Bab 106 Kesatuan Sempurna
Saat aku terbangun dari tidur yang panjang, aku mulai mengembara sendirian dalam aliran waktu yang tak berujung. Mereka menjulukiku sebagai "Tuan", menghormati kekuatanku, dan menyebutku sebagai entitas dengan kekuatan terkuat di dunia ini. Namun, tak satu pun dari mereka bersedia memberitahuku dari mana asalku dan untuk apa aku hidup di dunia ini.
Dahulu kala, aku sempat merasa kehilangan makna akan keberadaanku, hingga aku terpuruk selama ratusan tahun. Aku tenggelam dalam urusan duniawi, bermain-main di antara manusia. Namun pada akhirnya, aku merasa bosan dengan kehidupan seperti itu. Aku mulai mengasingkan diri di ruang hampa, mengamati segala rupa kehidupan untuk membasuh hatiku yang kian layu.
Hingga suatu hari, sebuah titik cahaya muncul di sisiku, berputar-putar dan menerangi kegelapan. Aku tidak tahu dari mana ia berasal atau mengapa ia muncul di ruang independen yang hanya bisa dimasuki olehku. Aku hanya tahu satu hal: aku akhirnya tidak lagi sendirian.
Aku kembali terlelap, namun saat terbangun, sosok itu telah tiada. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku merasakan apa itu ketakutan. Itu adalah perasaan kehilangan arah setelah kehilangan satu-satunya sandaran. Setelah kebingungan, amarah pun meluap. Aku menghancurkan ruang itu dengan tanganku sendiri dan kembali ke dunia demi mencarinya. Namun, aku tak pernah lagi menemukan cahaya yang sama.
Aku bertemu dengan sepasang bersaudara, memberikan mereka kekuatan, dan membebaskan mereka untuk menggunakannya sesuai keinginan. Dunia pun berada di ambang kehancuran yang tak terduga. Melihat dunia yang porak-poranda, aku turun tangan untuk memulihkannya. Saat dunia kembali damai, titik cahaya itu muncul kembali di sisiku.
Saat itulah aku mengerti, titik cahaya itu adalah penyelamatku. Ia adalah bukti bahwa diriku masih ada, dan ia adalah cahaya yang akan kujaga seumur hidupku.
Suatu hari, ia berkata ingin berkelana di dunia, dan aku menyetujui permintaannya. Setelah melepas kepergiannya, aku memanggil Sang Reinkarnasi untuk menanyakan keberadaannya. Sang Reinkarnasi memberiku jawaban sekaligus mengajukan sebuah permintaan: ia ingin mencari penerus. Aku mengabulkan permintaannya dengan syarat ia harus membantuku menemukannya dan memberiku identitas yang layak. Kesepakatan tercapai. Aku menemukan keberadaannya dan memiliki identitas yang sesuai dengan masyarakat modern.
Namun, saat menemukannya, aku menyadari bahwa ia memiliki kekuatan besar yang justru membutuhkan jiwa sebagai tumbal agar tidak musnah. Aku telah mencoba segala cara, melintasi tak terhitung dunia paralel, namun kondisi itu tak berubah. Dalam pencarian itu, aku perlahan memahami bahwa kekuatan ini berasal dari diriku sendiri, dan karena ia tidak utuh, maka muncul efek samping tersebut. Sebagai pemilik kekuatan itu, aku justru tidak bisa mengendalikannya dengan baik. Sungguh ironi yang luar biasa.
Maka, aku mengubah rencanaku. Aku mulai menyalurkan kekuatannya kepada orang lain secara acak agar ia tidak merasa sendirian dan tahu bahwa di dunia ini masih ada banyak orang yang serupa dengannya. Tujuanku hanya satu: menunggu kekuatannya habis agar ia bisa hidup sebagai manusia biasa yang bahagia, tumbuh dewasa, menua, mati, dan bereinkarnasi lagi, hingga aku menemukannya dan menjaganya selama turun-temurun.
Namun, semua ini menyimpang karena munculnya seorang pria yang mengacaukan seluruh rencanaku. Sang Reinkarnasi memberitahuku bahwa ia tidak bisa melenyapkan pria itu karena ia adalah penerus yang sudah ditakdirkan. Maka, aku memutuskan untuk menitipkan perasaan duniawi kepadanya. Toh, ia hanya memiliki satu kehidupan, sedangkan aku memiliki waktu yang tak terbatas. Selama itu baik untuknya, apa salahnya membiarkannya?
Keputusanku terbukti benar. Semuanya berjalan lebih lancar dari sebelumnya, dan rencanaku berkembang lebih cepat dari dugaan. Jika bukan karena Sang Reinkarnasi yang menghalangi, rencanaku pasti sudah berhasil. Tapi aku tidak bisa membunuhnya, setidaknya tidak untuk saat ini, karena hanya dialah yang bisa menjaga dunia tetap berjalan.
