Bab Tiga Puluh Enam: Pergi Meninggalkan Rumah
Walaupun di dalam hatinya Wang Damei juga merasa sedikit khawatir, namun sejak lahir ia memang punya sifat pemberani yang tidak takut akan apa pun. Hanya dengan beberapa kata dari Ny. Wu, mana mungkin ia bisa dibuat gentar. Setelah keluar dari rumah Ny. Wu, Wang Damei segera kembali ke rumahnya sendiri.
Tadi, setelah Wang Damei keluar, Ny. Zheng sempat khawatir putrinya akan pergi ke rumah Chen Dachang untuk membuat keributan, maka ia pun diam-diam mengikutinya dari belakang. Namun, ketika ia melihat Wang Damei hanya berjalan ke arah timur desa, ia tidak terlalu memperhatikan, dan mengira putrinya hanya ingin berjalan-jalan di desa untuk menenangkan hati.
Ny. Zheng benar-benar tidak menyangka kalau putrinya ternyata berani langsung pergi ke rumah kepala desa untuk membuat masalah. Kalau saja ia tahu niat putrinya, pasti ia tidak akan membiarkan Damei pergi ke sana.
Saat Wang Damei kembali ke rumah, ia melihat Ny. Zheng sedang menjemur pakaian di halaman. Ketika melihat Damei, ia pun mendekat dan bertanya, "Damei, tadi kau pergi ke mana?"
Mengingat ucapan Ny. Wu tadi, Wang Damei sendiri tidak tahu apakah perkataannya terlalu serius atau tidak. Maka ia menatap Ny. Zheng dan berkata, "Aku tadi pergi ke rumah kepala desa."
Mendengar itu, Ny. Zheng langsung tertegun. Ia menatap putrinya beberapa saat, lalu berkata lagi, "Kau ke rumah kepala desa untuk apa? Keluarga kita sudah tidak ada urusan dengan mereka, bukankah kau sudah putus dengan Wang Daliang?"
Wang Damei hanya tersenyum pasrah mendengar ucapan ibunya, lalu berkata, "Bu, bukan itu yang kumaksud. Aku bukan membicarakan soal aku dan Wang Daliang, tapi soal Wang Yusu dan Chen Erniu."
"Apa? Kau membicarakan soal Wang Yusu dan Chen Erniu? Apa kau sedang iseng karena tak ada kerjaan, kenapa harus membahas urusan itu?" Ny. Zheng benar-benar tidak habis pikir putrinya akan membicarakan soal itu di rumah kepala desa, menurutnya ini sangat tidak wajar.
"Bu, ibu tidak tahu kan kalau aku dan Kak Erniu saling menyukai? Sekarang Ny. Wu ingin menikahkan putrinya dengan Kak Erniu, mana bisa aku diam saja. Aku harus memberi pelajaran pada Ny. Wu, supaya dia tidak lagi punya angan-angan yang tidak realistis." Wang Damei memandang Ny. Zheng dan berkata dengan terus terang.
Ny. Zheng langsung menatap tajam ke arah Damei dan berkata, "Damei, bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Entah kau memang dekat dengan Chen Erniu atau tidak, kau tidak boleh membicarakan hal itu di rumah Ny. Wu. Kalau kau membahasnya, bukankah jelas-jelas kau mencari masalah dengan keluarga kepala desa?"
"Aku memang sengaja, siapa suruh mereka selalu memusuhiku," Wang Damei tetap membantah, menatap Ny. Zheng tanpa rasa bersalah.
"Anakku, tak peduli apa pun pikiran mereka, yang jelas, ibu tidak membolehkan kau ikut campur urusan Wang Yusu dan Chen Erniu. Kau memang dekat dengan Chen Erniu, ibu tahu itu, tapi soal ini bukan semata-mata keinginanmu atau keinginanku yang bisa menentukan. Untuk urusan pernikahanmu, ibu pasti akan memikirkannya untukmu, jadi jangan lagi mencoba menghalangi urusan keluarga kepala desa dan keluarga Chen," tegas Ny. Zheng, ia memang tidak mau anaknya terseret dalam urusan itu. Ia hanya ingin menjaga Damei agar tidak lagi keluyuran ke mana-mana.
Wang Damei teringat lagi ucapannya pada Ny. Wu tadi, ia pun bingung apakah masalah ini akan jadi serius, apakah benar-benar akan berujung ke pengadilan. Maka ia memandang Ny. Zheng dan berkata, "Bu, sekarang tampaknya aku tidak bisa lagi tidak ikut campur."
