Bab Dua Puluh Sembilan: Pembawa Masalah?
Setelah Rest selesai berbicara, ia pun berbalik menghadap Lorin dan mendapati pemuda itu sudah melongo seperti orang linglung. Rest hanya tersenyum tipis dan berkata, “Tuan Count, apa yang saya katakan benar, bukan?”
Lorin baru sadar setelah beberapa lama. Dalam hati ia diam-diam kagum—mata tua itu memang tajam luar biasa. Hanya dengan meneliti lokasi kejadian dan sedikit perhitungan, ia sudah bisa menebak begitu banyak hal.
Kalau saja tidak ada kebodohan Vera, dan peran dirinya yang tak tergantikan dalam peristiwa itu, beginilah seharusnya kejadian yang masuk akal.
Bagaimanapun juga… Ia melirik Vera yang wajahnya tampak begitu polos dan menggemaskan, lalu dalam hati berkata dengan nada nakal: Bagaimanapun juga, siapa yang berani menjalin kasih dengan seekor naga, sejak zaman dahulu hingga sekarang memang tidak ada banyak orang. Sekalipun mereka sangat cerdas dan teliti, tetap saja takkan terpikir ke arah itu.
Ia menelan ludah dengan kaku, lalu bertanya dengan hati-hati, “Kalau Anda sudah tahu semua, mengapa masih repot-repot bertanya pada saya?”
Rest tersenyum pahit, “Banyak hal juga saya simpulkan dari cerita Anda. Bagaimanapun, Anda yang mengalaminya langsung. Tanpa konfirmasi dari Anda, sehebat apa pun detail dan deskripsinya, semua itu tetap hanya sebuah kisah.”
Lorin mengangguk pelan, hatinya pun tenang. Tampaknya wesel yang mereka berikan tidak akan ditarik kembali. Uang itu bisa ia nikmati dengan tenang.
Rest berpikir sejenak, lalu mulai menanyakan detail-detail padanya.
Misalnya, seberapa panjang naga kecil itu, seberapa besar naga dewasa, jenis sihir apa yang mereka pakai, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melancarkan sihir, berapa lama waktu yang dipakai penyihir mayat hidup memanggil kerangka, seberapa parah kerusakan wadah jiwa setelah dihancurkan, dan hal-hal detail lainnya.
Lorin pun tidak menyembunyikan apa-apa. Selama ia tahu, semua dijawab dengan rinci. Yang tidak tahu, ia jujur mengaku.
Walau bukan hal yang sulit, tapi tetap saja merepotkan. Ketika Rest selesai bertanya, para penyihir di sisi sudah mencatat setumpuk dokumen tebal.
Vera berdiri di samping, melihat para penyihir membagi dokumen itu ke dalam beberapa kategori, lalu menyimpannya dengan hati-hati. Ia penasaran, ingin bertanya, tapi juga takut, tidak tahu harus mulai dari mana. Ia hanya bisa menatap Rest dengan mata bulat nan jernih, tanpa berkedip.
Melihat tingkahnya, Rest seolah tahu apa yang ia pikirkan, dan menjelaskan, “Setelah diteliti, semua ini akan disimpulkan menjadi pengetahuan baru, lalu dikirimkan ke asosiasi sihir di seluruh negeri, dan disimpan di perpustakaan. Sebagai bahan referensi di masa depan.”
Vera berkedip, tapi tetap saja kebingungan.
Rest tertawa kecil, “Pengetahuan adalah kekuatan.
Manusia tidak seperti naga yang hidup ratusan tahun, tapi bisa bertahan sebagai penguasa dunia karena kami mewarisi pengetahuan dan pengalaman dari generasi ke generasi. Kekuatan manusia berasal dari warisan para pendahulu, sehingga kita bisa terus belajar.
Dan pengetahuan itu, dikumpulkan setahap demi setahap dari catatan-catatan kecil seperti ini.
Kebanggaan terbesar serikat penyihir bukanlah jumlah magus atau mantra penghancur dunia yang mereka miliki, melainkan perpustakaan luas dan koleksi dokumen yang tiada tara.
Perpustakaan Agung Bodores, Perpustakaan Suci Vatino, dan Perpustakaan Daun Merah Danlin—tiga perpustakaan besar yang mewakili sihir, keagamaan, dan dunia sekuler, bersama-sama membangun peradaban manusia. Selama mereka ada, peradaban manusia takkan punah.”
“Oh begitu, aku mengerti,” jawab Vera, setengah paham setengah bingung.
“Ehem, hari sudah sore, semua pasti lelah. Tolong jangan menolak, makanlah di sini lalu istirahat semalam, biar aku bisa menjamu kalian dengan baik,” Lorin buru-buru maju dan mengalihkan pembicaraan. Dalam hati ia menggerutu, Ngomongin peradaban manusia ke naga, betul-betul otaknya miring.
Rest sempat tertegun, melirik ke luar jendela, dan mendapati matahari sudah condong ke barat. Ia pun mengangguk menerima tawaran itu dengan ramah.
Lorin yang sedang girang karena wesel, menyiapkan tempat istirahat untuk semua orang, lalu meminta pelayan menata jamuan makan malam yang mewah. Ia pun menggulung lengan baju, berniat turun tangan sendiri di dapur.
