Jilid Satu Kekaisaran Longshan Bab Tujuh Puluh Lima Niat Jahat Kabut Hitam
Kedua orang itu kembali berbincang beberapa saat, dan setelah tawar-menawar seperti sedang berdagang, mereka pun menyepakati syarat masing-masing. Setelah itu, Feng Yun langsung berdiri dan berkata, “Kalau begitu, semuanya sudah diputuskan. Kuharap kau tidak akan membuatku kecewa.”
“Hehe, tenang saja. Tak perlu bicara soal lain, demi kau dan Meng Lingsyuan saja aku pasti akan berusaha sekuat tenaga,” jawab Meng Yi, masih dengan senyum licik di wajahnya.
“Hmph!” Feng Yun mendengus, lalu membalikkan badan dan meninggalkan ruangan itu.
Begitu keluar, Feng Yun melihat Meng Lingsyuan yang tengah menunggu tak jauh dari sana. “Lingsyuan, kita pulang ke Sekte Teratai Biru.”
“Guru, bagaimana hasilnya? Penyakitmu...” Meng Lingsyuan melangkah maju menyambut Feng Yun, dengan raut wajah yang sangat cemas.
Feng Yun mengibaskan tangannya, “Guru sudah tidak apa-apa, kau tak perlu khawatir.”
“Benarkah?” Meski Meng Lingsyuan tahu keahlian pengobatan Meng Yi sangat tinggi, ia tetap tak menyangka hasilnya sehebat itu. Hanya dalam waktu singkat, gurunya sudah sembuh.
Feng Yun mengangguk, “Benar, anak itu memang hebat. Bahkan aku pun terkejut dengan kemampuan pengobatannya.” Saat berkata demikian, wajah Meng Yi dengan senyum jahatnya kembali terlintas dalam benaknya.
Sambil berbincang, mereka berdua pun meninggalkan kediaman keluarga Meng.
Setelah Feng Yun pergi, Meng Yi duduk diam sendirian di dalam kamar. Bayangan kejadian barusan terus berkelebat dalam pikirannya, bahkan ia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya bisa berubah seperti itu.
Ia benar-benar tidak paham kenapa tiba-tiba ia menjadi begitu jahat. Dulu ia sama sekali bukan orang seperti itu, dan jika itu adalah dirinya yang dulu, ia pasti tidak akan mengajukan syarat seperti tadi.
Meng Yi duduk di kursi, kepalanya hampir menyentuh pahanya, kedua tangannya mencengkeram rambut sendiri, bergumam lirih, “Mengapa bisa begini? Kenapa aku berubah menjadi orang seperti ini?”
Ia merenung lama dengan kepala tertunduk, hingga akhirnya ia mendongak dengan tatapan tajam di matanya, “Jangan-jangan ini ulah kesadaran spiritual Hu Haofeng? Tapi aku sudah sepenuhnya melahap kesadarannya, kenapa masih terjadi hal seperti ini?”
Memikirkan hal itu, Meng Yi pun duduk bersila di kursi, mengendalikan kesadarannya untuk masuk ke dalam lautan jiwanya. Begitu masuk, ia mendapati ada kabut hitam tipis yang bergerak bebas di dalam lautan jiwanya.
Penemuan ini membuat Meng Yi hampir saja ketakutan setengah mati. “Jangan-jangan Hu Haofeng belum sepenuhnya lenyap? Apakah semua ini ulahnya?”
Dengan pikiran itu, Meng Yi segera mengepung kabut hitam itu dengan kesadarannya, berniat memurnikan semua hal aneh tersebut. Namun, setelah dikepung, ia sadar bahwa itu bukanlah sisa kesadaran Hu Haofeng.
Begitu kesadarannya bersentuhan dengan kabut hitam itu, berbagai pikiran jahat tiba-tiba saja memenuhi pikirannya tanpa peringatan.
Meng Yi terkejut dan buru-buru menarik kesadarannya menjauh dari kabut itu. Begitu menjauh, semua pikiran jahat itu pun lenyap.
“Tampaknya itu bukan kesadaran Hu Haofeng, tapi juga bukan hal yang baik. Tadi tindakan dan ucapanku pasti dipengaruhi olehnya,” gumam Meng Yi sambil mengamati kabut hitam itu, berusaha menebak-nebak apa sebenarnya benda itu.
Ia berpikir keras cukup lama, namun pada akhirnya hanya bisa pasrah karena sama sekali tidak mengerti apa sebenarnya kabut hitam itu dan mengapa hanya dengan sedikit bersentuhan saja bisa menimbulkan pikiran-pikiran jahat yang begitu banyak.
