Bab 69: Pahlawan Sejati, Kebajikan Palsu
Liu Qian tak diragukan lagi adalah orang yang sangat beruntung.
Dari semua orang yang menerima surat kematian, dialah satu-satunya yang berhasil bertahan hidup.
Namun, tampaknya ia sendiri tidak menganggap keberuntungan itu sebagai keberuntungan.
Atau lebih tepatnya, harga yang harus dibayar untuk keberuntungan itu terlalu besar, hingga ia sama sekali tak sanggup menerimanya.
Seluruh keluarganya, dalam kebakaran hebat yang langsung melahap kediaman keluarga Yang, tak satu pun berhasil keluar.
Karena itulah ia ingin membalas dendam. Ia mengirim undangan kepada semua perguruan yang ia kenal, baik dari dalam maupun luar Guanzhong, dari Jiangnan, Lingnan, ibu kota, hingga padang pasir, meminta mereka datang ke Chang'an untuk membantunya menuntut keadilan.
Orang-orang itu datang dengan sangat cepat. Dalam beberapa hari saja, sudah lebih dari tiga puluh perguruan tiba di kota Chang'an.
Seolah-olah keadilan dunia sedang berkobar, dan si pembunuh keji itu akan segera menerima hukuman.
Namun, yang pertama kali diterima Liu Qian bukanlah keadilan, melainkan satu lagi surat kematian.
Untuk surat kematian kali ini, Liu Qian sudah bersiap, begitu juga masyarakat Chang'an.
Kegagalan pembunuhan sebelumnya telah memunculkan rumor di masyarakat, bahwa yang bertindak waktu itu bukanlah Hantu Berambut Putih sendiri. Konon, saat itu, Hantu Berambut Putih sedang menyergap Yang Yanluo. Maka sudah sewajarnya pembunuhan akan berlanjut, sebab Hantu Berambut Putih tak pernah gagal. Ia takkan menerima kekalahan yang bukan atas namanya sendiri.
Nyawa Liu Qian hanya untuk sementara berhasil direbut dari tangan Raja Kematian. Ketika Hantu Berambut Putih mengingatnya lagi, ia pasti akan menagih hutangnya.
Dan waktu penagihan itu, karena perbuatan Liu Qian sendiri, kini datang lebih cepat dari yang diduga.
Liu Qian akan mati malam ini, tepat pada pergantian hari.
Hantu Berambut Putih selalu menepati kata-katanya.
Namun Liu Qian tidak hanya duduk diam menunggu ajal. Ia selamat dari percobaan pembunuhan sebelumnya, jadi ia merasa, kali ini pun belum tentu Hantu Berambut Putih bisa menang. Dalam hatinya, Hantu Berambut Putih bukanlah sosok yang tak terkalahkan.
Karena itu, ia mengundang semua tamu dari berbagai perguruan ke rumah makannya sendiri. Ia menggelar tiga puluh meja penuh hidangan, jamuan berlangsung sejak langit masih terang hingga hampir tengah malam, dan belum juga bubar. Ia memang sudah bertekad, malam ini akan menginap di rumah makan, tak percaya Hantu Berambut Putih bisa membunuhnya di hadapan begitu banyak orang.
Kalau Hantu Berambut Putih benar-benar berani datang, belum tentu siapa yang akan membunuh siapa.
Menjelang tengah malam, genderang malam di luar berbunyi tiga kali. Waktu eksekusi hampir tiba.
Di dalam rumah makan, semua orang meletakkan mangkuk dan sumpit, menatap ke arah pintu.
Pintu rumah makan dibiarkan terbuka lebar, menunggu tamu yang akan datang.
Salah satu jendela di lantai dua yang menghadap ke dalam juga diam-diam terbuka sedikit. Seseorang mengintip keluar melalui celah itu. Orang itu tak lain adalah saudara Zijin, pengagum setia Hantu Berambut Putih. Sore tadi, setelah mendengar bahwa surat kematian kembali dikirim dari Ting Yu Lou, ia langsung pergi ke Xiajin Lou untuk bertaruh sembari mencari kabar. Begitu tahu target kali ini adalah Liu Qian, dan Liu Qian telah mengundang banyak bantuan untuk berjaga di rumah makan ini, ia segera menggunakan koneksi untuk memesan ruang VIP, lalu mengajak teman-temannya yang tak percaya kekuatan Hantu Berambut Putih.
“Aku bilang, Zijin, sudah tengah malam, Hantu Berambut Putih belum juga muncul. Sepertinya dia memang tidak akan datang. Ayo kita pergi, tempat penuh masalah seperti ini bukan untuk kita lama-lama,” desak salah satu temannya yang mulai tak sabar. Mereka semua adalah pedagang, meski sedikit berhubungan dengan dunia persilatan, tapi bukan bagian dari sana. Sedangkan di lantai bawah semuanya adalah para pendekar. Walau tidak ada urusan dengan mereka, kalau sampai terjadi sesuatu, merekalah yang akan rugi.
“Benar, Zijin, lebih baik kita pulang. Aku sudah ngantuk. Lihat saja betapa ramainya di bawah, jangankan Hantu Berambut Putih, Raja Kematian sungguhan pun pasti takut. Si Hantu Berambut Putih pasti takkan datang. Ayo, aku ingin tidur dengan istri baruku,” tambah yang lain.
“Zijin, kami percaya sama kamu, sudahlah, ayo pergi,” satu lagi akhirnya menyerah.
