Bab 62: Benar, Inilah Rasanya
Kepala Sekolah Ma sedang memperhatikan sepasang anak muda di depannya, serasi bak dewa dan dewi. Ia masih ingat, sebelum tahun ajaran baru dimulai, ia sudah menerima telepon dari seorang sahabat lamanya di Kota Es. Sahabatnya berkata, ada seorang anak yang akan masuk Akademi Kepolisian Rakyat dan memintanya untuk memberi perhatian khusus.
Tak lama kemudian, ia kembali menerima telepon, kali ini dari kepala kepolisian Kota Es. Orang itu pernah menjadi bawahannya dan hubungan mereka sangat dekat, tapi sama seperti temannya yang pertama, ia juga menitipkan seorang anak, katanya anak itu adalah orang ‘pilihan dalam’ dari Kota Es, bahkan sudah pernah memecahkan sebuah kasus khusus.
Kepala Sekolah Ma sampai tertegun. Seorang anak yang bahkan belum melapor di akademi kepolisian, sudah bisa memecahkan kasus khusus?
Beberapa hari setelah itu, ada lagi yang menelepon. Katanya, anak itu tidak bisa masuk sekolah, apalagi ikut pelatihan militer. Ia sedang… ikut memecahkan kasus! Sejujurnya, Kepala Sekolah Ma benar-benar terkejut. Anak macam apa ini, baru datang ke ibukota, langsung terlibat kasus?
Kau kira hanya itu saja? Tidak, yang lebih mengerikan datang kemudian. Kemarin, sekretaris kepala Badan Keamanan Nasional meneleponnya. Hanya berpesan satu hal: Anak itu adalah orang dari Badan Keamanan Nasional, paham?
Artinya, tak boleh ada yang mengganggu, orang itu harus dijaga baik-baik untuk Badan Keamanan Nasional! Menakutkan, bukan?
Kepala Sekolah Ma hampir merinding dibuatnya. Tak lama kemudian, sebuah mobil dinas datang ke sekolah. Li Fang! Orang itu menunjukkan identitas sebagai pengawal, tak bermaksud lain, hanya ingin meminta kartu akses agar lebih mudah berkunjung ke Akademi Kepolisian ke depannya.
Seorang pengawal memang tak istimewa. Tapi ia mewakili sepasang suami istri. Mendengar siapa pasangan itu, Kepala Sekolah Ma langsung berkeringat dingin. Kartu akses itu juga diminta demi anak itu.
Kau pikir itu paling mengerikan? Belum selesai. Kepala Sekolah Ma memeriksa data pribadi anak itu, termasuk beberapa arsip yang hanya bisa diakses orang tertentu. Ia sampai tertegun. Data identitas Xiao Mu sangat biasa, keluarganya pun tak punya latar belakang istimewa. Tak ada jejak militer, bukan keturunan pejabat, tak ada garis keturunan merah. Anak yang diprioritaskan oleh banyak petinggi ini, ternyata anak biasa saja.
Bingung? Tentu saja. Tapi itu bukan hal yang paling menakutkan.
Yang benar-benar membuatnya takut, beberapa arsip tentang anak itu… ternyata dikunci! Bahkan dirinya, kepala Akademi Kepolisian Rakyat, pejabat setingkat wakil menteri, mayor jenderal polisi militer, dan wakil komisaris jenderal polisi, tak bisa mengaksesnya. Saat itu, Kepala Sekolah Ma benar-benar gentar.
Ia mencoba bertanya ke beberapa kenalan. Ingat, hanya bertanya, bukan menyelidiki. Ia sudah tak berani menyelidiki lebih jauh. Lalu, kenalannya itu memberitahu satu hal: Tempat tinggal anak itu sekarang adalah sebuah rumah kuno di tengah kota. Pemilik rumah itu seorang gadis kecil bermarga Ye.
Begitu menyadari siapa ‘Ye’ itu, Kepala Sekolah Ma bukan cuma berkeringat dingin, tubuhnya sampai mati rasa. Kini, bukan hanya melihat anak itu, ia juga melihat gadis kecil bermarga Ye itu. Ia pun bisa melihat betapa dekatnya hubungan mereka, betapa gadis kecil itu sangat bergantung pada anak itu.
Kepala Sekolah Ma hanya bisa tersenyum pahit dalam hati. Nak, kenapa harus masuk akademi kepolisian? Kenapa tidak ke Tsinghua, Peking, atau universitas pertahanan ternama? Ia tidak mengerti dan tak berani bertanya. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah pura-pura tidak tahu apa-apa, mengurus pendaftaran anak itu, dan tak mau mengurus urusan lain. Asal Xiao Mu tidak bikin masalah di sekolah, ia bebas melakukan apa saja. Tak sanggup menghadapinya!
