena aku sibuk menutup kasus di sini, sudah pasti aku mampir menjengukmu.”
Genggaman Han Nuo pada ponselnya tak sadar makin erat. Ia membayangkan Ouyang Luo pasti sedang sembunyi di suatu sudut dan menahan tawa, lalu ia cepat menyudahi percakapan itu dan beralih menelpon Ouyang Luo.
“Ouyang Luo, lihat siapa yang datang!” Du Yue dan Ouyang Luo sedang duduk di atas rumput bermain game di ponsel. Du Yue, yang baru saja kalah, melihat Han Nuo berjalan mendekat dari kejauhan. Ia memanfaatkan momen saat Ouyang Luo mengangkat kepala untuk merebut ponsel dan langsung menerobos pertahanan lawan. Melihat layar ponsel mendadak kelabu, ia tersenyum puas, buru-buru meletakkan ponsel dan kabur.
“Du Yue, dasar bocah tengik!” Ouyang Luo memaki dengan geram, berdiri, menepuk-nepuk rumput kering di tubuhnya, berniat menyambut Han Nuo, tapi tiba-tiba teringat keusilan yang ia lakukan semalam. Langkah kakinya langsung berputar arah, ingin kabur ke sisi lain, namun ia mendapati seseorang yang tak ingin ia temui malah lebih dulu menghadang Han Nuo.
Wajah Ouyang Luo seketika muram, ia pun mendekat ingin melihat trik apa lagi yang akan dimainkan orang itu.
“Halo, namaku Lin Lin, aku teman sekelas Ouyang Luo, tapi aku dari jurusan Administrasi. Senang sekali bisa bertemu denganmu, Kapten Han Nuo.” Lin Lin berdiri tenang di hadapan Han Nuo, tersenyum ramah, sama sekali tak gentar dengan aura dingin Han Nuo yang membuat orang enggan mendekat. “Begini, jurusan kami sedang menyiapkan sebuah pesta dansa. Banyak di antara kami adalah penggemarmu, jadi aku diminta mengundangmu.”
“Aku tak tertarik.” Han Nuo melirik Lin Lin yang tetap gigih membujuk, “Lagi pula, umur kita tak beda jauh, tak perlu pakai bahasa formal.” Tak disangka, Lin Lin tiba-tiba meraih tangan Han Nuo, dan tepat saat itu Ouyang Luo datang dan melihatnya. Hampir bersamaan, Han Nuo langsung menepis tangan Lin Lin, sementara Ouyang Luo menangkap pergelangan tangan Lin Lin, membelakanginya pada Han Nuo, menatap tajam penuh amarah, “Kalau kau ulangi lagi, akan kukirim kau ke hadapan Tuhan.” Ucapan ancaman bernada dingin itu membuat Lin Lin tertegun, “Kau semakin membuatku kecewa.” Lin Lin melepaskan diri dan lari tanpa menoleh.
“Apa yang kalian bicarakan tadi?” Han Nuo yang berdiri tak jauh, tak mendengar apa-apa, mengernyitkan dahi. Tapi Ouyang Luo hanya tersenyum cerah padanya, penuh semangat, diam-diam menarik kelingking Han Nuo lalu segera melepaskan, melompat menjauh menjaga jarak. “Kenapa hari ini kau sempat mencariku?”
“Menurutmu kenapa?” Han Nuo yang teringat rangkaian balasan Ouyang Luo langsung naik pitam. Merasakan badai terselip di balik kata-kata Han Nuo, Ouyang Luo menelan ludah, berniat kabur tapi segera ditangkap Han Nuo dan didesak ke batang pohon. Satu tangan Han Nuo menekan batang pohon, menatap Ouyang Luo yang gemetar seperti kelinci kecil. Ia mengangkat alis dan berbisik di telinga, “Sebaiknya malam ini kau jangan pulang, entah apa yang akan kulakukan padamu.”
Ouyang Luo mengerti maksud Han Nuo, buru-buru tersenyum memelas, “Kapten Han, Anda orang besar, jangan diambil hati ulah saya. Anda sibuk, saya permisi dulu, permisi ya.” Selesai bicara, ia langsung menyelinap keluar dari bawah lengan Han Nuo dan kabur.
