Bab 26 Menjadi Tercengang
Seorang guru yang baru saja kembali dari toilet, begitu duduk, langsung berbisik kepada rekan di sampingnya, "Kalian tahu tidak? Tadi di toilet, saya mendengar para guru dari SMP Negeri Satu yang bertugas mengoreksi lembar jawaban bilang, dalam kompetisi berhitung cepat kali ini, ada seorang siswa yang menyelesaikan lima ratus soal dan semuanya benar, alias nilai sempurna."
"Wah, saya sampai melongo mendengarnya. Saya tidak tahu dia murid guru siapa, tapi saya sangat iri. Betapa beruntungnya guru yang memiliki siswa sehebat itu."
Nilai sempurna?
Guru-guru lain yang mendengar hal itu tampak terkejut. Dalam hati, mereka diam-diam berharap siswa peraih nilai sempurna itu adalah murid mereka sendiri. Guru matematika Su Xiangyang yang mendengar kabar tersebut juga bertanya-tanya, apakah murid itu berasal dari sekolah desa atau sekolah dasar di kabupaten.
"Halo, halo," ujar guru yang memandu acara penghargaan sembari mengetes mikrofon. "Mohon tenang semuanya. Upacara penyerahan hadiah kompetisi berhitung cepat resmi dimulai. Selanjutnya, kami persilakan Bapak Bupati untuk menyampaikan sambutan."
Bupati naik ke panggung, menyampaikan beberapa patah kata formal, lalu menyinggung soal siswa yang berhasil meraih nilai sempurna dalam kompetisi ini.
Begitu ucapan Bupati terdengar, para siswa yang tadinya duduk tenang sontak gempar. Siapa gerangan anak itu? Hebat sekali! Bisa meraih nilai sempurna!
Rasa penasaran yang tak terbendung membuat mereka mulai berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya.
Setelah Bupati selesai, giliran Kepala Sekolah yang memberikan kata sambutan. Kemudian, pembawa acara mengambil alih mikrofon, "Selanjutnya, saya minta siswa yang namanya saya sebutkan untuk naik ke panggung: Li Yiyi, Su Xiangyang..."
Mendengar nama Su Xiangyang, guru matematika Su Xiangyang yang sedari tadi merasa tegang akhirnya bisa bernapas lega. Meskipun dari kelima muridnya hanya Su Xiangyang yang masuk peringkat, setidaknya ada satu yang berhasil, sehingga dia dan sekolah tidak kehilangan muka.
Setelah semua siswa yang dipanggil naik ke panggung, pembawa acara menyerahkan sertifikat serta uang tunai yang telah disiapkan kepada Bupati, Kepala Sekolah, dan Wakil Kepala Sekolah.
Dalam kompetisi ini, hanya ada satu orang pemenang pertama, yaitu Su Xiangyang. Sementara itu, terdapat dua orang pemenang kedua dan tiga orang pemenang ketiga.
Pembawa acara melanjutkan, "Sekarang, mari kita persilakan Bapak Bupati, Kepala Sekolah, dan Wakil Kepala Sekolah untuk menyerahkan hadiah kepada para pemenang ketiga."
Tepuk tangan meriah membahana. Guru Su Xiangyang melihat bahwa nama Su Xiangyang tidak ada di antara pemenang ketiga. Dia berpikir, berarti Su Xiangyang pasti meraih juara kedua. "Bagus, bagus sekali," batinnya.
Setelah hadiah untuk juara ketiga diserahkan, pembawa acara kembali berkata, "Siswa yang sudah menerima sertifikat silakan menunggu di samping. Sekarang, saya mohon Bapak Bupati dan Kepala Sekolah untuk menyerahkan hadiah bagi para pemenang kedua."
Setelah para juara kedua menerima sertifikat mereka, pembawa acara berkata lagi, "Selanjutnya, saya mohon Bapak Bupati untuk menyerahkan hadiah kepada pemenang pertama sekaligus peraih nilai sempurna dalam kompetisi ini, yaitu Su Xiangyang."
Melihat Su Xiangyang tidak ada di antara pemenang kedua, gurunya sempat bertanya-tanya apakah muridnya itu peraih nilai sempurna yang dibicarakan tadi. Begitu namanya disebut di atas panggung, sang guru sampai terjatuh dari kursinya karena terkejut.
Juara pertama? Nilai sempurna?
Murid yang dia ajarkan ternyata juara pertama, dan nilainya sempurna! Hahaha...
