Bab 73: Masih Berani Tidak Puas
Di tengah angin kencang dan gelombang besar di Telaga Naga Terkunci, Qin Xuan berdiri dengan tangan di belakang punggung, tanpa terkena setetes pun air kotor. Di sisi Qin Xuan, Xia Xinyu juga tetap bersih, tidak ada setitik air kotor pun yang mengenai dirinya.
Tiba-tiba, sebuah kepala besar berwarna gelap muncul dari bawah air, di atas kepala itu tumbuh sebuah tanduk. Qin Xuan, yang semula sempat menaruh harapan kecil, langsung merasa sangat kecewa begitu melihat kepala itu.
Ternyata, energi spiritual di Bumi memang masih sangat kurang! Ia mengira di dasar Telaga Naga Terkunci tersembunyi seekor naga, siapa sangka yang muncul malah seekor siluman ular raksasa.
Saat Qin Xuan amat kecewa, Xia Xinyu sudah ketakutan setengah mati.
“Itu… itu makhluk apa?” gumam Xia Xinyu ketakutan.
“Apa lagi kalau bukan itu? Dulu waktu SD, pelajaran IPA-mu tidak sampai membahas ini? Itu siluman ular, makhluk lemah!” sahut Qin Xuan dengan nada sedikit kesal.
Di dunia abadi, ia sudah terbiasa menunggangi naga. Masa di Bumi, tunggangan seorang Kaisar Xuan harus turun derajat, dari naga jadi siluman ular?
Pelajaran IPA SD? Xia Xinyu masih dalam keadaan kebingungan.
“Di SD kalian belajar hal seperti ini?” tanya Xia Xinyu, merasa Qin Xuan sedang mengada-ada.
“Anak TK saja pasti kenal makhluk begini, kan?” lanjut Qin Xuan.
Di dunia fana, anak TK sudah berumur tiga atau empat tahun. Di dunia abadi, anak seusia itu bukan hanya kenal siluman ular, bahkan sudah sering menangkap mereka seperti menangkap belut, mempermainkan sesuka hati.
Tapi, cara mereka mempermainkan sangat berbeda dengan manusia dunia fana. Mereka mempermainkan untuk melatih.
Sejak kecil harus berani menjinakkan siluman ular, supaya dewasa nanti bisa menjinakkan naga!
“Kau benar-benar suka mengarang, ya!” Xia Xinyu sungguh-sungguh tidak mengerti jalan pikiran Qin Xuan; kemampuan mengarangnya benar-benar luar biasa.
“Rawr... Rawr...” suara mengerikan keluar dari mulut siluman ular hitam itu.
Xia Xinyu ketakutan dan buru-buru bersembunyi di belakang Qin Xuan.
“Kau, jadi tungganganku!” perintah Qin Xuan seraya menunjuk siluman ular itu.
“Rawr!” Siluman ular itu meraung, suaranya penuh amarah dan ketidakpuasan.
Ia sudah ribuan tahun berlatih di Telaga Naga Terkunci ini, membunuh tak terhitung ahli manusia. Mana mungkin ia mau jadi tunggangan bocah di depannya? Diberi makan dan tempat tinggal saja, ia tidak akan mau!
Seekor ekor tebal melebihi batang pohon, mengayun deras membawa ombak besar ke arah Qin Xuan.
Siluman ular mengayunkan ekor!
Tenaganya mencapai jutaan kilogram.
Bahkan seorang guru besar manusia terkuat pun takkan sanggup menahan sekali ayunan itu. Jangankan menahan, menghindar pun selama ribuan tahun belum ada yang bisa.
Saat ekor itu hampir tiba, Qin Xuan sama sekali tidak berniat menghindar.
Xia Xinyu terpaku ketakutan, mulutnya menganga. Ia ingin berteriak, tapi seolah ada sesuatu yang menyumbat di tenggorokannya, tidak bisa bersuara.
Yang menyumbat mulutnya adalah keterkejutan, kekagetan, dan ketakutan! Pokoknya, segala macam rasa kaget!
Pada saat itu, Qin Xuan menginjak ringan tanah, tubuhnya melayang ke udara, seolah benar-benar menguasai ilmu meringankan tubuh.