Han Nuo terdiam menatap punggung yang melarikan diri, namun pikirannya bukan tentang Ouyang Luo, melainkan gadis bernama Lin Lin itu.
Di dalam mobil yang jendelanya rapat, suasana terasa suram. Han Nuo menyetir tanpa sepatah kata, menatap lurus ke depan, sementara Ouyang Luo yang duduk di sampingnya tampak malu dan jengkel, kedua tangannya terkepal di atas paha, kepala tertunduk tanpa berani menengadah. Ia teringat Han Nuo menggotongnya ke mobil di depan banyak orang saat ia benar-benar memutuskan tak mau pulang, membuatnya ingin menghilang dari muka bumi. Sepanjang jalan mereka jadi tontonan, bahkan ada gadis-gadis iseng yang memotret dan mengunggahnya, membuatnya yakin wibawanya runtuh, dan ia pasti tak akan sanggup menampakkan diri di kampus lagi.
Begitu tiba, Han Nuo mengunci pintu, menunjuk kamar mandi. Ouyang Luo patuh masuk, mengisi bak mandi, menanggalkan pakaian dan duduk di dalamnya, baru kemudian menoleh pada Han Nuo yang juga sudah menanggalkan pakaian, tubuhnya tegap dan kekar, membuat wajah Ouyang Luo seketika merah padam...
“Jangan-jangan Ouyang Luo benar-benar malu untuk ke kampus lagi?” Du Yue menatap kursi kosong yang lagi-lagi tak terisi, menghela napas penuh keputusasaan. Ia berpikir sejenak, lalu merogoh ponsel, mengirim pesan pada Ouyang Luo yang sudah bolos tiga hari berturut-turut.
“Permisi, Anda Du Yue, bukan?” Baru saja satu pesan terkirim, Lin Lin sudah duduk di kursi kosong di sampingnya dan tersenyum. Mengenali gadis itu sebagai primadona jurusan Administrasi, Du Yue buru-buru duduk tegak, merapikan rambutnya yang acak-acakan, “Benar, ada apa?”
Lin Lin tersenyum lembut, melihat Du Yue yang gugup sampai-sampai menggosok-gosokkan tangan, ia diam-diam merasa geli tapi wajahnya tetap manis, “Jurusan kami sedang menyiapkan pesta dansa, aku sebagai penanggung jawab ingin mengundangmu hadir. Mau ya?”
Du Yue mengangguk-angguk seperti ayam mematuk beras, membetulkan kacamata hitam besar yang melorot ke hidung, penuh harapan bahwa musim semi hidupnya telah tiba, berulang kali berjanji akan datang. Tapi kalimat Lin Lin berikutnya langsung menjatuhkannya ke jurang, “Kalau tidak keberatan, boleh undang Ouyang Luo juga?” Rupanya gadis itu punya maksud lain, semangat Du Yue langsung lenyap tanpa sisa. Ia ingin menolak karena alasan sibuk, tapi tak mau juga meninggalkan kesan buruk di depan primadona jurusan. Saat ia masih ragu, Lin Lin sudah bangkit dan pergi, tepat saat dosen masuk kelas, memupuskan sisa niatnya untuk mengelak. Ia mulai memikirkan cara membujuk Ouyang Luo agar mau datang, berharap bisa mendapat tempat di hati Lin Lin. Tanpa tahu bahwa ia sedang digali lubang oleh Du Yue, Ouyang Luo justru sedang berbaring di tempat tidur, memencet layar ponsel dengan semangat.
Di layar terpampang model 3D Han Nuo versi chibi, yang terus-menerus ia jatuhkan dan bangkitkan lagi, menikmati kepuasan balas dendam. Namun ponselnya tiba-tiba direbut, dan ia mendapati Han Nuo, yang masih mengenakan celemek merah muda bermotif bunga, merebut ponselnya. Melihat isi ponsel, Ouyang Luo marah dan malu, tapi Han Nuo hanya melempar ponsel ke ranjang, meninggalkan pesan, “Besok kau harus masuk sekolah!” lalu kembali ke dapur.
Ouyang Luo menggerutu pelan, menutup aplikasi itu dan membuka pesan dari Du Yue, matanya dipenuhi keraguan.
