Bab 137: Fitnah yang Diulang-ulang (8)
Sudah hampir tengah malam. Ruang tamu yang gelap gulita itu sama sekali tak lagi semegah dan semewah siang tadi, malah memancarkan kesan suram yang tak dapat dijelaskan.
Di salah satu sudut, seberkas cahaya jatuh dan tampak begitu kontras dengan sekelilingnya. Sesekali terdengar bisikan dari sana, ganjil sekaligus mengerikan.
“Aduh, menyebalkan sekali… Kenapa masih sebanyak ini?” Yin Ruochen menatap tumpukan piring di bak cuci yang menjulang seperti bukit kecil, lalu tak kuasa mengerang.
“Bersyukurlah. Kami masih membantumu.”
“Kalau bukan karena kau begitu lamban, sekarang kami sudah selesai berendam dan tidur.”
Dua orang lainnya langsung membalas, suara mereka dipenuhi rasa jengkel.
“Iya, iya, kalian memang yang terbaik!” Yin Ruochen pasrah mengambil spons cuci piring dan menggosoknya kuat-kuat. “Hah, ini namanya bukan liburan. Ini benar-benar datang untuk menyiksa diri.”
“Besok sepertinya ada acara mencari harta karun di pegunungan? Kudengar hadiahnya uang tunai!”
“Aku cuma ingin berendam di pemandian air panas dengan tenang, lalu berbaring nyaman di ranjang dan tidur nyenyak…”
“Kalian mendengar sesuatu?” Lin Zhaofeng, yang sejak tadi diam-diam menyusun piring dan mangkuk yang telah dicuci, tiba-tiba bersuara. Kedua orang itu sontak menoleh dengan panik.
Di luar dapur terbentang ruang tamu, dipenuhi kegelapan pekat yang seolah tak berujung.
Barulah mereka menyadari bahwa suasana di luar terlalu sunyi untuk disebut wajar—kesunyian mati seperti tempat yang sama sekali tak berpenghuni.
Begitu sunyi hingga suara napas satu sama lain pun terdengar jelas.
“Lin… Lin Zhaofeng… di sini memang cuma ada kita bertiga, kan?” Jantung Yin Ruochen serasa naik ke tenggorokan. Dengan susah payah ia mengangkat tangan yang gemetar, lalu menunjuk. “Kalau begitu… siapa yang berdiri di sebelah kananmu?”
“Ouyang Luo…” Lin Zhaofeng menjawab spontan, tetapi segera menyadari ada yang tidak beres. Ia melirik Ouyang Luo yang berdiri di sebelah kirinya, lalu memutar leher dengan kaku ke arah kanan. Namun, yang terlihat olehnya hanyalah bayangan kelabu yang melintas di sampingnya!
“Sial—ada hantu—!”
Yin Ruochen yang sejak lahir memang takut pada hal-hal semacam itu menjatuhkan piringnya dan berlari sambil berteriak.
“Bocah bodoh! Apa dia tidak tahu bahwa dalam film horor, orang pertama yang kehilangan akal biasanya juga yang pertama mati?”
Melihat Yin Ruochen begitu ketakutan hingga kehilangan kendali, Lin Zhaofeng mengeluarkan ponsel dan menyalakan senter. Ia mengangguk kepada Ouyang Luo. Keduanya berniat pergi ke ruang tamu untuk menyalakan lampu.
Langkah kaki yang sudah mereka perlambat semaksimal mungkin tetap meninggalkan gema di ruang tamu yang luas dan kosong, terdengar sangat jelas di tengah kegelapan pekat yang membuat tangan sendiri pun tak terlihat.
“Yin Ruochen… dia tidak apa-apa, kan?” Ouyang Luo yang merasa sangat gelisah mendadak disergap firasat buruk. Ia berbisik pelan.
“Orang seperti dia tidak mungkin kenapa-kenapa.” Lin Zhaofeng menenangkan Ouyang Luo dengan ucapan, tetapi hatinya sendiri tidak yakin. Tanpa sadar ia merapatkan tubuh ke sisi Ouyang Luo, berusaha memperkecil jarak di antara mereka agar kegelisahan Ouyang Luo sedikit mereda.
“Yin Ruochen… jangan menakut-nakuti orang… cepat keluar…”
Seharusnya hanya langkah kaki mereka berdua yang terdengar. Namun, Ouyang Luo dan Lin Zhaofeng sama-sama mendengar langkah lain di belakang mereka—kadang ringan, kadang berat, sesekali lambat, sesekali tergesa-gesa.
Mereka berkali-kali menyapu sekeliling dengan cahaya senter, tetapi tak menemukan apa pun. Namun, setiap kali membelakangi kegelapan, suara langkah kaki yang membuat bulu kuduk berdiri itu kembali terdengar, merambat ke seluruh tubuh hingga membuat mereka merinding.
Rasa dingin yang sudah dikenalnya perlahan menyebar di ruang tamu, menyusup ke setiap pori kulit dan menggigiti sumsum tulang, seakan hendak mencabik-cabik mereka hidup-hidup.
Ouyang Luo masih mengingat rasa takut ini. Itulah ketakutan yang ia rasakan ketika diburu tanpa alasan sebelumnya. Dan kini, setelah berhari-hari, hawa dingin penuh ketakutan itu kembali muncul.
Itu hanya berarti satu hal.
Dirinya… kembali menjadi sasaran!
“Hehehehe…”
Tawa anak-anak yang menyeramkan menyerbu dari kegelapan di segala penjuru seperti gelombang pasang, mengepung mereka berdua.
