Bab 51: Mengamuk Membantai
Orang yang datang tidak lain adalah Qin Wanyu.
Begitu ia mendengar kabar bahwa Wu Zhisong telah muncul, ia langsung bergegas ke tempat ini.
Namun, ketika ia melihat Qin Dongyu yang berada di sisi Wu Zhisong, Qin Wanyu jelas-jelas tertegun sejenak.
Meski begitu, sesaat kemudian, ekspresi wajahnya kembali normal.
Bahkan, Li Feng dapat menangkap secercah kepuasan dari ekspresi normalnya itu.
Li Feng membatin dalam hati.
Keluarga seperti ini, pola pikir dan pandangan hidup mereka sepertinya sangat berbeda dari orang normal. Dulu di kehidupan sebelumnya, dirinya juga sangat bodoh karena tidak menyadari hal ini lebih awal.
Setelah masuk, Qin Wanyu berjalan lurus menghampiri Wu Zhisong.
Li Feng buru-buru menundukkan kepalanya lebih dalam lagi.
Ia sama sekali tidak ingin terseret ke dalam urusan busuk keluarga mereka pada saat seperti ini.
"Kakak kedua, kau datang."
Nada suara Qin Dongyu terdengar datar, sulit dipercaya bahwa ini adalah percakapan antara anggota keluarga.
Qin Wanyu pun tidak mau kalah, ia mendengus dingin dan langsung duduk di sebelah Wu Zhisong. "Memilih tempat makan yang murahan seperti ini, apa kau tidak malu!"
Qin Dongyu berkata dengan lembut, "Aku menyukai suasana di sini."
Qin Wanyu mencibir, "Benar, aku hampir lupa, kau memang paling suka hal-hal berbau luar negeri, termasuk pria luar negeri dan makanan cepat saji luar negeri."
Mendengar kata-kata itu, Li Feng dan Li Zirui mau tidak mau saling berpandangan.
Wajah Li Zirui sedikit memerah, dan ia memelototi Li Feng dengan tajam.
Sementara Li Feng hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi agak polos.
Ia membatin bahwa semua kekacauan ini ulah Qin Dongyu, apa urusannya dengan dirinya!
Awalnya, dari perkataan Wu Zhisong, ia mengira Qin Dongyu hanya berselingkuh.
Tak disangka, pria selingkuhannya ternyata adalah seorang warga negara asing!
Qin Dongyu tampak seperti tersentuh titik lemahnya, ia mendengus pelan, "Aku memang suka, tidak sepertimu, yang hanya bisa memungut sisa-sapaku dalam segala hal, bahkan untuk urusan pria."
"Hanya saja sayang sekali, pada akhirnya, kau tidak bisa membuktikan apa pun dan tidak mendapatkan apa pun."
Anggota keluarga memang adalah orang yang paling tahu cara menyakiti satu sama lain.
Begitu ucapan itu terlontar dari mulut Qin Dongyu, hal itu sukses membuat Qin Wanyu sangat marah.
Ia menggebrak meja dan langsung bangkit berdiri, hendak berteriak pada Qin Dongyu.
Tindakan tersebut berhasil menarik perhatian para pelanggan lainnya di tempat itu.
Qin Dongyu membentak dengan suara rendah, "Duduklah! Apa kau belum merasa cukup memalukan!"
Qin Wanyu tidak duduk, ia menatap Qin Dongyu dengan mata penuh amarah. "Kau juga tahu malu! Baik, kalau tidak ingin orang lain tahu, kalau begitu kita pindah tempat, hanya saja tempat itu mungkin tidak begitu kau sukai."
Qin Dongyu bangkit, dan pandangannya secara alami tertuju pada Li Feng.
Ia tidak begitu mengenal Li Feng, hanya merasa sosok itu agak familiar, sehingga ia tanpa sadar memerhatikannya sejenak.
Tanpa diduga, tindakan tersebut menarik perhatian Wu Zhisong dan Qin Wanyu.
Keduanya ikut mengalihkan pandangan mengikuti arah tatapan Qin Dongyu.
"Qin Feng! Kenapa kau ada di sini!"
Suara Qin Wanyu menyiratkan keterkejutan.
Li Feng mau tidak mau berbalik. "Nona Qin, kenapa aku tidak boleh ada di sini?"
Qin Wanyu mendengus dingin dan tidak melanjutkan pembicaraannya dengan Li Feng.
Ia sama sekali tidak peduli apakah Li Feng hidup atau mati.
Sebaliknya, Qin Dongyu di sampingnya mengamati Li Feng dari atas ke bawah, lalu tersenyum tipis. "Aku sudah dengar tentang urusanmu."
"Kau tersesat saat masih kecil, dan sekarang pergi dari rumah. Baguslah."
Setelah berkata demikian, ia tidak melanjutkan kata-katanya lagi dan melangkah keluar dari restoran.
Sementara itu, begitu Wu Zhisong menyadari bahwa pemuda di hadapannya ini adalah Li Feng, secercah kebencian langsung terpancar di matanya.
Ia berhenti sejenak di dekat Li Feng dan berkata dengan suara dingin, "Ayah angkatku memintaku menyampaikan pesan untukmu dan ayahmu: hiduplah baik-baik, jangan sampai terjadi sesuatu padanya sebelum luka-lukanya sembuh."
Sambil berbicara, pandangannya melirik ke arah Li Zirui yang duduk di hadapan Li Feng.
Tak lama kemudian, ia menjilat bibirnya. "Dan adik perempuan yang begitu cantik ini, pastikan untuk menjaganya tetap utuh untukku."
