Bab 30 Menerima Surat
Seminggu setelah ujian akhir usai, Su Xiangyang menerima surat dari kantor redaksi Qingfeng. Dari dua kantor redaksi yang ia kirimi naskah, ia akhirnya memilih Qingfeng.
Saat membuka amplop, selain surat dari pihak redaksi, ia juga mendapati wesel honorarium serta majalah yang memuat novel karyanya. Sambil memegang majalah tersebut, ia tak sabar membuka halaman yang memuat tulisannya. Ini adalah kali pertama ia menulis dan mengirimkan naskah novel. Melihat karyanya telah tercetak di atas kertas, ia merasa sungguh ajaib.
Beberapa hari terakhir ia tidak menerima kabar apa pun, ia sempat mengira naskahnya gagal dan terpikir untuk mencoba mengirim ke kantor redaksi lain. Tak disangka, surat itu akhirnya datang. Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar. Ia meletakkan majalah itu ke samping dan beralih memeriksa nominal pada wesel tersebut.
Tertulis angka 321 yuan di sana. Su Xiangyang tidak menyangka honorariumnya sebanyak itu; ia mengira paling banyak hanya seratus yuan. Dengan tangan gemetar karena gembira, ia menatap angka 321 yuan itu cukup lama sebelum akhirnya membaca surat yang menyertainya.
Surat itu ditulis oleh pemimpin redaksi Qingfeng. Ia mengatakan bahwa novel Su Xiangyang mendapat sambutan yang sangat baik dari pembaca, bahkan staf kantor redaksi pun turut membacanya. Naskah yang dikirimkan Su Xiangyang masih bisa dimuat dalam dua edisi lanjutan, dan mereka berharap ia segera mengirimkan sisa naskahnya.
Setelah selesai membaca surat, Su Xiangyang dengan perasaan berbunga-bunga membawa wesel dan majalah itu keluar kamar. Ia menghampiri Nenek Su yang sedang duduk berjemur di bawah dinding. "Nenek, novel yang kutulis sudah dimuat di majalah. Lihat, ini majalah dan wesel honorarium yang mereka kirimkan."
Nenek Su terkejut mendengarnya. Cucu perempuannya itu baru saja memenangkan kompetisi dan mendapatkan seratus yuan, sekarang ia malah menghasilkan uang lagi dari menulis novel. Dengan penuh semangat, sang nenek berkata, "Novelmu dimuat di majalah dan kau mendapat bayaran? Bagus, bagus sekali! Cucu nenek memang hebat. Berapa jumlah honorariumnya?"
Su Xiangyang memberikan wesel itu kepada neneknya sambil menunjuk angkanya dengan jari. Sambil tersenyum ceria, ia berkata, "Nenek, lihat ini, mereka mengirimiku honorarium sebesar 321 yuan. Besok setelah mencairkan uangnya, aku akan membelikan Nenek makanan enak."
321 yuan! Nenek Su tidak menyangka cucunya bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dari menulis novel. Saat ini, pegawai yang digaji negara pun paling banyak menerima gaji seratus lebih per bulan. Honorarium cucunya bahkan lebih tinggi dari gaji bulanan mereka. Cucunya benar-benar luar biasa.
Setelah puas memamerkan keberhasilannya kepada Nenek, ia berlari menemui Su Xiangwan yang sedang membersihkan kandang babi. Sambil mengangkat majalah dan weselnya, ia mengangkat alis dan berkata, "Kakak, lihat, novelku diterima oleh kantor redaksi Qingfeng dan dimuat di majalah. Mereka juga mengirimkan wesel bayaran. Untuk sepuluh ribu kata, mereka memberikan honor 321 yuan."
Su Xiangwan sangat gembira mendengarnya. Ia sempat hendak meraih majalah itu, namun segera teringat tangannya kotor. Ia pun keluar dari kandang babi, mencuci tangan di dekat tempayan air, baru kemudian mengambil majalah dari tangan Su Xiangyang. Sambil membolak-balik halamannya dengan antusias, ia bertanya, "Yangyang, di halaman berapa novelmu?"
"Di halaman 28," jawab Su Xiangyang.
Su Xiangwan membuka halaman 28. Ini adalah kali pertama ia membaca karya adiknya. "'Bunga Matahari yang Mekar', apakah ini nama pena-mu?"
"Iya, bagaimana menurut Kakak?"
"Bagus sekali. Maknanya indah, melambangkan bunga yang mekar menghadap cahaya matahari."
Awalnya ia ingin segera memberi tahu ayah, ibu, dan Su Xiangnuan, namun Su Xiangnuan sedang pergi bermain, sementara orang tuanya sedang berada di kabupaten untuk membeli perlengkapan persiapan usaha mereka besok. Ia harus menunggu mereka kembali.
