Jilid Pertama: Kekaisaran Gunung Naga Bab Ketiga: Racun yang Terbentuk Si Kecil Yun yang Menggoda
“Haha, akhirnya aku berhasil meracik ‘Serbuk Lima Racun’.” Tiga hari kemudian, dari dalam kamar Meng Yi terdengar tawa lepas yang menunjukkan betapa bahagianya ia saat itu.
Xiao Yun yang sedang mandi mendengar suara tersebut, buru-buru mengelap tubuhnya sekenanya, lalu mengenakan pakaian luarnya dan segera berlari ke kamar Meng Yi. Selama ini, hampir tak ada orang yang datang ke paviliun tempat Meng Yi tinggal. Lagi pula, Meng Yi dikenal sebagai seorang buta, sehingga ketika Xiao Yun sedang mandi atau tidur dan terjadi sesuatu, ia sering berlari ke kamar Meng Yi tanpa sempat menutupi tubuhnya dengan baik, hanya untuk memastikan apa yang sedang terjadi.
Karena berbagai macam obat di dunia ini sedikit berbeda dengan di kehidupan sebelumnya, Meng Yi membutuhkan waktu tiga hari penuh untuk meracik racun dasar dari kehidupan lamanya, ‘Serbuk Lima Racun’. Tak heran jika setelah berhasil, ia begitu bersemangat. Jika ‘Serbuk Lima Racun’ saja bisa diracik, berarti segala macam pil ajaib, ramuan langka, maupun racun mematikan lainnya pun pasti bisa dibuat. Membayangkan bahwa kelak ia bisa membunuh orang hanya dengan sekali kibas tangan atau menghidupkan orang dengan sebutir pil, siapa yang tak akan gembira?
Saat Meng Yi begitu larut dalam kegembiraannya, Xiao Yun sudah mendorong pintu dan masuk ke kamar, “Tuan muda, ada apa?”
Mendengar suara itu, Meng Yi menoleh dan langsung tertegun. Xiao Yun hanya mengenakan pakaian luar yang disampirkan sembarangan, tanpa sehelai apapun di dalamnya. Dadanya yang putih mulus tampak samar, sepasang kaki jenjang terlihat begitu menggoda, beberapa helai rambut panjangnya masih basah, jelas baru selesai mandi. Meski usianya baru tujuh belas atau delapan belas tahun, lekuk tubuh Xiao Yun sudah sangat menggoda dan penuh pesona wanita dewasa.
Xiao Yun sama sekali tak menyangka kalau Meng Yi bisa melihat. Melihat ekspresi Meng Yi yang tertegun, ia segera bertanya dengan nada khawatir, “Tuan muda, Anda tidak apa-apa? Perlu kupanggil tabib?” Sembari berbicara, Xiao Yun sudah melangkah mendekat dan mengulurkan tangan hendak menyentuh dahi Meng Yi.
Dalam kekhawatiran yang tulus itu, Meng Yi akhirnya sadar dari keterkejutannya. Benar juga, sekarang ia adalah seorang buta, seharusnya tak bisa melihat apa-apa dan tak boleh sampai ketahuan.
Setelah memastikan bahwa Meng Yi benar-benar baik-baik saja, Xiao Yun pun berbalik dan meninggalkan kamar.
Meng Yi memandangi punggung Xiao Yun dengan perasaan berdebar, ‘Tak kusangka tubuh Xiao Yun begitu indah, benar-benar di luar dugaanku.’ Semakin dipikirkan, ia tiba-tiba menepuk meja dan berbicara pada dirinya sendiri, “Benar juga, sekarang aku dikenal sebagai tuan muda buta dari Keluarga Meng. Semua orang mengira aku tak bisa melihat, jadi mulai sekarang aku bisa dengan leluasa mengintip gadis-gadis mandi atau berganti pakaian tanpa dicurigai.”
Di kehidupan sebelumnya, Meng Yi memang bukan orang yang bermoral tinggi. Ia sering bersekongkol dengan para saudara seperguruannya untuk mengintip. Meski Lembah Raja Obat terkenal karena kehebatannya dalam ilmu pengobatan, namun qinggong mereka juga tak tertandingi. Kalau hanya mengandalkan pengobatan, mustahil Lembah Raja Obat bisa bertahan hingga masa kini. Tanpa kemampuan bela diri dan qinggong yang hebat, mereka pasti sudah lenyap ditelan sejarah.
Sekarang, dengan alasan sebagai seorang buta, Meng Yi semakin mantap untuk merahasiakan bahwa matanya sudah pulih. Jika langit telah memberinya kesempatan emas begini, rasanya berdosa jika tidak dimanfaatkan untuk mengintip.
Semakin dipikir, Meng Yi makin bersemangat, bahkan lebih gembira daripada saat berhasil meracik ‘Serbuk Lima Racun’. Membayangkan kehidupan bahagia di masa depan, ia sampai tersenyum lebar sendiri.
