Bab 36: Putaran Keempat (Sebelas)
Ouyang Luo berjalan seorang diri di jalan setapak tepi sungai yang gelap tanpa lampu, bayang-bayang pohon di kedua sisi dipenuhi cahaya bulan, menorehkan corak belang-belang yang terkesan sepi dan sendu. Ia ingat, di puncak musim panas, tempat ini adalah surga bagi pasangan kekasih; suara katak dan jangkrik kadang terdengar di pinggir jalan berbatu yang sempit dan panjang, rimbunnya dedaunan yang teduh serta aliran sungai yang berkelok menjadikannya sebuah pemandangan indah. Namun kini sudah bulan Oktober, kenapa Han Nuo masih memintanya datang ke sini? Ditambah, dengan misteriusnya menyuruh berjalan terus ke dalam—jika ingatannya benar, di depan ada sebuah gazebo kecil, tempat orang bisa menikmati aliran sungai…
"Eeh? Kenapa di sini banyak sekali lampion sungai?" Melihat permukaan air di samping gazebo yang dipenuhi lampion warna-warni, suasananya pun berubah ramai. Ia bergegas masuk, menatap pemandangan memesona itu sampai terlupa diri, hingga tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang. Refleksnya ingin melempar orang itu, namun gagal. Setelah merasakan kehangatan yang sudah dikenalnya, ia pun berbisik pelan, "Han Nuo?"
Han Nuo menjawab dengan suara rendah, terdengar sedikit kesal, lalu melepaskannya dan berjongkok menyalakan lilin yang telah disusun rapi membentuk hati mengelilingi gazebo. Ouyang Luo yang berdiri tepat di tengah lingkaran lilin itu hanya bisa menatap terpana pada pemandangan bak mimpi di hadapannya, sampai lupa bernapas. "Han Nuo, semua ini kau yang menata?"
"Ouyang Luo, selamat ulang tahun." Han Nuo yang telah sibuk seharian mengikuti panduan dari internet, mengeluarkan kotak perhiasan biru, membukanya perlahan, mengangkat cincin platinum yang di bagian dalamnya terukir inisial "N&L". Ia menggenggam tangan kiri Ouyang Luo dengan lembut, menyematkan cincin itu di jari manisnya, tersenyum lalu memeluk Ouyang Luo yang masih terpaku dalam keterkejutan, "Aku mencintaimu."
Pernyataan cinta yang begitu tulus itu membuat mata Ouyang Luo memerah, "Tahukah kamu? Tidak pernah ada yang melakukan semua ini untukku. Han Nuo, terima kasih, aku benar-benar terharu. Mengenalmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku!"
Ciuman balasan Ouyang Luo datang pada saat yang tepat; mereka saling berpelukan erat dalam suasana romantis milik mereka berdua saja, larut dalam ciuman yang dalam, melupakan waktu, melupakan hiruk-pikuk dunia, bahkan melupakan badai yang akan segera datang.
"Eh... Han Nuo..." Entah sudah berapa lama berlalu, Ouyang Luo yang sudah kehabisan napas karena ciuman itu, wajahnya memerah, menyembunyikan kepala di dada Han Nuo, ragu-ragu ingin berbicara.
"Hmm?"
"Terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku, aku benar-benar terharu. Tapi ada satu hal yang entah harus kukatakan atau tidak." Dengan jujur Ouyang Luo memperlihatkan kegugupannya, bergelut cukup lama sampai akhirnya berani bicara, "Tapi... hari ini sebenarnya bukan ulang tahunku..."
"Apa?"
"Apa?!"
"..."
Melihat ekspresi Han Nuo yang seperti habis menelan sesuatu yang pahit, Ouyang Luo langsung menyesal telah merusak suasana, buru-buru berusaha memperbaikinya, "Asal bisa bersamamu, hari ulang tahun manapun bagiku tetap istimewa!"
Namun, kata-kata penghiburan itu justru membuat Han Nuo semakin kesal. Ia diam-diam melepaskan Ouyang Luo, berbalik duduk di tangga lalu menyalakan sebatang rokok. Cahaya kecil yang bergetar itu seketika memadamkan deretan lilin yang kini hanya jadi lelucon. Ouyang Luo berdiri kikuk, menatap punggung Han Nuo yang tampak kecil dan tak berdaya, menyesali ucapannya.
