Bab 91: Kekuatan yang Mengerikan
Aqiang tiba-tiba menyerbu dengan cepat dan melayangkan pukulan ke arah dada Xia Xinyu. Jelas sekali ia berniat memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil keuntungan. Namun, Xia Xinyu membalas dengan tendangan berputar yang indah.
“Plak!” Tendangannya mendarat tepat di wajah Aqiang, membuatnya terlempar ke belakang. Beberapa giginya copot, dan segumpal darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
“Tak kusangka gadis ini ternyata cukup garang. Kawan-kawan, ambil senjata, serbu bersama-sama!” Macan, sang pemimpin, sempat tertegun sejenak, lalu segera memberi perintah kepada anak buahnya.
Beberapa bilah pisau berkilauan pun dikeluarkan. Para preman itu mengepung Xia Xinyu di tengah-tengah.
“Sekarang aku beri kau pilihan, patuhilah aku, biarkan aku bersenang-senang denganmu, dan aku bisa menyelamatkan nyawamu. Kalau tidak, mati!” Macan sangat percaya diri. Dengan dukungan Grup Wutian di belakangnya, di jalanan ini, sekalipun ia sampai membunuh orang, masalah itu pasti bisa diselesaikan.
Sebagai iblis bawah tanah di Yudu, kekuatan Grup Wutian sungguh luar biasa, tak terbayangkan oleh orang biasa.
“Kau benar-benar berani membunuh orang?” Xia Xinyu memang jarang berurusan dengan preman kelas bawah seperti ini, tapi ia tahu Grup Wutian memang berani mengambil nyawa orang. Namun ia tak menyangka, tokoh kecil seperti Macan pun bicara soal membunuh seolah itu perkara sepele.
Apakah hukum sudah tak berlaku di sini?
“Membunuh? Itu sudah makanan sehari-hari bagiku!” ucap Macan dengan angkuh. Untuk urusan berapa banyak nyawa yang telah ia ambil di jalanan ini, ia sendiri sudah tak ingat lagi.
“Makanan sehari-hari?” Xia Xinyu benar-benar terkejut.
Awalnya ia mengira para preman itu paling banter hanya membuat keributan atau berkelahi, maka selama ini ia tak terlalu memperhatikan urusan semacam itu. Namun ucapan Macan hari ini benar-benar mengguncang seluruh pandangannya tentang dunia.
“Bagaimana? Gadis kecil, apa kau ketakutan?” meski gadis itu lihai berkelahi, itu hanya sekadar bisa berkelahi saja.
Bertarung dan membunuh, itu dua hal yang sangat berbeda.
Melihat Xia Xinyu terdiam, Macan menjadi semakin jumawa.
“Kau mau menyerah padaku, atau perlu aku paksa?”
“Hari ini, tak satu pun dari kalian bisa lari!” Xia Xinyu sudah mengambil keputusan, para preman ini harus dibawa ke pengadilan. Semua perbuatan membunuh yang telah mereka lakukan, harus mereka akui. Para korban berhak mendapat keadilan!
“Tak kusangka mulutmu juga lumayan besar!” Macan memasang wajah dingin, lalu berkata pada anak buahnya, “Tangkap dia, tapi jangan sampai kulitnya yang cantik itu terluka.”
Sekelompok preman itu pun langsung menyerbu, menyerang Xia Xinyu dengan gaya kacau seperti iblis menari.
Namun Xia Xinyu menghadapi mereka dengan tangan dan kaki, satu jurus satu lawan, dalam dua-tiga menit saja, semua preman bersenjata pisau yang menyerangnya sudah tergeletak di tanah.
Setelah itu, Xia Xinyu mendekati Macan.
Macan tertegun, benar-benar syok.
Ia sama sekali tak menyangka gadis cantik ini ternyata begitu hebat. Belasan anak buah yang ia bawa, bisa dibereskan dalam waktu singkat seperti itu.
“Jangan... jangan mendekat!” Dengan begitu banyak anak buahnya yang tumbang, Macan sadar betul ia tak akan mampu melawan Xia Xinyu.
Ia pun segera mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke Xia Xinyu.
“Kau... bahkan punya pistol?” Xia Xinyu benar-benar tak menyangka. Seorang pemimpin preman kelas teri, bisa dengan santai membawa pistol ke mana-mana. Bukankah keamanan di Yudu sangat baik?
Mengapa bisa begini?
Mengingat laporan-laporan yang dibuat oleh orang-orang di kantor setiap tahun, Xia Xinyu hanya bisa menahan tawa sinis dalam hati.
Namun kini, moncong pistol mengarah padanya, membuat Xia Xinyu tak berani bergerak.
Sehebat apa pun ilmunya, secepat apa pun gerakannya, tetap saja tak mungkin bisa mendahului peluru!
“Berani-beraninya mengarahkan pistol ke wanita yang bersamaku, pasti kau cari masalah.” Qin Xuan berjalan dengan santai, berdiri di depan Xia Xinyu, lalu menyerahkan tas Armani milik gadis itu kepadanya.
“Sudah tak bisa kau tangani rupanya? Masih saja akhirnya harus aku yang turun tangan,” kata Qin Xuan.
“Nanti juga aku urus kau!” Xia Xinyu, sambil menerima tasnya, menepuk pantat Qin Xuan dengan ringan.
“Plak!” Suara itu cukup renyah.
Xia Xinyu sendiri tak tahu kenapa ia melakukan itu, mungkin karena bagian itu terasa paling empuk.
