Tolong!
Malam itu, di kediaman Keluarga Yan.
Setelah menikmati makan malam bersama keluarga, Nyonya Yin kembali ke ruang bordir dan menyulam sebentar. Mungkin karena musim dingin telah tiba, setiap malam, terutama bila waktu menyulam semakin lama, rasa pegal di belakang lehernya semakin sulit ditahan. Nyonya Yin memijat lehernya, lalu berdiri di depan jendela untuk menghirup udara segar.
Tiba-tiba, ia teringat minyak herbal yang dibawa oleh kedua bersaudari dari Keluarga Qiu siang tadi. Saat ini, rasa nyeri sudah tak tertahankan, inilah waktu yang tepat untuk mencoba minyak tersebut. Jika hasilnya baik, sakit punggung suaminya dan lutut anak lelakinya pun mungkin bisa tertolong. Memikirkan hal itu, Nyonya Yin memberi perintah kepada pelayan untuk mengambil minyak jahe pelancar peredaran darah beserta gulungan petunjuk pemakaiannya dari gudang.
Tak lama kemudian, pelayan itu kembali membawa kotak kayu dan gulungan kertas, lalu menyerahkannya kepada Nyonya Yin.
Nyonya Yin membuka kotak tersebut dan mengeluarkan botol keramik berisi minyak jahe pelancar peredaran darah. Ia memutar tutupnya, mencium aromanya yang segar dan pedas. Ia menutup matanya, menikmati aroma khas tanaman itu merayap ke seluruh tubuhnya, merasakan kehangatan yang menjalar dari dalam.
Sesaat kemudian, Nyonya Yin teringat akan pesan yang disampaikan Qiu Mo sebelum pergi. Ia pun meletakkan botol itu dan mengambil gulungan kertas di sampingnya, membukanya perlahan...
Begitu gulungan itu terbuka seluruhnya, Nyonya Yin mendapati ada satu bagian yang ditutupi oleh selembar kertas lain. Ia sedikit mengernyit, lalu menggunakan jarinya untuk perlahan-lahan melepas kertas penutup itu.
Begitu kertas itu terlepas, Nyonya Yin melihat isi di bawahnya. Matanya membelalak, ia menahan napas, wajahnya tampak penuh keraguan dan tidak percaya.
***************************************
Keesokan harinya, tepat tengah hari, di Pasar Barat Chang'an, genderang pembuka pasar ditabuh tiga ratus kali menandakan pasar resmi dibuka!
Seorang wanita berpakaian sederhana, mengenakan rok sebatas pinggang dengan atasan berwarna polos dan rambut disanggul rapi tanpa hiasan, berjalan perlahan di jalan utama Pasar Barat. Orang lain hanya mengira ia seorang pelayan yang keluar untuk berbelanja, tak ada yang memperhatikannya. Wajahnya tenang, langkahnya santai, ia melangkah dari timur ke barat, melewati jalan utama, dan ketika tiba di depan Restoran Zhang di sebelah barat pasar, ia segera melesat masuk ke dalam.
Wanita itu adalah Qiu Mo.
Qiu Mo langsung menuju lantai dua restoran, ke ruang "Janji Rumput Rawa". Ia mengangkat tirai dan masuk. Di dalam, seorang nyonya bangsawan berwibawa beserta pelayannya telah lama duduk menunggu.
Qiu Mo berdiri tegak, lalu membungkuk dalam-dalam, memberi salam penuh hormat kepada sang nyonya.
"Salam hormat, Nyonya Yin."
Nyonya Yin menatap Qiu Mo tajam, matanya penuh dengan emosi yang rumit, seolah mencari jawaban pada sosok gadis muda yang bersikap santun itu.
Lama ia terdiam, barulah ia berkata, "Bisakah kau menjelaskan ini padaku?"
Nyonya Yin meletakkan selembar kertas di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Qiu Mo. Di kertas itu tertulis: "Su Xi dalam bahaya. Besok siang, Restoran Zhang, ruang Janji Rumput Rawa."
