Bab 11: Jika Aku Bilang Akan Membunuhmu, Maka Aku Pasti Akan Membunuhmu
Sialan, gila apa ini!
Menatap tubuh tak bernyawa di hadapannya, Xiao Mu hampir saja melontarkan sumpah serapah.
Bukan memaki si pembunuh, melainkan memaki kemampuannya sendiri.
Begitu bertindak langsung membunuh orang, siapa yang sanggup menahan seperti ini!
Kemampuan “Senjata Manusia” ini tidak bisa dikendalikan?
Bisa.
Hanya saja Xiao Mu belum terbiasa dengan kemampuan ini, pikirannya tidak bisa mengikuti reaksi tubuhnya.
Ibaratnya dulu kau pakai ponsel jadul, sekarang tiba-tiba ganti ke ponsel terbaru, butuh waktu untuk menyesuaikan diri.
Nanti kalau sudah terbiasa, akan bisa mengendalikan sesuka hati.
Tapi untuk saat ini, jangan harap.
Sejak mendapatkan kemampuan itu, Xiao Mu sama sekali belum punya kesempatan untuk belajar dan beradaptasi.
Apa yang bisa dia kontrol sekarang? Tidak ada!
Dua sosok berlari cepat ke arahnya.
Yang datang adalah Xiao Guodong dan seorang polisi kriminal.
Ketika mereka melihat Xiao Mu memegang pistol, lalu melirik mayat di lantai, ekspresi mereka seperti melihat hantu di siang bolong, kulit kepala mereka langsung merinding.
“Letakkan senjatamu!” suara Xiao Guodong tegas dan dingin.
Xiao Mu hanya bisa menurut, dengan patuh menjatuhkan pistol ke lantai.
Polisi kriminal itu segera berjalan cepat, mengambil pistol.
Xiao Guodong buru-buru berjongkok, memeriksa tubuh korban.
Begitu kedua polisi senior itu melihat luka tembak di tubuh korban, kelopak mata mereka langsung berkedut.
Ginjal di perut bawah, jantung di dada, otak di kepala...
Tertembak salah satu saja sudah mematikan, apalagi tiga-tiganya.
Lalu mereka melihat pintu lift di belakang Xiao Mu yang tak bisa tertutup.
Sebuah lengan terjepit menghalangi pintu lift.
Di kepala Xiao Guodong dan rekannya, muncul satu kata besar: Sialan!
Begitu mereka sampai di depan lift dan melihat ada dua mayat lagi, mereka sampai lupa bernapas.
“Kau yang membunuh semuanya?”
Xiao Guodong menarik napas dingin, menatap putranya dengan wajah tak percaya.
“Iya.”
Xiao Mu mengangguk, ingin tersenyum pada ayahnya, tapi tak mampu.
Bahkan bisa merasakan ketakutan yang menusuk.
Itulah ketakutan yang terpatri dalam gen makhluk hidup.
Dua kali hidup, ini pertama kalinya ia membunuh orang.
Kalau bilang tidak takut, itu bohong!
Xiao Guodong dan rekannya adalah polisi berpengalaman, cukup melirik lokasi kejadian sudah bisa menebak situasi.
“Pembunuh bayaran?” tanya Xiao Guodong menatap anaknya.
“Sepertinya begitu,” wajah Xiao Mu suram, “Tapi, belum semuanya!”
Di kehidupan sebelumnya, dia pernah melihat salah satu pembunuh itu.
Tetapi bukan salah satu dari tiga orang yang baru dibunuhnya barusan.
Artinya, pembunuh yang ia cari masih bersembunyi di dalam pusat perbelanjaan.
Xiao Mu pun tak punya waktu untuk menjelaskan pada ayah dan yang lainnya. Ia segera menekan headset di telinga, menginstruksikan, “Tutup seluruh pusat perbelanjaan, kirim orang ke ruang kontrol CCTV!”
Kematian tiga pembunuh itu pasti sudah mengacaukan situasi.
Ia menduga ruang kontrol CCTV pasti bermasalah.
Ada pembunuh di ruang kontrol, tapi bukan orang yang ia cari.
Pembunuh yang ia cari kemungkinan besar ada... di lantai 4?
“Apakah ada orang kita di lantai 4?”
Xiao Mu bertanya lewat headset.
“Ada!” suara Ye Wu terdengar di headset.
“Tutup semua pintu keluar lantai 4,” perintah Xiao Mu, “Target mungkin ada di sana, utamakan keselamatan warga sipil, temukan dia!”
“Siap!” Ye Wu menjawab, komunikasi pun terputus.
Tiba-tiba.
Terdengar suara tembakan dari lantai 4, pusat perbelanjaan pun menjadi kacau.
Wajah Xiao Mu berubah, ia berlari ke arah tangga darurat, sambil berteriak pada ayahnya, “Jaga lokasi kejadian!”
Tak perlu ditebak lagi, pasti pembunuh sengaja menembak untuk membuat kekacauan, agar bisa melarikan diri di tengah keramaian.
Saat ini hanya Xiao Mu yang tahu siapa pembunuh itu.
Kalau tak ingin orang itu lolos, dia harus segera mencarinya!
Lewat tangga darurat, ia langsung menuju lantai 4 dan bertemu petugas keamanan nasional.