"Reinkarnasi, kau mengerti?"
Di dalam ruang hampa yang berwarna hitam kemerahan, Su Yibai menginjak kepala Sang Reinkarnasi dengan wajah dingin dan kejam. "Atur semuanya sesuai perkataanku. Jangan coba-coba melakukan kecurangan lagi."
"Tu... Tuan... ha... hamba mengerti..." Sang Reinkarnasi, yang wajahnya menempel erat di tanah, meringis kesakitan dengan gigi hiunya yang bergemeretak, memaksakan kata-kata itu keluar dari sela giginya.
"Rencanaku tidak pernah salah. Segala potensi bahaya akan kuhapus lebih awal, termasuk dirimu, Reinkarnasi."
Tekanan di wajahnya tiba-tiba menghilang. Sang Reinkarnasi yang belum pulih dari rasa takut terengah-engah di lantai. Ketakutan yang merasuk ke tulang membuatnya gemetar hebat. Ini adalah pertama kalinya ia merasakan amarah yang sesungguhnya dari sang Tuan—kemarahan yang tidak tampak di permukaan namun berasal dari lubuk hati yang paling dalam. Ia diam-diam bersyukur karena dirinya belum bisa digantikan, jika tidak, mungkin ia sudah musnah tadi.
Memikirkan hal itu, Sang Reinkarnasi menggigil, lalu bangkit dan mulai membangun sesuai perintah Su Yibai.
"Hihi, ternyata kau bisa juga berada di posisi ini," sebuah titik cahaya oranye muncul di samping Sang Reinkarnasi dengan nada mengejek yang tak tertahankan. "Tidak masalah kau menghancurkan wujudku di dunia, Tuan sudah menyelamatkanku, hihihi."
"Jangan sombong kau!" Sang Reinkarnasi mengusirnya dengan kesal.
"Kali ini Tuan secara khusus mengizinkanku berpartisipasi dalam rencananya. Kau tahu apa artinya ini? Artinya aku memiliki hak yang lebih tinggi darimu. Dengan kata lain, kali ini kau tidak bisa berbuat curang lagi."
"Aku belum ingin mati," Sang Reinkarnasi tiba-tiba teringat sesuatu dan menampilkan senyum hiu khasnya. "Aku bukan tipe orang yang akan duduk diam menunggu ajal."
"Apa lagi yang ingin kau lakukan?"
"Pernahkah kau mendengar sebuah kalimat?"
"Apa?"
"Datang dari rakyat, kembali ke rakyat."
"Apa maksudmu?"
"Kau akan segera tahu setelah dunia baru terbuka."
"Apa kau tidak takut aku akan melapor?"
"Tentu saja kau akan melapor," Sang Reinkarnasi tersenyum yakin. "Bagaimana jika kukatakan ini justru baik bagi Han Nuo untuk meninggalkan Ouyang Luo?"
Titik cahaya oranye itu seketika bersinar lebih terang. "Benarkah!"
"Kapan aku pernah membohongimu?"
"Jika yang kau katakan benar, maka dalam hal ini, aku bisa berada di pihakmu."
"Kalau begitu, sepakat?" Sang Reinkarnasi tersenyum lebih menyeramkan. "Dunia sudah selesai dibangun, ayo pergi."
Setelah Sang Reinkarnasi dan titik cahaya itu menghilang, Su Yibai yang berpura-pura pergi muncul dari kehampaan. Ia berjalan menuju tirai warna-warni yang baru saja dibangun Sang Reinkarnasi dan mengamatinya cukup lama. Ia mengurungkan niat untuk menghapus kecurangan yang dilakukan Sang Reinkarnasi, lalu dengan penuh minat mempertimbangkan perkembangan situasi selanjutnya. Alisnya terangkat sedikit. "Sepertinya ini juga tidak buruk."
Su Yibai berpikir sejenak, menyentuh tirai warna-warni itu dan melakukan penyesuaian selama beberapa saat sebelum tersenyum puas.
"Jadi, Han Nuo, kali ini apa yang akan kau lakukan?"
"Membiarkanmu bersama Ouyang Luo adalah untuk menebus rasa bersalahku padamu, dan itu juga merupakan jalan yang harus kau tempuh untuk menjadi penerus Reinkarnasi. Jangan pernah lepaskan tangan Ouyang Luo, karena begitu kau melepaskannya, dia akan kembali menjadi cahaya di sisiku, menemaniku selamanya, dan tidak akan ada lagi tempat untukmu, Han Nuo."
"Jadi, Han Nuo, semoga berhasil."
"Dan, jaga dirimu baik-baik."