Mereka seolah terperangkap. Tak peduli seberapa lebar langkah yang diambil, mereka hanya berputar-putar di tempat dan tak mampu maju sedikit pun.
Terjebak dalam lingkaran hantu?!
Lin Zhaofeng yang biasanya tenang pun mulai berkeringat dingin. Namun, ketika menyadari Ouyang Luo berada di sampingnya, ia tahu dirinya tidak boleh panik. Ia segera meraih lengan Ouyang Luo.
“Pegang aku erat-erat. Jangan lepaskan.”
“Waspada, di belakangmu!”
Niat membunuh yang tajam menyambar tengkuknya. Dalam keadaan terdesak, Ouyang Luo mendorong Lin Zhaofeng menjauh. Ia sendiri sudah terlambat untuk menghindar dan hanya sempat memiringkan tubuh, nyaris berhasil mengelak. Lehernya tetap tersayat hingga mengeluarkan darah, membuatnya mengisap napas tajam menahan sakit.
“Ouyang Luo! Kau tidak apa-apa?”
Dalam kepanikan, Lin Zhaofeng tak lagi memedulikan apa pun. Ia menarik Ouyang Luo ke dalam pelukannya untuk melindunginya, sementara seluruh perhatiannya dipusatkan pada gerakan di sekeliling, bersiap menghadapi serangan berikutnya.
“Plak.”
Lampu ruang tamu tiba-tiba menyala. Bersamaan dengan itu, aura ganjil yang sebelumnya memenuhi tempat tersebut perlahan menghilang. Ketika dunia kembali diselimuti cahaya, Ouyang Luo dan Lin Zhaofeng sama-sama mengembuskan napas lega.
“Kapten Han!” Melihat Han Nuo berdiri di tangga dengan wajah penuh amarah, Lin Zhaofeng segera meminta pertolongan. “Ouyang Luo terluka!”
“Mengapa kalian tidak menghubungiku?”
Han Nuo duduk di sofa dan memperhatikan Ouyang Luo yang sedang meringis kesakitan ketika membersihkan lukanya sendiri. Setelah memastikan luka itu tidak serius, barulah ia merasa lega.
“Ponselku ada di kamar…” Ouyang Luo menempelkan plester pada lukanya. Setelah itu, seolah-olah tenaganya telah pulih, ia tersenyum kepada Han Nuo. “Terima kasih, Kapten Han!”
“Apa yang terjadi tadi?”
“Sama seperti sebelumnya.” Karena Lin Zhaofeng berada di sana dan ia tidak leluasa berbicara, Ouyang Luo hanya menjawab singkat.
Han Nuo mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh, tetapi keraguan memenuhi keningnya.
Sebenarnya siapa yang begitu menginginkan nyawa Ouyang Luo? Jika bukan karena ia segera menyadari aura menyebalkan itu, dengan keadaan mereka berdua tadi, mungkin mereka sudah mati tanpa kecuali.
“Benar juga! Di mana Yin Ruochen?” Ouyang Luo tiba-tiba teringat bahwa sampai sekarang ia belum melihat Yin Ruochen. Ia pun langsung bangkit.
“Aku akan memeriksa kamarnya.”
Lin Zhaofeng berdiri dan menaiki tangga. Sebelum pergi, ia menoleh sekilas kepada Ouyang Luo yang jelas-jelas menyembunyikan sesuatu darinya. Hatinya dipenuhi rasa tak berdaya.
“Ouyang Luo, setelah kita kembali, kau harus pindah dan tinggal bersamaku.”
Begitu Lin Zhaofeng pergi, Han Nuo segera menegakkan wajahnya dan memerintah dengan nada yang tak terbantahkan, “Kalau tadi aku tidak datang tepat waktu, pernahkah kau memikirkan akibatnya?”
Ouyang Luo tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala, membiarkan poni yang jatuh menutupi wajahnya yang diliputi keraguan.
“Sebelum identitas dan tujuan pihak lawan terungkap, aku harus memastikan keselamatanmu.”
“Kapten Han, boleh aku menanyakan sesuatu?”
“Hmm.”
“Mengapa kau begitu bersikeras melindungiku? Bahkan memperlakukanku dengan sangat baik?”
Han Nuo terdiam sejenak. Dengan sengaja ia memalingkan wajah, tidak sanggup menatap ekspresi Ouyang Luo yang dipenuhi harapan sekaligus kegelisahan.
“Kau adalah harapan masa depan Pasukan Investigasi Khusus. Sudah sewajarnya aku melindungimu.”
“Kapten Han, seseorang akan tanpa sadar mengalihkan pandangan ketika sedang berbohong.”
Setelah benar-benar memahami perasaan Han Nuo, Ouyang Luo tersenyum lega.
“Kapten Han, ada alasan mengapa selama bertahun-tahun kau masih lajang.”
“?”
“Kau menyukaiku.”
Tatapan Ouyang Luo menancap tajam pada Han Nuo, yang sesaat tampak panik.
“Benar, bukan, Kapten Han?”
“Bagaimana mungkin aku menyukai seorang pria?”
Han Nuo tidak menyangka Ouyang Luo dapat mengetahui perasaannya. Terlebih lagi, ternyata bukan dirinya yang lebih dahulu menyatakan perasaan. Merasa harga dirinya tersentuh, ia tertawa dingin, setengah mengejek diri sendiri dan setengah menyangkal.
Namun, ketika melihat sorot mata Ouyang Luo yang tiba-tiba meredup dan kekecewaan yang sama sekali tak tersamarkan, Han Nuo menghela napas. Ia baru saja hendak menyatakan perasaannya ketika pintu utama vila tiba-tiba terbuka, disusul hembusan angin dingin yang menerobos masuk.