Gedung aula yang didekorasi nuansa merah dan hitam itu tampak megah. Seorang gadis berseragam putih duduk di sudut panggung, memainkan “Fantasie Impromptu” di piano. Para gadis bergaun malam dan riasan sempurna berlalu-lalang di antara meja prasmanan, sesekali berbincang dengan para pria yang juga berdandan rapi. Ouyang Luo dan Du Yue berdiri di sudut, saling pandang di tengah suasana elegan bak pesta bangsawan Eropa. “Benarkan aku memaksa kau pakai jas malam ini?” Ouyang Luo yang mengenakan kemeja putih dan rompi hitam menurunkan baret merahnya, tak ingin terlalu menonjol. Ia melirik Du Yue, yang hari itu rambutnya rapi, bahkan kacamata hitamnya meningkatkan karisma. “Kesempatan emas untuk dapat pasangan, jangan sia-siakan!” Ia pun mendorong Du Yue ke tengah aula, lalu mengambil segelas margarita dan duduk sendiri, menatap riuh damai ruangan itu, matanya tak lepas dari Lin Lin yang mengenakan gaun panjang putih, rambut disanggul tinggi, makin menawan di bawah sorotan lampu.
Lin Lin perlahan naik ke panggung, memegang mikrofon dan mencoba suara. Denting piano dan riuh langsung hening, semua berkumpul menunggu sambutan Lin Lin.
“Selamat malam, aku Lin Lin dari jurusan Administrasi. Sungguh bahagia bisa menjadi pembawa acara malam ini dan bersama kalian melewati malam yang indah.” Lin Lin membungkuk, dan suara tepuk tangan bergemuruh. Ia melanjutkan, “Selain jurusan kami, malam ini kami juga mengundang teman-teman dari jurusan lain. Semoga kita semua akur, jadikan malam ini kenangan yang tak terlupakan!” Lin Lin membungkuk lagi, senyumnya sempurna dari awal sampai akhir. Tepuk tangan kembali membahana, Du Yue bahkan bertepuk tangan sampai merah, meniup peluit, benar-benar seperti penggemar berat sang dewi.
“Untuk membuat suasana makin semarak, kami putuskan memilih pasangan dansa dengan sistem undian.” Begitu ia bicara, para hadirin langsung berbisik-bisik. Sepasang pria dan wanita membawa kotak merah dan hitam ke panggung, menaruhnya di sisi Lin Lin. “Para pria, silakan ambil undian di kotak hitam, para wanita di kotak merah. Cari nomor yang sama, itulah pasangan dansamu malam ini. Silakan antri…” Semua langsung berbaris rapi, wajah-wajah penuh harap dan kegelisahan. Ada yang berharap dapat orang yang disukai, ada pula yang lega tak perlu takut tak kebagian pasangan. Lin Lin sengaja memakai sistem undian agar tak ada yang tersisih, dan tampaknya cara itu berhasil. Ouyang Luo, yang tak berminat, hanya berdiri di pojok mengamati Lin Lin di atas panggung dan mendengus, “Perempuan licik.”
“Ouyang Luo! Ayo undi!” Du Yue memanggil dengan semangat.
“Tak tertarik.” Ouyang Luo, yang selalu waspada Lin Lin berbuat licik, melihat sikap polos Lin Lin, mengira ia terlalu curiga. Ia pun melihat jam tangan olahraga, sudah hampir pukul sembilan, kalau tak pulang Han Nuo pasti marah. Saat ia hendak pergi, Lin Lin bertanya, “Apakah masih ada pria yang belum undi?”
“Ouyang Luo!” Du Yue langsung menyeretnya ke depan. Tak bisa menghindar, Ouyang Luo pun mengambil undian terakhir. Melihat angka “0” berwarna merah darah di kertas hitam itu, ia sempat panik, lalu mendongak pada Lin Lin yang memegang undian merah dengan angka hitam “0”. Ia tahu itu ulah Lin Lin, wajahnya langsung dingin. Ia tak peduli dengan tatapan iri para pria lain, langsung menukar undiannya dengan milik Du Yue, “Tuh, aku setia kawan kan!” Ouyang Luo kembali ceria, tersenyum pada Du Yue yang nyaris berlutut terima kasih, tak peduli Lin Lin yang tampak kecewa, lalu pergi mencari gadis lain sesuai nomor undian.