Mari kita kabur bersama!
Sejauh ini, dua kali serangan yang dilakukan oleh Tano Sayuri, keduanya terjadi setelah ia menyadari bahwa dirinya bukanlah pemilik tubuh asli.
Jika dia benar-benar seorang pembunuh profesional sejati, mungkin dari awal ia sudah langsung mengakhiri nyawanya dengan satu tebasan pedang, bukannya menunggu ia membuka mulut dan membongkar jati dirinya terlebih dahulu, baru kemudian bertindak.
Dari sini, dapat disimpulkan bahwa selama ia tidak membocorkan fakta bahwa dirinya bukanlah pemilik tubuh asli, ia masih punya waktu untuk hidup.
...Meski tak tahu apakah ia bisa bertahan sampai hari pernikahan tiga hari lagi, setidaknya ia takkan langsung mati.
Ini adalah kesempatan terakhirnya.
Fujiwara Miyabi menarik napas dalam-dalam.
Ia sudah menjelajahi seluruh sudut kamar yang bisa ia telusuri.
Ia mendapatkan: satu buku harian, satu pakaian malam, sejumlah uang tunai dan perhiasan emas yang mudah dijual.
Selain itu, tidak ada lagi.
Dari sini juga, ia bisa memastikan bahwa dugaannya selama ini benar.
Pemilik tubuh asli memang berniat melarikan diri dari pernikahan.
Dan persiapan yang telah dilakukan bisa dibilang sangat matang.
Sementara sang ayah, barangkali memang sudah menebak niat anaknya, sehingga mengutus Tano Sayuri untuk mengawalnya secara pribadi.
Berkedok melindungi, sejatinya mengawasi, agar anaknya tidak kabur.
—Namun siapa sangka, pengawal yang diundangnya ternyata bukan sekadar pengawal, melainkan seorang pembunuh!
Perasaan Fujiwara Miyabi semakin gelisah seiring berlalunya waktu.
Begitu ia kembali ke titik awal, ia langsung mencari petunjuk.
Namun meski begitu, usai mencari petunjuk, waktu yang tersisa sebelum Tano Sayuri mengetuk pintu hanya tinggal dua menit.
Tenang, Fujiwara Miyabi, tenang!
Cepat, pikirkan, dalam situasi seperti apa seorang pembunuh akan membatalkan tugasnya?
Ia berusaha menenangkan diri, lalu memulai brainstorming dalam benaknya.
Kemungkinan hanya ada beberapa skenario.
Pertama, pembunuh itu mendapatkan imbalan lebih besar darinya dibandingkan dari pihak pemberi tugas, lalu berbalik arah dan membatalkan tugas.
Kedua, dirinya memiliki kegunaan khusus bagi si pembunuh, atau si pembunuh takut terhadap sesuatu sehingga tak berani menyentuhnya.
Tetapi masalahnya adalah, menawarkan imbalan lebih besar memang bisa dilakukan, karena ia punya uang yang didapat dari pemilik tubuh asli.
Namun jika si pembunuh tak sekadar mengejar uang, melainkan demi suatu “tujuan mulia”, datang membunuh karena keyakinan—
Tidak, jika memang didorong oleh keyakinan, sikapnya pasti berbeda!
Lagipula, mengenai “memiliki kegunaan”, ya, memang ia akan berguna bagi si pembunuh jika ia mati!
Fujiwara Miyabi menggigit giginya.
Berbagai tokoh yang pernah ia analisis lewat buku-buku yang dibacanya kini berkelebat di pikirannya, namun tak satu pun cocok dengan Tano Sayuri.
Kalaupun memasukkan tokoh-tokoh dari dunia dua dimensi, ada satu yang mirip dengannya: seorang samurai dari kota Gin, keduanya sama-sama membawa pedang.
Apa lagi petunjuknya? Apa lagi?
Ia menggelengkan kepala, mencoba mengingat kembali informasi dari kalimat-kalimat pertama yang ia baca.
[Adegan pertama...]
Tunggu.
Sebelumnya juga disebutkan, “adegan pertama”, istilah yang biasanya muncul dalam naskah drama.
Sementara inti dari drama adalah konflik.
Berbeda dengan film atau serial televisi, drama yang ditampilkan secara langsung di atas panggung harus mampu menarik perhatian penonton sejak awal.
