Bab 69: Rahasia Terbongkar
Saat Xu Yang meninggalkan Rumah Sakit Tradisional Tiongkok, hari sudah hampir petang. Ia sudah berada di sana hampir seharian penuh. Sebelum pergi, Xu Yang kembali menuliskan beberapa resep ramuan tambahan untuk gadis kecil itu.
Ramuan hangat dari kayu manis, jahe segar, akar manis, dan ginseng, ditambah beberapa bahan lain; juga ramuan dua bahan utama dengan tambahan daun loquat, jahe segar, dan beberapa bahan lain, masing-masing dua dosis.
Xu Yang juga sudah berpesan kepada pihak rumah sakit, jika terjadi perubahan pada kondisi pasien, kapan pun itu, segera hubungi dia lewat telepon; ia akan segera datang.
Begitu keluar dari rumah sakit, Xu Yang baru benar-benar merasa rileks. Namun, saat tubuhnya mengendur, rasa lelah dan lapar langsung menyerangnya dengan hebat.
Ia sudah seharian belum makan apa-apa.
Ketika sedang fokus mengobati pasien di rumah sakit, ia sama sekali tidak merasa lapar atau lelah karena pikirannya tegang. Namun kini, setelah tenang, rasa lapar itu pun terasa menyiksa.
Untungnya, rumah sakit tradisional itu terletak di kawasan kota lama, di mana sepanjang jalan dipenuhi toko-toko kecil. Xu Yang pun memilih sebuah kedai bubur dan memesan semangkuk bubur panas.
Bubur panas itu segera dihidangkan. Xu Yang langsung meneguk beberapa sendok. Rasa lapar dan tidak nyaman di perut pun langsung mereda, digantikan kehangatan yang menyebar di tubuhnya.
Bubur yang terbuat dari biji-bijian memiliki khasiat hangat, dapat memperkuat limpa dan lambung, serta menghangatkan tubuh dan mengusir dingin. Seringkali orang memperdebatkan, pagi hari lebih baik minum bubur atau susu.
Sebenarnya, tidak perlu diperdebatkan. Susu bersifat netral dan manis, sangat baik untuk menambah energi, melembabkan organ dalam, dan merupakan suplemen yang sangat bagus. Jadi, selama tubuh sehat, pagi hari minum apa pun yang disukai sama baiknya.
Tapi jika tubuh tidak sehat, misalnya mereka yang mudah diare karena kelemahan limpa dan lambung atau mereka yang memiliki banyak cairan dan lendir di tubuh, sebaiknya hindari susu. Sebab, susu memiliki efek melembabkan dan melancarkan pencernaan, yang justru bisa memperparah diare dan menambah lendir pada orang-orang seperti itu. Dalam kasus seperti ini, sebaiknya obati dulu penyakitnya, baru kemudian minum susu. Sedangkan bubur nasi justru bisa memberikan efek yang baik.
Bubur putih sendiri, hampir semua orang bisa meminumnya, kecuali penderita diabetes yang sebaiknya membatasi. Prinsipnya sama: obati dulu penyakitnya, baru konsumsi bubur.
Sebenarnya, perdebatan antara bubur putih dan susu bukanlah masalah tradisi atau modernitas, ini hanyalah soal kesehatan dan pemeliharaan tubuh.
Keduanya sama-sama bermanfaat. Susu sangat baik untuk memulihkan kelemahan dan kelelahan, bahkan bisa diminum dalam jangka waktu lama bagi yang membutuhkannya.
Namun, jika tubuh bermasalah, lebih baik obati dulu.
Dari sudut pandang pengobatan tradisional, pagi hari paling baik makan makanan yang hangat, mengusir dingin, dan memperkuat limpa serta lambung.
Banyak tabib tua memiliki kebiasaan makan beberapa irisan jahe yang direndam cuka di pagi hari, karena jahe memang berkhasiat menghangatkan perut dan mengusir dingin. Setelah direndam cuka, rasanya lebih nikmat dan manfaatnya saling melengkapi.
Limpa dan lambung adalah dasar kehidupan, sumber utama pembentukan energi dan darah. Keduanya harus dijaga dengan baik. Jika lemah, seribu macam penyakit mudah menyerang. Jangan tiru kebiasaan buruk Xu Yang yang suka melewatkan makan.
Tentu saja, ada juga orang tua yang khawatir anak-anaknya hanya makan bubur dan takut nutrisinya kurang.
Ah.
Xu Yang kembali meneguk bubur, lalu berseru pada pemilik kedai, "Bos, teh telur dan pangsit goreng pesananku sudah siap belum?"
Masa cuma kasih anakmu bubur doang? Kamu orang tua tiri apa?
…
Xu Yang kembali ke Balai Kesehatan Jantung saat hari sudah senja, hampir waktunya pulang.
"Kamu ke mana saja? Bukannya cuma izin setengah hari?" wajah Zhang Ke tampak tak senang.