Ny. Zheng bertanya heran, "Kenapa? Kenapa kau harus ikut campur?"
"Aku sudah bilang pada Ny. Wu kalau aku dan Kak Erniu saling menyukai," ujar Wang Damei dengan suara pelan.
Ny. Zheng terkejut mendengarnya, matanya membelalak, memandang putrinya dengan kaget, "Damei, bagaimana bisa kau berkata seperti itu pada Ny. Wu? Kau tahu tidak, kalau kau berkata begitu, sama saja kau memberikan kelemahanmu pada Ny. Wu."
"Tak usah takut, memangnya Ny. Wu bisa apa padaku? Paling-paling aku ajari dia lagi," Wang Damei tetap menunjukkan sikap tak gentar.
"Bodoh, kau tak mengerti apa-apa! Kalau kau menyinggung Ny. Wu, dia pasti akan mengadukanmu pada kepala desa. Kepala desa bisa saja melaporkan ke pejabat. Kalau sudah begitu, aparat akan datang ke sini. Pada saat itu, meskipun kau punya ilmu bela diri sehebat apa pun, tetap tak ada gunanya," ujar Ny. Zheng dengan nada cemas.
Mendengar itu, Wang Damei juga jadi agak tegang. Bagaimanapun, sehebat apa pun dirinya, di zaman ini pejabat tetap lebih berkuasa. Rakyat kecil seperti dirinya bisa apa, masa bisa membalikkan langit?
Tapi karena sudah terlanjur bicara seperti itu, ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya. Maka ia kembali bertanya pada Ny. Zheng, "Bu, lalu apa yang harus kita lakukan? Aku sudah terlanjur bicara seperti itu, apa Ny. Wu benar-benar akan balas dendam padaku?"
Ny. Zheng menunduk, berpikir sejenak, lalu berkata, "Ny. Wu memang sudah sangat membencimu dari dulu, sekarang kau malah menyinggungnya. Mana mungkin dia tidak akan mencoba membalasmu?"
Setelah itu, Ny. Zheng diam sebentar lalu melanjutkan, "Anakku, menurut ibu, beberapa hari ini lebih baik kau pergi ke rumah bibimu dulu, tinggal di sana beberapa waktu. Rumah bibimu jaraknya lebih dari sepuluh li dari sini, keluarga kepala desa juga tidak tahu kita punya kerabat di sana. Kau sembunyi saja dulu, lihat bagaimana keadaan nanti."
Mendengar itu, Wang Damei merasa ada benarnya juga. Kalau ia tetap tinggal di rumah, dan kepala desa benar-benar membawa aparat ke sini untuk menangkapnya, ia pasti tak bisa lari ke mana-mana.
Namun, Wang Damei merasa seharusnya masalah ini tidak sampai sejauh itu. Maka ia berkata lagi, "Bu, memang harus sejauh itu? Aku hanya bilang aku dan Kak Erniu saling menyukai, tidak ada yang berlebihan. Apa yang bisa dilakukan Ny. Wu padaku?"
"Anakku, kau kan tahu sendiri siapa Ny. Wu itu? Sejak dulu dia memang mencari-cari alasan untuk menjatuhkanmu. Sekarang kau malah mengaku sesuatu yang bisa dianggap melanggar hukum, tentu saja dia akan memanfaatkan itu untuk menjebakmu! Suaminya kepala desa, sepupunya juga kepala jaga, nanti kalau sudah sampai ke pejabat, semua yang menentukan tetap mereka," jelas Ny. Zheng, yang sudah makan banyak asam garam hidup, sangat paham betapa kejamnya dunia.
Mendengar penjelasan ibunya, Wang Damei merasa masuk akal, maka ia berkata, "Baiklah, aku akan pergi ke rumah bibi sekarang juga."
"Bagus, biar ibu siapkan barang-barangmu. Kau segera berangkat. Kau sudah pernah ke rumah bibimu kan, jadi ibu tidak perlu mengantarmu. Pergi sendiri saja," ujar Ny. Zheng.
Wang Damei hanya mengangguk setuju, tidak berkata apa-apa lagi. Ia sadar, untuk sementara ia memang harus pergi bersembunyi, kalau tidak, bisa-bisa malah benar-benar tertimpa masalah.
Akhirnya, Ny. Zheng membantu Damei menyiapkan barang-barangnya, bahkan memberinya sepuluh tail perak, dan berpesan, setibanya di rumah bibi nanti, ia harus menjelaskan keadaannya agar bibinya mau merawatnya dengan baik.