Bab 25: Kejutan yang Menyenangkan
Li Zirui berpura-pura mengalah dan berkata dengan nada tidak ikhlas, "Baiklah, kau menang. Berikan soal simulasi itu padaku, aku akan mengerjakannya, puas?"
Li Feng melihat sikapnya yang enggan dan merasa sangat puas. Tanpa banyak berpikir, ia menyuap makanannya dan berkata, "Tunggu liburan musim dingin nanti kuberikan."
Li Zirui mendengus, lalu bangkit berdiri. "Terserah. Aku sudah kenyang, nanti kau yang bereskan semua piring dan mangkuk ini. Aku mau tidur."
Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu jawaban Li Feng, ia langsung melangkah menuju kamarnya.
Begitu sampai di dalam kamar, raut wajah Li Zirui yang tadinya tampak kesal seketika berubah ceria. Ia melompat ke atas tempat tidur dan segera mengeluarkan ponsel untuk mengirim pesan kepada Xue Yanjun.
Saat itu, Xue Yanjun sedang berdebat sengit dengan Xue Ting di rumahnya. Ia sebenarnya tidak suka belajar; jika bukan karena atmosfer belajar yang sangat ketat di kelas tiga SMA, mungkin ia bahkan tidak ingin masuk kelas tambahan malam.
Xue Ting tidak bisa berbuat banyak. Sifat pekerjaannya membuat ia tidak mungkin terlalu fokus pada pendidikan Xue Yanjun. Kini, setelah susah payah mendatangkan siswa berprestasi untuk membimbingnya, putrinya itu justru menolak. Hal ini membuat Xue Ting merasa cemas.
"Aku tidak peduli, meskipun Li Feng datang, aku tetap tidak mau belajar."
"Dasar anak nakal, kalau kau tidak belajar, lihat saja nanti bagaimana aku menghukummu."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, ponsel Xue Ting berdering. Ia menatap tajam ke arah Xue Yanjun sebelum buru-buru mengangkat panggilan tersebut. Ternyata ada kasus mendadak di kantor polisi, dan ia harus segera turun ke lapangan untuk memimpin pengamanan.
Xue Yanjun sudah terbiasa dengan hal ini. Ia mencebikkan bibir dan berkata, "Polisi besar seperti Ibu sibuk sekali, tidak usah urusi aku. Kalau aku tidak lulus ujian, aku akan bekerja saja, yang penting tidak sampai kelaparan."
Mendengar itu, hati Xue Ting terasa perih sekaligus marah. Namun, profesionalismenya tetap terjaga. Ia menekan dahi Xue Yanjun dengan keras sambil berkata, "Apa yang kau katakan! Kalau kau tidak lulus, kau harus mengulang tahun depan sampai berhasil. Lagi pula, kalau nanti malam Ibu tidak pulang, besok pagi ingatlah untuk menyiapkan sarapan. Jangan biarkan Xiao Feng dan Xiao Rui kelaparan."
Xue Yanjun menepis tangan ibunya dengan kesal. "Sudah tahu. Cepatlah pergi mengurusi rakyatmu, tidak usah pedulikan hidup matiku."
Xue Ting menghela napas panjang, mengambil seragam polisinya dari gantungan, dan sebelum keluar pintu, ia sempat menatap putrinya yang sedang merajuk.
Setelah Xue Ting pergi, sikap keras Xue Yanjun melunak. Ia menatap pintu yang tertutup rapat dengan tatapan kosong. Ia sudah kehilangan kasih sayang ayah, sehingga ia sangat mendambakan kasih sayang ibu. Namun, Xue Ting selalu bersikap seperti itu. Hatinya terasa sesak, dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Tepat pada saat itu, panggilan video dari Li Zirui masuk.
Xue Yanjun mengambil ponsel yang tergeletak di sofa. Sebelum mengangkatnya, ia buru-buru menyeka sudut matanya, lalu memaksakan sebuah senyuman.
"Yanjun, kenapa kau tidak membalas pesanku?"
Baru saja mengatakan itu, Li Zirui dengan tajam menyadari ada yang tidak beres dengan perasaan Xue Yanjun. "Habis bertengkar lagi dengan ibumu?"
Xue Yanjun mengendus hidung. "Tidak apa-apa, sudah biasa. Kenapa kau menelepon lewat video sekarang?"
Li Zirui terkekeh dan berkata dengan misterius, "Yanjun, ibumu sudah bilang kan kalau besok Xiao Feng akan datang untuk mengajarimu?"
Xue Yanjun mengerutkan kening. "Sudah, katanya kau juga akan ikut."
Li Zirui mengangguk. "Hihi, kau pasti tidak ingin kehidupan belajarmu terus diatur oleh ibumu, kan?"
Xue Yanjun menatap wajah Li Zirui di layar ponsel. "Kau punya cara?"
