Bab 127: Perasaan Remaja Putri
“Bos, tambah tiga kati udang karang, yang pedas.”
Di sebuah warung barbeku di pinggir jalan, beberapa meja dan kursi plastik berjajar di depan pintu. Angin sejuk malam musim panas berembus lembut. Meja itu sudah dipenuhi cangkang udang karang, sementara di sudutnya tergeletak bir yang telah diminum hampir setengah peti.
“Siap!” sahut pemilik warung sambil menimbang udang karang yang sudah digoreng hingga merah menyala.
Setelah mengajak Li Ci berkeliling di salah satu kampus Universitas Yuhang, hari sudah larut malam. Bai Su pun membawanya ke sebuah warung barbeku. Tanpa banyak basa-basi, mereka memilih tempat duduk, lalu memesan satu peti bir, satu kati udang karang, dan beberapa tusuk sate panggang.
Dengan mengenakan sarung tangan sekali pakai, Li Ci mengupas seekor udang karang. Ia mencelupkan daging udang ke dalam saus, lalu dengan cekatan memasukkannya ke mulut. Ia mengunyah perlahan, sementara rasa pedas memenuhi seluruh rongga mulutnya.
“Bagaimana? Mantap, kan?” Bai Su tak mau kalah. Ia dengan cepat menyelesaikan belasan ekor udang karang terakhir di piring.
“Lumayan enak.” Li Ci mengangguk. Ia tidak berebut beberapa ekor terakhir itu dengan Bai Su, melainkan mengamati gadis yang sedang makan dengan lahap tersebut. “Tak kusangka putri orang kaya sepertimu juga mau makan di tempat seperti ini.”
Bai Su melotot sebal kepadanya, lalu menenggak bir sebelum berkata, “Selama makanannya enak, aku akan datang ke mana pun. Aku dan teman sekamarku sering makan di sini. Masakannya kelas satu, pemiliknya juga jujur dan tidak pelit. Nyaman sekali.”
Kedua botol bir beradu. Li Ci meneguk bir dingin dalam-dalam, lalu berkata, “Makanan lezat sejati memang bersemayam di gang-gang kecil dan jalan sempit.”
“Benar sekali.” Bai Su sangat menyetujui ucapannya. Ia menjilat saus di sekitar bibirnya, lalu berkata, “Aku sudah bosan dengan makanan di hotel-hotel. Hidangan dari warung pinggir jalan seperti ini justru lebih bercita rasa.”
Di tengah percakapan mereka, pelayan datang membawa sepiring udang karang pedas yang baru matang.
Bai Su memutar kepala udang itu, mengerucutkan bibir mungilnya, lalu mengisap daging yang telah meresap bumbu ke dalam mulut. Bibirnya bergerak cepat mengunyah, dan beberapa tetes minyak merah mengalir dari sudut bibirnya, jatuh ke meja plastik. Pemandangan itu tampak begitu menggoda.
“Kenapa dia datang?” Bai Su memandang beberapa orang yang berada tak jauh di belakang Li Ci.
Li Ci menoleh dan mengikuti arah pandangan Bai Su. Di sebuah meja yang baru saja didatangi sekelompok orang, empat pemuda duduk mengelilingi meja bundar kecil. Hidangan mereka belum datang. Mereka hanya membuka beberapa botol bir sambil tertawa dan membicarakan hal-hal menarik dalam kehidupan sehari-hari.
“Hm?” Li Ci mengalihkan pandangan. Mereka hanyalah empat pemuda biasa, tidak cukup menarik untuk membangkitkan minatnya. Namun, ketika menoleh kembali, ia justru melihat Bai Su sedang mengusap noda minyak di sudut bibirnya dengan tisu makan, dan hal itu membuatnya terkejut.
Sejak makan malam dimulai, Bai Su selalu mengatasi noda minyak di bibirnya dengan menjilatnya. Namun kini, setelah keempat pemuda itu datang, ia malah melepas sarung tangan sekali pakai dan mengambil tisu untuk menyeka bibirnya. Menarik sekali.
“Su Kecil, jangan-jangan kau…” Li Ci kembali memandang ke arah keempat pemuda itu.
Di antara mereka, salah seorang berhasil menarik perhatiannya. Tubuhnya tinggi dan ramping. Wajahnya tampan, dihiasi kacamata persegi berbingkai hitam. Ia tampak sopan dan terpelajar, duduk tenang di satu sisi sambil mendengarkan cerita teman-temannya dengan saksama. Sesekali ia menimpali beberapa kalimat dan memperlihatkan senyum lembut.
Ia bagaikan seorang tuan muda dari keluarga terpandang yang keluar dari lukisan tinta khas Jiangnan—gagah, anggun, dan berwibawa.
“Diam! Cepat putar kepalamu yang seperti kepala anjing itu kembali ke sini.” Wajah Bai Su memerah karena kesal. Ia bergeser sedikit hingga duduk tepat di hadapan Li Ci, menghalangi pandangan mereka.
Li Ci menatap Bai Su yang wajahnya merah padam sambil tersenyum lebar. “Bukankah kau bilang semua pacar laki-laki itu kaki babi besar? Kaki babi itu juga lumayan tampan. Kenalkan kepadaku, dong.”
