Bab 126: Wanita di Rumah
Dengan enggan setengah mati, pada akhirnya Qin Xuan tetap diseret Yang Hanshuang ke atas ranjang.
Mereka duduk rapi berdampingan di tepi ranjang.
Yang Hanshuang menatapnya dengan sepasang mata besar, sementara Qin Xuan juga menatapnya dengan mata yang tak kalah besar.
Empat mata saling berhadapan, tetapi tak sepatah kata pun terucap.
Keheningan memenuhi seluruh ruangan, sunyi seperti kematian.
Namun, di balik keheningan itu, terasa aroma kemesraan yang samar.
Yang Hanshuang tidak berbicara, Qin Xuan pun diam saja. Bagaimanapun, perempuan inilah yang memaksanya datang ke sini. Pinggangnya bahkan masih terasa sakit!
“Aku tidak cantik?” Yang Hanshuang akhirnya memecah keheningan.
“Cantik, kok!” jawab Qin Xuan jujur.
“Kau tidak menyukaiku?” lanjut Yang Hanshuang.
“Suka, tentu saja!”
Qin Xuan tidak sedang berbohong. Itu memang jawaban yang sebenarnya. Yang Hanshuang begitu cantik, sifatnya pun begitu baik. Bagaimana mungkin dia tidak menyukainya?
Kaisar Xuan memang sangat menyukai gadis-gadis yang baik dan cantik.
“Kalau begitu, tadi aku sudah begitu berinisiatif. Mengapa kau masih menolakku?”
Yang Hanshuang bertanya dengan wajah dingin dan suara sedingin es.
Dia sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya dipikirkan pria di hadapannya itu.
“Memangnya karena kau berinisiatif, aku harus langsung menerimanya?” Qin Xuan meliriknya dengan kesal. “Aku juga punya harga diri, tahu!”
“Hah! Kau masih bicara soal harga diri?”
Yang Hanshuang tertawa geli.
Pria ini sungguh menarik. Apa dia benar-benar merasa kehilangan muka karena sikapnya tadi?
“Hari ini aku tidak berminat berdebat denganmu soal hal-hal remeh. Kalau mau membicarakan urusan penting, bicaralah. Kalau tidak, aku akan segera pergi.” Wajah Qin Xuan sangat serius, dan nada suaranya bahkan lebih serius lagi.
“Urusan penting? Urusan apa?”
Dengan jari-jari lentiknya, Yang Hanshuang mengusap dada Qin Xuan. Sejak awal, perempuan itu sudah menganggap Qin Xuan sebagai mangsa yang berada di piringnya. Malam ini, dia ingin menyantapnya—sangat ingin.
“Pria dan wanita harus menjaga batas. Tolong jaga sikapmu.”
Mulut Qin Xuan memang keras, tetapi tubuhnya justru sangat jujur. Walaupun kata-kata itu sudah lama meluncur dari mulutnya, dia sama sekali tidak berusaha menghindar.
“Jaga sikap apanya!”
Yang Hanshuang membalik tubuh, lalu langsung duduk mengangkang di atas tubuh Qin Xuan.
“Bicara. Urusan apa?”
Dia berbicara kepada Qin Xuan dengan nada memerintah.
Qin Xuan tercengang, tetapi tidak menunjukkan reaksi berlebihan.
Meskipun cara perempuan ini bertindak agak liar, di Alam Abadi dia pernah bertemu dengan peri-peri yang jauh lebih berani.
Kehidupan yang tenang punya kenikmatannya sendiri, begitu pula kegairahan dari sesuatu yang liar.
“Buah Tanpa Jiwa,” kata Qin Xuan.
Dia sengaja hanya mengucapkan tiga kata itu untuk melihat reaksi Yang Hanshuang. Jika perempuan itu sama sekali tidak tahu apa benda tersebut, bertanya kepadanya juga akan sia-sia.
Yang Hanshuang tertegun sejenak, lalu berkata dengan suara lirih, “Buah Tanpa Jiwa? Kau sungguh bertanya kepada orang yang tepat!”
“Kau tahu?”
Qin Xuan agak bersemangat. Dari raut wajah Yang Hanshuang ketika berbicara tadi, tampaknya perempuan itu tidak sedang berbohong.
