Bab 46: Aku Bukan Malaikat Penolong
Wu Jingshan melambaikan tangannya. Di bawah sorotan lampu mobil yang menyilaukan, tiga puluhan pria bertubuh tegap berjalan perlahan mendekati Li Qiming dan Li Feng.
Li Feng secara tidak sadar ingin melindungi Li Qiming di belakangnya.
Li Qiming terkekeh, lalu menepuk pundak Li Feng. "Anak baik, ayahmu ini masih bisa bertarung, tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku. Pergi sana, ambilkan beberapa batang kayu untukku."
Li Feng tertegun.
Bukankah Li Qiming hanya sendirian? Untuk apa meminta begitu banyak kayu?
Seolah melihat kebingungan Li Feng, Li Qiming menarik napas dalam-dalam pada rokoknya.
Dalam sekejap mata, sisa sebagian besar batang rokok itu habis terbakar hingga tak tersisa.
Li Feng membelalakkan matanya.
Ya ampun, adegan di acara televisi benar-benar terjadi di dunia nyata?
Namun, pada saat yang sama, Li Feng juga memastikan satu hal: aura Li Qiming jauh lebih kuat daripada orang biasa.
Jika tidak, dengan cara menghisap rokok seperti barusan, dia pasti sudah tersedak setengah mati.
"Suruh ambil, ya ambil saja."
Sambil berkata demikian, matanya menyapu ke arah para pria yang masih berjarak selusin langkah dari mereka.
"Rata-rata satu batang untuk enam orang, kau harus kumpulkan setidaknya lima batang."
"Mari kita bekerja sama dengan baik, ayah dan anak, agar keparat-keparat ini tahu bahwa tidak sembarang orang bisa mereka ganggu sesuka hati."
Mendengar itu, darah Li Feng berdesir membara.
Qin Ziwen dan Wu Jingshan saling berpandangan, senyum cenderungsar Meremehkan terukir di wajah mereka berdua.
Wu Jingshan mencibir. "Banyak gaya sekali. Saudara-saudara, hajar mereka habis-habisan! Yang tua bunuh sekalian, yang muda sisakan sedikit nyawanya asalkan masih bisa menyebutkan kata sandi kartu bank."
Mendengar perkataan Wu Jingshan, kebuasan di mata para pria itu semakin menjadi-jadi.
Berdasarkan gaya bertindak Wu Jingshan biasanya, selama geng mereka menjalankan tugas, akan ada imbalan yang sangat menggiurkan.
Jika sampai ada yang tewas, imbalannya bahkan akan jauh lebih besar.
Itulah salah satu alasan mengapa Wu Jingshan bisa bertahan dan berdiri tegak di Kota Jianghai.
Di saat yang sama, Qin Yuwei juga berjalan menghampiri Qin Ziwen.
"Xiao Wen, Kakak Ketiga tahu betul, dari seluruh anggota keluarga, hanya kaulah yang benar-benar tulus pada Kakak Ketiga."
"Tidak seperti anak serigala itu, yang makan dan minum dari fasilitas rumah, tapi pada akhirnya justru menusuk keluarganya sendiri dari belakang. Hari ini aku membawa orang untuk mencari masalah dengannya, tapi malah dipukuli olehnya bersama ayah liar itu."
"Xiao Wen, kau harus membalaskan dendam untukku."
Qin Ziwen mencibir dalam hatinya.
Namun, wajahnya menampilkan ekspresi penuh kepedulian. "Kakak Ketiga, kau pasti lelah..."
Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Qin Yuwei sudah menatap Wu Jingshan dan anak buahnya dengan antusias. "Xiao Wen, apakah mereka teman Ayah?"
Qin Ziwen tertegun sejenak, lalu bertukar pandang dengan Wu Jingshan.
Wu Jingshan memang rubah tua yang licik. Mendengar pertanyaan itu, ia langsung tersenym dan berkata, "Betul, Tuan Qin dan saya adalah kawan lama selama bertahun-tahun."
"Kali ini kawan lama sedang menghadapi masalah, tentu saja saya harus membantu."
Qin Yuwei sama sekali tidak curiga. Ia berjalan perlahan ke hadapan Wu Jingshan dan berkata, "Kalau begitu, terima kasih banyak. Tenang saja, begitu aku kembali, aku akan memberitahu Ayah agar beliau mengingat kebaikanmu."
