Bab 51: Seseorang Membuat Keributan
Di bawah langit malam, karnaval tampak semakin gemerlap. Para tamu berdatangan tanpa henti, suasana kembali ramai seperti sebelumnya. Chu Xi kini telah berhasil merebut seluruh usaha milik Tuan Delapan dan mengaktifkannya kembali, sehingga semua tempat hiburan di Kota Huaiding kini berada di bawah namanya.
Namun, tanpa kehadiran Tuan Delapan sebagai pelindung, frekuensi keributan yang dibuat para tamu meningkat. Meski beberapa bekas anak buah Tuan Delapan masih membantu di karnaval, hasilnya tetap kurang memuaskan.
Tidak punya pilihan lain, Chu Xi akhirnya mengutus Huang Xun, seseorang yang bisa keluar masuk dengan leluasa di Pasukan Bayaran Nomor Satu Eropa Utara, kini malah disuruh menjaga keamanan tempat hiburan. Entah kalau Si Elang Berdarah tahu soal ini, mungkin ia akan terkejut hingga kehilangan kata-kata.
“Hehehe, gadis-gadis di sini cantik-cantik semua ya…”
Awalnya, Chu Xi mengira Huang Xun akan merasa tidak senang, tetapi ternyata Huang Xun malah menerima tugas ini dengan senang hati dan penuh semangat, hanya karena setiap hari ia bisa melihat wanita-wanita berpakaian seksi di sini. Bagi pria tua yang haus cinta sepertinya, ini adalah keuntungan tersendiri.
“Bang Luka, lagi ngapain sih di sini?”
Ada bekas luka yang sangat mencolok di wajah Huang Xun, sehingga orang-orang di karnaval menjulukinya Bang Luka. Huang Xun sendiri tidak keberatan dan membiarkannya saja.
Saat itu, seorang wanita bertubuh semampai dan berperilaku genit menghampiri, lalu duduk di pangkuan Huang Xun. Sentuhan lembut itu membuat Huang Xun melamun sejenak, seolah ada aliran listrik mengalir dalam tubuhnya—sensasi yang benar-benar nikmat.
Wanita itu bernama Lin Qinqin, sosok populer di karnaval. Banyak pejabat dan orang penting datang khusus mencarinya sebagai pendamping, sehingga ia pun mengenal banyak tokoh berpengaruh.
“Lagi lihat kamu, dong. Mau lihat apa lagi?”
Huang Xun berkata sambil tangannya bergerak nakal di tubuh Lin Qinqin. Lin Qinqin berpura-pura marah dan menjauhkan tangan Huang Xun, tubuhnya meliuk genit, “Ah, Bang Luka, nakal banget, suka ambil untung dari perempuan.”
Huang Xun hanya tertawa bodoh. Ia yang selama ini berlatih di gunung, jarang bertemu manusia, apalagi wanita. Begitu melihat wanita, ia jadi sulit mengendalikan diri.
“Mau apa lagi, ya jelas suka sama kamu, hehehe.”
Lin Qinqin menggerakkan jarinya menyentuh dada Huang Xun dengan gaya menggoda, “Kalau benar suka, kenapa malam ini nggak main ke rumahku saja? Kebetulan aku ada sesuatu yang mau dibicarakan.”
Mendengar itu, mata Huang Xun membelalak, gairahnya langsung terpacu.
“Mau, mau! Jam berapa kamu selesai kerja?”
“Itu tergantung kamu, dong. Kalau kamu bisa bikin aku puas, aku pulang cepat. Tapi kalau nggak, aku nggak akan pulang.”
Mendengar itu, semangat Huang Xun langsung membuncah, ia duduk tegak dan bertanya, “Bilang aja, gimana caranya supaya aku bisa bikin kamu puas?”
Andai Chu Xi melihat betapa tak bermartabatnya Huang Xun saat ini, pasti sudah dihajarnya habis-habisan.
Lin Qinqin berbisik di telinga Huang Xun, “Bang Luka, waktu itu kamu menghajar orang-orang yang bikin onar, aku lihat kamu hebat sekali. Kenapa sih kamu mau ikut-ikutan kerja sama Tuan Chu?”
Huang Xun mengibas tangan, “Ngapain ngomongin dia, mood jadi rusak.”
Mata Lin Qinqin berputar, ia kembali berbisik, “Dari nada bicaramu, sepertinya kamu juga nggak suka sama Tuan Chu, ya?”
“Tentu saja nggak suka!” seru Huang Xun. “Orang itu, apa-apa serba bisa, serba hebat. Aku sudah bertapa di gunung bertahun-tahun, tapi tetap saja nggak bisa ngalahin dia. Malah harus kerja jadi tukang pukulnya. Nggak bikin jengkel apa?”
