Jilid Pertama Bab Lima Aku adalah Malaikat Maut?
Bab 5: Akukah Sang Malaikat Maut?
Gelap, gelap, dan hanya ada kegelapan...
“Apakah ada orang di sana?!” Lin Si berteriak kencang.
“Apakah ada orang di sana?” “Apakah ada orang di sana?” “Apakah ada orang di sana?”... Pantulan suara itu terdengar berkali-kali, membuat bulu kuduk Lin Si meremang. Untuk pertama kalinya ia merasa suaranya sendiri begitu mengerikan.
Frustrasi, frustrasi, dan hanya ada rasa frustrasi...
Lin Si bukan tak pernah bermain gim daring. Biasanya, pemain baru akan muncul di kota atau desa, kan? Namun, selama hampir setengah jam berjalan di tempat terkutuk ini, Lin Si sudah berada di ambang kehancuran mental.
Di sekelilingnya hanya ada kegelapan. Ketika mencoba membuka peta, sistem memberitahu bahwa daerah ini tidak bisa ditampilkan. Selain pesan samar dari sistem saat ia masuk tadi, tidak ada informasi apapun lagi.
“Ding! Pemain Cahaya Bulan Memikat telah mati, jiwanya memasuki Neraka Dunia Baka.”
Apa-apaan ini, pembukaan macam apa?
Tak tahu sudah berapa lama Lin Si meraba-raba dalam kegelapan, tiba-tiba secercah cahaya lemah tampak di depan. Nalurinya membawanya melangkah ke arah cahaya itu. Sebuah ruang batu yang agak luas terbentang di hadapannya. Aroma apek dan pengap begitu pekat. Setelah sedikit menyesuaikan diri dengan cahaya dan bau, Lin Si mulai dapat melihat isi ruangan.
Pemandangan yang pertama kali tertangkap matanya adalah tangga sembilan tingkat yang sudah lapuk di tengah ruangan, menuju sebuah kursi yang tampak seperti singgasana, penuh jaring laba-laba. Saat Lin Si melangkah maju, ia langsung batuk keras. Rupanya lantai yang penuh lubang itu tertutupi debu tebal, yang beterbangan setiap kali ia melangkah. Lin Si buru-buru menutup hidung dan mulutnya. Ia memperhatikan sekitar: dinding tua yang catnya mengelupas di sana-sini, diapit deretan tempat lilin logam simetris, namun hanya tersisa pecahan kristal yang sudah rusak. Mungkin dulu di situ terpasang lampu sihir, namun kini semuanya kusam tertutup debu, tak satu pun menyala. Yang paling mengerikan, di sudut ruangan tergeletak beberapa kerangka tulang putih, membuat Lin Si keringat dingin dan bulu kuduknya berdiri.
Akhirnya ia menemukan sumber cahaya—sebuah ruang kecil yang terhubung dengan ruang batu utama. Samar-samar terdengar suara orang berbicara, Lin Si pun berjalan mendekat dengan pelan.
Di atas meja reyot, sebatang lilin putih yang hampir habis terpasang di tempat lilin tua. Api kecilnya bergetar hebat, seolah akan padam kapan saja. Tiga sosok membelakangi Lin Si, bayangan mereka memanjang di lantai karena cahaya lilin.
“Solak, hari ini akan segera berakhir. Menurutmu, apakah Tuan akan datang?” suara tua dan parau terdengar.
“Tuan Jek tidak pernah berbohong. Kita harus sabar menunggu,” jawab suara lain yang agak lebih muda.
Lin Si yang mendengar percakapan itu tak ingin tahu lebih lanjut, ia hanya ingin segera keluar dari tempat menyeramkan ini.
“Maaf mengganggu, kalian bertiga...” Lin Si mengetuk dinding batu di sampingnya, seperti mengetuk pintu.
Ketiga sosok itu terkejut bagaikan tersambar petir, serempak menoleh ke arahnya.
“Kalau begitu, boleh saya tanya... Aaaa! Hantu!!” Lin Si hampir kehilangan separuh nyawanya. Ternyata, yang ia lihat bukan manusia, melainkan tiga makhluk menyeramkan. Hanya yang di sebelah kiri, mengenakan jubah hitam, wajahnya masih menyerupai manusia, sementara dua lainnya benar-benar tak layak dipandang. Yang paling menakutkan adalah yang di tengah, tubuhnya seolah terbuat dari udara yang menopang kain-kain compang-camping, dan di bagian kepala hanya ada dua cahaya hijau yang berkedip-kedip, membuat Lin Si semakin ngeri.
