Bab Tiga Puluh Delapan: Hak Cipta! Hak Cipta!!
Ketika Rowina mengucapkan kata-kata itu, dada Lorin langsung terasa sesak. Ia teringat banyak rahasia yang bahkan dirinya sendiri sudah hampir melupakannya. Mulai dari masa lalu, sebelum ia datang ke dunia ini, majalah-majalah yang ia sembunyikan di bawah bantal, uang yang ia titipkan di dalam sepatu olahraga. Sampai setelah ia menyeberang ke dunia ini, menipu rakyat kecil dengan dalih menggalang dana amal, padahal niatnya menilap uang itu untuk dirinya sendiri...
Dengan susah payah ia menelan ludah, hendak membuka suara. Namun, Rowina sudah tersenyum sambil mengangkat naskah di tangannya dan berkata, "Semua ini tulisanmu, bukan? Sungguh tak kusangka, meski tampangmu penuh tipu muslihat, ternyata kau cukup berbakat. Siapa sangka kau bisa menulis karya sebagus ini~!"
Barulah Lorin menyadari bahwa yang ada di tangan Rowina adalah naskah-naskah drama yang dulu ia tulis saat benar-benar kehabisan uang. Ia sempat ingin mengirimkannya ke Ibu Kota, mencari grup opera ternama demi menukar sedikit uang. Hanya saja, karena terlalu sibuk, ia pun lupa.
Menyadari hal itu, ia pun menghela napas lega, berkata, "Oh, jadi maksudmu yang ini?"
Rowina mengernyitkan dahi. "Kalau bukan ini, menurutmu aku bicara soal apa?"
"Haha, tidak apa-apa," Lorin buru-buru tertawa kering, lalu berkata, "Sebenarnya ini semua bukan tulisanku, tapi karya seorang bernama William Syahbir. Aku hanya menyalinnya saja."
Rowina menaikkan alisnya, bergumam, "William Syahbir? Nama yang aneh. Kenapa aku tak pernah dengar? Kalau dia memang sekreatif itu dan bisa menulis karya sehebat ini, pastilah namanya sudah terkenal. Tak mungkin harus kau, seorang bangsawan kere, yang menyalinnya, kan?"
Lorin mengangkat bahu tanpa daya, "Baiklah, baiklah. Kalau kau memaksa, aku akui saja, semua ini memang tulisanku.
Sebenarnya aku bukan hanya pahlawan penyelamat dunia, aku juga penulis drama berbakat yang belum terkenal. William Syahbir itu nama penaku. Bukan cuma itu, bahkan Mozart, Chopin, Da Vinci, dan para kusir kereta yang namanya susah diingat itu, semuanya juga nama samaran yang kupakai untuk menutupi jati diriku."
Di dalam hati, ia tanpa malu berpikir: Lagipula, hak cipta juga sudah lama kadaluarsa. Kalaupun belum, mana mungkin mereka bisa menuntutku? Apa pengadilan akan mengirimkan surat panggilan kepadaku?
Rowina menatapnya dengan tercengang. Setelah lama terdiam, akhirnya ia mendesah berat, "Sungguh, Tuhan memang tidak adil~! Kenapa talenta sehebat ini jatuh ke tangan... ke tangan..."
Ia ingin mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Lorin, tapi akhirnya, dengan nada kesal dan enggan, hanya berkata, "Ke orang seperti kamu."
Lorin langsung marah, "Apa maksudmu dengan itu?"
Rowina mengabaikan protesnya, malah menata naskah-naskah drama itu dan berkata dengan gaya seenaknya, "Kalau naskah-naskah ini hanya tersimpan di desa kecil seperti ini, akhirnya hanya akan berdebu. Begini saja, karena kita masih keluarga, aku yang akan menyimpannya. Nanti akan kubawa ke Daun Maple Danlin, supaya lebih banyak orang bisa melihatnya."
Lorin buru-buru berkata, "Kakak, kita memang masih punya hubungan keluarga, tapi itu pun sudah sangat jauh. Lagi pula, sekalipun begitu, kita tetap harus bicara soal keadilan, bukan? Semua ini tadinya mau kutukar uang!"