Tatapan Li Feng menajam.
Kedua tangannya mengepal erat.
Ia benar-benar tidak menyangka bahwa serangan yang dilancarkan Li Qiming tempo hari ternyata tidak membuat Wu Jingshan merasa jera.
Lebih tidak menyangka lagi, pria itu masih berani menyuruh anak angkatnya, Wu Zhisong, untuk datang memprovokasi.
Mungkinkah Wu Jingshan masih punya kartu truf lain?
Wu Zhisong tampak sangat puas melihat ekspresi Li Feng saat ini, lalu terkekeh pelan. "Sekarang baru tahu rasa takut? Sudah terlam—"
Ekspresi Li Feng sudah sangat suram hingga mencapai batasnya.
Ia berdiri, mengangkat kursi di bawahnya, dan langsung menghantamkannya ke wajah Wu Zhisong.
Pada saat yang sama, ia menoleh ke arah Li Zirui sambil tersenyum. "Kak, berdirilah di belakangku, jangan sampai pakaian indahmu ini nanti kotor."
Kata-kata cabul yang diucapkan Wu Zhisong barusan telah memicu kemarahan di dalam hati Li Zirui.
Namun, yang terlintas di benaknya hanyalah berdebat dengan Wu Zhisong dan membiarkannya meminta maaf.
Ia sama sekali tidak menyangka Li Feng akan bertindak sedemikian tegas tanpa ragu-ragu.
Jangankan dirinya, bahkan Wu Zhisong sendiri tidak menyangka bahwa seorang siswa kelas tiga SMA berani menyerang dirinya—seorang pria dewasa bertinggi badan 190 sentimeter—di tempat umum yang disaksikan banyak orang.
Rasa sakit yang membakar di wajahnya membuat Wu Zhisong menjerit kesakitan.
Begitu Li Zirui bersembunyi dengan aman di belakang Li Feng, memanfaatkan momen saat Wu Zhisong berjongkok sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, Li Feng kembali mengangkat kursi dan membantingnya dengan keras ke kepala pria itu.
Wu Zhisong langsung dibuat pusing tujuh keliling, tubuhnya terjerembap dan tersungkur di depan Li Feng dengan suara gedebuk.
"Mencariku silakan saja, tapi berani menghina kakakku, sama sekali tidak bisa dimaafkan!"
Mendengar kata-kata itu, Qin Wanyu dan Qin Dongyu yang belum berjalan jauh secara spontan menoleh ke belakang.
Kata-kata semacam itu belum pernah mereka dengar seumur hidup mereka.
Betapapun kuat tekad mereka, mereka tetaplah kaum hawa yang juga mendambakan perlindungan dari keluarga. Namun, terlahir di keluarga Qin membuat mereka ditakdirkan tidak akan pernah mendapatkan hal tersebut.
Mereka memandangi gadis yang dilindungi oleh Li Feng di belakang punggungnya.
Entah mengapa, secercah rasa iri tanpa sadar terpancar di mata mereka berdua.
Pada saat yang sama, terbersit pula pikiran di benak mereka: seandainya Li Feng tidak mengalami begitu banyak ketidakadilan, seandainya ia tidak diperlakukan seperti itu oleh keluarganya.
Atau bahkan, seandainya mereka dulu memberikan sedikit saja perhatian dan kepedulian kepadanya.
Apakah orang yang dilindungi di belakangnya sekarang mungkin adalah diri mereka sendiri!
Namun, di dunia ini tidak ada kata seandainya, dan tidak ada obat penyesalan yang dijual.
Tindakan Li Feng telah memicu teriakan histeris dari para pelanggan di dalam restoran.
Seseorang bahkan langsung menelepon pihak kepolisian.
Wu Zhisong, yang terkapar di lantai sambil terus merintih kesakitan, langsung diinjak kepalanya oleh Li Feng sebelum polisi datang. "Apa kau tidak dengar ucapannya tadi?"
Rasa takut telah merayap di dalam hati Wu Zhisong. Lagi pula, ia adalah seorang pengecut bermental lemah, kalau tidak, ia tidak mungkin mau menjadi anak angkat Wu Jingshan.
"Maafkan aku, aku salah, aku bukan manusia, aku seharusnya tidak mengucapkan kata-kata seperti itu kepada Nona Li."
Li Feng mendengus pelan, lalu menoleh ke arah Li Zirui dan tersenyum lebar. "Kak, apakah permintaan maaf ini sudah membuatmu puas?"
Di dalam hatinya, Li Zirui merasa cemas terhadap Li Feng, takut jika masalah ini dibesar-besarkan akan berdampak buruk bagi pemuda itu.
Namun, pada saat yang sama, gelombang rasa aman yang begitu kuat juga membuncah di dadanya.
Ia menarik lengan baju Li Feng dan berkata dengan suara pelan, "Xiaofeng, biarkan dia meminta maaf saja, jangan dipukul lagi. Nanti kalau dia sampai terluka parah, kau juga yang harus menanggung akibatnya."
Li Feng terkekeh pelan. "Menanggung akibatnya? Tidak akan! Karena ada orang-orang yang justru tidak ingin aku menceritakan kejadian barusan."
Sambil berkata demikian, ia mengarahkan pandangannya ke arah Qin Dongyu dan Qin Wanyu yang berdiri tidak jauh dari sana.
Tubuh kedua wanita itu bergetar seketika.
Dalam sekejap, mereka mengerti apa maksud di balik ucapan Li Feng...