Bab 85: Kamu Terlihat Sangat Menawan Seperti Ini
“Ckrek!”
Dengan satu tarikan keras, Wan Hengliang langsung merobek segel itu.
Lalu, ia mengeluarkan kunci, membuka pintu, dan masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar tanpa ragu.
“Aku memang mau tinggal di sini, siapa yang bisa melarangku?”
Dengan penuh kemenangan, Wan Hengliang menyalakan lampu.
Namun begitu lampu menyala, terdengar suara dengungan listrik, lalu lampu itu padam.
“Ada apa ini? Rumah yang disegel sampai diputus listrik juga? Ini benar-benar keterlaluan!” Wan Hengliang menggerutu tak terima.
“Brak!”
Pintu tertutup dengan keras.
Seorang kakek bungkuk bertongkat muncul di depan pintu.
Dia, tak lain adalah hantu tua itu.
“Kau... siapa kau?”
Wan Hengliang gemetar ketakutan, tapi karena pernah kuliah di luar negeri di universitas abal-abal dan percaya pada sains, ia tak percaya pada hal-hal gaib.
Jadi ia yakin, orang tua di depannya itu manusia, bukan hantu.
“Berani-beraninya kau bikin onar di Telaga Penyekap Naga, nyawamu harus dibayar!”
Hantu tua itu menyeringai, menampakkan taringnya yang putih menyeramkan.
“Jangan! Jangan...”
Belum sempat Wan Hengliang mengucapkan kalimatnya, hantu tua itu sudah menerkamnya ke tanah.
Lalu, mulutnya langsung menggigit leher Wan Hengliang.
Keesokan harinya, forum-forum lokal di Yudu dan grup WeChat dihebohkan oleh berita besar.
Dalam semalam, belasan orang ditemukan mati dengan tubuh kering tanpa darah.
Namun tak lama, semua berita terkait menghilang tanpa jejak, bahkan satu pun foto korban tak bisa ditemukan. Dalam urusan mengendalikan opini publik, negeri itu memang kelas dunia.
Gedung Internasional Wutian, kantor manajer umum.
“Kemarin Wan Hengliang membawa belasan orang ke Telaga Penyekap Naga buat bikin onar, pagi ini, tak satu pun dari mereka yang tersisa, semuanya mati,”
Zheng Zhichang melapor pada Wu Bo dengan wajah tak percaya.
“Semuanya mati? Bagaimana matinya?” tanya Wu Bo terkejut.
“Darahnya disedot habis oleh sesuatu, tampak mengerikan,”
Zheng Zhichang mengeluarkan ponsel, menunjukkan foto-foto korban satu per satu pada Wu Bo.
“Kelihatannya bukan perbuatan manusia.”
Sebagai manajer umum Grup Wutian, Wu Bo tentu seorang ahli. Ia bisa menilai, ini bukan pembunuhan biasa.
“Ada yang bilang itu ulah vampir,” kata Zheng Zhichang.
“Itu memang perbuatan vampir. Yang ada di Telaga Penyekap Naga,”
Wu Bo tahu lebih banyak dari Zheng Zhichang tentang kejadian itu.
“Wan Hengliang dan rombongannya mati pada malam mereka bikin onar. Tapi Qin Xuan yang memimpin tim konstruksi besar-besaran di sana, baik-baik saja, para pekerja pun tak kenapa-kenapa. Bukankah ini aneh?”
Zheng Zhichang tampak bingung.
“Bagaimana kalau pembangunan besar-besaran itu memang untuk makhluk itu?” Wu Bo telah memikirkan kemungkinan ini selama beberapa hari.
Ia pernah ke Telaga Penyekap Naga, tahu betapa mengerikannya makhluk di dalam sana.
“Mungkinkah Qin Xuan sudah menjalin hubungan dengan makhluk itu?” tanya Zheng Zhichang.
“Hubungan? Dia tak pantas! Menjadi budak makhluk itu saja sudah untung besar bagi tujuh turunan leluhurnya!”
Setelah berkata demikian, Wu Bo langsung mengernyit dan berpikir dalam-dalam.
Jika benar Qin Xuan telah menjadi budak makhluk itu, untuk sementara ia tak bisa diganggu. Bisa jadi, peta kekuatan Yudu akan berubah.
Batu roh! Batu roh sebesar telur angsa itu!
Qin Xuan pasti telah mempersembahkan batu roh itu pada makhluk itu, sehingga ia berhak menjadi budaknya!
Menyadari hal ini, Wu Bo merasa menyesal dan tak henti-hentinya menyesali diri!
Andai saja Grup Wutian lebih cepat bertindak dan merebut batu roh itu, kesempatan menjadi budak makhluk itu sudah pasti miliknya!
Setelah Wan Hengliang bikin onar di Telaga Penyekap Naga, Sun Chao menelepon Qin Xuan.
Walau tahu budaknya akan membereskan masalah kecil ini, Qin Xuan tetap mengendarai Lamborghini Veneno-nya menuju Telaga Penyekap Naga.
Ia ingin memastikan, bagaimana perkembangan pembangunan vila miliknya?
Setelah berkeliling, ia mendapati Sun Chao cukup dapat diandalkan.
