Bab 10 Pertemuan Keluarga
Setelah makan, Zhang Lan dan Li Ci mengobrol cukup lama. Namun, karena ada urusan yang harus diurus, Zhang Lan terpaksa pulang lebih dulu dan tak lupa membawa sampah yang telah menumpuk di rumah Li Ci selama beberapa hari.
Sore itu, Li Ci menghabiskan waktunya dengan bermain ponsel. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia pun keluar rumah dan memesan taksi daring. Mobil pribadi yang ia naiki melaju perlahan di jalanan yang penuh sesak.
“Macet sekali ya?” Li Ci melirik ke luar jendela, memperhatikan deretan mobil yang memenuhi pinggir jalan.
Sang sopir menimpali, “Anak muda, ini kali pertama kamu ke Kota Xifu, ya? Ini masih mending, dulu waktu belum ada pembatasan kendaraan, macetnya bisa bikin pusing! Dikasih Lamborghini pun tetap kalah cepat dari sepeda.”
“Bisa dibilang ini pertama kalinya aku ke Kota Hang. Kira-kira berapa lama lagi sampai?” tanya Li Ci.
“Tidak lama, setelah melewati jalanan ini sudah tidak terlalu macet. Kenapa? Kamu buru-buru?”
Li Ci menggeleng, “Enggak, cuma mau makan malam. Gak enak juga kalau mereka harus menunggu terlalu lama.”
Sang sopir melirik Li Ci dengan heran. “Tempat itu kan kawasan vila, kalau bukan miliarder, pasti orang kaya. Tak kelihatan, ternyata kamu juga punya latar belakang hebat.”
Li Ci tidak menjelaskan, ia malah mengalihkan pembicaraan dengan obrolan ringan bersama sopir.
Setelah hampir setengah jam lebih lama dari perkiraan, Li Ci akhirnya sampai di rumah Zhang Lan.
Zhang Lan sudah berkali-kali meminta Li Ci datang malam ini, jadi Li Ci pun tidak bisa menolak.
Saat pintu utama dibuka, Zhang Lan melihat Li Ci berdiri di depan dan tersenyum, “Ci, kamu sudah datang. Sandal ada di samping, ganti saja sendiri. Di ruang tamu ada buah, duduklah dulu, Bibi mau masak dulu di dapur.”
Li Ci duduk di sofa, melihat meja teh di sampingnya penuh dengan berbagai macam buah. Zhang Lan pernah menemukan banyak kulit dan sisa buah di rumah Li Ci, sehingga ia menebak Li Ci suka makan buah. Itulah sebabnya kali ini ia sengaja membeli bermacam-macam buah. Perhatian kecil ini, yang bagi Li Ci yang hidup dua kali, sangat jelas terasa.
“Ci, Bibi masak daging babi kecap favoritmu, nanti makan yang banyak ya,” suara Zhang Lan terdengar dari dapur.
Li Ci mengangguk, “Iya.” Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rumah itu bergaya Tionghoa, tampak sederhana namun penuh ukiran indah, perabot kayu suar terbaik, pernak-pernik dari kayu cendana, patung Buddha dari giok putih, serta taman mini yang kokoh dan kuno—semua menyiratkan kemewahan elegan.
Tiba-tiba, pintu utama terbuka dan masuklah seorang pria dan wanita. Pria itu tampak berwibawa dan kuat, sementara wanita itu cantik dan penuh semangat. Melihat Li Ci, keduanya tidak terkejut, justru tersenyum ramah.
Li Ci berdiri, menurut ingatan di kepalanya, ia memberi salam, “Halo, Paman Bai!” lalu menoleh pada wanita di sampingnya, terdiam sejenak, “Halo.”
Bai Qianguo menatap Li Ci beberapa saat, “Bagus, bagus. Bertahun-tahun ibumu selalu yakin kamu masih hidup, takut kamu kelaparan atau kelelahan. Sekarang melihatmu, ternyata kekhawatirannya tak perlu. Sekarang kamu sudah pulang, setidaknya ibumu bisa lebih tenang. Tapi kamu sudah membuat ibumu khawatir begitu lama, hari ini kamu harus benar-benar meminta maaf.”
Li Ci mengangguk.
“Su, dulu kamu kan selalu lengket dengan Ci, kenapa sekarang setelah lama tak bertemu malah jadi canggung?” Bai Qianguo menegur anaknya yang berdiri datar di samping.
Bai Su melirik Li Ci, lalu berkata, “Siapa juga yang lengket sama dia. Halo, sudah lama tidak bertemu. Ayah, aku mau ke kamar dulu.”
Bai Qianguo hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepergian Bai Su, “Anak perempuan memang kalau sudah besar susah diatur. Ci, jangan dimasukkan ke hati. Waktu dengar kabar kamu pulang, dia itu senangnya bukan main.”
Li Ci hanya tersenyum. Benarkah gadis itu senang? Ia sulit percaya. Sejak sekolah, Li Ci adalah mimpi buruk Bai Su. Dalam segala bidang, Li Ci selalu lebih unggul, hingga menjadi ‘anak tetangga’ di mata Bai Su. Apalagi selama empat tahun Li Ci tinggal di keluarga Bai, kasih sayang orang tua Bai terhadap Bai Su seolah berkurang drastis.
