Bab 89: Siklus Kesembilan (Bagian Satu)
Ouyang Luo terbangun di atas ranjang rumah sakit. Seluruh tubuhnya dililit perban hingga ia tak bisa bergerak. Di sampingnya, alat pemantau detak jantung berbunyi bip-bip, membuat Ouyang Luo seolah berada di dunia mimpi. Namun, rasa nyeri tumpul yang menjalar dari sumsum tulangnya membawanya kembali pada kenyataan.
“Kepala Wang! Pasien ranjang 36 sudah sadar!” Seorang perawat yang sedang melakukan pemeriksaan rutin membuka pintu, melihat Ouyang Luo menatap kosong ke depan, lalu buru-buru menutup pintu dan memanggil dokter.
Tak lama kemudian, pintu dibuka lagi. Sekelompok dokter dan perawat masuk terburu-buru ke ruang rawat, mengelilingi ranjang dan mengamati kondisinya. Ekspresi tak percaya terlukis jelas di wajah mereka, seperti baru saja menyaksikan keajaiban.
“Kau masih ingat siapa dirimu?” tanya Kepala Wang yang berdiri paling depan, memastikan keadaan mental Ouyang Luo baik.
“Eh? Aku Ouyang Luo.” Pertanyaan aneh itu membuat Ouyang Luo sedikit bingung, tapi ia tetap menjawab jujur.
“Kau masih ingat bagaimana kau terluka?”
“...Aku tidak ingat.” Tentu saja Ouyang Luo tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi di Gunung Jiuming. Tak hanya tak akan ada yang percaya, dia bahkan bisa dianggap gila.
“Amnesia retrograde,” Kepala Wang menghela napas. “Kondisi seperti ini bisa muncul jika kepala mengalami benturan, sehingga menimbulkan kekacauan memori. Kau istirahat saja dulu, jika ada apa-apa segera tekan bel. Ada bagian tubuh lain yang terasa tidak nyaman?”
“Bagaimana dengan Han Nuo? Apa dia baik-baik saja?”
Beberapa dokter saling berpandangan, lalu salah satu dari mereka bertanya hati-hati, “Maksudmu Kapten Han Nuo dari Tim Khusus?”
“Iya! Bagaimana keadaannya? Dia tidak apa-apa, kan?”
“Kalau dia, kemarin aku baru lihat di televisi. Dia dipinjam ke Kota F untuk membantu kasus pembunuhan, dan dalam dua hari kasusnya sudah terselesaikan, hebat sekali!” sahut seorang perawat muda.
Ouyang Luo merasa ada yang aneh. “Kalau boleh tahu... kenapa aku bisa terluka separah ini?”
“Kau terjatuh dari lantai tiga saat penangkapan, lalu koma selama tiga hari.” Kepala Wang tampak enggan menjelaskan lebih lanjut. “Kami permisi dulu. Kau perbanyak istirahat.”
Sesaat kemudian, hanya Ouyang Luo yang tersisa di kamar. Ia menoleh ke luar jendela, memandangi burung-burung yang terbang pulang ke hutan di bawah langit senja yang kemerahan, entah mengapa hatinya dipenuhi kegelisahan.
Bukankah aku terluka di Gunung Jiuming demi menyelamatkan Han Nuo... Dari reaksi para dokter, mereka sama sekali tak tahu soal insiden di Gunung Jiuming. Ditambah mereka bilang Han Nuo sedang di Kota F, mungkinkah semua itu hanya mimpi saat aku koma?
Dalam keraguan dan kebingungan, Ouyang Luo ingin mengambil ponsel untuk mengonfirmasi kebenaran, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menatap langit-langit putih bersih. Entah tubuhnya terlalu letih, atau menatap langit-langit memang punya efek menenangkan, rasa kantuk pun datang menyergap. Ouyang Luo memejamkan mata dan kembali terlelap.
Dalam mimpi, Ouyang Luo berada di sebuah rumah bergaya Eropa, dengan mudah naik ke lantai dua dan masuk ke sebuah kamar. Su Yi Bai yang sudah lama tak ia jumpai, mengenakan rompi kotak-kotak dan kemeja putih seperti biasa, terlihat santun dan ramah.
Jari-jarinya yang ramping sedang menggulung lengan bajunya, duduk di bangku dekat ranjang, memeras handuk dari baskom untuk mengelap wajah seseorang yang terbaring di atas ranjang.
Jantung Ouyang Luo berdebar kencang. Ia memberanikan diri hendak mendekat diam-diam, tapi baru saja melangkah, Su Yi Bai sudah menoleh menatapnya. Ada keterkejutan sesaat di matanya, namun segera kembali biasa saja. “Kenapa kau bisa ke sini?”
