Jilid Satu Bab Empat Puluh Tiga Kejutan Tak Terduga (Bagian Satu)
Bab 43: Kejutan Tak Terduga (Bagian Satu)
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, suasana di balai identifikasi mulai agak lengang. Sang penilai tua melambaikan tangan, memanggil murid mudanya, “Hongwen, tolong gantikan aku sebentar. Aku mau membawa adik kecil ini ke belakang.”
Anak muda bernama Hongwen itu mengangguk, bergegas menggantikan posisi gurunya, menerima peralatan dari para pemain yang datang ke konter, dan mulai sibuk. Penilai tua itu membuat isyarat mempersilakan, lalu membawa Lin Si ke sebuah ruangan di belakang.
Setelah masuk ke ruangan kecil yang terhubung dengan ruang utama balai identifikasi itu, Lin Si menduga tempat ini adalah ruang istirahat penilai tua dan murid mudanya. Dekorasinya hampir sama seperti di luar, semuanya dari kayu; dua ranjang, besar dan kecil, terhampar seprai bersih dan rapi, beberapa furnitur sederhana dan perlengkapan hidup tertata apik di dalam ruangan. Sebatang tanaman hijau kecil yang tak diketahui namanya diletakkan di atas meja teh bambu yang anggun di seberang ranjang, semburat hijau itu membuat seluruh ruangan tampak penuh kehidupan.
"Adik kecil, barang berharga apa lagi yang kamu dapat kali ini?" Penilai tua itu langsung ke inti pembicaraan setelah mempersilakan Lin Si duduk di bangku bambu di samping meja.
Lin Si tidak berpanjang kata, langsung mengeluarkan beberapa barang yang perlu diidentifikasi dan meletakkannya di atas meja bambu.
Penilai tua itu memandang barang-barang tersebut dengan penuh pertimbangan, ekspresinya berubah-ubah dalam hitungan detik, membuat Lin Si jadi cemas. “Pak tua, bagaimana hasilnya? Katakan saja!”
“Hm…” Penilai tua itu merenung sejenak, sambil merapikan janggut putihnya. “Tak kusangka, kau benar-benar bisa selamat setelah mengalahkan Raja Beruang Cokelat yang begitu buas itu. Aku sungguh kagum!”
Sialan! Lin Si mengutuk dalam hati: Kalau bukan karena kau, orang tua sialan, menipuku dan menyuruhku ke sana untuk mati, mana mungkin aku pergi ke tempat terkutuk itu? Kalau saja aku tidak beruntung, pasti sudah jadi daging cincang oleh Raja Beruang Cokelat!
Meski begitu, Lin Si tentu saja tidak mengatakan itu. Sekarang ia hanya ingin tahu apakah hasil rampasannya yang nyaris ia pertaruhkan nyawa itu bernilai. “Pak tua, cepatlah lihat barang-barang ini, bagus atau tidak?”
“Baiklah!” Penilai tua itu menghela napas, lalu menepuk meja dengan keras. “Demi hubungan kita, kau cukup bayar biaya identifikasi 240 keping emas saja!”
“Apa? 240 keping emas!” Lin Si hampir jatuh pingsan di bawah meja.
Penilai tua itu mengerutkan kening. “Adik kecil, jangan-jangan kau merasa mahal lagi? Itu sudah harga diskon, lho, sudah kukurangi dua puluh persen!”
Lin Si benar-benar hampir menangis tanpa air mata. Dua ratus empat puluh keping emas itu setara dengan dua juta empat ratus ribu rupiah! Padahal Lin Si berencana menukarkan seribu keping emas hasil hadiah sistem itu sebagai biaya kuliah. Lagipula, kalau barang-barang yang diidentifikasi ternyata sampah, bukankah uang dua juta empat ratus ribu itu langsung melayang?
Melihat Lin Si lama terdiam, penilai tua itu agak sungkan. “Adik kecil, aku benar-benar tak untung mengidentifikasi barang-barang ini untukmu. Barang rampasan dari boss memang standar biaya identifikasinya seratus keping emas, belum lagi pajak yang harus kami setor ke pemerintah. Itu sudah harga paling murah.”
Lin Si mendengar penjelasan itu merasa aneh. “Pak tua, katanya satu barang boss biaya identifikasinya seratus keping emas, tapi aku bawa lima barang, kenapa jadi dua ratus empat puluh keping emas?”