Karena itu, drama tidak perlu bertele-tele, melainkan harus langsung memikat sejak permulaan!
Konflik dan pertentangan harus langsung disajikan di hadapan penonton!
“Tok... tok!”
Ketukan pintu kembali terdengar.
Fujiwara Miyabi melirik buku harian di atas meja.
Dua kali sebelumnya, ia memilih menggunakan buku itu sebagai senjata, tapi tak pernah membuahkan hasil.
Mencoba memerankan “Fujiwara Murasaki” pun gagal, karena ia tidak benar-benar memahami karakter pemilik tubuh asli, sehingga mudah terbongkar.
Namun, justru dari kegagalan itu ia memperoleh informasi berharga.
Fujiwara Miyabi menarik napas dalam-dalam.
Entah mengapa, ia merasa dunia dalam “buku” ini tidaklah bermaksud jahat.
Bahkan, tampaknya dunia ini tengah membimbingnya, seolah mengajarkan bagaimana menulis novel yang mampu menarik perhatian.
“Tok... tok!”
Ketukan pintu kembali terdengar.
Jika dihitung, ini sudah keempat kalinya ia mendengar ketukan pintu itu.
Bacalah soal tiga kali, maka maknanya pun akan muncul.
Begitu pula setelah mendengar ketukan ini empat kali, ia mampu merasakan ritme dan kekuatan ketukan pintu Tano Sayuri sangat santai, tanpa tekanan, seolah tak ambil pusing.
Bisa jadi, jika ia terus menolak membuka pintu, ia bisa bertahan hingga akhir?
Namun ia segera menepis pikiran itu.
Tak ada orang yang ingin membaca kisah tokoh utama yang hanya bersembunyi di kamar, kecuali jika kamu adalah tokoh utama dalam “Metamorfosis” karya Kafka yang berubah menjadi kecoa.
Dan cara mengalahkan seorang “psikopat” adalah—
Kamu harus lebih gila darinya!
Kali ini, Fujiwara Miyabi tak lagi berpura-pura menyapa, melainkan ketika Tano Sayuri hendak mengetuk pintu lagi, ia langsung membuka pintu dengan keras.
“Ssst, jangan sampai ada yang dengar!”
Ia mengintip keluar dengan hati-hati, mengamati lorong yang temaram, lalu langsung menarik tangan Tano Sayuri dan membawanya masuk.
“Brak!”
Pintu kamar tertutup keras di belakangnya.
Kemudian, tiba-tiba sebuah kaki muncul di sampingnya, menginjak kuat-keat papan pintu di belakang Tano Sayuri.
Tano Sayuri:...?
Ia tak mengerti apa yang sedang dilakukan nona bangsawan keluarga Fujiwara yang terkenal itu.
“Anda pasti Tuan Tano Sayuri, bukan?”
Fujiwara Miyabi menjejakkan satu kaki di lantai, satu kaki lagi di papan pintu, kedua tangan bersilang di depan dada, meneliti lelaki di hadapannya.
Demi riset novelnya, ia pernah duduk hampir sebulan di lobi rumah sakit.
Kaki patah, lumpuh, buta, tuli... segala macam pasien pernah ia lihat.
Namun seperti Tano Sayuri, yang meski matanya buta tapi bertindak lebih tajam dari orang normal, baru kali ini ia temui.
Pembunuh bergaya modis itu sedikit memiringkan kepala, senyum di wajahnya tetap santai, lalu berkata:
“Benar, adakah yang ingin Anda sampaikan, Nona?”
Kemudian, ia mendengar wanita di hadapannya menghela napas panjang.
“Barangkali Anda tidak percaya, tapi sebenarnya saya tidak ingin menikah dengan keluarga Genji.”
“Pikiran itu sudah tumbuh subur di hati saya bahkan sebelum Anda datang, dan setelah Anda hadir, tekad itu semakin tak terbendung!”
Senyum Tano Sayuri tidak berubah, “Oh? Boleh saya tahu alasannya?”
Apa pun yang terjadi, baginya ini cuma urusan kecil, takkan mampu mengguncang dirinya.
Lalu, tangan yang biasa ia gunakan untuk menggenggam pedang tiba-tiba digenggam oleh wanita itu.
Baiklah, yang seperti ini belum pernah ia alami.