“Aku juga tidak tahu...” Kedua dunia itu terlalu nyata, Ouyang Luo jadi benar-benar bingung mana yang mimpi dan mana yang nyata. Ia hanya menggeleng, tak tahu harus berbuat apa.
Su Yi Bai menghela napas pelan, berjalan mendekat lalu mengusap kepala Ouyang Luo, “Ingatlah, kapan pun itu, kau harus percaya pada dirimu sendiri. Percayalah pada apa yang pernah kau lihat, percayalah pada instingmu sendiri. Dengan begitu, kau tidak akan kehilangan arah.”
Sentuhan hangat di kepala itu membuat hati Ouyang Luo yang kacau sedikit tenang. Dalam ingatannya, Su Yi Bai memang pernah mengelus kepalanya seperti itu. Rasa rindu pun mengalir deras. Ouyang Luo menikmati kelembutan itu dengan memejamkan mata...
“Ouyang Luo, bangun! Kalau tidak makan, nanti makanannya keburu dingin!” Suara yang familiar terdengar di telinga. Ouyang Luo membuka mata, kembali di kamar rumah sakit, melihat Du Yue dengan rambut berantakan seperti sarang ayam.
“Mana pacarmu?” Entah kenapa, Ouyang Luo tiba-tiba bertanya sesuatu yang membuat Du Yue kesal selama beberapa hari.
“Ouyang Luo! Kalau kau bukan sedang terbaring sakit, sudah kutampar kau! Bagaimana sih ngomongnya? Mana ada perempuan yang mau denganku?” Du Yue mengeluh, mendorong kacamata hitam yang hampir jatuh, berusaha menutupi lingkaran hitam di bawah matanya akibat begadang.
Du Yue tak punya pacar? Padahal belum lama ini dia membawanya makan bersama pacarnya! Ouyang Luo yang semakin bingung meminta maaf, lalu melihat Du Yue membantunya duduk dan mempersiapkan makan pagi. Mendadak ia ingat sesuatu, “Mana ponselku?”
“Ada di sini, kenapa?” Du Yue mengambil ponsel dari laci dan menyerahkannya.
Dengan tangan kanannya yang satu-satunya bisa digerakkan, Ouyang Luo membuka ponsel, mencari kontak Han Nuo di WeChat. Biasanya Han Nuo selalu di urutan pertama, tapi kini ia tak menemukannya sama sekali. Panik, ia mencoba menelepon nomor Han Nuo, tapi yang terdengar hanyalah suara mesin, “Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar.”
“Halo? Xia Fei? Ini Ouyang Luo.” Dengan harapan tipis, Ouyang Luo menghubungi Xia Fei.
Saat telepon tersambung, Ouyang Luo sekaligus lega dan terkejut. Xia Fei masih hidup! Tapi sebelum ia sempat bertanya soal Han Nuo, suara di seberang sudah berkata, “Sudah sadar? Baguslah! Aku sedang rapat, kau istirahat saja. Nanti aku akan menjengukmu.” Lalu telepon diputus.
Kenapa semuanya berubah? Sebenarnya apa yang terjadi? Ouyang Luo yang benar-benar tak paham situasi hanya bisa menunduk lesu, meletakkan ponsel. Ia melihat Du Yue sedang menyiapkan sarapan di atas meja kecil, bubur putih yang pas kematangannya dan bakpao panas membuat perutnya keroncongan. Ketika Du Yue menyuapkan bubur, tanpa sungkan Ouyang Luo menyantapnya.
“Oh ya, ayahmu bilang sebentar lagi akan menjengukmu.”
“Ha? Ayahku?” Sepanjang ingatannya, ini pertama kali ada yang menyebut kata itu, membuat Ouyang Luo tersedak.
“Astaga, masa kau lupa sama ayahmu sendiri? Ayahmu itu direktur utama Grup Lixing!” Du Yue menatap Ouyang Luo yang terpaku dengan tak percaya. “Kau ini, sudah jadi anak orang kaya malah milih jadi polisi. Kalau aku di posisimu sudah pasti menikmati hidup, tak perlu setiap hari bertaruh nyawa. Kau tahu, ayahmu hampir kena serangan jantung saat dengar kau celaka…”
Nada iri Du Yue membuat Ouyang Luo sedikit tak nyaman. Ia langsung kehilangan selera makan, bilang sudah kenyang, lalu berbaring. Du Yue kembali sibuk membereskannya.
“Ouyang Luo, sudah mendingan?” Tak lama setelah Du Yue pergi, Ouyang Luo yang sedang merenung menatap jendela—memikirkan “siapa aku, di mana aku, apa yang harus kulakukan”—tiba-tiba mendengar suara asing. Ia menoleh, melihat pria paruh baya dengan wajah asing, lalu tersenyum canggung.