“Makan saja udangmu.” Bai Su menatapnya garang, lalu melirik ke samping sebentar sebelum segera kembali duduk tegak.
Li Ci tertawa tak berdaya. Ia memandang sekeliling dengan santai. Saat itu, tiga perempuan cantik datang dan duduk bersama keempat pemuda tersebut. Pertengahan Agustus, udara di Xifu masih sangat panas. Dengan rok pendek di bawah cahaya lampu, paha putih mereka menambah kesan samar yang memikat.
“Ck, ck, ck… cantik.” Pandangan Li Ci jatuh pada kaki salah seorang perempuan itu. Kakinya panjang dan kulitnya putih mulus. Kalau memakai ungkapan yang sering beredar di internet, kaki itu sanggup membuat orang terpesona selama sepuluh tahun.
Pertama-tama melihat kaki, lalu dada, dan terakhir wajah. Li Ci mengamati perempuan itu dengan santai.
Cantik. Kalau bagian dadanya sedikit lebih berisi, nilainya bisa lebih dari sembilan puluh.
“Huh! Dasar laki-laki!” Bai Su berkata dingin. “Memang tak ada satu pun yang baik. Baru sebentar Yi Han pergi, kau sudah bersiap menggoda perempuan lain. Namanya Yuan Yuan, primadona Fakultas Pendidikan. Kalau memang hebat, coba saja dekati dia!”
Li Ci tersenyum canggung dan menarik kembali pandangannya. “Aku hanya mengagumi sebentar. Sayang sekali, terlalu kecil. Aku justru penasaran siapa nama laki-laki berkacamata itu. Kelihatannya cukup sopan, hanya saja aku tidak tahu apakah dia sudah punya pacar.”
“Namanya Xu Jinmo, kakak tingkat tahun keempat dari Fakultas Informatika. Dia jenius akademik, tipe mahasiswa yang menerima beasiswa sampai tangannya pegal. Dia menolak tawaran dari Alibaba dan memilih mendirikan perusahaan rintisan. Aplikasi yang dikembangkan timnya digunakan oleh hampir semua mahasiswa di kampus kita. Dia bahkan membantu kampus memenangkan tiga penghargaan kelas dunia dan pernah menjadi juara kompetisi peretas dunia. Yang paling penting, dia sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya, lembut kepada orang lain, tampan, dan pandai memasak!” Mata Bai Su berbinar-binar.
“Programmer? Hah, tunggu saja sampai botak.” Li Ci terkekeh. Pandangannya tak kuasa kembali melirik pemuda itu. “Dengan tubuh sekecil itu, aku bisa mengalahkannya sepuluh orang sekaligus.”
“Haha. Sungguh kasar.” Bai Su tertawa dingin. “Kau iri.”
Xu Jinmo mengisi penuh gelas keenam orang lainnya. Sambil tersenyum, ia membicarakan hasil penelitian terbarunya. Sampah di dekat tangannya ditata rapi dan dipisahkan, sementara matanya memancarkan kepercayaan diri serta harapan.
“Jinmo, setelah bicara sebanyak ini, aku jadi penasaran. Kapan kau akan mencari pacar? Masa kuliah hanya empat tahun, lho.” Temannya tertawa. “Kau sudah berhasil dalam karier. Kapan akan berkeluarga?”
“Ah, Jinmo sebenarnya sudah lama punya seseorang di hati. Hanya saja…”
Kemampuan Li Ci yang semakin meningkat membuat pendengarannya jauh lebih tajam. Lagi pula, suara keempat pemuda itu tidak terlalu kecil. Ia tersenyum memandang Bai Su, lalu berkata, “Sayangnya, cinta bertepuk sebelah tangan. Su Kecil, jangan-jangan Xu Jinmo menyukaimu?”
“Cih! Tutup mulutmu!” Bai Su menegurnya dengan suara rendah dan garang. Namun, sudut bibirnya justru sedikit terangkat. Jelas sekali ucapan Li Ci telah menyentuh isi hatinya.
Melihat Bai Su yang sedang kasmaran, Li Ci hanya bisa tertawa tak berdaya. “Su Kecil, kalau kau suka, kejar saja. Kalau dia tidak mau, aku akan membantumu merebutnya. Kakakmu ini memang tidak punya banyak keahlian, tetapi mencarikan pacar untukmu masih sanggup.”
Ucapan itu mengingatkan Li Ci pada perkataan Jenderal Cao kepadanya bertahun-tahun silam:
“Anak muda, kalau kau menyukai gadis dari keluarga mana pun, datanglah melamarnya. Kalau dia tidak mau, aku akan membawa pasukan untuk membantumu merebutnya. Kakakmu ini memang tidak punya banyak keahlian, tetapi mencarikan beberapa istri untukmu masih sanggup.”
“Bisakah kau diam?” Bai Su, seperti Li Ci di masa lalu, sama sekali tidak bersikap ramah kepadanya. Ia diam-diam melirik Xu Jinmo yang sedang mengisap daging udang karang, lalu menundukkan kepala dan mulai memakan udang karang yang telah dikupaskan Li Ci.
Li Ci tersenyum. “Su Kecil, bagaimana kalau kubantu sedikit? Bos, masih ada berapa banyak udang karang? Aku pesan semuanya.”