“Menurut saya, menikah dengan Mitsuhiko Genji sungguh keterlaluan. Siapa yang bisa jatuh cinta pada orang yang bahkan waktu kecilnya saja sudah saya lihat?”
Ia mengeluh, lalu melanjutkan:
“Alasan lainnya adalah—”
“Saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada Anda, Tuan Tano Sayuri!”
Fujiwara Miyabi tersenyum cerah, menggenggam erat tangannya, tak membiarkan pria itu menarik tangannya kembali.
“Saya akan membayar Anda tiga kali lipat dari bayaran ayah saya, ayo kabur bersama saya!”
—Sekalipun kali ini gagal lagi, saya akan tetap membuatmu jengkel!
Benar, pikiran yang melintas di kepalanya saat ini memang sesederhana itu.
Lalu, ia melihat senyum di bibir pria itu akhirnya sedikit berubah.
Tano Sayuri mengangkat tangan satunya, mengelus dagu, lalu “memandang” ke arahnya.
Jantung Fujiwara Miyabi berdegup kencang.
Bukan karena jatuh cinta, tapi ketakutan.
Karena, terakhir kali ia mengalami hal semacam ini, dalam sekejap mata ia sudah kembali ke titik awal.
Tidak, kali ini jika gagal, harus ada yang ikut tertimpa akibat!
Ia menurunkan tatapan ke pedang di pinggang Tano Sayuri, menghitung kemungkinan membalikkan keadaan dan membunuhnya lebih dulu—
“Baiklah, terdengar menarik juga.”
Nada suara pria itu sangat santai.
Hampir seketika setelah ia selesai bicara, pandangan Fujiwara Miyabi mendadak gelap.
Haha, gagal lagi...
[Tugas: Lolos dari percobaan pembunuhan Tano Sayuri, selesai]
[Hadiah didapat: Fragmen Kemampuan Khusus Air Mata Putri x1]
Hah?
B..berhasil?
Fujiwara Miyabi terpaku melihat deretan huruf besar yang tiba-tiba muncul.
Namun keterpakuan itu hanya berlangsung sebentar, ia memutuskan untuk memeriksa hadiah yang telah ia dapatkan dengan susah payah (dengan penekanan).
[Air Mata Putri, Kemampuan Khusus]
Ia membisikkan dalam hati.
Detik berikutnya, tangan kanannya mendadak berubah menjadi debu—
Lalu, seiring keinginan dalam benaknya, sebuah tangan tiba-tiba muncul di tombol lampu kamar yang lupa ia matikan, lalu menekan tombol itu.
Versi lengkap “Air Mata Putri” memungkinkan seluruh tubuh berubah menjadi debu, lalu bisa disatukan dan diuraikan sesuka hati.
Versi fragmen hanya bisa mengubah satu bagian tubuh.
Meski tak berguna untuk menyerang, tapi cukup praktis.
Paling tidak, nanti kalau mau mematikan lampu tak perlu turun dari tempat tidur.
Lumayan juga, ia merasa puas.
Fujiwara Miyabi menunduk melihat waktu, ternyata sejak ia mulai bermimpi hingga kembali ke kenyataan, hanya berlalu dua detik.
Jadi, bagaimana kalau mencoba sekali lagi mumpung masih sempat?
Ia mulai memahami cara kerja dunia ini...
Namun di saat itu, buku yang tadinya hanya berisi dua baris tulisan, tiba-tiba terbuka sendiri tanpa angin.
Beberapa baris huruf yang sedang ditulis pena tak kasatmata muncul di halaman.
“Air Mata Putri”
[Adegan Pertama]
[Namaku Tano Sayuri. Sejak lahir aku buta, tapi berkat itu pancainderaku jauh lebih tajam dari manusia biasa.
Setiap orang memiliki kebebasan untuk membunuh, dibunuh, hidup, dan mati...
Sejak lahir, manusia memiliki kebebasan untuk “melihat dunia” atau “tidak melihat dunia”.
Namun bagiku, sejak awal aku tak pernah punya hak memilih kebebasan itu.
Tapi jika aku peduli soal itu, mungkin aku takkan hidup sampai hari ini.
Hari yang biasa, hari yang membosankan, aku menerima tugas pembunuhan baru.
Targetnya adalah putri keluarga Fujiwara, Fujiwara Murasaki.
Seseorang yang juga tak pernah punya hak memilih kebebasan—
Seekor burung dalam sangkar.]