Lahir berbakat, memang kadang jadi beban.
“Ci, bagaimana denganmu sekarang? Dulu waktu kecelakaan, tim penyelam mencari tiga hari tetap tak menemukanmu. Ibumu itu tiga hari tiga malam tak tidur, kamu ini benar-benar tega...” Bai Qianguo hendak melanjutkan.
“Qianguo, kenapa bicara yang menyedihkan begitu?” seru Zhang Lan dari dapur. “Anak baru pulang, bicaralah hal yang membahagiakan. Jangan ungkit-ungkit masa lalu.”
“Baik, baik. Aku berhenti.” Bai Qianguo segera mengalihkan pembicaraan. “Sebenarnya Paman dan Bibi sangat berterima kasih padamu. Kalau saja dulu kamu tidak mendorong Su, pasti dia yang tertabrak dan tercebur ke sungai. Nyawa Su itu diselamatkan olehmu.”
Li Ci menggeleng, “Aku selalu menganggap Su seperti adik sendiri. Kakak memang harus melindungi adiknya, seperti kalian merawatku selama ini.”
“Benar, kita memang keluarga.”
Keduanya terus berbincang, membuat Li Ci merasa lebih santai. Dengan Bibi, kebanyakan topik hanyalah urusan sehari-hari dan apa yang ia ceritakan pun semua rekaan; semakin banyak bicara, semakin besar risiko salah bicara, sehingga ia harus ekstra hati-hati. Sedangkan dengan Paman Bai, lebih banyak membicarakan rencana masa depan, sehingga Li Ci bisa berimprovisasi sepuas hati.
“Sudah waktunya makan malam,” Zhang Lan memanggil dari ruang tamu. “Su mana?”
“Dia ke kamar, entah ngapain,” Bai Qianguo naik ke lantai dua, “Aku panggil dulu dia turun makan.”
Li Ci berdiri, mengangkat gelas anggur. “Paman Bai, Bibi, terima kasih banyak atas semua perhatian selama ini. Kalau bukan karena kalian, mungkin aku sudah hidup di panti asuhan seumur hidup. Seperti kata Paman tadi, habis aku kecelakaan, Bibi sampai tiga hari tidak tidur. Maaf sudah merepotkan dan membuat kalian khawatir.”
Li Ci menenggak habis isi gelasnya.
Mata Zhang Lan sedikit memerah. “Ci, yang penting kamu sudah pulang. Selama bertahun-tahun setiap kali memikirkanmu, aku selalu merasa bersalah pada Jiajia. Sekarang kamu kembali dengan selamat, aku juga bisa tenang di hadapan ibumu.”
“Su, kamu juga harus bersulang untuk Ci,” kata Bai Qianguo pada Bai Su. “Dulu nyawamu itu diselamatkan Ci.”
Bai Su menatap ayahnya. Di bawah sorot mata tegas ayahnya, akhirnya ia menyerah, menuangkan penuh minuman bersoda ke gelas, menatap Li Ci, dan berkata dengan nada hormat, “Kak Ci, terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku. Aku tak tahu harus membalas bagaimana, mungkin di kehidupan berikutnya aku akan jadi sapi atau kuda untuk membalas budi Kak Ci.”
Saat itu juga, Li Ci akhirnya paham apa maksud tawa sinis yang pernah diucapkan Song Xinsu setelah mendengar kalimat serupa darinya.
“Kamu ini bicara apa, sih!” Bai Qianguo menegur, namun suaranya tak tega, hanya mengetuk sumpit ke tangan Bai Su yang hendak mengambil daging. “Ci ini jarang pulang, makanan yang biasa kamu makan, kasihkan dulu ke Ci.” Ia mengambil potongan paling besar dan meletakkannya di mangkuk Li Ci. “Ci, ini masakan andalan Bibi, makan yang banyak.”
Li Ci menghindari tatapan tajam Bai Su yang seolah ingin membunuhnya, lalu menunduk menyantap makanan. Gerak-gerik kecil Bai Qianguo ini ternyata mengingatkan Zhang Lan juga. Berbagai hidangan lewat sumpit Zhang Lan pun berpindah ke mangkuk Li Ci, sementara mangkuk Bai Su hanya berisi beberapa helai daun sayur yang kesepian.
Saat itu, Li Ci serasa kembali ke masa usianya delapan tahun. Waktu itu, ia baru datang ke rumah Bibi Lan. Mangkuk anak laki-laki itu penuh dengan ikan dan daging, sedangkan anak perempuan hanya menatap mangkuknya yang sepi, lalu menatap mangkuk anak laki-laki dengan penuh harap.
Kali ini Bai Su merasa seperti kembali ke masa ia dulu selalu merasa disisihkan.
Makan malam itu berlangsung dengan penuh kebahagiaan bagi semua orang, kecuali gadis kecil Bai Su yang lagi-lagi harus menerima kenyataan pahit.