"Dasar kau, muka pelit!" Rowina memandangnya dengan jijik, "Hidupmu cuma uang, tidak ada yang lain. Pernahkah aku bilang tidak akan membayarmu?"
Ia menepuk tumpukan naskah itu, "Anggap saja aku membelinya dari kamu. Aku beri kamu kesempatan untuk meminta harga setinggi langit. Katakan, berapa banyak yang kau mau?"
Lorin, separuh jengkel, menjawab, "Ini namanya pemaksaan. Kau tahu tidak? Jangan anggap remeh, tiap naskah ini adalah mahakarya. Tidak bisa dihargai dengan uang!"
Rowina tidak menyangka Lorin begitu percaya diri, sampai ia benar-benar terkejut dan menatapnya dengan mata membelalak.
Ia berpikir sejenak, lalu bertanya, "Jadi, apa sebenarnya maumu?"
Lorin berdehem pelan, "Aku minta bagian. Asalkan setiap pertunjukan… setiap pertunjukan…" Ia berusaha beberapa kali, tapi akhirnya tak sanggup mengaku naskah-naskah itu benar-benar ciptaannya. Maka ia berkata samar, "Pokoknya, asal ada grup teater yang mementaskan naskah-naskah ini, aku minta sepuluh persen… eh, satu persen saja. Satu persen dari keuntungan mereka untukku."
Rowina menatapnya dengan ekspresi aneh, "Hanya satu persen? Itu tidak seperti kebiasaanmu!"
Lorin berpikir, satu persen memang terdengar kecil. Tapi jika dikumpulkan, jumlahnya akan sangat besar. Selain itu, ia juga bisa mendapatkan nama baik. Kenapa tidak? Lagi pula, kalau minta sepuluh persen, para penipu itu tidak bodoh. Mereka pasti akan membajak naskahnya. Saat itu, siapa lagi yang mau membayarnya?
Ia tersenyum, "Jadi, kau setuju atau tidak?"
"Deal," jawab Rowina setelah berpikir sejenak, "Tapi aku hanya bisa memastikan bagianmu dari pertunjukan di teater besar. Untuk pertunjukan di teater kecil atau grup keliling, aku tidak bisa janji."
Lorin tidak ambil pusing dan melambaikan tangan, "Tak masalah. Anggap saja aku berkontribusi pada peradaban dan seni manusia."
Rowina sampai terengah-engah karena merasa muak.
Ia menepuk dadanya, "Kata-katanya memang bagus, tapi kalau keluar dari mulutmu, kenapa rasanya menjijikkan?"
Melihat Rowina memasukkan semua naskah ke dalam jubahnya, Lorin pun tak lupa mengingatkan, "Jangan keluarkan semua naskah sekaligus. Satu kali satu naskah saja. Kalau sudah bosan, baru keluarkan yang berikutnya."
Rowina mendelik padanya, "Perlu diajari juga? Aku tahu harus bagaimana."
Selesai bicara, ia pun melangkah keluar dengan gaya anggun.
Malam itu, setelah makan malam, Lorin memanfaatkan suasana gelap untuk meminta Ferro membagikan komisi seperti yang sudah dijanjikan kepada setiap penyihir. Bahkan Rowina pun kebagian, hanya saja Lorin secara adil memotong biaya kerusakan pintu rumahnya dari amplop Rowina.
Sikap tidak serakah dan berbagi keuntungan ini langsung menuai pujian dari semua orang, membuat Lorin semakin disukai. Mereka pun berjanji, jika nanti Lorin datang ke Daun Maple Danlin, mereka akan menyambutnya dengan hangat. Bahkan jika nanti ada bahaya, mereka siap membantu tanpa ragu.
Sementara itu, sang penyihir tua awalnya bersikeras menolak amplop itu. Lorin benar-benar tidak berdaya menghadapi keteguhan hatinya yang jujur dan lurus. Akhirnya, ia menambah dua ratus koin emas lagi dan menyerahkannya langsung. Penyihir tua itu menatapnya lama, lalu marah besar sampai tubuhnya bergetar, menunjuk hidung Lorin dengan gemetar, memperingatkan dengan tegas, "Jangan ulangi lagi!"