Qiu Mo menundukkan kepala, menatap kertas tipis di atas meja itu. Benar saja, ia telah menebak betapa pentingnya Su Xi di hati Nyonya Yin. Karena Nyonya Yin datang, setidaknya ada secercah harapan untuk menyelamatkan Su Xi.
Ia pun segera duduk bersimpuh di hadapan Nyonya Yin, menceritakan satu per satu hal yang diamatinya selama beberapa waktu di sekolah privat. Setelah selesai, Qiu Mo menatap Nyonya Yin, memberi hormat dan memohon, "Nyonya, kumohon selamatkanlah Nona Su."
Nyonya Yin mendengarkan dengan tenang, namun hatinya berkecamuk. Ia benar-benar tidak menyangka, saat ia tengah sibuk membuat karya bordir untuk istana, murid yang paling ia harapkan, Su Xi, justru mendapat luka tersembunyi yang begitu dalam hanya karena ia membawanya belajar ke ruang bordir.
Gadis kecil itu, tanpa sandaran, tanpa kekuatan, bahkan untuk mencari tempat mengadu pun tak mampu. Jika bukan karena cara Qiu Mo yang cerdik memberitahu dirinya, mungkin semuanya sudah terlambat saat ia akhirnya mengetahuinya.
"Apakah guru bordir yang mengajar di sekolah tidak menyadari ada yang aneh pada Su Xi?" tanya Nyonya Yin, masih merasa sulit percaya. Ia bukannya tak yakin pada Qiu Mo, hanya saja, rasanya tak masuk akal hal seperti itu bisa terjadi di antara para gadis muda.
Qiu Mo menghela napas pelan. Nyonya Yin sejak lahir hingga menikah, selalu menjadi putri bangsawan terpandang, setelah dewasa pun dipuja dan dikagumi banyak orang. Ia tidak pernah tahu rasanya menjadi korban penindasan.
Namun, justru perang tanpa asap mesiu itulah yang paling berdarah dan tersembunyi.
"Nyonya, demi menjaga nama baik semua keluarga, Su Xi memilih untuk diam dan menahan diri. Perang di antara perempuan sering terjadi di medan yang tak terlihat. Semakin halus caranya, semakin kejam akibatnya." Mereka yang menindas, selama mengenakan topeng tak bersalah, lemah, baik hati, dan seolah korban, mereka akan berada di atas angin secara moral. Mereka bisa menjadi jenderal tak terkalahkan yang setiap saat mampu menghancurkan lawan secara mental.
Nyonya Yin tak kuasa menahan haru. Leher jenjangnya tertunduk ke samping, ia menutup mata, menahan air mata, menyembunyikan duka dan amarah di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, ia membuka mata, menatap Qiu Mo lekat-lekat.
***************************************
Su Xi melangkahkan tubuh lelahnya perlahan kembali ke paviliun kecil tempat ia tinggal. Sepanjang jalan, ia terus menyemangati diri. Besok adalah hari di mana ia bisa berlatih bordir di ruang Nyonya Yin. Seharian penuh ia tak perlu bertemu dengan para gadis itu. Untungnya, setiap enam hari, ada satu hari ia bebas dari orang-orang yang menyiksanya, dan bisa melakukan hal yang ia sukai. Memikirkan itu, suasana hatinya sedikit membaik.
Ketika hampir sampai di halaman kecil, ia melihat pelayannya, Qiu Hu, sudah menunggunya di depan pintu.
Sejak pelayannya dulu pernah disenggol dengan sengaja oleh pelayan Nona Du hingga pecah tempat tinta, dan sepulangnya ia justru dimarahi oleh ayahnya sendiri, Su Xi memutuskan tak akan membawa pelayan ke sekolah lagi.
Ayahnya memang tegas, tapi semua itu demi kebaikan keluarga Su. Nyonya utama memperlakukannya bahkan lebih baik dari ibu kandungnya sendiri, kakak-kakaknya pun menganggapnya adik kandung. Para pelayan di keluarga Su juga ramah dan baik. Bisa lahir di keluarga seperti ini, ia sudah sangat bersyukur. Jadi, jika harus ada yang menanggung luka, biarlah dirinya saja.