Demi membuat para “penduduk desa” yang belum pernah melihat keagungan peradaban Tiongkok itu terkagum-kagum, ia sengaja memilih menu seperti daging merah kecap dan hidangan besar lainnya yang cocok dengan selera Barat.
Saat ia sibuk di dapur, tiba-tiba terdengar ledakan keras dari luar. Suara jeritan dan teriakan pun menyusul bersahutan.
Lorin kaget, tanpa pikir panjang, ia langsung berlari keluar sambil membawa spatula, heran dalam hati, Di sini sudah ada penyihir agung macam itu, siapa yang berani cari gara-gara?
Sampai di luar, ia melihat debu kuning membumbung tinggi di tengah alun-alun, membuat segalanya tak tampak jelas.
Orang-orang lain yang mendengar suara pun berlarian ke alun-alun, sama bingungnya, tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Penyihir tua yang biasanya rapi, kini keluar terburu-buru tanpa topi sihir, berteriak, “Ada apa ini? Siapa yang berani melempar granat petir di dalam kastil? Tidak tahu kalau itu berbahaya? Bagaimana kalau ada yang terluka?”
Semua orang saling berpandangan.
Saat itu, dari balik debu yang masih bergulung, tampaklah sesosok mungil berjalan keluar perlahan.
Ia tampak lusuh penuh debu, rambutnya awut-awutan, pakaiannya kotor, benar-benar tampak menyedihkan.
Lorin mengangkat spatula dan membentak, “Makhluk apa pula ini? Berani-beraninya membuat keributan di sini, tidak tahu ada Master Rest di sini?”
Gadis itu melihat Lorin, matanya langsung berkaca-kaca, nyaris menangis, “Tuan muda~! Maafkan aku. Aku… aku membuat masalah lagi.”
Lorin merasa suara itu familiar. Setelah diperhatikan, ternyata itu pelayan perempuan baru yang ia pekerjakan. Wajah cantiknya kini belepotan debu, air mata mengalir membentuk garis-garis putih di pipi hitamnya—benar-benar pemandangan yang luar biasa.
Melihat wajahnya yang memelas, Lorin langsung merasa tidak enak, “Kali ini kau buat masalah apa lagi?”
Vera mengusap hidungnya, terisak sebentar, lalu berkata, “Aku… aku tidak sengaja, membuat penggilingan tepung meledak.”
“Tidak sengaja… penggilingan tepung meledak…” Lorin langsung pusing, tubuhnya limbung, nyaris jatuh terduduk.
Melihat bengkel pandai besi dan penggilingan tepung, dua sumber utama pendapatan bangsawan, hancur di tangan gadis bodoh itu, ia pun sadar: orang tua Vera benar-benar sengaja membuang pembawa masalah ini ke sini.
Padahal dulu ia kira mendapat untung, ternyata malah seperti masuk perangkap… eh, lebih parah dari itu, seperti menaruh uang di dana penipu kelas kakap, yang kerugiannya tanpa batas dan harus diganti sampai habis.
Mengingat itu, Lorin mengacung-acungkan spatula dan bergegas mendekat, berniat menghajar biang kerok itu.
Vera langsung ketakutan, menunduk dan memeluk kepalanya di tanah, berseru, “Aku tidak akan mengulanginya lagi! Aku tidak akan mengulanginya lagi…”
Lorin melihat wajahnya yang memelas, mengangkat spatula beberapa kali, tapi akhirnya tak tega memukulkannya.
Saat mereka masih ribut, tiba-tiba dari balik debu muncul lagi sosok wanita anggun.
Melihat keadaan itu, alisnya menegang, ia berkata dingin, “Berhenti! Ini bukan salah dia. Kalau berani, hadapilah aku.”
Lorin menoleh dan mengenali sepupunya yang hubungannya sangat jauh, Lorinna.
Matanya berputar, lalu ia langsung mendapat ide licik. Ia menuding spatula ke arah Lorinna dan berteriak, “Oh, pantas saja Vera yang begitu polos, cerdas, manis, dan menawan, bisa berubah begini. Rupanya semua karena bergaul denganmu! Sekarang, bagaimana kau mau mengganti rugi?”
Vera mendengar pujian Lorin yang begitu berlebihan, langsung terharu sampai matanya berlinang, “Tuan muda…”
Padahal ia tak tahu, tuan mudanya itu sudah berniat menimpakan semua kesalahan pada wanita di seberangnya, demi mengurangi kerugian.
Lorinna yang sepertinya bisa membaca niat Lorin, hanya melempar tatapan sinis, lalu berjalan ke samping Rest dan berbisik pelan di telinganya.
Rest mendengar bisikan itu, tubuhnya langsung menegang, mata berkilat-kilat.
Ia segera melangkah maju, matanya menyipit, menatap Vera dari atas sampai bawah dengan penuh perhatian.
“Tuan muda, tuan muda…” Vera ketakutan, terus bersembunyi di belakang Lorin.
Lorin mengernyit dan melindungi Vera, berkata, “Apa maumu? Berani main-main dengan pelayanku, jangan pikir kau penyihir hebat, aku juga bisa menghajarmu pakai batu bata!”
Para penyihir lain langsung berseru marah, hendak maju.
Rest mengangkat tangan, menahan mereka.
Ia tak memperdulikan kata-kata kasar Lorin, malah tersenyum ramah, “Tuan Lorin, jangan salah paham. Aku hanya ingin dia mengikuti sebuah tes kecil, hanya tes sederhana saja.”