“Aduh, aku memang sudah pelupa.” Penilai tua itu menepuk dahinya, lalu mengambil berlian biru dan kotak kecil berwarna emas dari lima barang yang dibawa Lin Si. “Dua barang ini tak perlu diidentifikasi.”
“Tak perlu diidentifikasi?” Lin Si semakin heran.
Penilai tua itu terlebih dahulu mengambil berlian berbentuk tetesan air berwarna biru. “Ini adalah sebuah batu energi tipe air ukuran sedang, bukan perlengkapan.” Kemudian ia mengambil kotak kecil berwarna emas. “Kotak ini adalah barang tersegel, juga tak perlu diidentifikasi.”
“Batu energi?” Mata Lin Si membelalak penuh tanda tanya. “Tapi kenapa aku tidak bisa melihat atribut barang itu?”
Penilai tua itu menggeleng pelan. “Aku juga tak tahu pasti. Batu energimu ini agak berbeda dengan yang pernah kulihat. Pertama, bentuknya sangat rapi dan teratur, lalu ini adalah batu energi hasil pemurnian, sangat padat.”
“Batu energi padat?” Lin Si menatap bingung pada penilai tua itu.
Penilai tua itu membersihkan tenggorokannya dan melanjutkan, “Secara umum, batu energi adalah barang langka dan produksinya sangat sedikit. Ada tujuh jenis: emas, kayu, air, api, tanah, cahaya, dan kegelapan. Setiap batu energi umumnya hanya mengandung satu elemen. Dari ketujuh jenis itu, cahaya dan kegelapan adalah yang paling langka.”
Lin Si mengangguk, setengah paham. “Lalu, apa yang istimewa dari batu energi ini?”
“Begini, menurut pengukuranku, batu energi air ini walau kecil, energinya sangat tinggi, setara dengan batu energi ukuran sedang. Ini yang membuatnya aneh, karena biasanya batu energi sedang ukurannya setidaknya begini.” Penilai tua itu memperagakan dengan tangan, kira-kira sebesar satu hingga dua meter kubik. Ia pun melanjutkan dengan nada kagum, “Dan hanya alkemis jenius legendaris bernama Jesika yang mampu memadatkan batu energi sebesar itu jadi sekecil ini. Di kota utama sekarang, alkemis terbesar bernama Salekel saja hanya sanggup memadatkan batu energi hingga seperempat ukuran aslinya.”
“Apa gunanya itu semua?” Lin Si masih menyimpan tanda tanya.
Penilai tua itu tersenyum penuh makna. Ia bangkit, pergi ke ruang utama, lalu kembali dengan membawa tongkat logam yang ujungnya dihiasi kristal biru.
Sambil memegang tongkat, penilai tua itu duduk kembali dan mulai melafalkan mantra, “Wahai roh air yang maha kuasa, anugerahkanlah kekuatanmu yang tertinggi, lindungi hamba setiamu—Perisai Air!”
Lin Si tahu, itu adalah mantra untuk kemampuan dasar penyihir air, Perisai Air, sebuah sihir pertahanan yang memanfaatkan elemen air untuk membentuk lapisan pelindung di sekeliling tubuh pengguna.
Begitu mantranya selesai, terbentuklah lapisan pelindung biru muda di sekitar tubuh penilai tua itu. Ia pun berkata pada Lin Si, “Adik kecil, boleh pinjam senjatamu sebentar? Senjata biasa saja, tak perlu yang bagus.”
Lin Si berpikir, ia masih punya pisau putih kesayangannya di tas, dulu hendak diberikan pada Xiao Xue, lalu sempat direbut oleh kelompok Bayar Uang Tidak Membunuh, tetapi akhirnya kembali lagi padanya. Ia mengeluarkan pisau itu dan hendak menyerahkannya, tapi penilai tua melambaikan tangan. “Adik kecil, coba kau serang perisaiku dengan pisau itu.”
Kini kepala Lin Si penuh dengan tanda tanya: Sebenarnya, apa yang ingin dilakukan orang tua ini?
(Terima kasih kepada para pembaca setia: Xiao Lian, lhz_515, r_goku, Huo Wuqing, *zhu, dan semua yang telah mendukung Yueguang. Saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya!)