Bab 66: Seseorang Membenamkan Kepala Raja Polisi ke Tanah
Kasus "Tangan Terputus" menimbulkan dampak yang sangat buruk dan memicu kepanikan di kalangan masyarakat. Kasus ini sama sekali tidak bisa ditutup-tutupi, malah semakin lama semakin liar beritanya, bahkan sampai tersebar di dunia maya.
Kementerian Keamanan langsung mengirimkan Tim Khusus Investigasi untuk menyelidiki kasus ini.
Tak heran jika mereka disebut para raja polisi.
Di hari pertama kedatangan, mereka sudah menemukan banyak petunjuk dan kejanggalan.
Kejanggalan pertama, tempat kejadian perkara telah dibersihkan secara "profesional".
Sebagai contoh, petugas forensik biasanya menggunakan cairan khusus yang disemprotkan di lokasi kejadian. Selama masih ada jejak darah, baik itu beberapa hari lalu, bahkan bertahun-tahun lalu, atau sudah berulang kali dicuci, tetap akan tampak.
Inilah cairan forensik yang terkenal, yaitu reagen luminol.
Namun, metode pemeriksaan seperti ini tidaklah mutlak.
Cara mengakalinya pun sederhana.
Bersihkan seluruh ruangan dengan hidrogen peroksida, lalu lap sekali lagi dengan alkohol. Setelah itu, semprotkan reagen luminol, dan bersihkan lagi dengan hidrogen peroksida.
Sekalipun dewa yang datang, tidak akan menemukannya!
Dan tempat kejadian perkara di depan mata inilah yang telah "dibersihkan" secara tuntas dengan metode itu.
Begitu menemukan kejanggalan ini, ekspresi para anggota tim investigasi langsung berubah.
Sebab, orang awam saja tidak tahu apa itu reagen luminol, apalagi mengetahui cara mengakalinya.
Orang seperti apa yang sanggup melakukan hal seperti ini?
Kejanggalan kedua,
Tangan korban dibuang lewat kloset.
Saluran pembuangan kloset itu sempit, sedangkan ukuran telapak tangan manusia cukup besar. Sebenarnya sangat sulit membuang telapak tangan ke dalam kloset.
Orang yang paham forensik pasti sadar, ini sangat tidak masuk akal.
Kejanggalan ketiga, atau bisa dibilang petunjuk penting.
Seorang raja polisi menemukan satu kamera tersembunyi di lokasi.
Kamera itu disembunyikan di plafon ruang tamu, sangat sulit terlihat. Fungsinya memantau ruang tamu selama dua puluh empat jam penuh, merekam secara otomatis dan mengunggah hasil rekaman ke penyimpanan awan.
Rekaman kamera pengawas pun berhasil ditemukan!
...
28 Juli, malam hari.
Sudut pandang kamera pengawas.
Ruang tamu remang-remang.
Suasana yang tak terlukiskan meresap di udara, membuat orang merasa sangat tidak nyaman.
Seorang wanita sedang terbaring di sofa, tampak seperti sedang tidur lelap.
Tiba-tiba...
Sosok pendek dan gemuk perlahan muncul di sudut pandang kamera.
Langkahnya sangat pelan, seolah sengaja menyembunyikan jejaknya.
Di tangannya tergenggam sebuah kapak pemotong tulang, memantulkan cahaya dingin di bawah lampu yang temaram.
Sosok pendek dan gemuk itu berdiri di depan sofa, diam tanpa bergerak selama setengah menit.
Tiba-tiba, ia perlahan mengangkat kapaknya, lalu menurunkannya dengan keras.
Satu ayunan, kapak itu menghantam leher wanita itu, kepala pun terguling.
Darah muncrat ke mana-mana!
Namun, ia tidak berhenti di situ.
Seperti mesin tanpa perasaan, ia terus mengayunkan kapaknya ke tubuh wanita yang sudah terjatuh ke lantai, bergerak tak karuan namun sudah tak bernyawa.
Lengan, telapak tangan, betis, paha...
Dalam waktu kurang dari setengah jam, satu tubuh telah dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil!
Namun, adegan yang lebih mengerikan pun terjadi setelahnya.
Sosok pendek dan gemuk yang terengah-engah itu perlahan berbalik.
Wajahnya akhirnya tertangkap kamera.
Di bawah cahaya lampu yang suram, matanya tampak memancarkan kilatan hijau berminyak.
Seolah menatapmu dingin dari balik kamera pengawas di tengah kegelapan.
Membuat bulu kuduk siapa pun yang menontonnya berdiri.
Rasa takut yang tak terlihat seperti membungkus tubuh erat-erat!
Selain itu, pria itu seperti tahu keberadaan kamera tersebut.
Ia mengeluarkan sebuah benda, menekan tombolnya.
Gambar kamera pengawas langsung hilang!
...