"Baiklah Han Nuo, aku salah, aku tak seharusnya menggodamu. Sebenarnya ulang tahunku memang hari ini, 7 Oktober!" Walaupun Han Nuo merayakan ulang tahunnya setengah tahun lebih awal terasa aneh, tapi semua yang dilakukan Han Nuo untuk membahagiakannya nyata adanya. Mengingat karakter Han Nuo, sudah sangat sulit baginya melakukan semua ini. Ouyang Luo yang tidak ingin mengecewakan perasaan itu duduk di samping Han Nuo, menyandarkan kepala di pundaknya dan menunjuk bintang paling terang di langit malam, "Lihat, 'Tianji' muncul lagi, itu tandanya kita memang ditakdirkan bersama, Han Nuo, kita akan selalu bersama, bukan?"
Han Nuo merangkul Ouyang Luo, membiarkannya bersandar dalam pelukannya, lalu mengangguk, "Ya, jangan pernah tinggalkan aku."
"Larut malam kemarin, Direktur Utama Xin Xing Properti, Chen Fei, ditemukan tewas di kantornya. Tim Khusus Kriminal kota segera tiba di lokasi. Berikut laporan dari wartawan kami di tempat kejadian..." Sejak Han Nuo tiba-tiba dapat panggilan tugas dan bergegas pergi, Ouyang Luo setia menunggu di depan televisi, akhirnya melihat kekasihnya muncul di layar. Ia tak kuasa menahan tawa, menyesap minuman bersoda dari cangkir unicorn merah mudanya, pandangannya mengikuti Han Nuo yang sibuk memeriksa TKP tanpa sempat meladeni wartawan, sementara Xia Fei segera maju menghalangi reporter dan menyampaikan perkembangan kasus secara singkat sebelum mengusir mereka.
"Kapten Han, selain senjata pembunuh tidak ditemukan petunjuk apa pun di TKP," seorang polisi melapor pada Han Nuo yang tengah merenung di samping jenazah. Pandangan Han Nuo terpaku pada pisau perak di dada korban, memperhatikan ada huruf "W" terukir di gagangnya. Ia merasa pernah melihatnya, namun tidak bisa mengingat di mana. Ia beranggapan itu hanya efek memori lalu berdiri, melirik layar komputer yang masih menyala, dan mulai membayangkan bagaimana Chen Fei, yang duduk di kursi komputer, bisa dibunuh dan terjatuh di posisi itu. Ternyata pelaku menusukkan pisau dari sudut yang mustahil!
"Dari jejak pergeseran kursi dan posisi jatuhnya jenazah, saat kejadian korban sedang menggunakan komputer dengan jarak ke meja tidak lebih dari satu sentimeter, dan di depannya, tiga sentimeter jaraknya sudah layar komputer. Bagaimana pelaku bisa beraksi dari jarak sedekat itu?" Han Nuo memanggil Xia Fei dan yang lain, lalu berjongkok menunjuk pisau di tubuh korban, memperagakan dengan tangannya, "Dari arah dan dalamnya luka, hanya mungkin diserang dari depan, bukan dari belakang. Jadi kembali ke pertanyaan utama, bagaimana pelaku melakukannya?"
"Jangan-jangan pelakunya keluar dari layar komputer!" Xia Fei berseloroh, "Jangan-jangan Sadako balas dendam kali!"
Han Nuo menatap dingin kepada Xia Fei yang masih bercanda, membuat Xia Fei langsung berhenti lalu memanggil Liu Cai, "Sekarang satu-satunya petunjuk cuma dari komputer ini, Liu Cai, kami serahkan padamu."
"Siap!" Liu Cai membuka tas ranselnya yang penuh sesak, mengeluarkan berbagai peralatan dan kabel, menyambungkannya ke CPU, lalu mengetik cepat di laptopnya. Sementara Xia Fei mengatur anggota lain untuk memindahkan jenazah, Han Nuo berjalan sendirian ke jendela kaca tempered yang pecah, mengamati lubangnya. Ia heran, siapa yang bisa memecahkan kaca tempered berkualitas terbaik seperti itu, bahkan melompat dari lantai tiga belas lalu pergi tanpa terluka sedikit pun dan tanpa ada saksi. Han Nuo sudah menyelesaikan banyak kasus aneh, tapi yang seaneh dan seaneh ini, baru kali ini ia temui.
"Din-dong—" suara bel tiba-tiba terdengar. Saat heran kenapa Han Nuo lupa bawa kunci, Ouyang Luo buru-buru menutup buku catatan bergambar daun maple yang baru saja ia sisipkan dengan sticky note, menyimpannya ke dalam laci, lalu membuka pintu dengan bersemangat. Namun senyum di wajahnya menghilang seketika, menatap dingin pada Yi Yi yang berdiri di depan pintu dengan senyum lebar, seluruh auranya berubah menjadi suram dan dingin.
