Jilid Pertama: Kekaisaran Gunung Naga Bab Ketujuh Puluh Delapan: Persiapan Perang dari Segala Pihak
“Aku sama sekali tidak menyeretmu ke dalam masalah ini. Dulu, kan kau sendiri yang bersikeras agar aku menjadi tetua itu,” ujar Meng Yi sambil tersenyum. Dari nada bicara Gu Xu, ia sudah bisa menangkap keragu-raguan Gu Xu. Ia yakin, pada akhirnya Gu Xu pasti akan berdiri di sisinya untuk bersama-sama melawan Paviliun Elang Tersembunyi.
“Ah, sudahlah. Kalau memang sudah begini, aku akan kembali dan membicarakannya dengan Dewan Tetua,” Gu Xu menghela napas dengan nada pasrah.
Istana Rahasia biasanya jarang terlibat konflik dengan kekuatan lain. Banyak pihak datang untuk mencari informasi dari mereka. Mereka selalu menjaga netralitas, tak pernah mencampuri perebutan kekuasaan di benua ini. Sialnya, kini hanya karena beberapa kata dari Meng Yi, mereka terpaksa harus membuat pilihan.
Meng Yi memperhatikan kepergian Gu Xu. Senyum culas masih terpampang di wajahnya, dan berbagai rencana licik terus berputar di benaknya.
Setiba di Istana Rahasia, Gu Xu segera mengumpulkan para tetua di ruang pertemuan untuk mendiskusikan langkah selanjutnya.
“Meng Yi, kalian semua pasti sudah tahu. Beberapa waktu lalu aku mengangkatnya sebagai tetua tamu,” Gu Xu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. “Sebagai tetua Istana Rahasia, tak lama lagi ia akan menghadapi serangan Paviliun Elang Tersembunyi. Mari kita bahas, apa yang harus kita lakukan?”
Salah seorang tetua yang berwajah kemerahan angkat bicara, “Apa yang perlu diperdebatkan? Copot saja posisinya sebagai tetua, sejak saat itu dia tidak ada hubungan lagi dengan Istana Rahasia. Dengan begitu, meski Paviliun Elang Tersembunyi ingin mencari masalah, mereka tidak akan punya dalih.”
Gu Xu mengerutkan kening, menatap tetua itu sejenak sebelum berkata, “Tetua Shen, posisi tetua tidak bisa dicabut hanya karena satu kalimatmu.”
Tetua Shen yang berwajah kemerahan merasa canggung mendengar ucapan Gu Xu. Ia berdeham sebelum melanjutkan, “Tentu saja, keputusan akhir tetap ada di tangan Kepala Istana.”
“Aku rasa tidak sepatutnya mencopot posisi Tetua Meng. Jika begitu, para tetua lain akan kehilangan kepercayaan,” ujar tetua lain yang berambut putih dan wajah awet muda.
Gu Xu tersenyum tipis dan mengangguk, “Pendapat Tetua Sun benar. Meski kekuatan Paviliun Elang Tersembunyi sangat besar, Istana Rahasia juga bukan tanpa daya.”
“Apa?” Para tetua sontak terkejut menatap Gu Xu. Tetua Shen kembali bicara, “Apakah Kepala Istana berniat memulai perang dengan Paviliun Elang Tersembunyi?”
“Apa salahnya berperang?” Gu Xu menatap tajam ke arah Tetua Shen dengan nada agak marah. “Aku belum tentu ingin perang terbuka dengan mereka. Tapi sekalipun perang, tak perlu kalian menunjukkan wajah ketakutan seperti itu. Paviliun Elang Tersembunyi bisa menjadi angkuh karena banyak orang yang pengecut seperti kalian.”
Tetua Shen menundukkan kepala, wajahnya sangat tidak nyaman.
“Jadi maksud Kepala Istana ingin membantu Tetua Meng menghadapi Paviliun Elang Tersembunyi?” Tetua Sun melemparkan tatapan tanya pada Gu Xu.
Gu Xu mengangguk, lalu menatap para tetua satu per satu. “Tentu kita harus membantu. Aku mengumpulkan kalian untuk membahas soal ini.”
“Niatku, kita akan mengirim sebagian tetua untuk membantu Tetua Meng. Aku ingin mendengar pendapat kalian semua,” ujar Gu Xu tenang.
Tetua Sun ragu sejenak, lalu berkata, “Aku tidak sependapat dengan rencana Kepala Istana.”