Anggota tim investigasi yang menonton rekaman itu, wajah mereka pun berubah tegang dan suram.
Sebab, pria pendek dan gemuk itu ternyata adalah sang konglomerat, satu dari dua orang dalam kasus ini.
Sedangkan wanita yang dipotong-potong itu juga adalah wanita simpanannya yang diduga terlibat dalam kasus ini.
Lewat rekaman kamera pengawas, bisa dipastikan.
Pria itu benar-benar membunuh dan memotong-motong korban!
Tanpa rekaman ini, mungkin masih bisa dimaklumi.
Namun setelah menontonnya,
Para anggota tim investigasi justru semakin bingung dan tidak mengerti.
Mereka bisa memahami pembunuhan, mutilasi, pembersihan tempat kejadian perkara.
Tapi satu hal yang tak masuk di akal.
Kenapa satu tangan korban dibuang ke kloset?
Lalu, ke mana potongan tubuh lainnya?
Yang paling penting, di mana konglomerat itu sekarang?
Bagaimana ia bisa menghilang begitu saja?
Selama satu setengah bulan berikutnya,
Tim investigasi memeriksa segala kemungkinan, bahkan yang tidak terpikirkan oleh orang biasa.
Segalanya telah mereka telusuri.
Jasad korban tidak ditemukan, konglomerat juga lenyap, seolah menguap dari muka bumi.
Pada akhirnya, tim investigasi hanya bisa membuat satu dugaan besar.
Konglomerat itu, yang sekaligus menjadi pelaku.
Menggunakan cara-cara di luar nalar, membawa pergi jasad korban.
Lalu melarikan diri!
Kenapa bisa muncul dugaan seperti itu?
Setengah tahun sebelumnya,
Konglomerat tersebut menjual seluruh perusahaan, saham, dan aset-aset atas namanya.
Sekitar 1,3 miliar.
Dari catatan bank, diketahui seluruh uang itu telah ia tarik tunai.
Selanjutnya, tak diketahui ke mana perginya uang itu.
Setelah berpikir panjang, hanya satu kemungkinan yang masuk akal: kabur ke luar negeri!
Namun, kasus ini ditangani oleh tujuh raja polisi.
Sekalipun dugaan itu muncul, tetap saja terasa ada yang sangat janggal.
Bahkan mereka menemukan berbagai keanehan dan anomali.
Semakin diselidiki, semakin terasa ganjil kasus ini.
Tapi, titik ganjil yang sebenarnya tidak juga ditemukan.
Apakah benar hanya sekadar kasus pembunuhan, mutilasi, lalu pelaku kabur membawa uang hasil kejahatan?
Pada akhirnya,
Tim investigasi merangkum tiga kejanggalan terbesar.
Pertama, soal reagen luminol—bagaimana mungkin konglomerat tahu barang itu, dari mana ia mendapatkannya, dan mengapa ia memahami metode anti-investigasi?
Kedua, ini adalah orang dengan kekayaan puluhan miliar, orang seperti itu pasti cerdas dan punya banyak cara. Mengapa ia harus turun tangan sendiri membunuh? Masuk akal kah?
Ketiga, jasad dan sang konglomerat sama-sama lenyap tanpa jejak. Jika benar ia pelakunya, dari mana ia menguasai kemampuan seperti itu, dan bagaimana cara ia keluar dari kompleks perumahan yang penuh kamera tanpa terdeteksi?
Namun, tak peduli seberapa keras mereka menyelidiki, tidak ditemukan lagi satu pun petunjuk.
Tentu saja,
Dengan bukti yang ada sekarang, kasus ini bisa saja disimpulkan sebagai pembunuhan oleh konglomerat.
Tapi apakah para raja polisi itu bisa menerima begitu saja?
Bukankah itu sama saja menghina kecerdasan mereka?
Namun, kasus ini sudah terlalu lama berlalu. Jika mereka tak segera memberi laporan pada atasan,
Maka atasanlah yang akan memberi mereka "laporan".
Inilah alasan mengapa Wei Hua berkata pada Xiao Mu, bahwa jika kasus ini tak juga terpecahkan,
Zhao Xiaotang dan yang lain mungkin akan dikenai sanksi.
Paling ringan berupa teguran, pencatatan pelanggaran, atau peringatan keras.
Terberat, bisa diturunkan pangkatnya, dipindah tugaskan, atau bahkan mengakhiri karier sebagai polisi.
Tentu saja, kemungkinan terakhir hampir mustahil terjadi.
Prestasi para raja polisi di masa lalu jelas tak terbantahkan.
Namun mereka tetap saja belum puas.
Ada semacam rasa dipermalukan, seolah kepala mereka ditekan ke tanah.
Mereka juga telah meminta bantuan dari banyak teman dan rekan seprofesi.
Namun tak ada satu pun yang mampu mengungkap kebenaran.
Lalu, Xiao Mu pun datang!