"Ada perlu apa?" Ouyang Luo tak berniat membiarkan Yi Yi masuk, satu tangannya menahan kusen pintu, matanya tajam penuh peringatan dan ancaman.
Yi Yi tampaknya tak peduli dengan peringatan Ouyang Luo, tetap tersenyum seperti biasa, "Sudah kubilang, selama kau muncul sebagai W, Han Nuo pasti tahu siapa dirimu yang sebenarnya, kecuali—"
"Kecuali aku meninggalkannya?" Ouyang Luo memotong perkataan Yi Yi dengan kasar, wajahnya jelas tak sabar, "Kau kira aku tak bisa berbuat apa-apa padamu? Aku memang tak bisa membunuhmu, tapi mengusirmu dari dunia ini tetap bisa kulakukan."
"Benar, kau bisa, tapi kau tidak akan melakukannya, karena kau tahu apa artinya itu bagimu." Yi Yi seolah selalu tahu kelemahan Ouyang Luo, satu kalimat saja sudah membuat jalannya tertutup.
"Kau sebenarnya siapa! Kenapa kau tahu begitu banyak?" Tak menyangka Yi Yi bahkan tahu soal itu, Ouyang Luo menatap terkejut pada Yi Yi yang tetap tersenyum, langsung memutuskan untuk mencari tahu identitas aslinya. "Lagi pula, aku tidak akan meninggalkannya, kecuali dia sendiri yang mengusirku." Selesai berkata, Ouyang Luo menutup pintu dengan keras, mengabaikan Yi Yi yang semakin lebar senyumnya.
"W, Kakak W!" Baru kembali ke ruang miring berwarna merah hitam itu, Ying Ying yang mengenakan gaun merah kecil langsung melompat dan memeluknya, kulit putihnya membuatnya tampak seperti boneka porselen. Dengan tenang W berpindah ke sisi lain, menatap Ying Ying yang cemberut kesal, "Z ada di dalam?"
"Huh! Ying Ying marah pada Kakak W! Aku tidak mau memberitahumu!" Ying Ying memeluk bonekanya, bibirnya cemberut, lalu memalingkan wajah sebal.
"Z ada di kamarnya! Eh, Kakak W ke mana?" Ying Ying celingukan mencari, tidak menemukan W, akhirnya menunduk kecewa.
Di sebuah ruangan mewah bergaya Eropa bernuansa merah hitam, sang Malaikat Maut duduk anggun di balik meja menelaah gulungan perkamen, mengangkat cangkir kopi lalu menyeruputnya dengan tenang, "Ada apa?"
"Mengapa ada orang lain yang tahu tentang kita? Bahkan kelemahan kita diketahui dengan jelas?" W menekan kedua tangan di atas meja, menatap Z yang tenang tanpa ekspresi, "Kau mengutus orang untuk mengujiku?"
"W, menurutmu ada sesuatu yang luput dari pengawasanku?" Z meletakkan cangkir kopi dengan santai, "Denganmu, aku selalu sebaik mungkin selama kau tidak melanggar tugasmu. Tapi..." Tekanan besar tiba-tiba menerpanya, membuat W tak bisa bergerak, hanya bisa menatap sosok besar yang mendadak menjulang, kegelapan perlahan menelan seluruh ruangan dan dirinya. "Jangan pernah coba-coba menantangku, di sini, akulah aturan."
Begitu penglihatan W kembali normal, ia sudah berada lagi di ruang merah hitam itu. Ia mengusap kepala yang masih pusing, bersandar di jendela beberapa saat, lalu menghilang.
Ouyang Luo yang tertidur di sofa sambil memeluk buku catatan bergambar daun maple mengucek matanya yang perih terkena cahaya. Melihat jam di pergelangan tangan sudah pukul sepuluh malam, Han Nuo belum juga pulang. Ia memperkirakan Han Nuo pasti sangat sibuk akhir-akhir ini. Namun tetap saja ia mengeluarkan ponsel dan mengecek, benar saja ada satu pesan belum terbaca, "Maaf, tugas sedang padat, jaga dirimu baik-baik."
Menatap pesan yang sudah dikirim tiga jam lalu itu, Ouyang Luo hanya bisa mendesah, antara pasrah dan sedih.