Bab 74: Mencari Tempat Tinggal
Kelopak mata Kurit menurun, ia hanya menggumam pelan dari hidungnya. Teh di depannya tak tersentuh, sementara Bobi berdiri di samping dengan canggung. Sepanjang hidupnya, hanya ada dua orang yang benar-benar ia pedulikan. Satu adalah Daisy, yang pernah menyelamatkan nyawanya sewaktu kecil. Satunya lagi adalah kakak besar yang telah memberinya kehidupan seperti sekarang.
Ia sempat mengira kakak hanya akan mengutus beberapa anak buah, tak disangka malah turun tangan langsung!
“Kak, ini cuma urusan mencuri satu duyung tingkat tiga, kenapa Anda sendiri yang datang kemari?” tanya Bobi.
Kurit bersandar santai pada sofa, kedua kakinya yang kokoh diletakkan di atas meja. Sebatang rokok terselip di bibirnya. Ia mengisap dalam-dalam, lalu melempar puntungnya sembarangan ke lantai. Satu kepulan asap besar keluar, menutupi hampir seluruh wajahnya.
“Aku dengar, beberapa hari lagi akan ada pahlawan yang baru pulang dari medan tempur melawan bangsa serangga. Kebetulan aku sedang senggang, jadi mampir saja untuk melihat-lihat,” ujarnya.
Jantung Bobi sedikit berdegup kencang. Ini kan di planet utama, apa kakak besar tak takut tertangkap kalau berbuat masalah di sini?
Kurit mengangkat cangkir teh di meja, meneguk habis isinya, lalu berkata, “Urusan mencuri duyung, nanti aku suruh Ekor membantumu. Kamu carikan aku tempat tinggal, aku akan menetap di planet utama beberapa hari.”
Bobi mengangguk cepat, “Siap, Kakak, akan segera kuatur.”
...
Bobi masuk ke kamar dan berkata pada Daisy, “Aku kurang paham tempat di planet utama, kamu carikan tempat tinggal untuk kakak besar.”
Daisy tampak ragu. Rumah di planet utama sangat sulit dibeli, rumah yang sekarang ia tempati bersama adiknya pun baru bisa didapat berkat bantuan Bai Xiu.
“Kalau kontrakan, bagaimana?” tawar Daisy.
Raut wajah Bobi langsung berubah. “Jangan main-main, kalau untuk anak buah lain mungkin tak apa, tapi ini Kurit Le!”
Nada suaranya merendah saat menyebut nama itu, lalu membujuk, “Dengarkan aku, Daisy. Kalau sampai kakak besar kecewa, kita semua bisa susah.”
Daisy berpikir sejenak. “Kalau begitu, hanya bisa memakai rumah adikku. Tapi rumahnya lebih kecil dari yang ini…”
Tanpa pikir panjang, Bobi langsung setuju. “Tak masalah, kakak besar pasti tidak keberatan. Yang penting ada tempat tinggal.”
Daisy membuka perangkat komunikasinya. “Kamu temani tamu dulu, aku akan minta adikku pindah sementara.”
Bobi mengangguk dan keluar. Daisy pun menghubungi adiknya melalui panggilan suara.
“Halo, Kak, ada apa?” suara adiknya terdengar.
Daisy berkata, “Kakak butuh bantuanmu untuk satu urusan~”
...
“Akan kukirim sejumlah uang, kamu menginap di rumah teman beberapa hari, ya. Jangan pulang sebelum aku kabari!”
Daina tak tahu kakaknya sedang merencanakan apa, tapi ia tetap menyahut, “Baik, aku akan tinggal di rumah teman dulu.”
Baru saja sambungan diputus, Daina langsung menerima transfer 500 ribu koin bintang dari kakaknya. Senyumnya mengembang, kakaknya memang dermawan, sekali transfer sudah setara gajinya selama setahun.
Sambil bersenandung, ia berkemas ala kadarnya, berniat menyewa kamar saja. Walaupun bekerja di lembaga pemerintah federal, ia hanyalah pegawai kecil.
Rekan kerjanya kebanyakan berasal dari keluarga terpandang, tutur kata pun sering terkesan angkuh. Ia pun enggan bergaul terlalu dekat.
Pekerjaan ini didapatnya pun berkat bantuan kakaknya. Meski uang operasinya sudah lama terkumpul, ia tetap saja tak pernah berniat menjadi duyung, berbeda dengan wanita lainnya.
Biaya hidup di planet utama sangat tinggi. Gajinya puluhan ribu koin bintang setahun, tapi setelah dipakai makan minum, tak banyak yang tersisa. Namun kakaknya tampak betah di sini, sedangkan ia sendiri sudah pasrah tak menikah dan berniat membantu sang kakak mengurus anak kelak...
Menyewa tempat tinggal di planet utama memang mudah, tapi jaraknya sangat jauh, di pinggiran kota, dan kondisinya jauh di bawah rumah yang ia tinggali sekarang. Padahal sewanya pun mencapai seribu koin bintang per hari...