“Jangan bicara lagi! Hantu Berambut Putih tak pernah datang lebih awal, tak pernah ingkar janji, tak pernah takut, dan tak butuh pengakuan palsu dari kalian. Kalian cukup membuka mata lebar-lebar dan lihat baik-baik. Baru saja pergantian hari. Dia pasti akan datang,” tegas saudara Zijin, yang paling tidak suka jika Hantu Berambut Putih diragukan.
Pada saat itu pula, ia sadar napas semua orang di bawah terasa tertekan.
Hantu Berambut Putih telah datang!
Benar, Hantu Berambut Putih memang datang.
Ia melangkah masuk perlahan dari pintu utama.
Topeng putih menutupi wajah, pakaian serba putih lebih cemerlang dari salju. Ia berjalan dengan tangan di belakang, melangkah perlahan menuju Liu Qian yang duduk di tengah aula rumah makan.
Beberapa pendekar yang diundang Liu Qian merasa geram melihat Hantu Berambut Putih berjalan seolah tempat itu kosong. Baru hendak bangkit dan membentak, tiba-tiba merasa udara di sekeliling mereka menekan, membuat napas sesak, dan niat mereka pun sirna.
Bukan cuma satu dua orang yang merasakan itu. Ada tujuh atau delapan orang lain yang bahunya bergerak hendak berdiri, namun tiba-tiba tertahan, seolah ada tangan tak terlihat menekan pundak mereka.
Hantu Berambut Putih pun sampai di hadapan Liu Qian, lalu duduk.
“Ha ha ha ha!” Liu Qian, entah mengapa, melihat tak ada yang berbicara, akhirnya terpaksa tertawa keras-keras untuk menguatkan hati. “Hantu Berambut Putih, malam ini surga terbuka kau tak mau masuk, neraka tak berpintu, kau sendiri yang datang. Di sini semua pahlawan berkumpul, apa yang bisa kau lakukan padaku?”
“Tuan Liu...” Hantu Berambut Putih bicara, suaranya kadang tinggi kadang rendah, kadang tajam kadang serak, terdengar benar-benar seperti suara setan. “Hidup di dunia, yang utama adalah menghargai keberuntungan. Nyawa, bisa dipertahankan sekali, belum tentu bisa kedua kali. Untuk apa memaksakan diri?”
“Hantu Berambut Putih, jangan banyak bicara!” Liu Qian membanting meja, berdiri dengan marah. “Seluruh keluargaku habis di tangan kalian. Kalau dendam ini tak kubalaskan, aku bukan manusia!”
Ia berteriak marah, namun tak menyadari, seluruh rumah makan hening, tak satu pun yang menyahut.
“Keluarkan pedangmu.” Hantu Berambut Putih mengambil teko di meja, menuang segelas arak untuk dirinya sendiri.
“Baik!” Liu Qian memandang sekeliling, tetap tak ada yang merespons. Amarahnya semakin memuncak, ia mencengkeram gagang pedang, matanya seperti setan.
Liu Qian bisa bertahan di Chang'an tentu bukan tanpa alasan. Jurus Pedang Rantai miliknya, bila sudah digerakkan, sambung-menyambung tanpa celah, sudah mengalahkan entah berapa ahli. Apalagi sekarang bertarung jarak dekat, pedangnya semakin unggul. Melihat Hantu Berambut Putih tak juga berdiri, ia langsung mencabut pedang.
“Ciiing—” suara pedang terdengar.
Pedangnya sangat cepat. Hantu Berambut Putih belum berdiri. Semua mata membelalak. Liu Qian benar-benar punya peluang.
Namun suara pedang langsung disusul kepala Liu Qian yang terbang ke udara, lalu jatuh ke lantai, memantul dua kali sebelum berputar, matanya terbelalak, seolah mati pun tak mengerti kenapa.
Yang lebih menyeramkan lagi, tak setetes darah pun muncrat, leher Liu Qian langsung tertutup lapisan es tebal, tubuh tanpa kepala itu masih berdiri menggenggam pedang, lama baru perlahan tumbang. Pedangnya jatuh dengan suara nyaring.
Tetap tak ada satu orang pun berdiri. Rumah makan itu seakan kosong.
“Tuan Liu adalah seorang pahlawan sejati. Kalian semua hanya kemunafikan belaka.” Hantu Berambut Putih mengangkat mangkuk dan meneguk araknya. “Arak yang enak.”
“Permisi.”
Ia berdiri, melangkah perlahan menuju pintu keluar, sama seperti saat datang tadi.
Tetap tak ada seorang pun bangkit, tenggorokan semua orang seolah dicekik.
Baru setelah lama kemudian, seseorang terengah-engah keras, lalu mengangkat senjata dan cepat-cepat keluar.
Disusul lebih banyak orang meninggalkan tempat itu, tanpa sepatah kata pun.
Tak lama, rumah makan itu pun kosong.
Hanya di ruang VIP lantai dua, saudara Zijin menari-nari sambil menenggak arak, tertawa keras. “Lihat kan? Sudah kubilang, Hantu Berambut Putih, mana mungkin kalah? Inilah Hantu Berambut Putih yang sejati!”
Sementara yang lain kadang melirik ke bawah, kadang saling berpandangan. Sampai saat ini mereka masih sulit percaya, semua itu benar-benar terjadi.
Liu Qian benar-benar mati, di hadapan banyak orang.
Hantu Berambut Putih benar-benar bisa mengambil kepala orang semudah membalik telapak tangan.
Jurus pedang yang bahkan tak terlihat itu, sebenarnya ilmu macam apa?
——————————————————————————
Bagian kedua.
Istirahat sebentar, lanjut bagian ketiga. Sudah berjanji pada saudara Lian Yu, tentu harus ditepati.
Tunggu sebentar.