“Tergantung bagaimana sikapmu.”
Yang Hanshuang mengalungkan kedua lengannya yang putih sehalus giok ke leher Qin Xuan, lalu berkata dengan suara lembut.
“Kalau tidak mau mengatakannya, aku pergi.”
Qin Xuan bukan orang yang tahan diancam. Bahkan ancaman dari seorang wanita pun tidak akan dia terima.
Kaisar Xuan tidak pernah tunduk pada tekanan.
Di hadapan kecantikan pun, dia tetap tidak akan menyerah!
Qin Xuan langsung mengangkat Yang Hanshuang, menaruhnya di atas ranjang, lalu bangkit dan berjalan menuju pintu.
“Kalau ada kabar, telepon aku.”
Qin Xuan pun pergi.
Ketika Yang Hanshuang masih terpaku, pria itu sudah melangkah keluar dari kamar.
“Bedebah!”
Apa maksudnya? Dia meletakkan dirinya di atas ranjang, lalu pergi begitu saja?
Dengan marah, Yang Hanshuang melemparkan bantal ke arah pintu. Namun, Qin Xuan sudah tidak berada di sana. Bantal itu pun menghantam pintu.
Qin Xuan naik taksi kembali ke Vila Nanshan. Begitu masuk, dia melihat makanan yang sudah dingin di atas meja serta selimut yang berantakan di sofa.
Jelas, semua itu ditinggalkan oleh Song Xi.
Mungkin karena sudah terlalu lama menunggunya tanpa hasil, Song Xi akhirnya kembali ke kamarnya.
Perempuan itu memiliki kebiasaan hidup yang sangat bersih. Setiap sudut rumah selalu ditatanya dengan begitu rapi. Kalau bukan karena terlalu lelah, mustahil dia membiarkan selimut tergeletak berantakan di sofa.
Memiliki perempuan seperti itu di rumah memang menyenangkan. Dia tidak perlu mengkhawatirkan urusan rumah sedikit pun.
Qin Xuan kembali ke kamarnya.
Setelah semalaman tidak tidur, dia pun merasa lelah.
Pukul setengah delapan, Song Xi bangun tepat waktu.
Karena beberapa malam terakhir dia selalu menunggu Qin Xuan, istirahatnya tidak pernah benar-benar cukup.
Sebenarnya, dia bisa saja menelepon Qin Xuan dan menanyakan apakah pria itu akan pulang atau tidak. Namun, dia tidak melakukannya. Jika Qin Xuan tidak berinisiatif memberitahunya, dia juga tidak akan bertanya. Meski begitu, setiap malam dia tetap tidak mampu menahan diri untuk menunggu.
Dia hanya takut Qin Xuan tiba-tiba pulang dalam keadaan lapar dan tidak menemukan makanan.
Begitu keluar dari kamar, Song Xi melihat jaket Qin Xuan yang tergeletak di sofa.
“Sudah pulang juga tidak bilang-bilang. Dasar…”
Setelah mengeluh kecil, Song Xi mengambil jaket itu dan menciumnya.
Awalnya, dia ingin memeriksa apakah ada aroma perempuan lain. Namun, begitu jaket itu mendekati hidungnya, yang tercium justru bau keringat yang menyengat.
“Bau sekali. Entah sudah pergi ke mana dan bermain-main selama beberapa hari.”
Song Xi memasukkan jaket Qin Xuan ke dalam keranjang pakaian kotor, mencampurnya dengan pakaiannya sendiri.
Sebentar lagi dia akan terlambat berangkat kerja, jadi dia berencana mencucinya nanti malam setelah pulang.
Song Xi menyiapkan sarapan, menyisihkan seporsi untuk Qin Xuan di atas meja, lalu berangkat bekerja.
Bahkan, dia tidak membangunkan Qin Xuan untuk memberitahunya.
Dia malas mengatakan apa pun. Selama sudah melakukan sesuatu untuknya, itu sudah cukup.
Begitulah Song Xi.
Balai Lima Cita Rasa.
Yang Hanshuang, yang masih dipenuhi amarah, berguling-guling di tempat tidur dan tidak tidur semalaman sejak Qin Xuan kabur.
