Bab 1
Akun Ubi Kecil milik X adalah sesuatu yang direkomendasikan oleh pelatih kebugaranku, berharap aku menjadikannya sebagai panutan agar tahu malu lalu bangkit. Waktu itu senja yang biasa saja, aku pun seorang pekerja kantoran biasa, masih seperti biasanya menaklukkan medan perang di Excel, sementara di Outlook aku justru babak belur.
Terdengar bunyi “ting”, singkat dan ringan, ponsel di atas meja sedikit bergetar. Saat itu aku sama sekali tidak menyadari bahwa notifikasi itu akan mengubah sistem hormon di separuh hidupku yang tersisa. Seperti biasa, aku kesal mengambil ponsel, entah nasib apalagi yang akan menimpaku hari ini.
Untungnya, yang muncul bukanlah kabar buruk dari kantor, tetapi pesan dari pelatih kebugaranku yang sudah lama tak kutemui: “Mbak, malam ini mau latihan nggak? Aku tahu kamu sibuk, jadi aku sisakan slot sebelum tutup, jam setengah sebelas, mau datang nggak?”
Tanganku yang sering pegal karena mouse bergetar ringan di udara, bahkan mengetik pun sudah lemas: “Nggak bisa, lembur.”
Pelatih sudah sering kutolak, mungkin karena terlalu sering dibohongi murid, jadi dia curiga secara profesional: “Lembur lagi? Mbak, jujur deh, kamu beneran nggak bohongin aku kan?”
“Ngapain aku mengutuk diri sendiri begitu?”
Kusertakan stiker menangis histeris, benar-benar mewakili perasaanku yang paling jujur saat itu.
Pelatih diam dua menit, lalu mengirimkan foto yang berisi daftar tekad luar biasa—dan agak berlebihan—yang kutulis saat mendaftar keanggotaan gym. Aku memang tipe yang susah gemuk, kalau mau pamer sedikit, kategori putih-lansing-muda pada diriku setidaknya terpenuhi dua. Namun aku justru selalu mendambakan kulit sawo matang dengan tubuh kencang dan atletis.
Aku ingat aku juga menempelkan foto seorang influencer fitness perempuan dari Barat di bagian bawah rencanaku. Kesan kekuatan dari otot-ototnya membuatku sangat terpesona; dulu aku pernah berkata di gym, “Kalau belum seperti ini, aku tidak akan berhenti.”
Sekarang, dengan dua lingkaran hitam di bawah mata, kutatap lagi foto itu. Ya, benar, aku yang sekarang mungkin sekali pukul langsung KO tiga diriku yang setengah sehat.
Ponsel kembali berdering cepat, aku buru-buru matikan suara. Ternyata pelatih mengirimkan beberapa tautan profil Ubi Kecil sambil berkata, “Kalau ada waktu, sering-sering lihat, biar semangat.”
Sekilas kulihat, semuanya influencer fitness, pria dan wanita, tubuh mereka mengundang air mata iri walau hanya lewat layar.
Pelatih kembali mengirim pesan:
“Oh ya, aku baru nemu yang baru, ini lebih bagus, benar-benar panutan.”
Ponsel masih di tangan kiriku, getarannya menjalar dari telapak ke jantung. Kutengok ke bawah.
[Tautan] Bagikan profil pribadi @X
Benar-benar akun pemula, baru punya lima pengikut. Belum sempat melihat lebih banyak, di lorong sudah ada rekan kerja memanggilku.
“Eh! Iya, datang!”
Sambil menoleh sambil membalas panggilan, aku otomatis mem-follow X lalu meletakkan ponsel.
Saat aku kembali mengangkat kepala dari pekerjaan, para influencer fitness lain sudah kulupakan. Begitulah, aku jadi pengikut keenam X.
Setelah itu, akun X (atau siapa pun dia) tak menunjukkan eksistensi selama seminggu di daftar ikutan-ku. Aku masuk proyek baru, super sibuk, sebelum masuk kerja kukira bakal jadi wanita karier glamor, ternyata malah jadi buruh angkut tanpa siang-malam.
Seminggu dihajar perjalanan dinas yang bikin lupa diri, aku pulang dengan lemas, memeluk tas di kursi belakang taksi, bosan lalu iseng membuka Ubi Kecil yang sudah lama tak kusentuh. Di urutan atas halaman ikutan, muncul update dari X.
Padahal baru seminggu, pengikut X sudah ratusan.
Aku cukup terkejut melihat lajunya, apalagi untuk seseorang yang tidak membahas isu viral, tak pernah bikin video, bahkan wajahnya pun tak tampak.
Rasa penasaran membuatku mengunjungi profilnya. X tampaknya tidak berniat jadi influencer fitness profesional, hanya akun khusus untuk dokumentasi latihan. Isinya cukup sederhana, catatan jumlah set setiap gerakan, berat beban, dan menu makan harian.
Dari pengetahuanku soal fitness selama sekolah dulu, desain gerakan dan menunya cukup profesional. Jika ada yang ingin serius berlatih, profilnya bisa jadi buku panduan. Disiplin sekali, pantas cepat bertambah pengikut.
Melihat mie soba bayam daging sapi yang baru diposting X, aku pun berhenti mengaduk hotpot pesananku, agak malu sendiri.
Sejak masuk proyek, tekanan kerja begitu berat. Jika harus makan menu fitness lagi, aku takut stres. Kekurangan tidur harus kutebus dengan makanan tinggi lemak dan karbohidrat, sumber segala dosa.
Sejak hari itu, kadang-kadang aku rutin mampir ke profil X. Kalau tak bisa mengubah diri, setidaknya dapat hiburan dari kemajuan hidup orang lain. Aku selalu cek apa yang X makan hari itu, makanan yang bahkan dilihat saja sudah bikin selera makan turun, baru setelah itu aku lahap makananku sendiri sambil sedikit merasa malu.
