Bab 126: Terjaga
“Kode, apa kau berniat untuk melarikan diri?”
Kode berdecak, “Kakak, ucapanmu kasar sekali. Siapa yang melarikan diri? Aku ini sedang bermigrasi!”
Heath membalas tanpa basa-basi, “Bicaralah yang jujur padaku! Untuk apa kau pergi ke Planet Kanon tanpa alasan yang jelas!”
Kode tetap bersikap santai, “Kak, planet utama terlalu membosankan. Aku ingin membawa istri dan anak-anakku pergi berlibur.”
“Apakah Ayah dan Ibu tahu soal ini?”
Kode mengusap hidungnya dengan perasaan bersalah, “Aku belum memberi tahu mereka. Nanti kau saja yang sampaikan pada mereka.”
Heath mulai meraung!
“Kode, kau bajingan! Aku tidak akan menyampaikan apa pun untukmu. Setiap hari aku sibuk setengah mati, sedangkan kau hanya tahu caranya bersenang-senang! Aku melarangmu pergi, kembalilah dan bantu aku mengurus bisnis keluarga!”
Kode mundur dengan wajah ketakutan, lalu mencoba membujuk, “Kak, Kakakku tersayang, pewaris utama keluarga adalah kau. Semakin berat jabatan, semakin besar tanggung jawabnya! Jaga kesehatanmu baik-baik ya, Adikmu ini akan selalu mendukungmu!”
Tanpa memberi kesempatan kakaknya untuk membalas, dia segera memutus sambungan.
“Ayo, cepat pergi! Jangan sampai Kakak sempat menghalangi kita!”
Alice menatap suaminya yang tidak tahu malu itu dengan dahi berkerut, namun dia sendiri justru melesat ke atas kapal perang lebih cepat daripada Kode!
Meskipun sang kakak sangat menderita, siapa suruh dia menjadi anak sulung! Dalam hati Alice membatin: Kakak, Kakak Ipar, jaga diri kalian baik-baik, kami pergi dulu...
Kapal perang itu adalah milik pribadi Black. Hanya ada beberapa pengawal di dalamnya karena mereka tidak ingin menarik perhatian.
***
Di sebuah kapal perang, Fess gelisah seperti semut di atas wajan panas. Dia baru saja menerima kabar bahwa seluruh mata-mata mereka di planet utama telah dibersihkan.
Bobby dan Tail pun tidak luput dari nasib buruk, sementara sang pemimpin masih belum sadarkan diri. Apa yang harus dilakukan!
“Uhuk, uhuk!”
Tenggorokan Kurit terasa seperti terbakar, napasnya panas, dan kepalanya terasa seberat seribu kati!
“Air... uhuk!”
Fess mendengar suara itu dan wajahnya berseri-seri. Dia mengambil air yang sudah disiapkan di atas meja dan menyuapkannya langsung kepada sang pemimpin.
Setelah menelan segelas air dengan rakus, tenggorokannya terasa jauh lebih baik. Dia menggelengkan kepalanya yang masih pening, lalu bertanya dengan suara serak, “Sudah berapa lama aku pingsan?”
“Pemimpin, Anda sudah pingsan selama empat hari. Banyak hal telah terjadi, dan kita akan tiba di wilayah kita dalam dua hari lagi.”
Kurit mengeluarkan sebotol cairan nutrisi tingkat S dan meminumnya seperti air putih hingga habis dua botol, barulah sakit kepalanya sedikit mereda.
“Apa saja yang terjadi?”
Fess menunduk, lalu berkata dengan malu, “Seluruh mata-mata kita di planet utama telah dibasmi. Bukan hanya itu...”
Kurit mengerutkan kening, “Kenapa bicaramu terbata-bata!”
“Bukan hanya itu, Bobby dan Tail juga tewas.”
Mendengar itu, Kurit meremukkan gelas kosong di tangannya, “Bagaimana mereka bisa mati?”
Ekspresi Fess sulit dijelaskan, “Bobby menyuruh Tail mencuri seekor putri duyung tingkat tiga. Putri duyung itu memiliki latar belakang yang terlalu kuat, kali ini mereka benar-benar tamat...”
Kurit bertanya, “Putri duyung siapa yang mereka curi?”
Fess menjawab dengan susah payah, “Berita itu sudah tersebar di seluruh planet utama. Hanya keluarga Keston yang kehilangan putri duyung, dan kabarnya mereka juga melukai putri duyung milik keluarga Black. Bahkan sekolah anak-anak sampai ditutup!”
“Uhuk! Apa? Apakah Bobby itu bodoh? Orang-orang seperti mereka pun berani disentuh?”
Kurit batuk tak terkendali karena emosi, Fess segera mengusap punggungnya.
“Sudah! Tidak perlu!”
“Bagaimana sekarang? Di mana putri duyung itu?”
Fess mengetahui hal ini, “Putri duyung itu sekarang berada di tangan Keli dan kawan-kawan. Sepertinya mereka sedang dalam perjalanan menuju salah satu planet tambang!”
Kurit berkata dengan tegas, “Segera hubungi Keli untukku. Putri duyung ini sangat berguna!”
“Baik!” Fess segera mulai menghubungi mereka.