Lin Qinqin terdiam, tak begitu mengerti apa maksud Huang Xun, hanya menangkap bahwa Huang Xun sangat tidak suka pada Chu Xi. Ia pun mendekat, menempelkan tubuhnya ke Huang Xun, lalu berbisik, “Kalau kamu segitu bencinya, aku punya ide.”
“Ide apa?”
Lin Qinqin melirik sekeliling, memastikan tak ada orang, lalu berkata pelan, “Kamu kan hebat, pasti bisa merebut beberapa usaha miliknya. Kita bisa bikin kekuatan sendiri, nanti bisa kaya dan terkenal. Kenapa harus terus jadi bawahan Chu Xi?”
Nada suara Lin Qinqin mengandung kebencian dan matanya pun tampak licik.
“Bukankah di sini aku yang menentukan segalanya?”
“Bukan itu maksudku,” Lin Qinqin terus membujuk, “Maksudku, benar-benar jadi milikmu sendiri. Nggak perlu lagi kerja di bawah Chu Xi. Kalau sudah begitu, aku bisa melayanimu dengan bebas. Pria yang menjadi milikku harus bisa menguasai wilayah sendiri.”
“Hehe, hehehe…”
Huang Xun hanya tertawa bodoh, seolah-olah hanya mendengar bagian Lin Qinqin akan melayaninya, sementara sisanya diabaikan.
“Ya udah, terus kamu mau melayani aku dengan cara apa?”
Sekilas, raut jijik melintas di wajah Lin Qinqin. Dalam hati ia mengumpat Huang Xun bodoh dan tidak peka, tapi ia segera menutupinya dengan senyum manis, “Asal kamu bisa merebut wilayah Chu Xi, apa pun yang kamu mau, akan aku lakukan.”
“Bang Luka! Bang Luka! Ada keributan di kamar VIP!”
Tiba-tiba seseorang datang memotong pembicaraan mereka. Lin Qinqin langsung berdiri dari pangkuan Huang Xun dan masuk ke salah satu ruang VIP.
“Sialan! Masih ada aja yang nggak tahu aturan! Ayo, antarkan aku ke sana!”
Lin Qinqin mengintip lewat celah pintu, memperhatikan Huang Xun yang pergi, lalu mengernyitkan dahi dan segera menelepon seseorang.
“Orang ini bodoh sekali, kayaknya nggak ngerti apa yang aku omongin. Cara yang kau ajarkan sama sekali nggak mempan…”
…
Huang Xun mengikuti pelayan menuju ruang VIP. Di sana, seorang pria bertubuh seperti model, mengenakan kaos dalam cokelat tanpa lengan, sedang berbaring santai di sofa dengan kedua kaki di atas meja, sambil menggenggam sebutir ceri dan memasukkannya ke mulut.
Di sudut ruangan, lima gadis meringkuk ketakutan, pakaian mereka koyak dan mereka terus menangis tersedu-sedu.
Wu Zheng ikut bersama Huang Xun. Ia tahu Huang Xun kurang pandai bicara. Melihat Huang Xun hendak memaki, Wu Zheng buru-buru menenangkan dan maju ke depan, “Tuan, jika ada staf kami yang menyinggung Anda, silakan katakan. Saya bisa membantu menyelesaikan.”
“Tak ada yang menyinggung atau apalah,” jawab pria itu dengan nada congkak, seolah tak menganggap siapa pun. “Aku hanya mau mereka menampilkan sesuatu yang seru. Tapi mereka menolak, jadi aku harus bertindak sendiri.”
Wu Zheng tersenyum memohon, “Maaf, di tempat kami tidak ada layanan seperti itu. Kalau Tuan ingin pertunjukan begitu, lebih baik cari tempat lain.”
Belum selesai bicara, tiba-tiba sesuatu melesat dan menghantam wajah Wu Zheng. Ia bahkan tak sempat bereaksi, tubuhnya terpelanting keras ke dinding hingga pingsan.
Kejadian itu membuat para gadis menjerit dan segera melarikan diri dari ruangan.
“Orang ini…”
Yang lain mungkin tidak melihat jelas, tetapi Huang Xun tahu pasti. Dalam sekejap tadi, sebuah tangan muncul entah dari mana, menghantam Wu Zheng, lalu segera lenyap.
Huang Xun menoleh ke samping. Di sana duduk seorang pria berusia sekitar empat puluhan, bertubuh kekar dan memancarkan aura percaya diri yang sulit dijelaskan. Meski hanya duduk diam, kegagahannya terasa jelas. Huang Xun menduga, serangan tadi pasti berasal dari pria ini.