Bab 2
Tidak terlalu mengejutkan, upayaku untuk menarik perhatian bagai batu tenggelam di laut. Namun sebenarnya aku juga tak berharap lebih. Setelah meletakkan ponsel, aku kembali tenggelam dalam pekerjaan, dan jelang fajar aku mengirimkan email, lalu tubuhku ambruk ke kasur seperti kehilangan tenaga.
Aku bermimpi aneh, penuh dengan hal-hal berbau kuning yang tak pantas diceritakan secara rinci. Aku khawatir tak lolos sensor. Ingatan terakhir dan paling membekas adalah ketika kedua kakiku bertengger di atas otot punggung, pergelangan kakiku digenggam oleh tangan dengan urat yang menonjol, wajah di baliknya tak terlihat jelas, dan di belakangnya ada cermin besar menempel di lantai. Aku berusaha melirik dari samping tubuhnya, garis bahu dan lengannya tampak jelas dan utuh tertangkap mataku.
Aku puas sekali.
Berkat X, ketika alarm berbunyi, aku sama sekali tidak merasa lelah akibat begadang dan kerja lembur. Sebaliknya, tubuhku terasa segar dan penuh energi, seperti terlahir kembali.
Sambil mengusap rambut, aku masuk ke kamar mandi. Begitu menaruh pasta gigi di sikat gigi elektrik, aku merasakan sesuatu yang dingin di bawah sana, membuatku teringat sesuatu. Dengan perasaan campur aduk, aku memeriksa dan benar saja, aku datang bulan.
Setelah enam bulan absen, akhirnya menstruasiku datang juga. Rasanya seperti hidup kembali dari kematian, sungguh bahagia tak terduga.
Dokter pernah bilang aku kekurangan hormon estrogen, menyarankan agar aku mencoba pacaran. Aku menolak dengan tegas, jadi dokter menyarankan alternatif: menonton drama romantis, main gim otome, atau setidaknya mengidolakan artis pria tampan. Aku sudah coba satu per satu, tapi aku terlalu sibuk. Menghabiskan waktu tiga puluh atau empat puluh menit untuk itu rasanya terlalu mewah bagiku.
Akhirnya, mimpi-mimpi malamku jadi pelarian paling praktis. Tidur toh pasti dilakukan, sekalian saja bermimpi.
Dalam semalam, perasaanku pada X berubah dari sekadar hormat sepihak menjadi suka yang berbunga-bunga. Aku mulai terbiasa membuka profilnya setiap ada waktu luang, meski hanya sebentar.
Karena aturan pesan pribadi di aplikasi Ubi Kecil, selama X belum mem-follow atau membalas pesanku, aku hanya bisa mengirim satu pesan teks kepadanya dalam 24 jam. Jadi, serangan pesanku tidak sesering aku memikirkannya. Kalau ingat sebelum tidur, aku salin-tempel saja pesan, “hai, ada di sana? Tunjukin perut berototnya dong.” Kalau lupa, ya sudah.
Tak masalah. Aku yakin pesanku hanya akan tenggelam di lautan pesan pribadi yang diterima X.
X yang mendadak naik daun tidak menanggapi semua pujian, juga tak membalas sindiran-sindiran penuh iri. Aku menduga, dia diam-diam bangga pada tubuhnya yang jadi bahan pembicaraan, jadi ia tetap tenang dan setiap kali posting selalu sertakan foto latihan.
Setiap kali, ia selalu berpakaian rapi tanpa kesan menggoda. Berbeda dengan influencer lain yang suka buka-bukaan atau berpose aneh, X justru tak menimbulkan kesan ‘minyak’ berlebihan, malah memancarkan pesona lelaki yang segar dan sulit ditutupi.
Tentu saja, bisa saja X memang tipe yang lebih fokus pada diri sendiri daripada haus pengakuan sosial. Ia sekadar tenang mencatat latihan fisiknya, tanpa terganggu hal lain.
Kondisi itu bertahan beberapa waktu, sampai suatu malam di rapat lembur, aku menelungkup di atas meja. Untuk menutupi otakku yang sudah mati suri dan belum sempat hidup lagi, aku mulai bercanda, “Aku kena pukulan berat.”
Sudah lewat tengah malam, rekan-rekan juga lelah, tapi tetap menyempatkan tersenyum, “Kenapa?”
Aku pura-pura sedih, “Aku mau lihat perut six-pack cowok ganteng di Ubi Kecil, tapi diabaikan.”
Senyum mereka langsung jadi tulus, diskusi pun makin seru, “Hebat juga kamu! Berani banget!”
“Eh, kamu ngomong apa ke dia?”