×××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××××
Beberapa hari berikutnya, berkat dukungan penuh para penyihir, Lorin berhasil membangun kincir air, penggilingan, dan bengkel pandai besi dengan sangat cepat.
Hari itu, ketika semuanya rampung, di bawah tatapan semua orang, Lorin membuka papan penahan pada kincir air. Melihat kincir air mulai berputar berderit-derit, semua orang langsung bersorak kegirangan. Tentu saja, ada juga beberapa preman yang bertaruh apakah kincir buatan Lorin itu akan berfungsi atau tidak.
Dengan bantuan kincir air, batu penggiling di dalam penggilingan pun mulai berputar perlahan. Tungku di bengkel pandai besi juga mulai menyala, apinya berkobar hebat berkat mesin peniup yang kuat. Palu besar di sampingnya pun mulai mengetuk landasan besi dengan irama tetap.
Penyihir tua menyaksikan semua itu dalam diam. Setelah lama terdiam, ia mendesah, "Manusia memang selalu merindukan masa depan, namun jalan menuju pengetahuan sihir terlalu berat. Mungkin di masa depan, dunia akan menjadi milik para alkemis."
Para penyihir yang mendengar ucapan itu seolah mendengar ramalan buruk. Mereka pun bergidik dan membenamkan kalimat itu dalam-dalam ke hati.
Demi menjaga hubungan baik dengan Vera dan mendapatkan kepercayaannya serta informasi pertama darinya, penyihir tua itu masih tinggal beberapa hari di kastil.
Suatu siang, seorang penyihir muda yang tampak kelelahan muncul di luar kastil dengan menunggang kuda. Ia bergegas masuk dan menemui penyihir tua yang sedang berbincang dengan Lorin, lalu berbisik di telinganya.
Restor pun berubah wajah.
Melihat itu, Lorin bertanya, "Ada apa?"
Restor tersenyum pahit, "Tidak apa-apa kalau kau tahu. Pasukan penakluk suku liar Derun yang ketujuh belas di garis utara kalah telak dan mundur. Karena itu, Kanselir Kekaisaran Russell berencana meredakan krisis dengan menikahkan Catherine, putri Adipati Julius Gaius, ke selatan, ke Kerajaan Almohad."
Lorin mengedip, berpikir, "Kalah perang di utara, malah menjodohkan ke selatan, benar-benar aneh. Sudah jelas ini ulah para politisi tolol dengan kecerdasan di bawah lima puluh."
Restor pun langsung berdiri, "Terima kasih atas jamuanmu selama ini. Aku ada urusan penting, jadi pamit."
Lorin tahu, melihat Restor pergi tanpa ragu, itu pasti soal sangat penting baginya. Maka Lorin hanya berkata dengan santai, "Tidak apa-apa. Kita akan segera bertemu lagi, bukan?"
Restor tak berkata lagi, ia langsung mengumpulkan para muridnya dan berangkat.
Lorin bersama keluarga mengantar mereka hingga ke gerbang kastil, menatap mereka hingga lenyap di balik cakrawala, lalu berbalik masuk. Ia terkejut mendapati Vera berdiri di sampingnya, dengan mata berkaca-kaca, berat hati melihat kepergian para penyihir. Tangan mungilnya memegang tongkat kayu besar yang membuat Lorin berpikir aneh.
Ia pun terkejut, "Eh, untuk apa kau bawa itu?"
Vera mengedipkan mata besarnya yang polos, "Ini tongkat sihir khusus buatan guru untukku. Katanya, tongkat sihir biasa tidak cukup kuat menahan kekuatanku, jadi dibuatkan yang khusus. Walau tongkat sepanjang ini memang bisa mengurangi kekuatan sihir yang keluar, tapi lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Guru juga bilang aku harus banyak berlatih..."
Lorin sampai pusing mendengarnya. Ia mengangkat tangan, "Iya, iya, aku tahu. Oh iya, Vera, kau mau belajar sesuatu juga dariku?"