Bab Dua Puluh Empat: Memperlihatkan Kepandaian di Hadapan Ahlinya
Dengan satu tendangan, Chu Xi menggeser mayat Wang Xing ke depan Ma Shengling. Orang-orang yang hadir di ruangan itu memang memiliki status di Kota Huai Ting, namun mereka jarang melihat mayat, apalagi pembunuhan. Selain Ma Shengling dan Paman Delapan, kelima orang lainnya tampak pucat seperti mayat hidup karena ketakutan.
“Laporkan… laporkan… laporkan! Ada pembunuhan! Anak ini membunuh orang!” teriak salah satu dari mereka.
Ma Shengling segera menahan mereka dan berkata pelan, “Jangan panik. Serahkan urusan ini padaku.”
Meski berkata demikian, dalam hati ia mengutuk mereka sebagai pengecut. Hanya karena satu orang mati saja, sudah setakut itu.
Chu Xi menurunkan Qi Mengli, mengelus rambutnya dengan lembut dan berkata, “Kau pergi dulu dari sini, sisanya biar aku yang urus.”
“Kakek… Kakek diracun oleh mereka. Aku harus membunuh mereka!” seru Qi Mengli penuh amarah.
“Aku tahu, tenang saja, aku akan mengurusnya.”
“Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri mereka masuk ke neraka!”
“Tidak bisa, kau malah akan mengganggu.”
Qi Mengli mencubit Chu Xi dengan keras dan mengeluh, “Bagaimana bisa kau berkata seperti itu padaku? Kau tahu apa yang mereka lakukan padaku? Hampir saja aku diperkosa oleh bajingan itu…”
Chu Xi hanya bisa meringis, menunjukkan wajah tidak sabar. “Bukankah sudah kubalaskan dendammu? Orangnya sudah mati, apa lagi yang kau mau?”
“Kematian itu masih kurang untuknya!” Qi Mengli menggertakkan giginya, ingin sekali Wang Xing mati lebih dari sekali.
“Sudahlah, cepat pergi. Jangan menghalangi urusanku.”
“Baiklah… Tapi hati-hati.” Mengetahui Chu Xi sudah memutuskan, Qi Mengli sadar kehadirannya hanya akan menjadi beban. Ia berbalik dan berlari menuruni tangga, segera meninggalkan tempat itu.
Setelah memastikan Qi Mengli selamat, Chu Xi kembali ke ruangan dengan tenang, menarik sebuah kursi dan duduk, lalu menyalakan sebatang rokok.
Ma Shengling pun duduk dengan santai, lalu berkata dengan nada meremehkan, “Kupikir kau sudah lari terbirit-birit, ternyata kau masih berani muncul di depanku.”
“Lari? Kenapa harus lari? Urusan kita belum selesai.”
Tawa mengejek langsung pecah di ruangan itu. Suara mereka penuh sindiran dan penghinaan.
“Kau ingin menuntut balas pada kami? Coba lihat dirimu, pantas tidak?”
“Sekarang Tuan Qi sakit parah, Nan Guochang juga entah ke mana. Kali ini tak ada yang bisa melindungimu.”
“Sebaiknya kau tahu diri. Cepat sujud tiga kali pada kami, panggil kami kakek beberapa kali, siapa tahu kami sedang senang dan melepaskanmu.”
Mereka saling menyahut, penuh dengan ejekan dan rasa superioritas, menganggap Chu Xi tak lebih dari sampah.
Chu Xi perlahan berdiri, diam tanpa suara, mengelilingi ruangan, menepuk bahu kelima orang satu per satu.
“Apa maksudmu? Mau menjilat kami? Setidaknya tunjukkan niat baikmu,” sindir mereka.
Setelah berkeliling, Chu Xi kembali ke kursinya, tersenyum tipis. “Aku memang tidak berniat meminta ampun, tapi aku membawa hadiah untuk kalian.”
“Haha! Lumayan, anak muda, cepat keluarkan, kami ingin tahu apa hadiahnya.”
Chu Xi mematikan rokok, lalu mengeluarkan lima berkas dokumen dari sakunya dan menyerahkannya kepada lima orang—kecuali Paman Delapan dan Ma Shengling.
“Itu adalah dokumen pembelian saham. Aku tahu kalian memegang sebagian saham Grup Shengshang. Sekarang harga saham Grup Shengshang sedang anjlok dan akan semakin turun. Agar kerugian kalian tidak bertambah, aku bersedia membeli dengan harga sepuluh persen di atas harga pasar.”