Karena terlalu kaget, Lin Si langsung berbalik dan berlari secepat kilat. Demi Tuhan, ia rela bersembunyi seratus tahun di gua gelap daripada harus berada di ruangan mengerikan itu.
Saat hendak kabur, sebuah panggilan menghentikan langkahnya.
“Tuan, saya tahu Anda pasti akan kembali, huuu...”
“Anda tidak meninggalkan kami, huuu…”
Lin Si berbalik bingung. Tiga makhluk itu berlutut dengan satu lutut, seolah menangis tersedu-sedu.
“Aku? Kalian bicara denganku?” Yang terdengar hanya suara tangisan yang makin keras, mengalahkan suara Lin Si.
“Eh, kalian...” Tiga makhluk itu tampaknya ingin menangis sepuasnya, entah sampai kapan mereka akan berhenti.
“Berhenti! Diam!” Lin Si berteriak sekuat tenaga. Anehnya, tangisan mereka langsung terhenti. Ketiganya memandang Lin Si bersamaan.
Wajah mereka yang makin mengerikan setelah menangis, membuat Lin Si kembali merasa ngeri. Namun ia memaksa diri untuk tenang. Ia sadar, selama di gua ini, baru tiga makhluk ini yang ia temui. Kalau ingin keluar, ia harus berurusan dengan mereka.
“Apa yang kalian tangisi? Aku cuma pemain biasa, bukan tuan kalian. Aku cuma ingin segera keluar dari sini.”
Ketiga makhluk itu saling pandang, lalu si pria berjubah berdiri, “Anda mengenakan cincin milik Sang Malaikat Maut, bagaimana mungkin Anda bukan tuan kami?”
Lin Si menoleh ke arah telunjuk kanannya. Sebuah cincin hitam pekat menempel di sana, hitam legam seperti sungai neraka yang mengalir. Pada permukaannya terdapat ukiran tengkorak tersenyum dengan sabit yang menyilang, kedua matanya berhiaskan berlian hitam, menambah aura seram dan suram. Ia membuka atribut barang: Senyuman Sang Malaikat Maut, jenis cincin, bagian dari set Malaikat Maut, unik, perlindungan kematian, menambah mantra: Senyuman Sang Malaikat Maut.
Inikah profesi tersembunyi yang legendaris itu? Malaikat Maut? Hahaha, aku beruntung! Seketika Lin Si lupa akan ketakutannya pada ketiga makhluk itu. Seburuk-buruknya, mereka toh hanya NPC. Ia sudah bertekad untuk melatih dirinya dalam permainan ini, tak boleh takut pada apapun. Ia segera membuka menu keterampilan, dan benar saja, kemampuan bernama “Senyuman Sang Malaikat Maut” muncul di urutan pertama, dengan ikon tengkorak hitam tersenyum yang sama dengan cincin di jarinya. Penjelasannya: level 1, pertahanan bertambah 10%, efek sihir kegelapan bertambah 5%, pertahanan terhadap sihir cahaya bertambah 5%.
Seperti yang diketahui, hampir semua gim memperlihatkan bahwa cahaya dan kegelapan adalah musuh abadi. Apalagi bangsa cahaya sering dijadikan musuh alami bangsa kegelapan. Sepertinya di gim ini pun begitu. Sekarang saja kemampuan Lin Si sudah menambah pertahanan terhadap cahaya, kalau nanti naik level, bukankah hasilnya akan sangat luar biasa? Hehehe...
Lin Si larut dalam lamunan, sampai lupa bahwa tempat ini tadinya sangat menakutkan. Dengan puas ia menutup menu keterampilan. Lalu, ia berpikir, tiga makhluk di depannya ini tampak seperti NPC cerdas, kalau mereka menganggap Lin Si sebagai tuan mereka, tak memanfaatkan kesempatan ini rasanya sayang sekali (tersenyum licik).