Sepanjang malam dia memikirkannya, tetapi tetap tidak mampu memahami alasan Qin Xuan menolaknya. Dengan kecantikan dan daya pikat seperti miliknya, pria normal mana yang sanggup menolak?
Jangan-jangan Qin Xuan tidak normal?
Yang Hanshuang tidak bisa menahan diri untuk berpikir macam-macam.
Tidak mungkin! Dia pasti normal! Pria yang tidak normal tidak mungkin memiliki tubuh sekuat dan sejantannya seperti dia.
Atau jangan-jangan tubuhnya sedang tidak memungkinkan?
Pasti begitu. Kalau tidak, mengapa dia melarikan diri dengan begitu tergesa-gesa?
Yang Hanshuang mengetahui sedikit tentang bela diri kuno.
Ketika seorang praktisi bela diri kuno mencapai tahap tertentu dan hendak menerobos ke tingkat berikutnya, dia memang tidak boleh mendekati wanita.
Ditambah lagi, Qin Xuan menanyakan kabar Buah Tanpa Jiwa kepadanya. Yang Hanshuang dapat memastikan bahwa Qin Xuan sedang berada di titik yang sangat penting dan membutuhkan bantuan Buah Tanpa Jiwa.
“Dalam waktu setengah jam, kau harus sudah berada di hadapanku. Kalau tidak, aku tidak akan memberitahumu di mana ada Buah Tanpa Jiwa!”
Yang Hanshuang tersenyum sambil mengirimkan pesan singkat kepada Qin Xuan.
Buah Tanpa Jiwa merupakan obat spiritual yang amat langka di dunia. Jangankan mendapatkannya, bahkan informasi mengenai keberadaannya pun hanya bisa dilacak oleh segelintir orang di seluruh negeri.
Namun, Keluarga Yang adalah pengecualian.
Setelah bertahun-tahun menjalankan bisnis obat-obatan di negeri ini, Keluarga Yang telah menguasai semua jalur, baik yang terang-terangan maupun jaringan rahasia.
Bisa dikatakan, selama suatu bahan obat tersedia di negeri ini, Keluarga Yang pasti mampu menemukan setidaknya sedikit informasi mengenainya.
Tentu saja, obat spiritual kelas tinggi seperti Buah Tanpa Jiwa pun tidak mampu dibeli oleh Keluarga Yang. Yang Hanshuang sendiri hanya mendengar sedikit kabar tentangnya.
Belum ada kepastian apakah kabar itu benar atau tidak.
Namun, Yang Hanshuang benar-benar memercayai sumber informasi tersebut.
Di Vila Nanshan, ponsel Qin Xuan yang tertinggal di atas sofa ruang tamu bergetar sekali.
Pesan dari Yang Hanshuang telah diterima oleh iPhone XS miliknya. Sayangnya, Qin Xuan sedang tidur di kamar. Saat itu, dia terlelap seperti babi mati.
Getaran kecil dari sofa di ruang tamu tentu saja tidak mungkin terdengar olehnya.
Pukul dua belas siang, Qin Xuan bangun.
Dia bukan terbangun karena sudah cukup tidur, melainkan karena kelaparan.
Setelah membuka mata, dia melihat roti dan susu di atas meja makan, lalu melahapnya dengan rakus.
Selesai makan, dia mandi dan berganti pakaian bersih.
Barulah setelah itu dia mengambil ponselnya dan melihat pesan singkat yang dikirim Yang Hanshuang empat jam sebelumnya.
Pesan itu menyebutkan waktu setengah jam, tetapi Qin Xuan sama sekali tidak memedulikannya.
Kalau Yang Hanshuang sampai mengiriminya pesan seperti itu, tentu perempuan itu akan tetap memberitahunya kabar tentang Buah Tanpa Jiwa. Paling-paling dia hanya perlu sedikit merendahkan diri, meminta maaf kepada perempuan itu, lalu membujuknya.
Dalam hal membujuk wanita, Qin Xuan memiliki banyak cara.
Bagaimanapun, dahulu di Alam Abadi, dia tidak jarang meminta bantuan para peri untuk menyelesaikan berbagai urusan.