Li Zirui mengerutkan hidung dengan bangga. "Tentu saja. Besok lakukan saja seperti yang kukatakan, aku jamin ibumu tidak akan memanggil Xiao Feng untuk mengajarimu lagi."
Kemudian, Li Zirui membeberkan rencananya kepada Xue Yanjun. Xue Yanjun sempat ragu setelah mendengarnya. Meskipun ia pemberontak, ia tidak ingin benar-benar membuat Xue Ting khawatir.
Melihat keraguannya, Li Zirui berkata, "Ini hanya pura-pura, apa yang kau takutkan? Lagipula, dengan kesempatan ini kita bisa mengusir si anak orang kaya itu. Sekali dayung dua pulau terlampaui, Yanjun."
Xue Yanjun mengangguk. "Baiklah, tapi kau harus membereskan sisa masalahnya. Aku tidak ingin menyelesaikan satu masalah hanya untuk memicu masalah yang lebih besar."
Li Zirui tertawa lebar. "Serahkan padaku, tenang saja."
Saat mereka sedang menyusun rencana, Li Feng baru saja selesai membereskan piring dan mangkuk. Sebelum kembali ke kamarnya, ia sempat berhenti sejenak di depan pintu kamar Li Zirui.
Samar-samar ia mendengar percakapan Li Zirui dan tawa yang ditahan. Melalui potongan kalimat tersebut, Li Feng samar-samar bisa menebak rencana Li Zirui. Ia tersenyum tipis dan membatin bahwa mereka masih terlalu muda.
Keesokan paginya, Li Feng dan Li Zirui yang masih mengantuk dibangunkan oleh Yin Yucui.
"Sudah jam berapa ini masih tidur? Cepat bangun, jangan sampai membuat Bibi Xue menunggu."
Li Zirui bangun dengan enggan, menatap Li Feng dengan kesal karena rasa kantuknya. Jika bukan karena Li Feng, ia bisa tidur satu jam lebih lama. Setelah selesai bersiap-siap, Li Feng membawa Li Zirui menuju rumah Xue Ting sesuai ingatannya.
Rumah Xue Ting berada di kompleks perumahan polisi, sehingga banyak anggota kepolisian yang berlalu-lalang di sana. Li Feng membatin, tempat ini cukup aman. Sepertinya jika nanti ia merasa terganggu oleh si "bunga teratai putih" Qin Ziwen, ia bisa sering-sering mengajak Li Zirui ke sini.
Saat mereka mengetuk pintu rumah Xue Ting, tidak disangka sudah ada seorang remaja laki-laki di dalam. Remaja itu berdiri di samping Xue Yanjun, dan saat melihat Li Feng, ekspresinya langsung membeku.
Li Feng juga tersenyum melihat pengejar Xue Yanjun itu. "Wang Qiankun, kau juga di sini?"
Wang Qiankun menelan ludah dengan tidak percaya. "Qin Feng, kenapa kau yang datang?"
Li Zirui dan Xue Yanjun saling berpandangan. Sesuai rencana mereka, Xue Yanjun seharusnya sudah memberi tahu Wang Qiankun bahwa ia sudah memiliki seseorang yang ia sukai, yaitu laki-laki yang akan datang mengajarinya. Dengan sifat Wang Qiankun yang temperamental, pertemuan mereka pasti akan memicu pertarungan antar saingan cinta. Dengan begitu, Xue Yanjun bisa terbebas dari gangguan Wang Qiankun, dan Li Zirui bisa merekam videonya untuk menjebak Li Feng.
Namun, mereka tidak menyangka bahwa keduanya ternyata saling mengenal.
Di tengah kebingungan mereka, Li Feng tersenyum lagi. "Sekarang aku sudah memakai nama asliku, Li Feng. Wang Qiankun, kau juga ke sini untuk belajar?"
Wang Qiankun menggaruk kepalanya dengan canggung. Ia dan Li Feng duduk sebangku di sekolah. Meskipun Li Feng dulu bersikap rendah diri karena keluarga Qin, sebagai teman sebangkunya, ia tahu sedikit banyak tentang Li Feng. Ia juga tahu banyak siswi yang diam-diam menyukai Li Feng, namun Li Feng tidak pernah menggubris mereka. Xue Yanjun pastilah salah satunya.
Kemarahan yang tadinya membara di hati Wang Qiankun seketika padam. Namun, setelah dipikir-pikir, jika ia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk bermain dan belajar bersama siswa jenius Li Feng, harga dirinya akan sangat terpuaskan.
Melihat reaksi Wang Qiankun, Xue Yanjun dan Li Zirui hanya bisa terdiam.
Hanya Li Feng yang merasa sangat senang. Ia tahu betul siapa Wang Qiankun. Ia sedang pusing memikirkan bagaimana cara melakukan operasi leverage di bank saat nanti mulai masuk ke pasar saham. Tak disangka, ia justru bertemu dengan Wang Qiankun di sini!