Pria berjubah itu maju ke depan, “Tuan, saya Solak, Kesatria Vampir di bawah perintah Anda.” Pantas wajahnya masih mirip manusia, ternyata vampir. Kini bibirnya yang pucat menampakkan dua taring tajam, wajah tampannya sedikit kebiruan.
“Tuan, saya Parkes. Kami sudah menunggu Anda selama lebih dari sembilan ribu tahun.” Suara itu berasal dari kerangka yang mengenakan baju kulit. Lin Si semakin merinding. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya saat kerangka putih tersenyum kepadamu di ruangan remang-remang.
“Tuan, Anda baru saja terbangun. Hanya jika Anda menjadi kuat kembali, Barisan Malaikat Maut akan kembali menguasai dunia manusia!” Hantu pengemis pun menimpali. Hantu pengemis adalah nama yang diam-diam Lin Si berikan pada makhluk berbalut kain lap dan dua cahaya hijau itu.
“Jadi, aku ini memang benar tuan kalian?” Lin Si tersenyum licik, mulai menjalankan rencananya.
“Benar, Tuan.” Ketiganya berlutut hormat.
“Apapun perintahku, kalian akan melaksanakannya?”
“Benar, Tuan.”
“Kalau begitu, beri aku perlengkapan tingkat tinggi!”
“Tidak ada, Tuan.”
“Telur binatang peliharaan ajaib?”
“Tidak ada.”
...
Sudah entah berapa kali Lin Si bertanya.
“Setidaknya, kalian pasti punya ramuan penyembuh, kan?”
“Tidak ada, Tuan.”
“Argh!” Lin Si benar-benar frustasi, “Kalian ini mesin pengulang ya? Jawabannya cuma tidak ada, tidak ada.”
Tiga makhluk itu saling berpandangan. Akhirnya, mereka memberi jawaban yang tak terduga, “Tuan, peralatan yang Anda sebut mesin pengulang itu seperti apa? Kami belum pernah mendengarnya.”
“Gedubrak!” Lin Si jatuh tersungkur. Kerangka Parkes mendekat, “Tuan, sejak sepuluh ribu tahun yang lalu ketika Anda gugur dalam pertempuran melawan bangsa malaikat, mereka telah menjarah habis Barisan Malaikat Maut, huuu...” Beberapa tetes cairan entah apa menetes dari rongga mata hitam Parkes.
“Kecuali cincin lambang Malaikat Maut yang ikut lenyap bersama Anda, semua bagian baju zirah Malaikat Maut telah dicuri dan disegel oleh malaikat-malaikat terkutuk itu.”
“Cukup!” Lin Si mengangkat tangan lemah, “Jadi, kalian benar-benar tidak punya apa-apa, tapi ingin aku membantu kalian mengalahkan bangsa malaikat, begitu?”
Ketiganya mengangguk mantap. Seketika terdengar peringatan dari sistem: Pemain Cahaya Bulan Memikat, apakah Anda menerima misi tersembunyi “Permohonan Abdi Malaikat Maut”? Misi ini unik, tanpa batas waktu.
Lin Si menerima. Ketiga makhluk itu langsung berlutut dan membenturkan kepala ke lantai, “Luar biasa, Tuan! Kami yakin Anda pasti bisa menumpas kejahatan para malaikat dan mengembalikan kejayaan Barisan Malaikat Maut!”
Dalam hati Lin Si mengumpat, “Bilangnya aku tuan, tapi ujung-ujungnya cuma disuruh kerja rodi buat tiga kakek tua ini. Toh misi ini tak ada batas waktu, terserah aku mau kerjakan kapan.”
Kerangka Parkes mendekat, “Tuan, izinkan saya menganugerahkan Anda kemampuan bakat Malaikat Maut.” Kilatan cahaya putih menyelimuti tubuh Lin Si, membuatnya merasa nyaman. Lalu, suara sistem bertubi-tubi berbunyi, menandakan ia baru saja mempelajari sesuatu.
Belum sempat Lin Si memeriksa, tiga makhluk itu sudah ribut bicara bersahut-sahutan.
“Tuan, jangan buang waktu, cepatlah tantang bangsa malaikat!”
“Tuan, Barisan Malaikat Maut bergantung pada Anda!”
“Tuan, kami akan menunggu Anda di sini.”
...
Akhirnya, tiga makhluk tua itu mendorong dan menarik Lin Si, menyeretnya masuk ke dunia yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.