Bab Tujuh Puluh Lima: Kakak Hitam Bukan Orang Baik
Masakan buatan Li Yunxiu juga sangat lezat, keahliannya patut diacungi jempol. Wang Damei dan Chen Erniu yang memang punya nafsu makan besar, akhirnya masing-masing menghabiskan dua mangkuk besar mi saus daging. Setelah makan, semuanya pun beristirahat. Wang Damei merasa sangat senang karena hari ini berhasil meraup untung yang lumayan dari berjualan. Segala sesuatu seolah mulai berjalan ke arah yang lebih baik.
Keesokan paginya, Wang Damei dan Chen Erniu kembali membuka toko seperti biasa. Entah kenapa, sejak Wang Damei meminta bantuan Kakak Hitam untuk menjaga usahanya, dagangan mereka benar-benar menjadi laris manis. Setiap hari, banyak pelanggan berdatangan ke toko Wang Damei untuk membeli daging. Mereka bisa menjual seratus hingga dua ratus kati daging per hari. Bagi Chen Erniu yang selama ini selalu mengeluh sulitnya berjualan di toko kecil itu, perubahan ini terasa sangat aneh—ia tak mengerti bagaimana bisa bisnis mereka tiba-tiba melonjak dengan begitu cepat.
Padahal, lokasi toko mereka berada di gang kecil yang sepi, biasanya hampir tak ada orang yang lewat. Kalaupun ada, jarang sekali yang mau membeli daging dari toko sekecil itu. Namun sekarang, situasinya benar-benar berbeda. Toko kecil itu tiba-tiba saja jadi sangat ramai pembeli. Tak jelas dari mana datangnya pelanggan sebanyak itu.
Sebenarnya, semua ini terjadi karena efek domino. Bukan berarti Kakak Hitam benar-benar membantu Wang Damei dengan cara khusus, tapi ketika para preman kecil itu berkumpul di depan toko, orang-orang yang lewat jadi penasaran dan tertarik. Manusia memang seperti itu, ketika berbelanja, mereka lebih suka mendatangi toko yang ramai. Toko yang sepi cenderung dihindari, karena dianggap barangnya tidak bagus.
Itulah sifat dasar manusia, suka mengikuti arus. Mereka berpikir, kalau banyak yang membeli, pasti barangnya bagus. Sebaliknya, kalau tidak ada yang beli, pasti barangnya tidak layak. Toko Wang Damei semula sepi karena tak ada yang berminat; orang pun mengira daging di situ kurang baik, makanya tidak laku. Tapi sekarang, setiap hari ada kerumunan orang membeli daging di sana, sehingga semua orang jadi yakin daging di toko itu pasti istimewa, kalau tidak, mana mungkin begitu banyak pembeli.
Hari ini pun, Kakak Hitam dan teman-temannya kembali datang membeli daging di toko Wang Damei. Ini sudah hari keenam mereka datang. Menurut Wang Damei, besar kemungkinan Kakak Hitam tidak benar-benar berniat membeli daging selama sepuluh hari penuh. Ia merasa pria itu hanya pura-pura, tidak mungkin bertahan sampai sepuluh hari.
Melihat usahanya sudah berjalan dengan baik, Wang Damei menatap Kakak Hitam dan berkata, “Kakak, kalian sudah enam hari membeli daging di sini. Menurutku, tidak perlu lagi, bisnis kami sudah lancar. Tidak usah repot-repot lagi membantu kami.”
Kakak Hitam tersenyum pada Wang Damei, lalu berkata, “Adik, kenapa kau berkata begitu? Kita sudah bertaruh, dan aku kalah. Sudah seharusnya aku menepati janji, membeli daging di sini selama sepuluh hari.”
Mendengar perkataan Kakak Hitam, Wang Damei tertawa kecil, “Kakak, aku lihat usaha kecil kami sudah sangat ramai, rasanya tidak perlu Kakak repot-repot lagi memperhatikan bisnis kami.”
Sebenarnya, Wang Damei mulai merasa Kakak Hitam ini cukup baik, mungkin selama ini ia sudah salah menilainya dan menganggap pria itu sebagai orang jahat.