Meski detail pengerjaannya masih jauh dibandingkan para ahli di Dunia Abadi, namun untuk ukuran dunia fana, kualitasnya sangat luar biasa.
Tak ada yang perlu dikhawatirkan di proyek itu, Qin Xuan pun mengendarai mobilnya ke Grup Yuhua.
Sudah beberapa hari ia tak masuk kantor, ia harus mampir, sekadar absen.
Bagaimanapun, Grup Yuhua itu miliknya.
Baru saja masuk kantor, ia belum sempat duduk, Song Xi sudah datang dengan sepatu hak tingginya yang berdetak nyaring.
“Qin Xuan, datang ke kantor saya sekarang!”
Meski Song Xi masih memakai setelan kerja murah dua tiga ratus ribu, sejak menjadi direktur keuangan, auranya mengalami perubahan besar.
Ketika berbicara pada Qin Xuan, wibawa tegas terpancar jelas dari dirinya.
“Kemarin Direktur Song sudah mencarimu, hati-hati saja!” bisik Xiao Jiang yang duduk di samping.
“Dia tak bisa apa-apa padaku, santai saja,” jawab Qin Xuan dengan santai.
Ia pun berdiri dan berjalan menuju kantor direktur seperti tak terjadi apa-apa.
“Tutup pintunya!”
Begitu Qin Xuan masuk, Song Xi langsung memerintah.
“Kenapa harus ditutup?”
Qin Xuan tak suka wanita itu selalu memerintah seenaknya.
“Disuruh tutup ya tutup, banyak omong!”
Song Xi mengerutkan alis, tampak sangat kesal. Ia berpikir, kenapa pria ini begitu susah diatur? Karyawan lain semua bisa ia atur dengan mudah, hanya Qin Xuan yang selalu bandel.
Yang paling menjengkelkan, antara mereka juga ada hubungan khusus. Jika tak bisa mengatur Qin Xuan, orang-orang di departemen keuangan pasti banyak bergosip.
Qin Xuan malas meladeni wanita itu. Meski agak kesal, ia tetap menutup pintu dengan bunyi keras.
“Mau apa?” tanya Qin Xuan.
“Sikapmu itu apa? Kemarin seharian tak masuk, hari ini juga terlambat, anggap kantor ini rumahmu sendiri? Mau datang, datang, tak mau ya tak datang?”
Song Xi benar-benar marah, ia ingin memberi pelajaran pada pria itu.
Tapi, Qin Xuan tak kekurangan uang, potong gaji pun percuma.
Sesuai aturan perusahaan, paling banter cuma bisa dipotong gaji, atau dipecat.
Namun Song Xi tak ingin memecatnya.
Bekerja di departemen keuangan saja dia sering kabur. Kalau dipecat, bukankah makin bebas saja? Siapa tahu dia akan ngapain saja seharian? Kadang naik Lamborghini, kadang naik mobil niaga, uang dihamburkan seenaknya, tengah malam ada wanita cantik datang. Pria ini benar-benar bikin pusing!
“Iya!” jawab Qin Xuan setelah berpikir.
Jawabannya memang tidak asal. Grup Yuhua memang miliknya, wajar saja kalau ia menganggap kantor ini rumahnya!
“Kau... benar-benar bikin aku marah!” Song Xi sampai matanya membelalak kesal.
Tapi apa boleh buat? Qin Xuan memang tak pernah peduli.
“Kau sangat cantik saat begini,” kata Qin Xuan sengaja memancing emosi Song Xi.
Walau itu jujur, Song Xi memang menarik saat marah—perpaduan kelembutan dan ketegasan, ada sisi manja yang galak.
“Bersikaplah lebih serius!” Song Xi menggertakkan gigi, benar-benar kesal.
“Kau jelek sekali kalau marah,” jawab Qin Xuan dengan wajah serius.
“Aku ingin meledak rasanya!”
Song Xi melempar map ke arah Qin Xuan.
“Semua laporan ini tugasmu, harus selesai hari ini juga.”
Dia tak percaya, tak bisa mengendalikan pria ini!
“Aku tidak mau,” jawab Qin Xuan santai. Sebagai penguasa, ia terlalu sibuk untuk urusan remeh begini.
“Kalau tidak ada urusan lain, aku pergi dulu.”
Qin Xuan berbalik hendak keluar, sebelum sampai ke pintu, ia menoleh dan berkata, “Pulang nanti kau sendiri saja! Aku sibuk, tak sempat mengantarmu!”
Selesai bicara, Qin Xuan melenggang keluar sambil bersenandung, sama sekali tak menganggap Song Xi sebagai seorang direktur!
“Bajingan! Sungguh menyebalkan!” Song Xi terengah-engah menahan amarah, dadanya yang indah pun ikut bergelombang seiring napasnya.
Sayangnya, di dalam kantor hanya ada dirinya seorang.
Pemandangan indah itu tak ada yang bisa menikmatinya.
Di kantor kapten, di atas meja Xia Xinyu, terhampar belasan foto.
Itulah foto para korban kemarin malam.
Begitu melihat bekas gigitan di leher para korban, Xia Xinyu langsung tahu, ini pasti ulah hantu tua dari Telaga Penyekap Naga.
Selama ini makhluk itu hanya memangsa di telaga, kini berani keluar mencari korban.
Makhluk itu benar-benar sudah kelewat batas!