“Tuan muda, Guru Yuling sudah datang.” Saat itu sudah tengah hari keesokan harinya. Bayangan tubuh Xiao Yun yang samar-samar terus terlintas di benak Meng Yi, membuatnya semalaman tak bisa tidur nyenyak.
“Persilakan Guru Yuling menunggu sebentar di ruang tamu, aku akan segera ke sana.” Dengan rasa kantuk yang masih tersisa, Meng Yi terpaksa bangun.
Setelah membersihkan diri seadanya, Meng Yi mengambil tongkat yang sudah dipakainya belasan tahun, berlagak seperti orang buta lalu berjalan keluar. Sebenarnya, ia sempat berniat mengumumkan kesembuhan matanya, namun kejadian kemarin membuatnya semakin mantap untuk terus berpura-pura buta.
Ketika suara ketukan tongkat Meng Yi terdengar dari kejauhan, Yuling yang sedang duduk di ruang tamu tahu Meng Yi telah datang.
“Xiao Yi, kudengar sekarang kau mulai meneliti obat-obatan. Apa kau ingin mengobati matamu sendiri?” Yuling bangkit dan menuntun Meng Yi duduk.
Meng Yi mengarahkan pandangannya pada Guru Yuling. Hari ini, beliau mengenakan pakaian putih bersih, matanya sebening telaga, sorotnya menampilkan keanggunan yang alami. Tentu saja, Meng Yi menatap dengan pandangan kosong, menghindari agar Yuling tidak mencurigainya.
“Kau kira mataku masih ada harapan untuk sembuh? Selama bertahun-tahun, para tabib ternama sudah mencoba mengobatiku, tapi hasilnya tetap saja, aku masih buta.” Tak bisa dipungkiri, akting Meng Yi sungguh luar biasa. Ekspresinya seperti benar-benar sudah buta bertahun-tahun. “Aku hanya ingin memahami obat-obatan untuk mengisi waktu luang saja, Guru Yuling tak perlu khawatir.”
“Kalau memang tak ada yang dikerjakan, kenapa tidak mau belajar tenaga dalam denganku?” Yuling memandang Meng Yi dengan sedikit kesal. Sejak datang ke kediaman Meng, Yuling berkali-kali membujuk Meng Yi untuk berlatih tenaga dalam, namun selalu ditolak olehnya.
“Aku ini buta, tak bisa melihat apa pun. Untuk apa belajar tenaga dalam?” Jawaban Meng Yi masih sama seperti dulu, dalih yang selalu digunakannya untuk menolak ajakan Yuling.
“Aku ini ingin membantumu. Jika tingkat tenaga dalammu tinggi, semua indramu akan lebih tajam, hanya ada manfaatnya bagimu.” Yuling menatap Meng Yi, “Lagipula, walaupun tidak bisa meningkatkan indra-indramu, tenaga dalam tetap bisa membuat tubuhmu sehat dan umur panjang.”
Meski dalam hati ia sangat berterima kasih atas perhatian Yuling, Meng Yi tetap memejamkan mata dan berbicara dengan nada lesu, “Untuk apa umur panjang dengan tubuh kuat kalau aku ini buta? Hanya berarti menanggung derita lebih lama. Lebih baik mati cepat dan lepas dari penderitaan.”
Meng Yi benar-benar masuk ke dalam peran, sampai-sampai jika ia sendiri tidak tahu bahwa matanya sudah sembuh, mungkin ia pun akan percaya bahwa dirinya benar-benar buta.
“Buta, buta, yang kau tahu hanya mengeluh jadi orang buta. Tak bisakah kau lebih optimis sedikit?” Yuling menghela napas. “Tahukah kau, jika tenaga dalam dilatih hingga mencapai tingkat Dewa, kau akan bisa melihat kembali. Walaupun bukan dengan mata, tapi dengan kekuatan batin, kau bisa menampilkan keadaan sekitar langsung di dalam benakmu.”
“Benarkah sehebat itu?” Dalam ingatan Tuan Muda Ketiga Meng, ia memang tidak tahu banyak soal tenaga dalam, jadi Meng Yi benar-benar awam soal ini. Jika yang dikatakan Yuling benar, maka tingkat Dewa yang disebut itu mungkin setara dengan tingkat Xiantian di kehidupan sebelumnya. Andaikan tidak ada kejadian luar biasa, mungkin beberapa tahun lagi ia sudah bisa mencapai tingkat Xiantian.
“Tentu saja, tak ada alasan bagiku untuk berbohong padamu,” jawab Yuling dengan serius.
“Kalau begitu, bisakah kau jelaskan padaku, apa saja tingkatan dalam tenaga dalam, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat Dewa?” Meski Meng Yi belum berniat berlatih tenaga dalam, ia merasa perlu juga memahami dasar-dasarnya.