Kakak Hitam berkata, “Tidak apa-apa, aku memang tipe orang yang suka menepati janji. Selama aku sudah mengucapkan sesuatu, pasti akan aku lakukan. Ini sudah hari keenam, beberapa hari lagi selesai. Kau tak perlu sungkan, keluarga kami semua berkecukupan, mengeluarkan uang sebanyak ini tidak masalah.”
Entah kenapa, tutur kata Kakak Hitam tidak seperti orang jahat, justru seperti kakak laki-laki yang sangat setia kawan.
“Kalau begitu, terima kasih banyak, Kakak.” Wang Damei merasa hangat mendengar sikap Kakak Hitam yang begitu setia.
Namun, sikap Kakak Hitam kali ini rupanya membuat beberapa temannya merasa tidak senang. Kenyataannya, keluarga mereka tidak semuanya kaya, bahkan ada dua orang yang tergolong miskin. Sikap Kakak Hitam yang terlalu murah hati itu mulai membuat mereka jengkel.
Zhu Yong dan Hou Cheng pun merasa heran, tidak mengerti kenapa Kakak Hitam tiba-tiba jadi begitu dermawan, bersikeras membeli daging di toko Wang Damei selama sepuluh hari.
Hari ini, saat Kakak Hitam dan teman-temannya berjalan pulang, Zhu Yong mendekat dan berkata, “Kakak, kurasa kita harus tahu batas. Tak perlu terus membeli daging dari wanita itu, uang kami hampir habis.”
Hou Cheng juga ikut bersungut, “Kakak, bukankah tujuan kita hanya sekadar menggoda wanita itu? Beli daging sehari saja sudah cukup, kenapa harus setiap hari?”
Kakak Hitam melotot ke arah mereka berdua, “Apa maksud kalian? Kalian ingin aku ingkar janji? Aku ini laki-laki sejati, tak mungkin mengingkari perkataan.”
Zhu Yong dan Hou Cheng saling melirik dan menjulurkan lidah. Jelas, mereka tidak sepenuhnya mempercayai ucapan Kakak Hitam.
Zhu Yong lalu berkata, “Sepertinya Kakak ingin berubah, jadi orang baik.”
Hou Cheng menimpali, “Kakak memang pantas jadi pemimpin kami, benar-benar luar biasa. Kami harus belajar dari Kakak.”
Sebenarnya, saat itu Zhu Yong dan Hou Cheng merasa sangat kesal, karena uang mereka terus terkuras oleh Kakak Hitam.
Kakak Hitam yang melihat mereka berdua tampak kesal, langsung menepuk kepala mereka bergantian, “Kalian ini sebenarnya ikut siapa sih? Benar-benar tolol. Otak kalian tidak bisa berpikir lebih jauh?”
Zhu Yong dan Hou Cheng tetap tidak paham.
Zhu Yong memberanikan diri bertanya, “Kakak, maksudmu apa? Apakah sebenarnya ada tujuan lain?”
Kakak Hitam menyeringai, “Akhirnya otak kalian berguna juga. Uangku tidak akan aku buang sia-sia! Sudah kubelanjakan banyak uang untuk wanita cantik itu, masa harus tinggal diam saja?”
Zhu Yong menatap Kakak Hitam, ragu-ragu, “Jadi, Kakak sebenarnya ingin...”
Ucapan Zhu Yong terhenti setengah jalan, takut jika berkata terlalu jauh akan membuat Kakak Hitam marah.
“Kau ini bodoh sekali. Tentu saja aku ingin menipu wanita itu agar mau ikut denganku, lalu menjualnya ke rumah bordil. Wanita secantik itu, kalau dijual pasti harganya mahal,” jawab Kakak Hitam dengan senyum licik.
Mendengar itu, Zhu Yong dan Hou Cheng saling berpandangan dan tersenyum penuh arti. Mereka merasa rencana Kakak Hitam benar-benar kejam—berniat menjual si ratu daging itu ke rumah bordil.