Harusnya semua berjalan datar begitu saja, sampai suatu malam, aku sedang bermimpi indah pelampiasan, tiba-tiba dibangunkan telepon maut dari manajer.
“Kamu ada?”
Saking ngantuknya aku hampir tak sadar, tapi suara langsung tegas seperti baru mencelup diri di laut Antartika, “Iya, Bu, saya di sini.”
Dari saluran telepon, suara manajer begitu mantap, kubayangkan di baliknya juga ada jiwa pekerja yang nyaris patah.
Dia berkata, “Laporanmu sudah dibaca bos, sudah aku teruskan. Tolong revisi sesuai review, aku lembur semalaman, kalau selesai langsung kirim ke aku.”
Pukul satu lewat empat puluh lima dini hari, dengan mata setengah tertutup, aku tarik laptop dari meja samping ranjang, jiwa ingin mati tapi tampang tetap tangguh, “Siap, Bu.”
“Besok jam setengah sebelas booking ruang meeting, yang besar ya.”
“Siap, Bu.”
Begitu telepon kututup, jari-jariku langsung menari di keyboard, mungkin karena lampu kamar tak dinyalakan, aku menatap cahaya biru layar, seperti pensiunan dengan mata rabun.
Angka-angka kecil berjejal seperti pasukan semut, aku panik, napas memburu, sadar tak bisa begini terus, perlu adrenalin kalau tidak mau mati muda.
Aku raih ponsel, buka profil X, hanya untuk mengingatkan diri bahwa masih ada orang di dunia ini yang hidup sehat, cerah, dan positif.
Sekilas, jumlah pengikutnya melonjak lagi, dalam setengah hari tembus delapan ratus lebih. Bahkan saat aku salah pencet keluar lalu masuk lagi dalam dua detik, angkanya bertambah dua.
Ada apa ini? Siapa lagi yang menemukan permata tersembunyi ini?
Rasa ingin tahu yang menumpuk bikin aku merasa seolah-olah harta karunku akhirnya diakui orang, agak senang untuk X, meski sulit dipungkiri, ada juga sedikit kecewa.
Tak masalah, aku masih waras, langsung menata perasaan, lalu mulai mencari tahu.
Tak susah menebak rahasianya, sekilas saja, profil X sama seperti biasanya.
Satu-satunya keanehan, sekitar empat jam lalu, dia—ya, akhirnya aku yakin, “dia” laki-laki—memposting update baru.
Judulnya sederhana, “Catatan Latihan Malam 17 Maret.”
Isinya tetap catatan latihan: pemanasan jogging lima belas menit, hari ini latihan punggung, fokus pada mesin rowing.
Semua itu sudah sangat familiar. Bedanya, kali ini dia mengunggah satu foto selesai latihan.
Cahaya kuning temaram menyorot ke jendela kaca besar, kaos olahraga hitam pas badan tanpa berlebihan, dari merek favoritku. Bahu dan punggung yang sedikit memerah terlihat di balik kerah, urat-urat lengan yang menonjol dari bahu ke bawah memberikan kesan kekuatan yang membuat adrenalin melonjak.
Wajahnya tetap tak nampak, dan jujur saja, komposisi serta sudut fotonya sangat tipikal pria.
Meski begitu, hanya dengan satu foto ini, aku menahan napas di depan layar, tanpa sadar sudut bibirku naik sampai ke pelipis.
Jari-jariku menggeser ke kanan dengan gembira. Biasanya setelah itu, pasti ada foto garis perut indah. Banyak pegiat fitness yang suka memamerkan hasil kerja kerasnya dari segala sudut, agar keringat dan anugerah Tuhan tak sia-sia.
Tapi… tidak ada.
Hanya satu itu.
Benar-benar cuma catatan latihan.
Habis?
Bagaimana bisa hanya sampai situ?!
Tak mau menyerah, aku semangat membaca komentar, berharap menemukan jejak X, tapi nihil. Jika biasanya komentar soal latihan hanya sedikit, kali ini isinya seragam, semua bercanda:
“hai, di sana? Boleh lihat perutnya?”
Aku langsung tertawa, benar-benar paham perasaan para cewek (dan cowok) di kolom komentar, kecewa tapi juga tak sabar.
Sambil tertawa, kucampakkan ponsel ke kasur, si penyebab badai itu pun terkubur dalam selimut, tapi efeknya masih terasa, membuat kulit kepala merinding.
Aneh sekali, hanya setengah bayangan punggung saja, sudah membuatku merasakan detak jantung yang sudah lama hilang, meski suara “dug-dug-dug” di tengah malam membuatku takut mati mendadak.
Tapi tak apa, sebagai perempuan dewasa lajang, kadang-kadang menanggung sedikit risiko demi bahan mimpi bisa dimaklumi.
Baiklah, aku akui, aku memang tergoda oleh rupa, tapi kenapa tidak? Mengagumi dan mendambakan keindahan adalah hal wajar. Aku suka melihat foto-foto pria dan wanita cantik di internet: otot deltoid menonjol, garis perut kencang, betis berotot—semua pancaran sehat dan percaya diri itu sangat membangkitkan semangat bagiku yang mentalnya makin rapuh.
Hanya saja, sejauh ini aku hanya sebatas memberi like, belum pernah benar-benar ingin iseng komen. Kali ini, aku ambil ponsel lagi, jari-jari ragu di atas keyboard, menimbang apakah ini terlalu genit.
Tapi, siapa peduli, yang berani lebih dulu yang menikmati dunia.
Di antara komentar-komentar kocak itu, aku langsung mengirim pesan privat padanya—
“hai, di sana? Boleh lihat perutnya?”