Jilid Kedua Bab Tujuh Puluh Satu Segalanya Demi Dirimu
Bab 71: Segalanya Demi Dirimu
Di saat situasi benar-benar genting dan pertempuran sengit tampaknya sudah tak terelakkan, tiba-tiba kotak surat Lin Si berbunyi. Suara notifikasi itu membuat sarafnya semakin tegang. Siapa yang mungkin menghubunginya di saat seperti ini? Apakah ini secercah harapan hidup, atau justru jalan buntu menuju kematian?
Telapak tangan Lin Si sudah dipenuhi keringat dingin. Dengan hati yang penuh kecemasan, ia membuka kotak suratnya. Benar saja, ada dua surel baru menunggunya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Lin Si membuka salah satunya sambil berdoa dalam hati, berharap pesan itu membawa harapan untuk hidup.
Dari Malaikat Vivi: "Kamu di mana? Aku sudah sampai, bolak-balik di jalan ini berkali-kali tapi tidak menemukanmu. Aku di bawah gerbang besar di ujung paling depan Jalan Tenglong. Cepat temui aku, mau aku tunjukkan jurus andalanku, hehe!"
Dari Perasaan Meteor: "Cahaya Bulan, pesanmu sudah kuterima. Kami semua sudah online, sekarang sedang di ruang 16 Hotel Yunlai, kawasan utara Kota Zhuque. Bisakah kamu datang untuk membicarakan soal tugas?"
Membaca dua pesan itu, Lin Si merasa seperti orang yang tenggelam menemukan pelampung penyelamat. Namun, masih ada kekhawatiran yang tersisa di hatinya. Haruskah ia memanggil mereka untuk membantu? Jika gagal, kalau ia mati mungkin tak masalah, tapi bagaimana dengan Vivi dan Perasaan Meteor? Lagi pula, meski ia tahu kekuatan Perasaan Meteor dan teman-temannya, bagaimana dengan Vivi? Sampai sekarang ia belum pernah melihat penampilan Vivi di dalam permainan. Apakah kekuatannya cukup? Apakah dengan memanggilnya justru akan membahayakannya?
Pikiran Lin Si dipenuhi berbagai kekhawatiran, tetapi waktu sudah tak memberinya kesempatan untuk berpikir terlalu lama. Ia harus segera mengambil keputusan! Dalam kegelisahan, Lin Si melirik ke arah Penjaga Rong Er, yang sudah siap bertarung dengan ekspresi tak gentar. Namun, ketegangan di wajahnya tak luput dari perhatian Lin Si—tangan kanannya yang menggenggam pedang tampak sedikit bergetar. Meskipun begitu, ia tetap berdiri melindungi Lin Si dan Rong Er di belakangnya.
"Penguasa Dewa Tertinggi!" Mata Penjaga Rong Er menatap penuh kebencian pada orang di depannya, api kemarahan menyala di matanya. "Kalau mau bertarung, lawan aku! Aku harap kau bertindak seperti seorang pria sejati, jangan ganggu saudaraku dan Rong Kecil. Tolong biarkan mereka pergi dengan selamat!"
"Tidak, Wei Wei! Aku ingin tetap bersamamu meskipun harus mati!" Rong Er langsung berlari ke sisi Penjaga Rong Er, kedua matanya yang indah seperti danau tenang kini penuh ketegasan. Ia menatap Penguasa Dewa Tertinggi dengan keberanian, lalu berkata dengan suara lantang, "Penguasa Dewa Tertinggi, kalau mau membunuh, silakan! Aku dan Wei Wei tidak akan takut! Tapi, tolong lepaskan Cahaya Bulan. Dia hanya pelanggan yang datang untuk membeli barang, tidak ada hubungannya dengan kalian!"
Saudara! Kata itu menghantam hati Lin Si dengan keras. Melihat keteguhan wajah Penjaga Rong Er dan Rong Er, ia memutuskan, hari ini apa pun yang terjadi, meski harus hancur lebur, ia akan melindungi pasangan kekasih ini dan menjaga usaha mereka, Toko Kecil Rong Er!
Setelah berpikir demikian, Lin Si tak ragu sedetik pun dan segera mengirim dua pesan yang sama kepada Perasaan Meteor dan Vivi.
"Aku di Toko Kecil Rong Er, Jalan Tenglong, kawasan barat Kota Zhuque. Tolong! S.O.S!"
Tak sampai lima detik setelah pesan dikirim, balasan pun datang dari keduanya: "Oke, kami segera ke sana, usahakan tahan waktu sebisa mungkin!"