Xia Xinyu terperangah.
Benarkah ilmu meringankan tubuh seperti itu memang ada?
Ia tidak tahu, teknik itu hanyalah latihan dasar bagi manusia biasa, sama sekali tidak masuk hitungan bagi Qin Xuan sang abadi.
Qin Xuan yang melayang di udara, menangkap ekor siluman ular itu, lalu menariknya kuat-kuat.
Tubuh siluman ular hitam yang panjangnya lebih dari seratus meter itu, ditarik keluar dari air oleh Qin Xuan. Permukaan air Telaga Naga Terkunci langsung turun lebih dari sepuluh meter.
“Plak! Plak, plak!”
Qin Xuan mengayunkan tubuh siluman ular ke kiri dan kanan, dalam sekejap, reruntuhan di sekitar telaga rata dengan tanah oleh tubuh makhluk itu.
Adapun siluman ular hitam itu meraung-raung kesakitan.
“Aku beri kau satu kesempatan terakhir. Jadi tungganganku!” ujar Qin Xuan datar.
Jika Qin Xuan sudah berkata itu kesempatan terakhir, maka benar-benar kesempatan terakhir. Jika makhluk itu masih membangkang, yang menantinya hanyalah kematian.
“Rawr!” Setelah raungan panjang, siluman ular itu menundukkan kepala, menandakan tunduk pada Qin Xuan.
“Mulai sekarang, namamu adalah Si Hitam Kecil,” Qin Xuan memberinya nama.
“Rawr, rawr!” Siluman ular itu tampak tidak puas. Untuk makhluk yang sudah berlatih ribuan tahun, nama itu benar-benar merendahkan derajatnya.
“Apa? Masih berani protes?” tanya Qin Xuan dingin.
Makhluk keras kepala seperti ini memang harus diberi pelajaran! Sekali diberi pelajaran, langsung jinak.
“Rawr...” Siluman ular itu mana berani melawan? Jika melawan, pasti dipukuli lagi.
“Kembalilah! Bersihkan air hitam kotor itu. Semua mayat yang tersembunyi di dasar telaga harus kau bereskan. Mulai sekarang, tempat ini kau jaga untukku. Jika sampai ada masalah, awas saja, nyawamu aku ambil!” perintah Qin Xuan dingin.
“Rawr!” Setelah menjawab, siluman ular itu segera berenang kembali ke Telaga Naga Terkunci.
Sekejap saja, air telaga berubah jernih.
Warnanya berganti-ganti, kadang biru muda, kadang hijau muda, berkilauan warna-warni, setiap detik berubah-ubah. Di tepi telaga, bunga-bunga cerah bermekaran, indah sekali.
“Ini... ini sungguh ajaib!” Semua yang terjadi hari ini benar-benar membalikkan pandangan dunia Xia Xinyu.
“Makhluk itu benar-benar bisa kau jinakkan begitu saja?” Xia Xinyu masih belum percaya, merasa itu sungguh mustahil.
Qin Xuan malas menanggapi wanita itu, hanya melirik sekilas, tanpa berkata apa-apa.
“Kau ini maksudnya yang disebut guru besar dalam dunia bela diri kuno?” tanya Xia Xinyu seperti anak kecil yang ingin tahu segalanya. Meski Qin Xuan tak mau menanggapi, ia tetap bertanya-tanya.
“Guru besar itu tidak ada apa-apanya!” jawab Qin Xuan, merasa jika tidak menjawab, wanita ini takkan berhenti bertanya.
“Jadi maksudmu, kau lebih hebat dari guru besar yang sering dibicarakan itu?”
Alasan Gu Yazhi buru-buru ke Yudu dan ingin membawa Xia Xinyu pulang menikah dengan Cui Wenjie, karena keluarga Xia tanpa sengaja menyinggung seorang guru besar yang sangat luar biasa. Hanya keluarga Cui yang bisa membereskan masalah itu.
Kalau tidak, keluarga Xia di Beijing bisa lenyap dalam semalam!
“Kau pernah janji, kan? Jangan terlalu dekat denganku!” Qin Xuan mengingatkan dingin.