Lantai 4 sudah kacau balau.
Orang-orang panik berlarian, hanya beberapa petugas keamanan nasional yang berusaha mengendalikan situasi.
Melihat semua itu, Xiao Mu sadar ia sudah terlambat.
Pembunuh itu pasti sudah kabur.
Tapi dia yakin, pembunuh itu tidak turun ke bawah.
Di bawah sudah dipasang perangkap, mana mungkin bisa lolos?
Kalau tak mungkin lewat bawah, lari lewat mana lagi?
Xiao Mu kembali masuk ke tangga darurat, langsung menuju atap gedung.
Gedung pusat perbelanjaan itu lima lantai.
Lantai lima adalah bioskop, kedai minuman, dan arena bermain.
Saat itu lantai lima juga kacau.
Xiao Mu tidak peduli.
Karena ia tahu pembunuh itu pasti tidak bersembunyi di kerumunan, dan takkan berani diam di tempat.
Ke mana dia lari?
Xiao Mu mendongak menatap langit-langit gedung.
Tepatnya, sebuah tempat terlintas di benaknya.
Tempat untuk melarikan diri.
Atap gedung!
Tiga menit kemudian, di atap pusat perbelanjaan.
Saat Xiao Mu naik ke atap, ia melihat seseorang sedang menyiapkan parasut, bersiap meloncat dari atap.
“Kau pikir bisa lolos dariku?!”
Xiao Mu menggeram, lalu menerjang ke arah orang itu.
Kekuatan fisiknya meledak, ia berlari secepat kilat.
Tiba-tiba.
Orang itu mengeluarkan pistol.
Sialan... Xiao Mu langsung menjatuhkan diri ke tanah.
DOR!
Suara tembakan meletus, peluru melesat di atas kepalanya.
Tapi Xiao Mu tak berhenti, ia langsung bangkit dan terus berlari.
Orang itu menembak lagi.
Xiao Mu sudah mengantisipasi, ia berguling ke samping, lalu segera melompat berdiri.
Dengan satu tubrukan keras, ia menabrak tubuh orang itu hingga terjatuh.
Saat itu juga, ia melihat wajah yang membekas dalam ingatannya.
Wajah musuh besarnya!
“Bajingan, akhirnya kutemukan juga kau!”
Ekspresi Xiao Mu berubah antara girang dan garang.
Begitu sudah menindih orang itu, tinjunya sudah terangkat.
Hati membara, pukulan menghujam.
Satu pukulan dilayangkan!
Tapi lawannya juga bereaksi cepat, dengan sigap memiringkan kepala.
Bug!
Tinju Xiao Mu menghantam lantai.
Sang pembunuh menepis tubuhnya, melompat berdiri.
Sebuah tendangan melayang ke kepala Xiao Mu.
Kekuatan mengerikan disertai tekanan udara yang mencekik.
Bug!
Xiao Mu menangkis dengan kedua lengannya, namun ia terdorong mundur selangkah.
Rasa sakit luar biasa menyerang, lengannya langsung mati rasa.
Sungguh kuat, berat, dan cepat!
Detik berikutnya, pistol di tangan pembunuh itu mengarah ke pemuda di hadapannya.
Namun ia cepat, Xiao Mu lebih cepat.
Saat pembunuh itu mengangkat pistol hendak menembak, Xiao Mu sudah menempel di tubuhnya.
Sehebat apa pun kemampuan bertarungmu, untuk apa?
Aku punya cheat!
Bug!
Satu hantaman kepala menghantam wajah pria itu.
Kepala si pembunuh terjungkal ke belakang tanpa bisa dikendalikan.
Hidung dan tulang pipinya terasa sakit luar biasa, disertai sensasi ngilu yang membuat air matanya mengalir, bahkan membuatnya kehilangan fokus sesaat.
Di detik itulah, lengan Xiao Mu yang telah pulih segera berputar keras, bagai sabetan parang.
Krek! Sabetan keras itu menghantam leher pembunuh.
Sang pembunuh terhuyung ke belakang akibat pukulan itu, Xiao Mu langsung mencengkeram pergelangan tangan lawan yang memegang pistol.
Tubuhnya melompat, lututnya menghantam.
Bug... Krek.
Lengan bawah pembunuh itu hancur diterjang lutut Xiao Mu, tulangnya remuk dan patah.
Tulang putih menyembul keluar bersama darah segar dari kulitnya.
“Aaaargh!”
Pembunuh itu menjerit, masih berusaha melawan.
Tapi pistolnya sudah direbut Xiao Mu, yang langsung menghantamkan larasnya ke mulut si pembunuh, menekan teriakan itu masuk ke tenggorokan.
DOR!
Suara tembakan meletus.
Peluru menembus leher sang pembunuh, mematahkan tulang belakangnya.
Darah dan serpihan tulang muncrat dari leher belakang.
Tubuh si pembunuh ambruk ke tanah, bergetar hebat seperti terkena kejang.
Tak lama kemudian, ia diam tak bergerak, napasnya terhenti.
Menatap jasad musuhnya, Xiao Mu menghembuskan napas berat, hatinya plong.
Seorang lelaki sejati harus menepati janji.
Bila sudah berjanji membunuhmu, maka kau pasti mati!