Pasangan Su Jianguo memang sedang sibuk di kabupaten beberapa hari ini, mengurus perizinan di berbagai kantor dinas. Karena baru pertama kali berbisnis, mereka tidak tahu pasti apa saja yang harus diurus, sehingga mereka harus sering bertanya ke kantor dinas terkait. Setelah beberapa hari yang melelahkan, urusan itu akhirnya selesai dan tinggal menunggu dokumennya terbit.
Su Xiangyang kembali ke kamar membawa majalah dan weselnya, lalu duduk kembali untuk melanjutkan menulis novel. Saat mencapai empat ribu kata, inspirasinya sedang mengalir deras.
Su Xiangnuan masuk dengan tergesa-gesa. "Kakak Kedua, aku dengar dari Kakak Sulung kalau novelmu sudah terbit dan kau mendapat bayaran, apakah itu benar?"
Su Xiangyang yang terkejut oleh suaranya hingga membuat noda tinta besar di kertas tulisnya, hanya bisa menghela napas. "Benar. Aku berencana mencairkan uangnya besok. Kebetulan besok usaha kita mulai beroperasi, jadi kita akan pergi ke kabupaten." Ia pun menunjukkan majalah dan wesel itu kepada Su Xiangnuan.
Setelah melihatnya, Su Xiangnuan berteriak kegirangan, "Wah, wah, wah! Kakak Kedua, kau hebat sekali! Bayarannya sampai 321 yuan!"
Su Xiangyang melihat kegembiraan adiknya, lalu teringat impiannya untuk memiliki rumah pekarangan tradisional di Beijing. Ia menghela napas; jika ingin membeli rumah itu, ia harus bekerja lebih keras lagi, kalau tidak, entah kapan ia bisa mewujudkan impiannya.
Terdengar suara Su Jianguo dan Li Yumei dari luar. Sebelum Su Xiangyang sempat bereaksi, Su Xiangnuan sudah berlari keluar membawa majalah dan wesel itu dengan antusias. "Ayah, Ibu, lihat! Novel Kakak Kedua sudah diterbitkan oleh kantor redaksi dan majalah terkenal di Beijing. Mereka sudah mengirimkan majalah dan wesel honorariumnya!"
Li Yumei, yang hendak pergi ke kebun belakang untuk memotong kucai sebagai persiapan dagang esok hari, menghentikan langkahnya. "Xiaonuan, apa yang kau katakan? Kakakmu menulis novel dan mendapatkan bayaran?" Putri keduanya ini diam-diam saja, kapan ia mulai menulis dan bahkan sudah dimuat di majalah?
Su Jianguo dengan penuh semangat mengambil wesel dan majalah itu dari tangan Su Xiangnuan. Mendengar kabar itu adalah satu hal, namun melihat angka 321 di wesel itu benar-benar membuatnya terperangah. "321 yuan! Yangyang benar-benar mendapatkan 321 yuan! Anak kita hebat sekali, masih sekolah tapi sudah bisa menghasilkan uang sebanyak ini. Xiaonuan, di halaman berapa novel kakakmu? Ayah ingin membaca karya putri Ayah."
"Di halaman 28." Meski tadi ia hanya membalik halamannya tanpa sempat membacanya, ia bisa menunggu setelah ayahnya selesai membaca.
Li Yumei memang tidak pernah sekolah, namun ia mengenali angka. Sambil meraba angka 321 di wesel itu, ia sempat tertegun sejenak. Kebaikan apa yang telah ia perbuat di kehidupan sebelumnya hingga dianugerahi putri secerdas ini? Baru saja memenangkan kompetisi mendapat 100 yuan, sekarang menulis novel mendapat 321 yuan lagi.
Mendengar Su Jianguo berkata ingin membaca novel putrinya, Li Yumei tersadar dan langsung merebut majalah dari tangan suaminya lalu memberikannya kepada si bungsu. Ia melirik suaminya dengan tajam. Pria itu tamatan SMP dan bisa membaca, enak saja dia mau membaca sendiri, bagaimana dengan dirinya? "Xiaonuan, bacakan novel Kakak Kedua untuk Ibu."
Su Jianguo menggaruk kepalanya, bingung kenapa istrinya tiba-tiba marah. Ia hanya bisa mengambil kursi di samping dan memohon agar istrinya duduk. Li Yumei mendengus ke arah Su Jianguo, lalu duduk untuk mendengarkan si bungsu membacakan novel kakak keduanya. Su Xiangyang bersandar di pintu, menyaksikan mereka dengan senyum mengembang.