Guru di sampingnya, yang tahu Su Xiangyang adalah muridnya, membantunya berdiri. "Tahu muridmu dapat juara pertama dan nilai sempurna saja tidak perlu sampai seheboh ini, sampai terjatuh dari kursi segala. Kamu bahkan kalah tenang dari Su Xiangyang. Lihat, dia bahkan terlihat sangat kalem meski tahu dirinya dapat nilai sempurna."
Guru-guru lain menatap guru Su Xiangyang dengan pandangan iri. Mereka benar-benar cemburu; mengapa siswa secerdas itu bukan murid mereka? Jika siswa mereka yang menang dan meraih nilai sempurna, mereka mungkin tidak akan bersikap sekonyong-koyong itu. Baiklah, mungkin itu hanya bualan, karena jika berada di posisi yang sama, mungkin mereka juga tidak akan jauh berbeda.
Sementara itu, guru pengawas yang tadi menjaga Su Xiangyang mematung saat melihat gadis itu naik ke panggung. Bukankah dia siswa yang mengumpulkan lembar jawaban bahkan sebelum waktu berakhir? Bagaimana mungkin dia bisa meraih peringkat? Ah, mungkin dia hanya beruntung karena ada tiga orang juara ketiga, batinnya mencoba mencari alasan. Namun, saat mendengar pembawa acara menyatakan bahwa gadis itu adalah Su Xiangyang yang meraih nilai sempurna, sang pengawas benar-benar terpaku bisu.
Guru yang mengoreksi lembar jawaban Su Xiangyang menatap gadis itu dengan puas. Dia sudah menantikan momen ini sejak selesai mengoreksi kertas ujiannya.
Anak ini meraih juara pertama dengan nilai sempurna, namun wajahnya tidak menunjukkan kesombongan sedikit pun. Matanya memancarkan ketegasan. Begitu anak ini masuk sekolah menengah nanti, dia bertekad untuk menariknya ke kelasnya sendiri.
Bupati menghampiri Su Xiangyang dengan membawa sertifikat dan uang tunai. Sambil menepuk bahunya dengan ramah, beliau berkata, "Adik Su Xiangyang, penampilanmu luar biasa. Selamat atas pencapaian yang sangat membanggakan ini. Semoga ke depannya kamu terus berprestasi!"
Su Xiangyang menerima sertifikat dan uang seratus yuan, lalu membungkuk sedikit sambil mengangguk ke arah Bupati. "Terima kasih, Bapak Bupati! Saya pasti akan terus berusaha."
Kepala Sekolah Dasar Negeri yang berdiri di samping menyaksikan Su Xiangyang yang berbicara dengan santun namun percaya diri. Beliau menghela napas pelan. "Ah, mengapa sekolah kami tidak bisa mencetak siswa sebaik ini?"
Upacara berakhir, Su Xiangyang turun dari panggung dan mencari gurunya. Sang guru kini telah menenangkan diri. "Su Xiangyang, penampilanmu sangat bagus. Guru tidak menyangka kamu bisa meraih juara pertama dengan nilai sempurna. Kamu telah mengharumkan nama guru dan sekolah."
Su Xiangyang menjawab, "Pencapaian ini berkat didikan Bapak dan Ibu Guru. Justru saya yang harus berterima kasih, karena kalianlah yang membuat saya menjadi lebih baik."
Mendengar ucapan itu, sang guru merasa semakin bangga. Muridnya meraih prestasi gemilang namun tidak sombong, dan tidak melupakan jasa guru-gurunya. Hatinya terasa hangat. Sebagai pendidik yang telah mengajar banyak siswa, dia tidak mengharapkan imbalan apa pun, hanya ingin murid-muridnya sukses di masa depan. Namun, mendengar perkataan Su Xiangyang, dia merasa semua kerja kerasnya selama bertahun-tahun tidak sia-sia. Dengan mata berkaca-kaca, dia mengusap kepala Su Xiangyang.
Setelah terdiam sejenak, dia berkata, "Simpan uangmu baik-baik, kita akan segera berkumpul untuk pulang."
Su Xiangyang sudah menyimpan uangnya saat di panggung tadi. Dia mengangguk lalu berkata, "Pak Guru, orang tua saya juga ada di kota hari ini. Bolehkah saya pulang bersama mereka nanti?"
Sang guru berpikir sejenak. Lagipula hari ini tidak ada pelajaran lagi, dan Su Xiangyang pasti ingin segera berbagi kabar gembira ini dengan keluarganya. Dia pun setuju, "Tentu, biar saya antar kamu menemui orang tuamu." Dia baru akan merasa tenang setelah memastikan siswanya itu sampai dengan selamat di tangan orang tuanya.