Kelima orang itu saling pandang, lalu tertawa terbahak-bahak hingga hampir kehabisan napas.
“Kalian dengar? Anak ini mau membeli saham Grup Shengshang dari kita!”
“Dia benar-benar mengkhawatirkan kita, padahal dia tidak tahu kalau semua ini jebakan buatan kita. Sungguh lucu!”
“Belum lagi soal kita mau jual atau tidak, saham yang kita pegang total nilainya tiga atau empat miliar. Kamu punya uang sebanyak itu?”
Bagi mereka, tindakan Chu Xi benar-benar konyol dan naif, seperti anak kecil yang baru belajar bermain bisnis. Ia bahkan tak sadar kalau sedang terjebak, tapi berani-beraninya menawarkan pembelian saham secara terang-terangan. Benar-benar mimpi di siang bolong.
Ma Shengling hanya bisa menggelengkan kepala, menatap Chu Xi penuh ejekan. “Kau di perusahaanku saja hanya manajer kecil, tidak tahu apa-apa, jangan sok pintar di depan kami. Belajar dulu beberapa tahun, jangan mempermalukan diri sendiri.”
“Sebagai senior, biar aku ajari kau satu hal. Penurunan harga saham itu ulah kami. Tapi bisnis Grup Shengshang sangat stabil, tidak akan terpengaruh gejolak pasar. Harga akan pulih, hanya masalah waktu. Kau bisa manfaatkan momen ini membeli saham, lumayan buat biaya pemakamanmu nanti.”
“Haha!”
Ruangan kembali dipenuhi gelak tawa. Namun di balik tawa itu, Chu Xi hanya tersenyum penuh arti.
Tiba-tiba, ponsel Ma Shengling berdering. Begitu diangkat, terdengar suara panik di seberang sana.
“Tuan Ma! Celaka! Masalah besar!”
Ma Shengling segera menahan tawanya, membentak, “Jangan panik! Bicara yang jelas!”
“Kelima pabrik kimia kita meledak, semua bahan kimia dan produk habis terbakar. Kerugiannya tak terhitung. Tuan Ma, apa yang harus kita lakukan?!”
“Apa… apa katamu?!”
Kaki Ma Shengling langsung lemas, kepalanya berkunang, tubuhnya terjatuh di kursi.
“Mana mungkin kelima pabrik meledak sekaligus?! Untuk apa aku menggaji kalian?!”
Saat memaki, Ma Shengling menatap Chu Xi, yang tersenyum sinis. Seketika ia sadar sesuatu!
Kelima pabrik Ma Shengling berada di lokasi berbeda. Mustahil penyebab alami membuat semuanya meledak bersamaan. Pasti ada yang sengaja melakukannya!
“Chu Xi! Kau yang meledakkan pabrikku?!”
Chu Xi mengangkat tangan dengan santai. “Apa maksudmu? Bukankah dari tadi aku duduk di sini? Ada bukti?”
Tanpa menghiraukan tatapan penuh amarah Ma Shengling, Chu Xi menyilangkan kaki di atas meja, menyandarkan kepala, lalu berkata pada lima orang itu, “Sekarang, bisakah kita bahas ‘hadiah’ yang kubawa?”
Kelima orang itu saling pandang. Jika sebelumnya mereka menertawakan keluguan Chu Xi, kini mereka mulai ragu dan cemas.
Sebagai pebisnis kawakan, mereka tahu betapa besarnya risiko yang kini mereka hadapi.
Pabrik kimia meledak, kerugian materi adalah satu hal, tapi inti bisnis Grup Shengshang akan lumpuh total.
Sudah sejak awal, karena rekayasa mereka, Grup Shengshang berada di ujung tanduk. Kini, dengan inti bisnis mandek, kerugian akan membengkak, dan harga saham bisa anjlok tanpa batas.
Ma Shengling yang tadi penuh percaya diri berkata harga saham akan pulih, kini sadar bahwa waktu pemulihan itu mungkin tak akan pernah datang—sepuluh tahun, dua puluh tahun, atau bahkan Grup Shengshang akan tenggelam selamanya dan keluar dari jajaran perusahaan papan atas.
Saat itu terjadi, saham yang mereka pegang akan terus turun, seperti yang dikatakan Chu Xi, sampai tidak berharga. Jika tidak segera dijual, kelak hanya akan menjadi selembar kertas tak berguna.
Setelah suasana hening beberapa saat, salah satu dari mereka akhirnya berkata, “Chu Xi… berapa harga yang kau tawarkan untuk membeli?”
Ekspresi Ma Shengling langsung berubah menjadi sangat kelam.