Mendapat balasan itu, hati Lin Si sedikit tenang walau untuk sementara. Kini ia hanya berharap jurus andalan Vivi yang disebut dalam pesannya benar-benar ampuh dan bisa mengubah keadaan.
Lin Si menutup kotak suratnya tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, sembari dalam hati berpikir keras: Sekarang yang harus ia lakukan adalah menunda waktu sebanyak mungkin hingga bala bantuan datang.
Sementara Lin Si dan kawan-kawannya tengah menghadapi krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya, di Hotel Yunlai, kawasan utara Kota Zhuque, empat orang lain juga bergerak secepat kilat. Begitu Perasaan Meteor memerintahkan, keempat sosok itu melesat seperti bintang jatuh menuju Toko Kecil Rong Er di kawasan barat...
"Hahaha!" Penguasa Dewa Tertinggi tertawa terbahak-bahak, suaranya serak dan parau seperti mesin berkarat, bergema di setiap sudut Toko Kecil Rong Er.
"Hei, Nyonya Pemilik Toko, apa kau sedang memohon padaku?" Setelah tawa itu berhenti, tatapan Penguasa Dewa Tertinggi yang suram tertuju pada wajah cantik Rong Er. "Baiklah, kalau kau mau menerima dua syarat yang tadi kuajukan, lalu berlutut dan bersujud tiga kali sambil memanggilku 'Kakek' tiga kali, akan kulepaskan bocah itu. Hahaha..."
Wajah Rong Er memerah karena marah, ia berteriak nyaring, "Penguasa Dewa Tertinggi, kau benar-benar tak tahu malu! Kau sungguh keterlaluan!"
"Hmph." Penguasa Dewa Tertinggi tertawa ringan, "Aku memang tak pernah bilang aku ini orang terhormat. Sudahlah, aku tak mau buang waktu lagi dengan kalian. Saudara-saudaraku, serang habis-habisan! Hancurkan semua!"
Begitu Penguasa Dewa Tertinggi mengangkat tangan, belasan prajurit bersenjata langsung menyerbu. Lin Si melihat situasi itu makin cemas. Apa yang harus dilakukan? Jika seperti ini terus, bukan hanya tak bisa menyelamatkan Toko Kecil Rong Er, nyawanya sendiri pun terancam!
"Tunggu!" Dalam kepanikan, Lin Si berteriak keras. Kedua pihak yang hendak bertarung langsung berhenti di tempat, belasan pasang mata penuh curiga kini menatap Lin Si.
"Bocah, mau apa kau?" Penguasa Dewa Tertinggi memicingkan mata, dengan senyum licik mendekati Lin Si. "Mau main apa lagi?"
Wajah suram lelaki itu membuat Lin Si merasa muak, tapi dalam keadaan seperti ini ia harus mencari cara untuk menunda waktu, demi menyelamatkan Toko Kecil Rong Er!
"Ini... Wakil Ketua yang terhormat," Lin Si membungkuk dalam-dalam, 90 derajat, memasang senyum menjilat, "Bolehkah saya bicara sebentar saja?"
Sapaan "Wakil Ketua" dari Lin Si jelas memuaskan harga diri Penguasa Dewa Tertinggi. Ia mengelus dagunya dan tersenyum miring, "Baiklah, bocah. Aku beri kau satu menit, mau bicara apa, katakanlah!"
"Hehehe." Lin Si tersenyum penuh kepalsuan. "Terima kasih banyak, Wakil Ketua!"
Lin Si melirik sekeliling, akhirnya pandangannya jatuh pada kursi bambu. Ia pun beranjak perlahan ke belakang meja kayu yang sudah hancur, menyeret kursi bambu itu dengan gerakan sangat pelan seolah-olah sangat berat. Ia sengaja memperlambat gerakannya, selain untuk menunda waktu juga untuk membuat Penguasa Dewa Tertinggi menyepelekannya.
Saat itu, Lin Si bahkan tak berani menoleh ke arah Penjaga Rong Er dan Rong Er, ia juga muak dengan dirinya sendiri yang harus bersikap seperti ini. Sepanjang hidup, ia paling membenci orang penakut dan penjilat, namun kini ia terpaksa memainkan peran itu. Demi Penjaga Rong Er, demi Toko Kecil Rong Er, ia tak peduli lagi bagaimana citranya. Yang penting waktu bisa terus berjalan, barang satu detik saja lebih lama.
(Terima kasih atas dukungan kalian! Beberapa hari ini jumlah suara rekomendasi sudah melampaui rekor sebelumnya. Semoga kalian terus mendukungku! Bagi teman-teman yang suka, bisa gabung di grup diskusi novel ini: 63870622. Karena aku jarang online QQ, jadi silahkan masuk grup saja.)