…
Pendaftaran selesai, kamar asrama pun sudah diatur. Setelah berpamitan dengan tiga petinggi, Xiao Mu menggandeng koper menuju asrama. Kepala Sekolah Ma, Wei Hua, dan petugas pengawas dari Badan Keamanan Nasional itu, diam-diam mengantar dua anak muda itu dengan pandangan berat. Masing-masing dalam hati merasa lega, tapi apa yang mereka pikirkan, tak ada yang tahu.
…
Di dalam asrama, Xiao Mu mendaftar di meja pengurus. Tatapan pengurus asrama pada Xiao Mu seolah menatap makhluk dari dunia lain. Tahun ajaran sudah lama dimulai, pelatihan militer pun sudah selesai. Senin depan baru mulai kuliah, kenapa baru datang sekarang?
Bukan cuma itu. Melihat di dokumen pendaftaran tertulis bahwa mahasiswa ini boleh ‘pulang-pergi’, pengurus asrama yang sudah tiga tahun bekerja, langsung kebingungan. Istilah ‘pulang-pergi’ sangat jarang ada di akademi kepolisian. Pernah dengar sebelumnya?
Setelah menerima kunci, menggandeng tangan Qiu, wajah Xiao Mu juga tampak heran campur kesal. Ada yang aneh, apa sebenarnya yang terjadi di sini? Sepintar apapun dirinya, ia benar-benar tak bisa menebak.
Sudahlah, tak usah dipikirkan. Simpan dulu otakmu. Terlalu banyak berpikir bikin lelah, sel otak bisa mati satu truk. Aku memang tak cocok jadi perencana ulung… Xiao Mu menghibur diri.
Menyusuri lorong yang sudah akrab, perasaan Xiao Mu makin berdebar, ada emosi yang sulit dijelaskan menggelora di hatinya. Kini ia sudah melihat banyak mahasiswa dengan seragam latihan biru tua maupun pakaian santai. Setiap orang yang melihat Xiao Mu dan Ye Qiu Xuan, langsung terpana, heran.
Xiao Mu tak menghiraukan mereka. Ia berdiri di depan pintu kamar 411, melamun sejenak. Samar-samar terdengar tawa, teriakan, dan makian dari dalam kamar. Sudut bibir Xiao Mu perlahan terangkat, tangannya meraih gagang pintu, memutar, lalu mendorong pintu.
Anak-anak kesayangan, ayah kalian datang!
…
Ye Qiu Xuan sejak tadi menatap Xiao Mu diam-diam, memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah anak itu, tak melewatkan satu pun. Karena perhatiannya begitu teliti, ia pun semakin terkejut. Dalam hatinya tumbuh perasaan aneh: anak itu sangat akrab dengan akademi kepolisian ini, bahkan lebih akrab dengan asrama. Terutama saat berdiri di depan kamar ini, ia tampak begitu bersemangat, sampai tangannya gemetar.
Mengapa? Mata indah Ye Qiu Xuan berbinar. Ia semakin penasaran, orang-orang seperti apa yang tinggal di kamar ini!
…
“Sialan, Si Nomor Empat, hero-mu Angela keterlaluan, bukannya bantu malah bikin susah, malah nyemprot ke aku segala, mau pipis ke mukaku?!”
“Bos, kamu juga tak pantas ngomong, Lu Bu-mu malah loncat ke lubang naga, apa-apaan sih? Kok malah loncat ke musuh? Mau solo lawan raja?”
“Udah deh, tolong aku! Mereka ngejar-ngejar aku, apa sih dendam sama Xiao Luban? Aku cuma kirim dua roket kecil, tolong!”
“Tenang semua, ngapain kalian ribut sama Si Nomor Dua, main game pakai kaki, mikir pakai pantat. Kalau sebarin jagung di layar, ayam pun main lebih jago dari dia.”
“Nomor Lima, jangan bawel, kamu percaya Tuhan gak? Kenapa gak bunuh musuh?”
“Aku ini Xiao Ming, Xiao Ming, tiap kali lima orang lawan keroyok aku, pakai apa aku bunuh mereka?”
“Nomor Lima, diam saja, banyak gaya, kenapa gak ikut acara tahun baru?”
“Nomor Tiga, pulang cepat, jangan sampai mati sama monster liar.”
“Aduh, gara-gara kau si burung gagak, aku beneran mati!”
“……”
Xiao Mu yang masuk kamar, melihat kelima temannya sibuk teriak-teriak sambil main ponsel, langsung terkekeh. Ya, inilah suasananya!