“Kau masih ingat aku?” Pria itu mengenakan setelan jas mahal, rambutnya tersisir rapi, sorot matanya tajam khas pebisnis, tapi wajahnya justru tampak ramah dan penuh perhatian.
Ouyang Luo menggeleng. Wajah pria itu langsung suram. Saat Ouyang Luo hendak mencari topik obrolan baru, pria itu menghela napas.
“Namaku Song Jianguo, direktur utama Grup Lixing, ayahmu,” pria itu memperkenalkan diri langsung. “Ouyang Luo, tinggalkan Tim Khusus.”
“Aku tidak mau!” Tanpa berpikir, Ouyang Luo langsung menolak. Ia menatap Song Jianguo yang tampak terkejut, lalu berkata tegas, “Aku tidak akan keluar dari Tim Khusus.”
Song Jianguo tampaknya tak menyangka keteguhan hati Ouyang Luo. Ia menatap anaknya lama, seolah ingin memastikan kebenaran kata-katanya. Melihat tatapan Ouyang Luo yang mantap dan tak ragu sedikit pun, Song Jianguo menghela napas, berdiri, menyilangkan tangan di belakang punggung, lalu pergi tanpa sepatah kata.
Setelah Song Jianguo pergi, Ouyang Luo baru bisa bernapas lega. Tak peduli kenapa ayahnya kini bukan lagi kepala tim polisi khusus, tapi seorang pengusaha besar, hanya karena ia ingin Ouyang Luo keluar dari Tim Khusus saja sudah membuatnya kehilangan simpati pada Song Jianguo.
Sampai Ouyang Luo keluar dari rumah sakit, Song Jianguo tak pernah muncul lagi, bahkan Xia Fei yang berjanji lewat telepon pun tak pernah datang. Hanya Du Yue yang setiap hari rutin datang, mengurus segala keperluan Ouyang Luo. Awalnya ia merasa hanya sahabat yang bisa diandalkan di saat sulit, namun belakangan ia tahu, Song Jianguo ternyata memberi Du Yue uang untuk merawatnya. Sejak itu, sikap Ouyang Luo pada Du Yue menjadi dingin, merasa dikhianati.
Kuanggap kau teman, ternyata kau hanya peduli pada uang. Betapa ironis.
Tiga bulan kemudian, Ouyang Luo akhirnya keluar dari rumah sakit. Setelah sekian lama tak merasakan tanah di bawah kaki dan angin sepoi-sepoi, ia menutup mata dan menghirup udara dalam-dalam. Ia melirik Du Yue yang kelelahan menenteng barang bawaan, lalu melambaikan tangan memanggil taksi.
“Ding-dong—ding-dong—” Sesampainya di depan rumah Han Nuo, Ouyang Luo mengusir Du Yue lalu berdiri di depan pintu, menekan bel berkali-kali tanpa hasil. Ia pun mengetuk pintu dengan tangan, tetap tak ada jawaban. Mungkinkah Han Nuo masih di Kota F?
“Anak muda, jangan diketuk lagi, berisik! Tak ada orang di sini, kau ketuk sampai besok pun tak akan dibukakan!” Seorang bapak dari kamar sebelah keluar, menegur dengan ramah.
“Oh, mungkin aku salah lantai, maaf, terima kasih, Pak!” Ouyang Luo tersenyum canggung, lalu pergi membawa barang-barangnya.
“Maaf, nomor yang Anda tuju tidak terdaftar…” Ouyang Luo duduk sendirian di tangga depan apartemen, berulang kali menelepon Han Nuo. Berkali-kali mendapat jawaban sama, ia melirik sisa baterai ponsel yang kian menipis, lalu memandang langit yang entah sejak kapan mulai gelap, matanya kehilangan harapan mengikuti langkah para pejalan kaki.
Han Nuo, di mana kau? Apa… aku telah kehilanganmu?
Tiba-tiba ponselnya berdering. Mengira itu Han Nuo, ia buru-buru mengangkat, namun suara berat di seberang membuatnya kembali muram.
“Ya, tidak apa-apa, aku akan pulang naik taksi sendiri.” Ternyata Ouyang Li yang menelepon. Setelah menutup telepon, Ouyang Luo merasa lega, setidaknya ia masih anak angkat Kepala Ouyang, hal itu belum berubah.
Bagi Ouyang Luo, di dunia yang segalanya sudah berubah, satu hal yang tetap tak berubah begitu menggembirakan hati, membuatnya ingin bersorak bahagia.