“Katakan pendapatmu,” ujar Gu Xu, tetap menunjukkan rasa hormat pada tetua yang satu ini.
“Kalau Kepala Istana sudah memutuskan melawan Paviliun Elang Tersembunyi, maka kita tak boleh setengah hati. Jika memang harus berkonflik, maka pilihannya hanya dua: entah Paviliun Elang Tersembunyi yang musnah, atau Istana Rahasia yang hancur,” ujar Tetua Sun dengan wajah serius. “Jika kita masih menahan kekuatan dan Paviliun Elang Tersembunyi bangkit kembali, kita akan menghadapi balas dendam yang mengerikan.”
Gu Xu mengerutkan kening, terdiam sejenak dalam pikirannya.
Situasinya memang serba dilematis. Jika mereka tidak membantu, begitu Paviliun Elang Tersembunyi selesai, mereka akan menjadi target berikutnya. Tapi jika membantu dan gagal, nasib mereka juga di ujung tanduk. Pilihan terbaik yang tersisa bagi Gu Xu adalah mengerahkan seluruh kekuatan untuk membantu Meng Yi menaklukkan Paviliun Elang Tersembunyi.
Setelah merenung, Gu Xu menatap para tetua, lalu menepuk meja dengan tangan kanannya. “Baiklah, aku putuskan Istana Rahasia akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk membantu Tetua Meng menghadapi Paviliun Elang Tersembunyi.” Keputusan ini memang sangat berisiko, tapi jika ada cara lain, ia pasti tak akan memilih langkah nekat ini.
Karena Kepala Istana sudah membuat keputusan, para tetua lain pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Sebagian tampak cemas, sebagian justru bersemangat karena akhirnya akan berperang dengan Paviliun Elang Tersembunyi.
Sementara itu, di dalam istana kekaisaran, Long Xuan dan Long Chen juga tengah berdiskusi.
“Paviliun Elang Tersembunyi sudah mengirim para ahli ke ibu kota. Pertempuran besar tak lama lagi akan pecah,” ujar Long Chen pada Long Xuan di hadapannya. “Sekarang saatnya kita membuat keputusan, tetap berdiam diri atau memanfaatkan kesempatan ini untuk melenyapkan Paviliun Elang Tersembunyi.”
Raut wajah Long Xuan yang biasanya tegas kini tampak khawatir. Sejak lama ia ingin memusnahkan kekuatan Paviliun Elang Tersembunyi, tapi kesempatan itu tak pernah datang. Kini saatnya telah tiba, namun ia justru merasa bimbang. Ia takut, jika akhirnya Paviliun Elang Tersembunyi yang menang, segalanya akan berakhir buruk.
Long Chen tentu tahu apa yang sedang dipikirkan kakaknya. Sebelum Long Xuan sempat bicara, ia melanjutkan, “Kakak Takhta, tidak usah terlalu khawatir. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Saat waktunya tiba, aku akan membawa para ahli yang selama ini diam-diam kakak latih. Walaupun gagal, aku akan pastikan mereka tak akan tahu keterlibatan keluarga kekaisaran.”
“Semua tak semudah yang kau bayangkan. Paviliun Elang Tersembunyi bisa bertahan selama ini bukan hanya karena kekuatan mereka, tapi juga karena kecerdikan mereka. Menyembunyikan identitas hampir mustahil. Jika kita bergerak, harus dikerahkan seluruh kekuatan, dan harus bisa memusnahkan mereka dalam satu gebrakan,” ujar Long Xuan menggeleng pelan.
“Jadi, apa keputusan kakak?” tanya Long Chen.
Long Xuan berpikir sejenak, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Kalau memang sudah diputuskan, kita kerahkan seluruh kekuatan untuk menghadapi Paviliun Elang Tersembunyi. Aku akan memerintahkan pasukan bersiap, kapan saja siap mengepung markas besar mereka.”
“Untuk saat ini cukup seperti itu. Begitu lima tetua Paviliun Elang Tersembunyi gugur, dan sang ketua datang membalas dendam, saat itulah kita akan langsung menyerbu markas besar mereka,” tatapan Long Xuan menembus jauh ke angkasa, seolah-olah ia sudah bisa melihat markas Paviliun Elang Tersembunyi di kejauhan.
Karena Long Xuan sudah membuat keputusan, Long Chen tak berkata apa-apa lagi. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya berupaya meningkatkan kekuatannya secepat mungkin.