“Kapan aku pernah janji? Aku tidak ingat! Jangan coba-coba mengelak!” Setelah tahu Qin Xuan lebih kuat daripada guru besar, Xia Xinyu memutuskan, ia harus membawa pria ini kembali ke Beijing, menyelesaikan masalah keluarga Xia dengan sang guru besar.
Karena itu, ia tebal muka terus mengikuti Qin Xuan.
“Perempuan dan orang kecil memang sulit diatur!” Qin Xuan hanya bisa mengeluh.
Akhirnya, ia memutuskan tak mau lagi peduli padanya, langsung berjalan menuju pintu desa.
Di sana, si hantu tua sedang membawa seember air, mencuci mobil Wuling Hongguang.
“Tuan, mobil ini sebentar lagi akan beres. Mobil nona, nanti juga saya cuci, saya pastikan kinclong sekali.” Si hantu tua tersenyum penuh penjilatan.
Siluman ular hitam yang berlatih seribu tahun saja bisa dijinakkan Qin Xuan, kalau ia ingin selamat, harus tunduk juga.
“Mulai sekarang, patuhlah! Jangan sembarangan mencelakakan manusia lagi. Aku beri kau kesempatan jadi pelayan,” ujar Qin Xuan datar.
“Terima kasih, Tuan! Terima kasih, Tuan!” Si hantu tua langsung berlutut, menundukkan kepala, “Mulai sekarang, hamba hanya akan taat pada perintah Tuan. Demi Tuan, hamba rela berkorban sampai mati.”
“Cepat selesaikan cucinya. Dua-duanya harus bersih!” perintah Qin Xuan datar.
Xia Xinyu memandang Qin Xuan dengan tatapan penuh ketidakpercayaan.
“Dia itu hantu, hantu yang membunuh manusia. Mayat yang di telaga, semua dia yang bunuh, dan kau biarkan saja dia begitu?”
“Masa kau mau tangkap hantu lalu dipenjara?” Qin Xuan merasa tak habis pikir.
“Itu... itu tidak benar!” Xia Xinyu ingin membujuk Qin Xuan.
“Apa urusanku harus kau atur?” sahut Qin Xuan dingin.
“Kau sungguh tak masuk akal, tak bisa diselamatkan! Aku... aku tak tahu lagi harus bicara apa!”
Xia Xinyu mengangkat tangan kecilnya, berniat memukul Qin Xuan. Namun, sebelum sempat bergerak, Qin Xuan sudah melotot padanya.
“Kenapa melotot padaku? Memukulmu sekali saja tidak boleh?”
Xia Xinyu cemberut, wajahnya penuh keluhan. Ingin memukul Qin Xuan saja tidak kesampaian, ia jadi sangat kesal.
“Tidak boleh.”
Qin Xuan benar-benar tidak mengerti, dari mana datangnya kepercayaan diri wanita ini sampai berani memukul Kaisar Xuan. Bahkan di ranjang naga emas giok, harusnya Kaisar Xuan yang berhak memukul, bukan sebaliknya!
Meski Kaisar Xuan juga pernah dipukul bidadari.
Bagaimanapun, di dunia abadi, para bidadari ada yang lembut dan baik hati, ada juga yang liar seperti kucing kecil, jalannya sangat liar.
“Aku tetap mau pukul!”
Berkata begitu, Xia Xinyu langsung meninju dada Qin Xuan dengan tangan kecilnya.
Kali ini, Qin Xuan bahkan tak sempat menghindar.
Apa ia lengah? Atau memang wanita ini secara alami bisa mengalahkannya, sehingga mau menghindar pun tak bisa?
“Beri aku ponselmu.”
Belum sempat Qin Xuan bicara, Xia Xinyu sudah mengambil inisiatif sendiri, merogoh saku Qin Xuan dan mengambil ponselnya.
Secara naluriah, ia mengusap layar dengan jarinya, ponsel langsung terbuka.
Keduanya langsung terkejut.
“Kenapa pola kunci layar ponselmu sama persis dengan punyaku?”
Xia Xinyu hampir tak percaya, ini benar-benar kebetulan luar biasa! Padahal pola kunci layarnya sangat rumit, mana mungkin bisa sama dengan orang lain?