Bab 138 Penyelamatan
"Mereka memaksa kami semua masuk ke kapal perang ini, lalu begitu kami naik, mereka langsung kabur!"
"Kami pun heran, kenapa mereka malah memilih kapal kami dan meninggalkan kapal mereka sendiri yang jauh lebih unggul? Ternyata dua jam kemudian, kapal ini mengaktifkan prosedur penghancuran diri. Kami semua tidak berdaya. Kelompok bajak laut itu benar-benar lebih kejam dari iblis!"
Suasana di ruang kendali dipenuhi amarah. Orang-orang di sana tampak ingin menerjang dan mencabik-cabik para bajak laut itu jika saja mereka muncul saat ini.
Wajah Bai Xiu seketika menggelap. Dia tidak menyangka akan dijebak oleh orang bernama Kurite itu.
Tiba-tiba, sebuah suara elektronik bergema, "Waktu hitung mundur penghancuran diri tersisa delapan menit."
Kepanikan melanda seisi ruang kendali. Orang-orang berteriak bersahut-sahutan dengan kacau.
"Cepat selamatkan kami!"
"Tolong, selamatkan kami!"
"Aku tidak mau mati! Aku tidak mau mati!"
...
Suara bising itu membuat kepala Bai Xiu berdenyut. Tanpa berpikir panjang, dia langsung memerintahkan anggota tim yang berjaga di kapal untuk menurunkan tangga penyelamat ke kapal tersebut. Setelah memberi instruksi, dia segera kembali ke kapalnya sendiri.
Kaidi dan rekan-rekannya yang tertinggal di sana mengatur evakuasi orang-orang. Mereka berebut lari keluar dalam kekacauan. Kaidi berteriak dengan wajah geram, "Jangan berdesakan! Masih ada waktu!"
Di ambang hidup dan mati, siapa yang peduli pada ketertiban? Mereka saling dorong hingga terdengar jeritan pilu.
"Aaa! Tolong aku..."
Seseorang terdorong hingga jatuh dan lenyap ke angkasa luar. Orang-orang lainnya yang melihat kejadian itu langsung gemetar ketakutan, dan mereka yang mentalnya lemah mulai meraung menangis.
Wajah Kaidi tampak kelam, "Sudah kubilang jangan berdesakan, kalau tidak, tanggung sendiri akibatnya!"
Setelah itu, orang-orang menjadi lebih tertib. Saat semua orang sudah keluar, waktu ledakan hanya tersisa satu menit. Kaidi menjadi orang terakhir yang melompat ke kapal perang, segera menutup pintu, dan melesat pergi secepat kilat.
Beruntung, performa kapal perang Bai Xiu memiliki spesifikasi tertinggi, sehingga mereka berhasil menghindari ledakan tersebut.
...
Ledakan memang berhasil dihindari, namun kebisingan di dalam kapal tidak bisa dihindari. Ada sekitar dua puluh orang yang masih berada di ruang kendali; ada yang menangis meraung-raung, ada yang masih syok karena selamat dari maut, dan ada pula yang tetap diam.
Pemimpin kelompok mereka, yang bernama Romi, telah dipanggil oleh Bai Xiu untuk dimintai keterangan.
Sisanya adalah orang-orang awam. Beberapa berdiri dengan tertib di posisi mereka, namun ada juga yang tidak tahu diri. Mengira bahaya telah berlalu, mereka mulai berjalan-jalan di dalam kapal, menyentuh sana-sini, hingga akhirnya Kaidi dengan wajah masam menghentikan mereka.
Salah satu dari mereka berkata dengan angkuh, "Kenapa sih? Ruangannya kan sempit, tidak boleh jalan-jalan sedikit?"
Orang lain menimpali, "Benar, kalian kan harus membantu mengantar kami pulang. Aku lihat ada beberapa ruangan di sini, bisakah kalian berikan kami beberapa kamar? Kami akan membayar."
Kaidi membentak dengan wajah dingin, "Tidak bisa! Semuanya kembali ke tempat kalian dan berdiri diam, jangan sembarangan bergerak!"
Beberapa orang yang penakut segera menyusut ke sudut dan tidak berani bergerak lagi. Mereka sadar bahwa ini adalah wilayah orang lain yang baru saja menyelamatkan nyawa mereka, jadi bagaimanapun juga, mereka harus patuh pada aturan.
Namun, ada dua orang yang tidak tahu berterima kasih!
"Kami bukan budak kalian! Hak asasi manusia kami mana?"
Seorang gadis di tengah kerumunan diam-diam menarik lengan baju pria itu dan berbisik, "Kak Jing, jangan tidak sopan. Mereka baru saja menyelamatkan kita!"
Pria bernama Jing itu tidak peduli dengan ucapan adiknya, "Mereka polisi antariksa, ini tugas mereka! Melindungi warga adalah kewajiban mereka!"
Kata-kata itu tepat didengar oleh Bai Xiu yang baru saja keluar.
Romi yang mendengar itu langsung berkeringat dingin dan berteriak marah, "Lu Jing, apa yang kau katakan! Cepat minta maaf pada mereka!"