Aku tertawa mengakui, “Aku bilang, ‘hai, ada di sana? Tunjukin perut berototnya dong.’”
Hampir semua orang tertawa terbahak-bahak, “Pakai cara begitu, mana mungkin dia mau?”
Ada juga yang memberi saran konyol, “Kenapa nggak tawarin tukeran foto aja? Kamu kan cakep, kalau ditolak berarti dia suka cowok.”
Aku mengangguk sambil mengangkat bahu, lalu pura-pura mengeluh, “Iya benar, biar dia lihat dulu lingkaran hitam di bawah mataku, terus aku tunjukin pembuluh darah merah, pasti dia langsung bingung, aku tinggal angkat baju, liat perutnya, kabur deh.”
Suasana jadi cair, semua tertawa, udara pengap di ruang rapat pun jadi segar. Sampai ada rekan perempuan mendekat, “Akun yang mana? Aku mau lihat, nanti mau follow juga.”
Tanganku sudah menyentuh saku kardigan, belum sempat mengeluarkan ponsel, tiba-tiba aku tersadar: akun Ubi Kecil milikku tidak pernah follow siapa pun yang kukenal di dunia nyata.
Nomor yang kupakai daftar pun bukan nomor utama, melainkan nomor bonus dari paket internet yang tak pernah kupakai untuk apa pun, supaya tidak direkomendasikan algoritma ke kontak teleponku.
Aku urungkan niat mengeluarkan ponsel, lalu mengalihkan pembicaraan ke urusan pekerjaan.
Bukan salahku, aku hanya ingin punya ruang bebas untuk berbuat sesuka hati di dunia maya.
Saat itu juga, aku sadar, akun anonim yang sepenuhnya terpisah dari dunia nyata justru sangat cocok untuk berkomentar seenaknya di internet.
Setelah memikirkan itu, aku langsung berubah seperti babi hutan lepas kendali, melompat-lompat di kolom komentar X bagai di ladang semangka.
Saat X posting latihan kardio, aku komentar:
“hai, temanku kepo banget pengen liat perut sixpack.”
Saat X unggah foto latihan punggung, aku komentar:
“Tenang saja, aku cuma cewek polos yang ingin lihat perut berotot.”
Begitu X selesai latihan dada, aku kirim:
“Kamu baru ya? Kok aku belum pernah lihat sebelumnya, tunjukin perut sixpack dong.”
Kusertakan juga stiker wajah paman tua tersenyum.
Jujur saja, saat menulis komentar itu, aku sendiri merasa geli, tapi ternyata stiker konyolku tenggelam di antara komentar seru para perempuan dan laki-laki, jadi aku malah terkesan kalem.
Hari ini aku pulang kerja lebih awal, sempat naik kereta bawah tanah terakhir. Dengan perasaan senang, aku memilih kursi kosong, mengambil ponsel, dan kebetulan aplikasi Ubi Kecil memunculkan notifikasi.
Oh, hari ini X latihan kaki.
Mungkin karena dia tak pernah berlebihan berlatih, otot dan definisinya pas, justru memancarkan semangat muda yang menggelora.
Bisa kubayangkan betapa kacau dan penuh pesannya hari ini. Dengan santai aku mulai mengirim pesan:
“hai, lelaki penolong, ada di sana? Aku mau bilang sesuatu, entah pantas atau tidak, pokoknya harus kukatakan.”
X: “……”
Aku terdiam sejenak, mengira mataku sudah salah lihat karena terlalu sering lembur. Aku mengucek mata, menatap layar lagi, dan benar saja, bulatan hijau di bawah avatarnya menyala seperti lampu lalu lintas tanda jalan.
Enam titik itu maksudnya apa? Bingung? Menyerah? Sudah tak bisa diselamatkan?
Ah, siapa peduli, ini kan dunia maya, toh tak ada yang saling kenal, yang penting aku senang.
Aku sengaja menurunkan standar moral, jemariku lincah mengetik: “Karena kamu tidak melarang, aku lanjut ya?”
Padahal bilang tidak peduli, tetap saja ada deg-degan. Beberapa menit menunggu di layar pesan pribadi tak ada balasan, aku setengah kecewa, setengah maklum, keluar dari aplikasi. Tiba-tiba “ding”, notifikasi muncul di atas layar, membuat jantungku berdegup kencang.
Aku menahan napas, membuka kotak percakapan. Anehnya, meski belum pernah mendengar suara X, aku seolah bisa membayangkan nada pasrah bercampur geli dari kalimat singkatnya.
“Mau lihat perut sixpack lagi ya?”
tanya X.