"Nona, Anda sudah pulang!" Qiu Hu segera menyambutnya, wajahnya berseri-seri hingga membuat Su Xi heran. "Ada apa?"
Qiu Hu tersenyum, menggenggam tangan Su Xi dengan semangat, "Baru saja pelayan dari kamar nyonya utama datang, bilang bahwa guru Anda, Nyonya Yin, datang berkunjung dan meminta Anda segera menghadap sepulang pelajaran!"
Su Xi sedikit tertegun, "Nyonya Yin datang?"
Qiu Hu mengangguk, "Itu kata langsung dari pelayan nyonya utama!"
Su Xi tidak berani menunda, segera berganti pakaian dan bergegas menuju paviliun utama.
Begitu melangkah ke dalam, ia sudah mendengar suara nyonya utama dan Nyonya Yin berbincang akrab di ruang tamu. Su Xi langsung menahan napas, mempercepat langkah masuk ke ruang utama dan memberi hormat dengan penuh tata krama, "Putri menyapa Nyonya. Murid menyapa Guru."
Nyonya Yin mengangkat pandangannya, mengamati gadis kecil yang sedang bersimpuh itu. Kedua tangan gadis itu menempel di lantai, wajahnya tak tampak jelas, hanya terlihat rambut hitam dan lehernya yang putih bersih. Meski udara musim dingin sudah menusuk, gadis itu telah mengenakan jaket tebal, namun tubuhnya tetap tampak kurus dan punggungnya tegak seperti pinus muda.
Nyonya utama, Nyonya Jiang, tersenyum, "Xi'er, bangunlah, kemarilah duduk di sampingku." Sambil berkata, ia menepuk tempat duduk di sampingnya, mempersilakan Su Xi mendekat.
Su Xi bangkit perlahan, duduk di sisi nyonya utama. Ia duduk dengan santun, namun matanya diam-diam mengamati wajah nyonya utama dan Nyonya Yin, menebak-nebak maksud kunjungan mendadak Nyonya Yin malam itu.
Nyonya Yin melihat keraguan di wajah Su Xi, lalu menjelaskan dengan ramah, "Xi'er, aku memanggilmu ke sini karena ada hal penting yang ingin kusampaikan."
Su Xi mengangguk, siap mendengarkan.
Nyonya Yin tersenyum, "Kau memiliki bakat bordir yang langka. Aku ingin mewariskan teknik bordir khususku, Bordir Emas Lipat, kepadamu. Karena itu, hari ini aku sengaja datang membahas hal ini dengan nyonya utama, berharap mulai besok kau bisa setiap hari belajar di ruang bordirku. Pelajaran lain di rumah Qiu akan diajarkan oleh guru dari Keluarga Yan. Bagaimana menurutmu?"
Su Xi sampai tertegun, hampir tak percaya dengan kabar baik yang datang tiba-tiba itu. "Guru, benarkah ini?"
Nyonya Yin mengangguk sambil tersenyum, "Tentu saja benar. Aku sendiri yang datang, mana mungkin bohong?"
Su Xi melirik nyonya utama dengan bahagia, lalu segera menunduk. Ia memang gembira, namun tahu keputusan tetap ada di tangan nyonya utama. Apalagi, dulu nyonya utama sudah berusaha keras agar ia bisa masuk ke rumah Qiu, jika sekarang tiba-tiba pindah, ia takut membuat nyonya utama kesulitan.
Nyonya Jiang memahami apa yang dipikirkan Su Xi. Ia mengusap lembut pipi si gadis kecil yang pengertian itu, sambil tersenyum, "Kau tak perlu khawatir soal rumah Qiu. Nyonya Yin sendiri yang akan menjelaskan alasannya pada mereka. Lagi pula, ia memang sedang terburu-buru membuat karya bordir untuk keluarga istana dan sudah lama berencana memintamu membantunya. Tidak perlu ditunda lagi, mulai besok, langsung saja datang ke rumah Yan untuk belajar."