Xu Yang agak canggung. "Ada urusan lain yang harus ditangani."
"Sudah selesai semua?" tanya Zhang Ke.
"Sudah, tidak ada masalah," jawab Xu Yang.
"Baguslah," angguk Zhang Ke. Ia lalu mencibir, "Hari ini semua pasien datang sia-sia, aku suruh mereka pulang. Duh, uangku!"
Xu Yang merasa tidak enak, memang sudah mengganggu usaha klinik.
Sementara itu, Song Qiang hanya bisa memijat pinggang tuanya dengan wajah sedih.
Tanpa Xu Yang, tidak ada yang bisa mengobati pasien di klinik ini, karena hanya dia yang punya keahlian. Tapi Zhang Ke juga tidak benar-benar libur sehari penuh. Ia memberitahu para pasien, sebagai permintaan maaf, semua layanan perawatan hari ini diskon dua puluh persen.
Song Qiang pun jadi korban.
Seharian, pijat, akupresur, moksibusi, bekam, semuanya dikerjakan Song Qiang sampai kelelahan.
Zhang Ke bahkan memaksa Song Qiang memasang pengumuman di media sosial, memberitahu semua orang tentang diskon hari ini. Song Qiang memang punya sejumlah pelanggan tetap. Melihat ada diskon besar, semuanya datang.
Memang benar Xu Yang tidak ada, tidak ada yang mengobati penyakit, tapi uang tetap mengalir.
Andai dua minggu lalu, Song Qiang pasti sudah marah dan mogok kerja. Tapi sekarang ia tidak berani, zaman sudah berubah! Ia malah khawatir akan dipecat.
Zhang Ke menghela napas, menenangkan Xu Yang, "Sudah, tidak apa-apa, jangan dipikirkan. Meski sekarang klinik memang sepi dan penghasilan berkurang, urusanmu pasti lebih penting dari klinik. Tidak masalah, asal beri kabar dulu saja."
Song Qiang memutar bola matanya, mana ada kurang pemasukan?
Xu Yang merasa terharu mendengarnya.
Song Qiang yang masih memijit pinggang, buru-buru menambahkan, "Itu... sebaiknya tetap jangan sering izin. Kalau mau izin, bilang dulu ke aku ya."
"Kamu mau apa?" Zhang Ke tersenyum manis menatap Song Qiang, matanya berkilat tajam.
Song Qiang menelan ludah, memaksakan senyum, "Biar aku bisa gantiin jaga Xu Yang."
"Aku sangat terharu," senyum Zhang Ke sampai matanya hampir tak terlihat.
Xu Yang hanya bisa melongo tak mengerti.
"Dokter Xu." Terdengar suara pelan dari pintu.
Mereka semua menoleh.
Zhang Ke hampir pingsan di tempat.
Astaga, itu si Gurita Kecil!
Xu Yang juga terkejut, kenapa dia datang? Lalu ia menoleh ke Zhang Ke, apa benar dia sudah bereskan masalahnya?
Gurita Kecil masuk, alisnya berkerut, wajahnya tegang. Ia berjalan mendekat dengan kepala tertunduk, berdiri di hadapan Xu Yang. Tubuhnya mungil, pendek, tampak cukup menggemaskan.
Wajah Zhang Ke hampir berubah hijau.
"Ada apa?" tanya Xu Yang.
Gurita Kecil menunduk, kedua tangannya terkepal erat. Ia berkata, "Meski aku tidak terlalu paham, dan aku bisa mengerti serta menerima orang-orang seperti kalian.
"Walaupun aku biasanya sering bergosip tentang pasangan cowok artis, tapi... tapi... mereka semua cakep-cakep! Dua cowok cakep bersama, tetap saja kelihatan bagus, kan!"
"Dokter Xu, kamu secakep ini, meski punya pikiran seperti itu, kenapa malah pilih pria paruh baya? Bukankah kamu bilang sangat benci dia?"
Gurita Kecil menghela napas, tampak kecewa, "Sudahlah, mungkin inilah yang namanya cinta sejati!"
Xu Yang benar-benar bingung, "Apa maksudmu?"
Zhang Ke hampir benar-benar pingsan kali ini.
Gurita Kecil berseru keras, "Aku sudah lihat semuanya, masih mau ngelak!"
"Meski aku tidak senang, tapi tetap saja aku doakan kalian bahagia." Gurita Kecil mengangkat kepala, menunjuk Song Qiang dan berkata keras, "Kamu juga harus baik pada Dokter Xu, jangan sakiti dia."
"Hah?" Song Qiang juga kebingungan.
"Aku pergi." Gurita Kecil pun lari keluar dengan wajah kecewa.
"Apa maksudnya?" Song Qiang melongo.
"Zhang! Ke!" Xu Yang menoleh dengan marah, tapi tidak menemukan orangnya. Wanita itu sudah kabur!