Kilatan rasa jijik melintas di lubuk hati Wu Jingshan. Pikirnya, wanita dari keluarga kaya raya benar-benar selalu dimanja hingga bodoh.
Pada saat yang sama, Qin Ziwen telah meletakkan linggis yang tadi dipegangnya.
Niat awalnya adalah untuk menghantam kepala Qin Yuwei dengan linggis itu detik itu juga.
Namun, kebodohannya justru menyelamatkannya pada saat ini.
Qin Ziwen diam-diam memasukkan kembali linggis itu ke dalam bagasi mobil di belakangnya.
Kemudian ia tersenyum tipis dan berkata, "Kakak Ketiga, kedatangannya untuk membantu Ayah kali ini dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ayah. Kau sama sekali tidak boleh keceplosan."
"Kkau tahu sendiri bagaimana temperamen Ayah. Jika beliau tahu ada orang yang lancang mengambil keputusan tanpa persetujuannya untuk membantunya dalam urusan ini, beliau pasti akan mengomel panjang lebar lagi."
Qin Yuwei mengangguk setuju. "Benar, benar, benar. Ayah memang bertemperamen seperti itu. Sekalipun orang lain berniat membantunya, terkadang beliau tetap bisa mengamuk besar."
Sambil berkata demikian, ia menatap Wu Jingshan dengan sedikit rasa tidak enak. "Hanya saja, jika keadaannya seperti ini, kita jadi sangat berutang budi pada Paman ini."
Qin Ziwen tahu betul apa yang sedang dikhawatirkannya.
Ia langsung meraih tangan Qin Yuwei dan berkata, "Kakak Ketiga, keluarga Qin kita tidak akan pernah berutang budi kepada siapa pun."
"Alasan kenapa aku ikut datang kali ini adalah untuk mengingat jasa-jasanya dengan baik."
"Sekarang Kakak Kedua telah melakukan kesalahan sebesar itu. Kalau boleh jujur, di masa depan keluarga Qin pasti akan diserahkan kepadaku. Selama aku mengingat jasanya dan memberikan keuntungan kepadanya sekarang ataupun di masa depan, bukankah itu sama saja?"
Mendengar kata-kata itu, kebanggaan sebagai anggota keluarga Qin seketika kembali membuncah di dalam dada Qin Yuwei.
Ia mengangguk dengan penuh semangat. "Logikanya memang benar begitu. Xiao Wen, kau adalah putra kandung Ayah. Tenang saja, mulai sekarang aku di rumah pasti akan mendukungmu mengambil alih bisnis keluarga Qin."
Qin Ziwen sangat gembira.
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa kunjungannya untuk mencari masalah dengan Li Feng kali ini justru membawanya mendapatkan dukungan dari Qin Yuwei untuk masa depannya.
Meskipun cara berpikir wanita itu sedikit berbeda dari orang normal dan tidak punya tipu muslihat, dia tetaplah seorang anggota keluarga Qin.
Kadang-kadang, ada beberapa hal yang kurang pantas diucapkan olehnya sendiri, dan Qin Yuwei yang bertemperamen seperti tong peledak itu justru sangat tepat untuk menyuarakannya.
Saat mereka saling berbicara, masing-masing menyimpan niat tersembunyi di dalam hati.
Ketika mereka selesai berbicara dan mendongakkan kepala kembali, mereka langsung terkejut setengah mati.
Entah sejak kapan, Li Qiming telah merubuhkan seluruh orang-orang pilihan Wu Jingshan hingga tak berdaya.
Sementara Li Feng yang berdiri di samping Li Qiming sedang memegang sebatang tongkat bisbol dan menyerahkannya ke tangan Li Qiming!
Melihat mereka menatap ke arahnya, Li Qiming menyunggingkan senyum lebar.
Sambil memegang tongkat di tangannya, ia menunjuk ke arah ketiga orang tersebut. "Masih tersisa satu batang lagi, kurasa untuk kalian bertiga ini sudah lebih dari cukup."
Meskipun Qin Ziwen dan Qin Yuwei merasa terkejut saat ini, keterkejutan mereka sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa keterkejutan dan ketakutan yang melanda hati Wu Jingshan saat ini.