Setelah menarik kesadarannya dari lautan jiwa, Meng Yi menghela napas resah, “Sekarang harus bagaimana? Kalau kabut hitam itu terus berada di dalam lautan jiwa, bukankah aku akan selalu dipengaruhi olehnya?”
Mengingat berbagai pikiran jahat yang barusan memenuhi benaknya, Meng Yi tak kuasa menahan diri untuk bergidik. Jika terus begini, bukankah ia akan menjadi seorang iblis yang benar-benar keji?
“Sudahlah, untuk sementara biarkan saja dulu,” katanya pada diri sendiri setelah berpikir lama, “Nanti kalau kekuatanku sudah meningkat, baru coba usir kabut itu dari lautan jiwa.”
Namun seolah mendengar kata-katanya, kabut hitam di lautan jiwa tiba-tiba bergolak, dan lagi-lagi berbagai pikiran jahat bermunculan di kepala Meng Yi.
Meng Yi menggeleng-gelengkan kepala sekuat tenaga, seraya mengumpat pelan, “Sial, pikiran-pikiran ini benar-benar jahat.” Ia sendiri terkejut dengan betapa kejamnya pikiran-pikiran yang muncul di benaknya.
“Kalau nanti terus seperti ini, aku pasti akan mengalami gangguan jiwa,” desah Meng Yi yang kini benar-benar kehabisan akal. Ia sama sekali tidak mengerti apa sebenarnya kabut hitam itu, dan mengapa bisa membangkitkan begitu banyak pikiran jahat dalam dirinya. “Tak boleh terus memikirkannya, kalau tidak, bisa-bisa aku benar-benar melakukan hal-hal keji itu.”
Selesai berkata begitu, Meng Yi pun beranjak keluar dari kamar, berusaha melupakan segala kegelisahan yang membebani pikirannya.
……………………………………………………
“Kediaman Rahasia sudah mengirim kabar, Paviliun Elang Tersembunyi telah mengutus lima tetua beserta lima ratus ahli untuk datang kemari,” kata Feng Ling kepada Meng Yi yang baru saja memasuki aula utama.
Meng Yi masuk dan duduk di salah satu kursi, lalu berkata, “Kebetulan, memang mereka yang sedang kita tunggu.”
“Tapi kali ini yang datang lima tetua, situasi seperti ini sangat jarang terjadi sebelumnya,” Feng Ling berkerut kening. Begitu mendengar kabar itu, ia benar-benar terkejut.
“Apa salahnya lima tetua? Apakah mereka sangat sulit untuk dihadapi?” tanya Meng Yi heran.
Zhang Kui yang sejak tadi diam akhirnya mendapat kesempatan berbicara. Ia mengangguk dan menjelaskan, “Memang para tetua Paviliun Elang Tersembunyi tidak terlalu kuat satu per satu, tapi mereka menguasai teknik pertarungan gabungan. Jika hanya tiga orang, aku masih bisa menghadapinya, tapi kalau berlima, aku rasa sangat sulit untuk menang.”
“Oh!” Meng Yi menatap Zhang Kui dengan rasa ingin tahu. “Benarkah sehebat itu? Kalian semua berada di puncak kekuatan Dewa Bertarung, apakah jika mereka bergabung kekuatannya bisa melampaui Dewa Bertarung?”
“Melampaui Dewa Bertarung itu tidak mungkin, tapi teknik gabungan lima orang mereka cukup kuat untuk menandingi Dewa Bertarung tingkat puncak, bahkan daya tahan mereka dalam pertempuran jauh lebih lama daripada seorang Dewa Bertarung puncak,” jelas Feng Ling, wajahnya semakin serius.
“Apa yang perlu dikhawatirkan? Mereka hanya lima tetua. Paling-paling kekuatannya setara satu Dewa Bertarung puncak, tak perlu sampai khawatir berlebihan,” ujar Meng Yi sambil memandang Feng Ling dan Zhang Kui, sama sekali tak mengerti mengapa Zhang Kui yang biasanya tak pernah takut kini tampak gentar.
Zhang Kui menggeleng, “Kau tidak tahu, dulu pernah terjadi hal serupa. Ketika Paviliun Elang Tersembunyi sudah mengutus lima tetua namun masih gagal, maka setelah itu yang turun tangan langsung adalah ketua Paviliun Elang Tersembunyi sendiri.”