Qin Xuan merasa dirinya dimanfaatkan, tapi ia tak bisa protes. Ia bahkan merasa ada aliran listrik kecil yang menyusup di tubuhnya, geli-geli nikmat, rasanya cukup menyenangkan.
“Kau sudah lama mengacungkan pistol itu, kenapa tidak menembak saja?” Qin Xuan menunjuk keningnya sendiri, menantang Macan, “Bidik di sini, aku jamin takkan menghindar.”
“Kau kira, pistolku ini kosong tanpa peluru?” tanya Macan dengan dingin.
Dari kelihaian Xia Xinyu, bisa diduga pria ini juga menguasai bela diri. Tapi, apa gunanya? Tak peduli sehebat apa, bahkan pendekar tingkat tinggi pun, selama belum mencapai tingkatan guru besar, tetap takkan bisa menghindari peluru.
“Aku tahu senjatamu terisi peluru, makanya tembak saja!”
Begitu kata-kata itu meluncur, Qin Xuan bergerak secepat kilat, dalam sekejap sudah berada tepat di depan Macan. Tangannya langsung mencengkeram pistol itu.
Dengan sekali puntir lembut, pistol itu pun berubah bentuk seperti seutas kue kepang.
Seluruh proses berlangsung kurang dari sepersepuluh detik.
Artinya, Macan sama sekali tak sempat bereaksi.
Macan benar-benar syok.
Itu kan pistol! Terbuat dari baja, bukan dari tanah liat.
Orang di depannya ini, bisa memuntir pistol dengan tangan kosong hingga berbentuk seperti itu. Masih bisakah ia disebut manusia?
Pasti bukan manusia!
Kini, sorot mata Macan kepada Qin Xuan berubah total, seperti sedang menatap monster yang sangat menakutkan.
Xia Xinyu merasa Qin Xuan jauh lebih kuat dibanding seorang guru besar, tapi ia sendiri tak punya gambaran tentang tingkatan itu. Sekuat apa pun seorang guru besar, tetap saja masih manusia biasa!
Mana mungkin ada manusia yang bisa memuntir pistol dengan tangan kosong seperti itu? Tenaganya pasti tak kurang dari sepuluh ribu kilogram!
Sungguh mencengangkan, benar-benar di luar nalar.
Tanpa sadar, di dalam hati Xia Xinyu tumbuh sedikit rasa kagum dan suka terhadap Qin Xuan.
Setiap wanita pasti menyukai pria yang kuat. Dan Qin Xuan, adalah pria yang kekuatannya tak terbatas. Bahkan, menurut Xia Xinyu, para pahlawan super dalam film Amerika pun tak sebanding dengan Qin Xuan.
Karena mereka hanya ada di layar lebar, sedangkan Qin Xuan nyata adanya.
“Tadi aku suruh kau menembak, tak kau lakukan. Sekarang sekalipun ingin menembak, sudah tak ada waktu.” ujar Qin Xuan datar.
Lalu, ia mencengkeram pergelangan tangan Macan yang memegang pistol, dan sedikit menekannya.
“Krak... krek...”
Pergelangan tangan Macan pun remuk seketika.
Macan meraung-raung melolong kesakitan seperti babi disembelih.
Xia Xinyu kembali syok.
Orang ini, kenapa begitu kejam? Begitu bengis?
Ia tak sekadar mematahkan, tapi memencet hingga remuk pergelangan tangan Macan, seperti memeras sosis yang baru keluar dari mesin, membuat seluruh tangan lelaki itu terkulai lemas.
Betapa mengerikannya orang ini?
Tapi, untuk seorang preman yang sudah banyak mencelakai orang, menerima luka-luka seperti ini memang sudah sepantasnya!
Xia Xinyu sudah lebih dulu menghubungi Song Ruiji.
Saat itu, Song Ruiji datang bersama anak buahnya.
“Kapten Xia, maaf kami terlambat.”
Melihat para preman yang mengerang kesakitan di tanah, dan Macan yang sudah ketakutan setengah mati sambil memegangi tangannya yang remuk, Song Ruiji tersenyum pada Xia Xinyu.
“Masih sempat-sempatnya datang terlambat? Apa akhir-akhir ini kalian jadi malas karena aku tak pernah menuntut banyak dan tak meminta kalian lembur?” Xia Xinyu menatap tajam Song Ruiji, “Bulan ini, bonusmu hangus!”
“Kapten Xia! Kak Xia! Jangan begitu dong! Tim Serigala Langit sudah sering bertaruh nyawa, gaji pokok cuma tiga ribu yuan, kami sangat bergantung pada bonus!” Song Ruiji panik.
Ia sudah berjanji pada pacarnya, Xiao Man, akan membelikannya kalung jika sudah menerima gaji. Kalau bonusnya hilang, dari mana ia bisa membelikan?
Tagihan bulan lalu pun belum ia lunasi!
“Kakak ipar Xia, tolong bujuk Kapten Xia, jangan biarkan dia memotong bonusku, aku benar-benar butuh uang!” Song Ruiji kini beralih memohon pada Qin Xuan dengan wajah memelas.
“Sejak kapan aku jadi kakak ipar Xia?” Qin Xuan kebingungan.
“Apa? Kau keberatan? Padahal aku yang merasa rugi!” Xia Xinyu melotot pada Qin Xuan, lalu berkata pada Song Ruiji.
“Karena kau telah memfitnah atasanmu, gaji pokok bulan ini juga hangus!”