Orang lain mungkin tidak tahu, tetapi ia sangat tahu persis bagaimana kemampuan bertarung anak buah yang dibawanya.
Biasanya, orang-orang ini, jika bukan dikatakan mampu menghadapi seratus orang sekaligus, setidaknya bisa dengan mudah melibas belasan orang tanpa kesulitan.
Namun sekarang, hanya dalam waktu sekejap mata, mereka semua telah dilumpuhkan oleh pria tak terkenal yang berada di hadapannya ini.
Terlebih lagi, melihat kondisi mereka, sepertinya mereka semua sudah benar-benar kehilangan kemampuan untuk bertarung lagi.
"Sebenarnya siapa kau?"
Betapa pun lambatnya Wu Jingshan, pada saat ini ia pun sadar bahwa Li Qiming bukanlah orang sembarangan.
Keraguan yang sama juga dirasakan oleh Li Feng yang berdiri di belakang Li Qiming.
Li Qiming tersenyum tipis, lalu menegakkan punggungnya. "Sudah kubilang aku ini kuli bangunan, ya kuli bangunan."
"Kenapa, kau tidak percaya?"
Wu Jingshan baru akan percaya jika otaknya sudah konslet.
Mana mungkin seorang kuli bangunan memiliki kemampuan bertarung sehebat ini?
Namun, melihat Li Qiming tidak berniat menjelaskannya lebih jauh, Wu Jingshan juga tidak memiliki keberanian untuk terus bertanya.
Melihat Li Qiming melangkah mendekat perlahan bagaikan dewa yang turun dari langit.
Wu Jingshan mulai panik.
Ia menarik napas dalam-dalam. Tepat ketika Li Qiming berjarak sepuluh langkah dari mereka, ia menggeretakkan giginya, lalu membungkukkan badan sedalam-dalamnya di hadapan Li Qiming. "Tuan Li, maafkan saya. Kali ini saya yang salah. Asalkan Anda bersedia melepaskan saya dan membiarkan saya membawa pulang saudara-saudara saya ini, saya, Wu Jingshan, berjanji mulai sekarang akan langsung memutar arah jika melihat Anda."
Sudut bibir Li Qiming terangkat membentuk senyuman tipis penuh keterkejutan.
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Wu Jingshan ini ternyata adalah sosok yang tahu kapan harus menunduk dan kapan harus bangkit.
Terlebih lagi, saat memohon ampun, ia sama sekali tidak melupakan saudara-saudara seperjuangannya, yang membuktikan bahwa ia adalah orang yang berakal budi.
Dengan begitu, di masa depan para bawahannya ini tidak hanya tidak akan menganggap Wu Jingshan sebagai pengecut, tetapi justru akan menganggapnya sebagai pemimpin yang rela melepaskan harga diri demi anak buahnya. Mereka pun akan semakin menaruh kepercayaan padanya.
Dia benar-benar sosok yang luar biasa!
Qin Ziwen dan Qin Yuwei saling berpandangan.
Sekarang setelah Wu Jingshan sendiri telah menyerah dan mengakui kekalahan, mereka berdua tentu saja kehilangan sandaran.
Hanya saja, kebencian di dalam hati Qin Ziwen saat ini justru semakin membara.
Objek kebenciannya pun telah bergeser, dari yang Semula hanya Li Feng seorang, kini beralih kepada Li Feng dan seluruh keluarga orang tua angkatnya.
Melihat Li Qiming yang masih terus melangkah mendekat ke arah mereka, betapapun enggannya dalam hati, Qin Ziwen tetap mengikuti tindakan Wu Jingshan dengan membungkuk seraya memohon ampun.
Hanya Qin Yuwei yang masih mendongakkan kepalanya dengan keras kepala, menatap tajam ke arah Li Feng dan Li Qiming dengan gigi bergemeretuk.
Li Qiming menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke belakang untuk memandang Li Feng. "Xiao Feng, mereka ini menargetkanmu. Katakan, apakah mereka harus dimaafkan atau tidak?"
Li Feng pernah merasakan kematian sekali. Kecuali keluarga orang tua angkatnya, jika orang lain berbuat kesalahan padanya, sangat sulit baginya untuk membujuk dirinya sendiri agar melupakannya begitu saja.
Pada saat ini, tatapan Wu Jingshan dan Qin Ziwen pun tertuju sepenuhnya kepada Li Feng.